
Hanan naik kelantai atas. Kemudian berdiri menjulang ditengah-tengah pintu kamar anak-anaknya "Sudah, berantemnya ?!"
Ketiga anak-anaknya menoleh semua
Arin langsung siaga "Zira tu dad" Tunjuknya pada Zira, yang belum menunjukkan batang hidungnya
"Memangnya Zira kenapa?" Ucapnya takut-takut sambil keluar dari persembunyiannya yang berada dibelakang badan sang kakak, tetapi masih ngumpet separuh badan
"Kalian berdua ya, selalu bikin keributan. Disini bukan rumah kalian. Disini rumah grand... Ahh.." Hanan lupa akan menyebut nama papanya
"Grandma, daddy.. Soalnya, grandpanya uda nggak ada. Gitu aja daddy susah" Jawab Arin mengejek
Hanan melirik Arin tidak suka "Hus. Anak kecil ngajarin orang tua" Ucap Hanan sambil menunjuk-nunjuk Arin "Rumah ini sedang berduka. Jaga kelakuan kalian" Ucapnya lagi sedikit mengeratkan giginya agar suaranya tidak terdengar oleh orang lain, yaitu para tamu yang masih keluar masuk dirumah ini
Zira keluar dari belakang Altaaf "Maafin Zira dad. Zira hanya berlari dan bersembunyi. Itu saja" Ucapnya langsung menunduk
Hanan mengangguk, padahal Zira tidak melihatnya karena menunduk "Zira, ayo turun. Dan kamu Arin, kamu tetap disini. Daddy nggak ingin dengar lagi kalian berantem, dan bikin masalah lagi"
Arin mendekati papanya sambil mendongak "Kalau gitu, Arin main sama siapa, dad"
"Terserah. Asal jangan bikin kekacauan lagi"
Arin berbelok, kemudian membanting pantatnya dikasur yang sudah amburadul dimana-mana
-
Hanan turun dari lantai atas, yang sudah dibuntuti oleh Altaaf yang sedang merangkul bahu Zira
"Kakak" Panggil Zira pada Altaaf
Altaaf menoleh kebawah "Hmm"
"Kira-kira, Arin ngamuk nggak ya?"
"Biarin aja ngamuk. Ntar kalau capek berenti sendiri kan kayak dulu"
Zira bergelayut pada kakaknya "Iya, tapi bikin drama melulu" Zira mengurai tangannya pada sang kakak "Kak, kepergian kak Altaaf, bikin Zira kesepian tau"
__ADS_1
Altaaf melirik adiknya "Memangnya kenapa? Kurang seru berantemnya ?"
"Nggak ada yang misahin kami"
Altaaf berhenti dari langkah nya "Kamu pindah aja tinggal disini. Temenin grandma"
Hanan ikut terhenti mendengar pembicaraan putra-putrinya. Kemudian berbelok menatap keduanya "Kalau Zira tidak dirumah, bisa-bisa Arin mencari teman, dan kelayaban terus-terusan"
Altaaf garuk-garuk mendengar penuturan dari sang papa "Eng, daripada bikin keributan melulu dad" Cengirnya takut dibentak oleh papanya "Ah, kalau gitu, biar Arin aja yang tinggal disini. Biar grandma tidak kesepian. Bagaimana dad" Altaaf menaikkan alisnya naik turun sambil cengar-cengir
Hanan manggut-manggut "Ide kamu boleh juga. Tapi bagaimana dengan grandma. Nggak stres hidup bareng Arin??"
