Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Sikembar Sudah Sekolah


__ADS_3

Setahun kemudian


Kini, usia sikembar Fahmi dan Fahri sudah memasuki usia 5 tahun lebih beberapa bulan dan sudah bersekolah. Sedangkan Arin, berusia 14 tahun, siswi kelas dua SMP


Hari ini, mereka berdua masuk ke sekolah taman kanak-kanak, dengan manaiki bus sekolah, yang sudah disediakan oleh pihak yayasan sekolah


Mereka bertiga, sekolah di satu yayasan


Dan hari ini, Arin sengaja bersekolah ingin menggunakan fasilitas sekolah yaitu naik jemputan bus sekolah GRATIS


Bermaksud ingin beramai-ramai dengan kawan-kawannya, dan tidak ingin dicap menjadi anak manja dan anak orang kaya. Arin menolak untuk diantar oleh ayah Fatih. Tetapi, semuanya berantakan dan tidak sesuai ekspektasi, karena sikembar Fahri dan Fahmi selalu membuntutinya


"Fahmi, Fahri. Kalian berangkatnya bareng papah ya?" Ujar Arin pada sikembar


Keduanya geleng-geleng kepala


"Kok geleng-geleng semua" Arin berjalan kekamar Fatih


Tok tok tok


"Papa!!!" Teriak Arin "Papa sudah rapih kan?"


Retno membuka pintu "Sudah"


Arin sedikit mendorong adik-adiknya pelan "Tuh. Sana, berangkat sekolah dianter papah. Kakak pergi sendiri ya, Bye..... " Arin berlari terbirit-birit


Tiba-tiba


"KAKAKKKK !!!" Teriak kedua bocah itu sambil berlari mengejar Arin


Arin berhenti karena jeritan mereka melengking diindera pendengarannya


Arin menoleh "Ngapain kalian ngikutin aku. Sana berangkat bareng papah" Usirnya


"Nggak mau. Fami ingin bareng kakak"


"Fali juga"


"Hei, kalian itu murid baru. Harus diantar oleh orang tua. Aku kan bukan mama papa kalian. Kenapa kalian ikut aku"


Kedua bocah kembar itu mengabsen murid TK dan SMP yang melintasi untuk menuju halte


"Tuh, seragam dia sama, sama Fami. Pokoknya enggak mau diantar daddy. Fami ingin bareng kakak"


Fatih ikut mengejar dan berdiri memperhatikan mereka bertiga "Ayo, daddy sudah siap antar kalian"


"Tuh, papa sudah siap"


"Enggak mau. Daddy, daddy pulang sana. Fami ingin berangkat bareng kakak. Nggak mau sama daddy" Usirnya tidak bisa di goyahkan


Akhirnya, Fatih dan Arin pasrah


Kali ini, Arin yang kalah


"Dasar benalu" Gerutunya membuat Fatih geleng-geleng kepala "Ayo"


-


Beberapa siswa-siswi dari anak TK, SD, SMP, dan SMA, sudah menunggu bus sekolah dihalte yang dekat dengan kediaman mama Sifa


"Bus sudah datang" Sapa sang sopir yang usianya sekitar 21 tahun


Arin menggiring kedua bocah yang selalu nempel dengannya "Kalian berangkat dulu ya. Kakak nunggu bus belakangnya aja, biar bareng sama teman kakak, oke"


Fahmi berbelok "Kalau gitu, Fami juga sama"


"Fali juga"


Arin mematung "Apa apaan!! Kalian masih bayi. Kalian nggak boleh ikut-ikutan kami" Ucapnya sedikit meninggi

__ADS_1


"Kakak. Fami udah besarrr. Bukan bayi lagi"


"Fali juga"


"Fali juga, Fali juga. Dari tadi makmum melulu. Kompor banget sih kamu jadi bocah" Kesalnya pada Fahri


Tiba-tiba


"Mak Arin..!!!" Teriak kawannya dari belakang


Arin menoleh


"Anterin aja anak-anakmu" Ejek kawan Arin


"Iya. Kamu payah sih, kecil-kecil dah punya buntut"


"Ahahaha" Ejek kawan-kawannya lagi sambil tertawa terbahak-bahak


"Tuh kan. Jadinya aku yang jadi emak" Kesalnya sambil menghentakkan kakinya kejalan


"Udah kak, jangan hiraukan mereka" Ucap Fahmi sambil mengepang-ngepang jemari Arin


Arin menunduk menatap kedua bocah itu yang sama-sama menatapnya "Kamu sih, udah bikin aku naik darah. hm.. Nasib, berasa jadi emak-emak sekarang"


Sang sopir melongok keluar "Udah mbak, jadi naik nggak? Ini depan juga kosong. Mumpung masih ada waktu. Ntar kesiangan, pintu gerbangnya keburu tutup mbak" Teriak sang sopir


"Haisss, sopir aja cerewet banget sih" Gerutu Arin


"Kakak" Panggil kedua bocah kembar itu


"Haiiiih... Sana naik"


"Kakak ikut, ya??" Rayu Fahmi dan Fahri yang selalu begitu


"Ngrayu melulu" Kemudian Arin melongok kedalam


"Ya... Ternyata isinya bayi-bayi. Males om" Ucapnya pada sang sopir


Arin belum menjawab pertanyaan sopirnya.


