Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Malam Minggu Malam Yang Panjang


__ADS_3

"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam, eh nak Toto. Mari masuk" Babe mempersilakan Toto untuk masuk kerumah "Silakan duduk"


"Iya be"


Seperti malam minggu malam minggu yang lalu. Toto selalu dipersilakan duduk dikursi penjalin / rotan, yang biasa untuk menerima tamu jaman bapaknya babe dulu


Sebenarnya, Sofa juga ada. Tapi babe selalu mempersilakan Toto untuk duduk dikursi tua, warisan dari nenek moyangnya


Toto Sugaga, usia 35 tahun. Dibilang lapuk, semi lapuk la yah. Status lajang, jabatannya seorang mantri, yang bertugas dipuskesmas dekat balai dusun.


Orangnya tinggi, lahir dari keluarga yang kaya-raya sekampung rambutan runtuh.


badan kurus kerempeng, kalau lihat balok berdiri ya itu, sama


Toto menyukai Retno, dari Retno duduk dibangku SMA. Namun entah mengapa, si babe belum mengizinkan Toto untuk melamar putrinya


"Retnoooooo" Panggilnya seperti suara toa masjid. Tapi itulah babe, selalu membuat telinga tetangga berdengung


"Iya beh" Retno berlari mendekat


"Ambil catur"


Retno diam, mengabsen siapa yang datang 'Oh, pantesan'


"Buruan. Disuruh, bengong aje"


"Iya beh" Jawabnya malas


Retno berjalan kebelakang, untuk mengambil papan catur beserta isi-isinya, di gubuk belakang, yang biasa babe angkrem sama anak buah disana


Retno datang kembali "Ini beh"


Sewaktu Retno jalan, mata Toto menatap Retno tidak berkedip, bahkan cenderung mau keluar


Sambil tersenyum membawa luka, Toto bilang "Terima kasih"


"Ambilkan air putih sono" Suruh babe lagi


Retno menurut saja. Karena babe memang menganak tirikan Toto, jika Toto datang


Setiap malam minggu, maksud Toto ingin apel, mengapeli Retno. Tapi apalah daya, babe Kohar seperti satpam galak yang menghadangnya dan mengajaknya main catur semalaman


Dan pelitnya lagi, babe tidak mengizinkan Retno, untuk duduk didepan Toto ketika Toto bertamu


Jangankan duduk, memberi minum saja cuma air putih. Padahal, kopi dibelakang renceng-rencengan persis pedagang warung kopi


Pegawai babe yang jaga ikan lele saja, ngopi, ngeteh, sampai bosen sama itu barang. Dan ingin minum air galon saja


Tapi, begitu Toto datang, air putih cukup


Babe menatap Toto gedek nya minta ampun 'Ini anak memang kebangetan ye. Bertahun-tahun bertamu, kosongan melulu. Pan, dia gajian. Kue kek, buah kek buat buah tangan. Si Ujang bilang rambutan depan rumahnye berbuah lebat, melambai-lambai dan gondrong pula. Eh, apel kesini bawanya gigi doang cengar-cengir. Ingin nguncir gua mah'


Totopun sama, keselnya setengah hidup 'Ini gua itu ngapelnya sama babe apa Retno sih. Susah amat. Datang kesini, pasti suguhannya catur. Kapan pacarannya babeeee' Jeritnya sampai keubun-ubun


Beberapa jam kemudian


"Skak"


"Yah beh, gua kalah udah 10 kali. Capek beh, kembung juga perutku beh, kebanyakan air putih"


"Helleh, belon habis segalon. Kalahnya juga belon selusin. Main kembung segale, capek segale. Ya udah, gua juga ngantuk. Sudah mid night tuh" Babe menunjuk jarum jam yang sudah ditengah-tengah semua "Jam 12 tet. Gua ngantuk, sono pulang. Ntar nyak lu nyari. Jam segini bujangnya kemane belon pulang kandang"


"Babe ngusir be"


"Maunya lu ape. Kalau lu mau jaga empang, ya udah sono kegubuk, temenin si Ujang. Pingin nyambung main caturnya pan lu"


"Tambah masuk angin beh"


"Ya udah sono pulang. Disuruh pulang suseh"


"Kan hujan beh, nginep ya beh"


"Enak aje nginep. Pulang sono. Ntar digrebek, baru tau rasa lu"


"Malah asik dinikahin sama Retno beh"


"Enak aje. Pulang" Usir babe


"Ya udah beh, gue pulang ya beh" Toto mengambil tangan babe untuk dicium, tapi babe segera menariknya "Dah pulang sono, gua mau ngelonin bini"

__ADS_1


Totopun keluar rumah babe, dongkolnya setengah mati


-


Sementara dikediaman Ilham


Malam mingguannya, mereka melakukan video call an bersama keluarga quadruple


Ilham dan Sifa duduk disofa menghadap ke televisi. Dan ditengah-tengah mereka, ada Fatihah yang diapit oleh mereka