"Nggak lah dad, palingan teriak-teriak dikit"
-
Sementara dilantai bawah
Masih ada beberapa tamu yang masih berkunjung kesini, yaitu rekan kerja Fatih dan Husayn. Seperti biasa. Mereka menanyakan sesuatu hal tentang almarhum
Mama mulai bercerita "Papa sempat sakit sebulan lalu, tetapi entah dipaksakan atau tidak, papa terlihat bugar lagi, sewaktu Fatihah menikah. Sampai akhirnya harus meninggal dunia, tanpa sakit apapun" Kenangnya sambil mengelap airmata yang sempat berlinang dipelupuk mata mama Sifa
"Beberapa waktu lalu, papa sempat menceritakan keinginannya" Sambungnya sambil terisak
Fatih mengusap-usap lengan sang mama
"Papa sudah mempersiapkan segala keperluannya kelak jika papa meninggal dunia" Masih mama Sifa yang mengenangnya
Semua yang mendengar cerita ini ikut membayangkan kesedihan istri almarhum
"Papa sudah menyiapkan makam hingga kain kafannya" Mama menangis dan memeluk Fatih sambil terguguh
Semuanya ikut terharu, dan ikut meneteskan airmata
Hanan mendekat, kemudian memeluk mamanya dari belakang
Cup
__ADS_1
Hanan mencium kepala mamanya sambil mengusap-usap lengan mamanya "Yang sabar, ma"
Mama menumpuki tangan Hanan "Beberapa bulan belakangan, papa mengidap komplikasi penyakit. Tetapi alhamdulillah tidak berat. Segala aktivitasnya pun dilakukan dirumah dan tidak mau kemana-mana. Hanya kemarin saja, papa ingin jalan-jalan disekitaran kompleks" Mama Sifa kembali mengelap airmatanya "Saat berbincang, papa selalu bicara soal kematian. Kini, papa telah tiada" Mama terisak, tetapi unek-uneknya ingin ia keluarkan semua didepan putra-putranya, serta kepada para tamunya yang tadi sempat bertanya padanya
"Papapun sudah berpesan kepada anak-anaknya. Apabila dirinya meninggal dunia," Mama Sifa berhenti berbicara, dan kembali menangis "Kalian jangan sakiti mama. Karena umur papa nggak akan panjang" Kenang mama lagi dan diakhiri dengan terisak
Fatih mencium pelipis mamanya "Iya. Papa bilang, saya punya kain kafan sendiri. Saya punya kuburan sendiri. Ya, saya punya sendiri. Di rumah saya, kuburkan saya disamping makam mama. Kelak, jika suatu saat saya tiada, dipembaringan itulah saya akan berpulangnya," Kenang Fatih, yang pernah mendengar sendiri papa berucap seperti itu "Padahal papa tak pernah menyebut dirinya saya, jika berdialog dengan kami"
"Kamu benar kak" Saut Husayn berkaca-kaca
-
Malam harinya. Mama Sifa masuk kekamarnya, dengan perasaan sedih dan kehilangan
Mama kembali mengusap foto-foto papa, yang mama tersimpan dialbum kenangan mereka "Tidak ada segala sesuatu yang abadi di dunia ini, tak terkecuali manusia. Kematian, pasti akan menimpa siapa saja, tak kenal tempat dan waktu"
Kematian selalu menyisakan duka yang mendalam, bagi setiap orang. Terlebih saat keluarga atau orang-orang terdekat telah menemui ajalnya, tentu hal ini menjadi peristiwa yang memilukan
Sebagai manusia yang masih diberi kesempatan untuk hidup, sudah seharusnya selalu mendoakan orang yang sudah meninggal agar diberi tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Doa dan ungkapan belasungkawa tentu juga dibutuhkan bagi keluarga yang ditinggalkan. Hal ini perlu dilakukan sebagai wujud rasa empati dan bentuk kepedulian terhadap sesama manusia.
Hanan masuk kekamar mama, lalu merangkulnya "Mama, Hanan tau mama terlalu sedih ditinggalkan oleh papa. Tapi jaga kesehatan mama"
"Tidak ada yang bisa mengerti beratnya perpisahan, terutama perpisahan seperti ini" Kemudian mama kembali terguguh dipelukan Hanan
Fariz ikut merengkuh mamanya "Sabar selalu mamaku, Fariz tahu ini menjadi hal yang sangat berat bagi mama, dan bagi kami semua. Tapi, janganlah berlarut-larut"
"Iya ma. Ingatlah apa yang selalu diucapkan para ustad. Sesungguhnya, mayat itu disiksa karena tangisan dari keluarganya. Yang tidak bisa mengikhlaskan kepergian orang yang telah pergi"
"Semoga, papa diberikan tempat terbaik di sisi Allah. Semoga kita dan keluarga, diberikan ketabahan dan keikhlasan, jangan larut dalam kesedihan ya, tetap semangat mamaku" Ucap Fariz sambil berusaha tersenyum
"Tetesan air mata dari hati tidak akan pernah mampu mengembalikan seseorang yang telah pergi selama-lamanya. Tetaplah tegar, mama" Hanan kembali mencium mamanya entah sudah keberapa kali
Para readers, anggaplah kepergian seseorang untuk selama-selamanya sebagai pengingat bahwa kita hanya manusia biasa yang juga akan menghadapi kematian. Jadi, jalani hidup dengan keberanian dan ingatlah bahwa kita pun akan mengalami kematian. Inna lillahi wainna ilaihi roji’un.
Percayalah semua cobaan yang Allah berikan pastinya mengandung sebuah hikmah kehidupan. Kita boleh bersedih, tetapi kesedihan itu tak akan mengubah keadaan menjadi lebih baik dan tidak akan membuat ia yang telah meninggalkan kita kembali lagi. Sedih boleh, tapi ayo bangkit kembali.
__ADS_1