Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Keikhlasan Viviana


__ADS_3

Sementara ditempat Viviana


Viviana bersujud dan mengeluh kepada sang pencipta diwaktu sepertiga malam


Lelah karena persoalan hidup, malu teringat dulu yang pernah ia sia-siakan dari bongkahan berlian, hanya demi kerikil-kerikil tajam


Masih bersimpuh dan terus menyesal


"Ya Allah. Ingin rasanya aku meninggal saat itu juga, sewaktu aku bertemu dengannya. Disaat keadaanku begini, aku bertemu dengan seseorang yang pernah menghiasi hidupku. Orang yang pernah aku sakiti, dan kutendang dalam hidupku. Hidupmu nyaris sempurna mas. Tapi aku buta karena laki-laki lain yang lebih rendah darimu. Aku salah padamu. Aku rebut apapun milik kita, bahkan milikmu juga aku ambil paksa. Aku sekarang begini mas, nggak pantas melihat orang-orang baik seperti kamu dan keluargamu"


Srek


Nafas Vivianan tercekat sesak karena terlalu lama menangisi nasibnya "Mas, aku malu padamu. Hidup sendiri tanpa keluarga, Semuanya hilang tak tersisa. Aku mengalami kesulitan yang luar biasa. Bahkan anaku sendiri saja tidak tau. Aku memang tidak pantas menjadi ibu yang baik" Viviana kembali menangis


Setiap hal yang terjadi dalam hidup ini adalah kehendak Tuhan sebagai pemilik dan pencipta alam semesta. Namun, seringkali jalan hidup tak sesuai dengan harapan manusia yang mana ini kerap menimbulkan rasa kecewa, lelah, putus asa yang akhirnya memicu perasaan mengeluh. Akibatnya seseorang tidak dapat menikmati hidup dengan tenang dan penuh rasa syukur.


"Dulu, hidupku diselimuti dengan segala kekurangan. Namun sebenarnya tidak, banyak kelebihan yang perlu disyukuri. Mas Fatih, kau memang pantas mendapatkan gantiku yang lebih baik. Ternyata aku salah. Roda tak selamanya diatas. Dan sekarang, aku ada dititik paling bawah" Vivi kembali menangis dan menangis


"Vi, kau menangis lagi"


Suara itu membuyarkan konsentrasinya


Viviana segera mengusap wajah dan airmatanya, lalu melepas mukenanya dan melipatnya sambil menoleh sedikit "Mbak sudah bangun?"


"Sudah, jam berapa ini"


"Jam 03:30 mbak"


"Kau sudah tidur?"


"Sudah mbak"


"Kau tadi habis sholat malam ya?"


Viviana berdiri, lalu duduk disampingnya "Iya mbak"


Wanita ini menatap Viviana yang berwajah sembab "Vi, jujur, kau masih punya rasa dengan suamimu yang tadi siang memberi makanan buat kita ya?"


Viviana tersenyum kecut "20 Tahun bersama, itu waktu yang lama mbak. Aku sedikit memikirkannya. Wajar kan?" Viviana kembali menoleh pada temannya itu, lalu menyambungnya lagi "Mas Fatih tidak pernah marah ketika aku marah-marah padanya"


"Oh, namanya Fatih"


"Iya. Gaji yang ia berikan padaku, selalu aku menganggapnya kecil dan tidak ada apa-apanya dibanding dari gajiku. Padahal hampir 100 juta, uang itu ia berikan kepadaku, setiap bulannya. Ditambah gajiku sendiri. Semuanya, hampir 200. Tapi amblas ditanganku tanpa tersisa"


"Memangnya mantan suamimu yang tadi siang itu kerja apaan?"


"Dia seorang, dokter"


Wanita ini sudah tau, kalau Viviana pernah bekerja dirumah sakit sebagai kepala bidang


"Oh, pantesan bersih"


Viviana menatap Supriyatin "Iya, kita bagai bumi dan langit" Viviana meneteskan airmatanya lagi


"Maaf, bukan maksud mbak, mengejek profesimu sekarang Vi. Tapi mbak salut padamu. Kau berpendidikan tinggi, sampai kau ditempatkan diposisi yang tinggi pula dirumah sakit dulu"


"Sedangkan mbak, sudah biasa hidup susah. Karena mbak memang tidak punya ijazah" Sambungnya


Viviana geleng-geleng


"Nggak mbak, kita sama. Sama-sama jadi tukang bersih-bersih jalanan" Senyum kecutnya ia perlihatkanlah lagi


"Vi, kamu lelah bekerja seperti sekarang?"


"Aku yang sekarang beda mbak. Mengeluh kelelahan itu wajar, asal jangan lupa bersyukur punya pekerjaan" Liriknya "Bener kan?"


Supriyatin memegang tangan Vivi "Kau benar Vi"


"Kehidupan ini tidak mudah dan semua orang tahu itu. Dulu aku mengeluh. Seperti hanya aku saja yang menderita"


Supriyatin manggut-manggut

__ADS_1


"Sekarang aku tau, kebanyakan mengeluh, jangan berharap jadi tangguh ataupun hebat. Karena hal-hal kecil yang kita punya, harusnya bersyukur"


"Iya Vi"


"Dulu, aku sangat tidak peduli. Jika melihatnya, emosiku memuncak. Tapi sekarang, dengan kekurangan yang aku punya, ada kesempurnaan yang terselip didalam dirinya"


Viviana kembali menangis


"Vi, apa ini kau ingin balik padanya?"


Viviana menggeleng "Tidak"


"Syukurlah. Kau harus kuat Vi"


"Nikmati perjalanannya mbak. Anggap saja, apa pun yang terjadi itu sebuah hadiah kecil dari Tuhan"


"Iya kamu betul. Rencana Tuhan selalu berakhir dengan kebaikan. Maka bertahanlah."