Arin bingung antara ingin ikut bus ini, atau bus belakangnya


Arin mengabsen kedua tuyulnya "Kakak ikut bus belakangnya aja, ya?" Rayunya pada sikembar


"Fami/ Fari ikut" Diucap bersamaan


"Ya elah..... Kalian itu sebenarnya orok siapa sih. Kenapa aku yang repot melulu" Kesalnya sampai keubun-ubun


"Mbakkkk" Suara sang sopir terdengar lagi


"I iya om, bentar. Aku lagi mikir"


"Jangan kebanyakan mikir Arin. Dah, masuk aja" Suara kawan-kawannya yang menjadi kompor malapetaka


"Ya udah. Masuk deh kalian" Ucapnya sambil menenteng tas punggung mereka yang masih menempel dipunggung masing-masing


Fahmi dan Fahri sudah masuk kedalam bus


"Kakak.. Masuk" Bujuk Fahmi


"Ogah"


Tiba-tiba, tangan seseorang merangkulnya


"Arin !! Ngapain elu ikut-ikutan sama bocah. Mau jadi penggiringnya? Enakan bareng aku. Yuk ikut aku aja" Ujar kawannya yang suka cari muka didepan Arin


Klepat


Arin menghempaskan tangan sicowok tadi "Enak aja. Minggir" Arin membuka pintu mobil bagian depan

__ADS_1


Si cowok mematung seketika. Begitu ingatannya merasuki "Arin, duduk belakang dong"


"Enggak mau" Tolak Arin


Kemudian, ia duduk disamping kemudi, lalu menutup pintunya "Jalan om"


"Om??"


Arin melirik tajam kearah sopirnya "Ya iyalah. Kenapa? Aku harus panggil apa?"


Sang sopir hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian, bus yang mereka tumpangi mulai merayap kejalan raya


Didalam perjalanan, Arin mulai memperhatikan sang sopir "Om, si om kok muda banget. Nggak salah si om jadi sopir?"


"Enggak. Memangnya kenapa. Panggilnya ganti dong. Geli aku"


"Geli kenapa??"


"Sudah-sudah. Jangan dibahas"


"Ish. Ngambekan" Arin bersedekap dan menatap pemandangan yang berada diluar mobil


Arin melihat sopir bus sekolah lain yang sudah bapak-bapak "Eh om. Bukannya sopir bus sekolah biasanya bapak-bapak ya" Tunjuknya pada sopir bus lain "Haaaa.... Atau jangan-jangan, om pakai kedok ya. Coba aku lihat"


Arin dengan berani membuka topi sang sopir


"Hai s s s, siniin dong. Anak sekolah nggak sopan amat. Saya laporin sama kepala sekolah kamu" Ancamnya


"Hala.. Gitu aja main laporin. Cemen banget" Arin mulai menatap wajah sang sopir dengan seksama "Wow" Arin melotot, sopirpun ikut melotot


"Apaan sih kamu"


"Imut. Om imut banget. Om, kenalan dong. Om namanya siapa?" Arin menarik paksa name tag yang mengalung dileher sang sopir


"Hei hei, tambah kurang ajar banget kamu"


"Ish, gitu aja ngambek" Ucapnya tak peduli. Yang penting, Arin bisa mencocokkan foto dan visualnya "Bener, sama" Arin tersenyum mengembang sampai salah tingkah


"Sini topinya" Mintanya lagi


"Nggak bisa. Om nyamar ya"


"Nyamar apaan"


"Itu. Usia om tadi berapa?? .... 21, 12, apa 31"


"Huss. Enak aja. Kamu masih kecil tanya-tanya begitu mau apaan"


"Aku baca om"


"Terus, kalau tau mau ngapain"


"Nggak mau ngapa-ngapain. Eh, mau aku jampi-jampi ahaha"


"Dasar cerewet"


"Apa om. Ngomong apa tadi"


"Nggak. Nggak jadi ngomong"


"Kenapa??"


"Dah sampai"


"Isss dasar pelit"


Sang sopir hanya terdiam, dan langsung membukakan pintu busnya, karena mereka sudah sampai disekolah


Arin turun dengan kecewa "Si om pelit"

__ADS_1


"Enak aja om. Memangnya aku nikah sama tantemu"


__ADS_2