Setelah habis kangen-kangenan, mereka pun terlena menonton film berbayar


Tiba-tiba


"Sayang, kemari deh" Fatih melambaikan tangannya kepada Fatihah


Fatihah berjalan mendekati Fatih, yang sedang tiduran dikursi malas


Fatih geser ketembok, agar Fatihah bisa tiduran disampingnya


"Ada apa dad"


"Lihat, kamu dapat transferan nih dari papa Hanan. Berapa tuh jumlahnya" Fatih memperlihatkan rincian masuk ke rekening nya, atas nama Alhanan


"Hore... Dua setengah juta yeeee"


Ilham dan Sifa tersenyum, menatap cucunya gembira ria


Jika dikeluarga sini ada yang kekurangan soal materi, semuanya kompak ingin membantu


"Ucapnya apa, ngomong kamu. Ntar daddy rekam, dan kirim lewat audio"


"Oke, sini dad"


"Nih" Fatih memencet tombol perekam audio, agar Fatihah bicara


"Makasih papa Hanan, uangnya udah sampai. Tapi belum aku ambil, karena daddy lagi tiduran"


"Hus"


"Ahaha. Belajar jujur dad"


Fatihah memeluk Fatih "Dad, kumpulin dad, biar bisa beli motor"


Gung


Kebiasaan Ilham ternyata menurun pada Fatih. Fatih selalu memukul jidat Fatihah, menggunakan kepalan tangan


"Kamu ini. Mau lihat lagi nggak"


"Transferan lagi?"


"Iya"


"Asiiikkkk. Buka dad, buka dad"


Fatih membuka galeri screenshot, pada laman rekening koran yang barusan mendapat transaksi transferan dari ketiga adik-adiknya


"Wah, dua setengah juta juga. Yang beda papa Husayn"


"Berapa transfernya" Tanya Sifa


Fatihah menoleh "Dua juta"


"Alhamdulillah, lumayan. Kalau papa Fariz berapa?"


"Sama kayak papa Hanan"


"Alhamdulillah. Jadi total semua tujuh juta"


"Iya"


"Sini, ngomong lagi. Daddy rekam" Fatih memencet kedua pipi Fatihah yang tadi menoleh kearah Sifa, agar Fatihah fokus lagi dengannya


Fatihah menurut


"Papa Husayn... Makasih ya... Kata daddy, duitnya buat de pe beli motor. Hahaha"


"Hoooo, kenapa harus daddy yang jadi tameng" Fatih tidak terima


"Daddy, daddy... Ini masih merekam"

__ADS_1


"Hadeeew matiin-matiin"


Fatihah pun, segera melepas tangannya agar tidak merekam audio terus


"Satu lagi buat papa Fariz. Ngomongnya yang bener"


"Siap dad"


"Buruan bunyi"


"Papa Fariz, makasih transferannya ya.... Salam buat Ghoziya, Fawas, Faruq, dan mama Hawa... Hawa tercipta di duniaa 🎶 untuk menemani bang Fariz🎶 ahaha"


"Ini lagi malah nyanyi.. Matiin-matiin"


"Haduuuu gacor gacor, galon bocor" Ternyata, Fariz menyimak grup dan langsung membuka rekaman suara tersebut


"Sama-sama sayang" Hanan


"Sama-sama cantik" Husayn


"Sama-sama pinky girl" Fariz


-


"Daddy"


Fatihah turun kekamar papanya yang ada dilantai bawah, sambil boyongan membawa bantal dan selimut


Fatih bangun dan duduk bersandar "Ada apa bawa-bawa bantal"


"Daddy, boleh ya, aku tidur disini?"


"Loh, kenapa tidak tidur diatas"


"Ada petir dad, takut"


"Hadewww, alamat daddy jatuh kalau model gini" Gerutunya masih didengar oleh Fatihah


"Aku janji deh, tidurnya nggak muter-muter" Janjinya


Bruggg


Fatihah membanting badannya diranjang, tanpa memikirkan penolakan dari papanya


"Yang nyuruh tidur disini siapa. Naik sana"


"Ih, nggak mau. Luas ini dad" Fatihah menunjuk kasur kosong yang sudah ia tempati


Fatih menyerah tanpa syarat


Tengah malam


Gangsing Fatihah mulai beraksi


Dubrak !!!


Fatih terjatuh dari ranjang


"Fatihaaaaaa" Teriak Fatih yang sudah tengkurap dilantai


Fatihah clingak celinguk diatas ranjang "Suara apa tadi"


Fatih bangun dari lantai, lalu berdiri "Sekarang, kamu naik keatas. Sekarang juga!!!"


"Daddy"


"Tidak ada penolakan" Fatih membukakan pintu keluar, agar Fatihah keluar dari kamarnya


Dengan terpaksa, Fatihah boyongan lagi, sambil cemberut


"Ayo, silakan keluar. Pintu terbuka untuk mu"


Fatihah menghentak-hentakkan kakinya karena kesal "Daddy pelit"


"Serah kamu"


Brakk


Lanjut dong ya....


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2