"Iya mbak"


"Mengeluh hanya akan menambah masalahmu, menghambat doamu dan membuat kesal orang-orang di sekitarmu."


Supriyatin berdiri "Hidup ini sengaja dibuat tidak mudah, memisahkan orang yang mau berupaya. Bekerjalah hingga impianmu tercapai, kuncinya step by step. Tetap berjuang dan berdoa, sebuah usaha tidak akan mengkhianati hasil. untuk mencapai cita-citamu dengan baik."


"Iya mbak. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Semua yang indah memang butuh perjuangan"


"Betul. Kalau capek istirahat"


Mereka bertatapan, lalu menghambur berpelukan sambil menangis dan tertawa


"Kau harus kuat Vi. Meskipun Fatihmu nyaris sempurna seperti yang kau bilang barusan, kau harus tetap meninggalkannya" Mereka sudah saling mengurai "Oiya, apa wanita muda tadi itu anakmu, atau istrinya"


"Dia istrinya, yang pernah aku amuk waktu dipernikahan mereka"


"Kamu mengamuk juga?"


"Aku tidak kuat mbak. Kukira mas Fatih tidak bisa move on dariku. Tapi nyatanya, dia bisa mencari ganti yang lebih baik dariku"


Viviana menoleh menatap Supriyatin "Sepertinya. Selama aku hidup bersama mas Fatih, kami tidak pernah peduli dengan orang rendahan seperti kita. Tapi lihat, mas Fatih sekarang berbeda. Ia lebih peduli dengan orang lain. Kalau bukan ajakan istrinya, siapa"


"Iya. Ya sudah. Jangan pikirkan mereka lagi. Jalurnya sudah berbeda"


"Iya mbak kamu benar. Lebih baik sibuk mencari jalan untuk memperbaiki diri, daripada sibuk menyalahkan keadaan"


"Iya. Jangan khawatirkan masa depan, yang terpenting berbuat baik di hari ini, maka Tuhan akan membalas kebaikanmu di masa depan."


"Makasih mbak"


-


Di apartemen


Retno sudah basah dimana-mana


Pagi ini, Retno kembali mandi basah, setelah pertarungan tadi malam


Retno sengaja rambutnya ia gerai, dan tidak dikeringkan


Fatih memeluknya dari belakang "Setelah sarapan jalan-jalan yuk"


"Kemana?"


"Maunya kemana"


"Muterin gedung apartemen yuk. Kelihatannya sejuk mas"


"Kalau sekarang ya sejuk. Kalau siangan, ya panas"


"Ya jangan waktu dzuhur dong mas. Kita sarapan dulu. Tenagaku sudah habis. Perlu dicharge"


"Salah sendiri semalam uring-uringan. Ternyata ingin ditengok ya" Godanya

__ADS_1


"Ih, minggir" Retno segera meninggalkan Fatih yang berdiri didapur "Kita sarapan dulu, biar mampu menghadapi cuaca"


Fatih tertawa, dan lanjut untuk sarapan


-


Pagi ini, Fatih mengajak Retno jalan-jalan ke Lapangan tempat bermain gratis, di sekitaran apartemen ini


"Bumil ingin makan apa"


"Nggak ingin apa-apa. Masih kenyang" Ucapnya sambil menunjuk perutnya yang sudah terlihat menonjol


"Itu mah, kenyang melulu. Malah tambah besar kalau dilihat-lihat"


"Gara-gara anunya mas sih, bikin aku begini"


"Ih ngomongnya. Sekarang sudah berani ya, bilang begitu. Mentang-mentang sudah tau rasanya"


"Aaaa..." Fatih sudah didorong-dorong oleh Retno


"Iya, iya nggak, nggak. Terus, sayang inginnya apa"


"Ingin seluncuran, boleh?" Candanya


"Hus.. Sayang itu lagi hamil. Sayang nggak takut terjadi apa-apa gitu sama kandungannya"


Retno tertawa "Canda mas.. Gurau"


Fatih mendengus kesal "Kamu membuat mas jantungan tau"


"Hehe mas kan dokter jantung. Tinggal periksa aja sendiri. Gampang"


"Mana ada dokter periksa sendiri. Nggak ada"


"Terus kalau sakit"


"Ya dokter lain yang periksa. Memangnya mantri bisa nyunat sendiri, atau nyuntik sendiri. Pasti orang lainlah yang lakukan"


"Ya, siapa tau ada. Eh, tapi ada nggak mas dokter yang sakit, terus periksa sendiri"


Fatih melirik Retno "Ya nggak ada lah, kamu ini, ngarang dipelihara"


"Gurau mas. Jadi, dokter jantung juga, bisa sakit karena terkejut"


"Ya bisa. Namanya manusia, kalau kaget, bisa bahaya"


Retno bergelayut manja dilengan suaminya "Maaf, jangan manyun gitu. Kan aku bilang becanda"


"Iya, besok lagi jangan begitu. Bikin anak itu susah tau. Untung kita langsung dikasih. Jadi nggak nunggu terlalu lama"


"Memangnya, kalau lama kenapa? Yang penting kan dikasih mas"


"Masnya keburu tua" Ucap Fatih kesal


"Ooo.." Retno kembali bergelayut "Eh mas" Tunjuk Retno pada restoran yang kian dekat "Restoran Hans mas"


"Iya memang"


"Jadi, kita mau kesana?"


"Iya. Kamu dilapangan nggak ingin beli apa-apa. Yaudah, mumpung mas libur, sengaja jalan-jalan ke restoran. Deket kan?"


"He em"


"Nggak pa-pa kan diajak kesini?"


"Nggak pa-pa, justru aku seneng"


"Oke, kita lets go"


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2