
Mereka sudah didalam ruang inap tuan Sohail
"ASSALAMUALAIKUM..... " Ucap seluruh anak dan menantu papa Ilham. Kecuali Husayn dan Ratna. Karena mereka sudah berada diruangan ini
"Wa'alaikumusalam" Jawab mereka berempat. Tuan Sohail, ibu Disha, Ratna dan juga Husayn. Sedang cucunya yaitu Sayra, masih diruang jan da bo long, menemani papa Ilham, karena disana ada Fatihah
"Eh, saudara saudaramu nak" Tunjuk ibu Disha pada Husayn
"Iya ma"
Fatih bersalaman dengan ibu Disha, lalu bersalaman pada tuan Sohail "Hallo tuan Sohail. Bagaimana kabarnya?" Sapanya ramah seperti biasa
"Masih lemah nak. Dan terkadang sedikit nyeri"
"Iya, anda dalam pemulihan tuan. Oiya, hari ini saya berkunjung sebagai anak, bukan sebagai dokter. Karena hari ini sudah ada dokter yang bertugas jaga kan?" Tangan Fatih menumpuki tangan tuan Sohail, yang belum mau melepas tangannya
"Hahaha iya nak. Sudah dipegang sama dokter handal seperti nak Fatih saja, sakitku terasa hilang mendadak. Apalagi diakui sebagai papanya" Tuan Sohail berkaca-kaca "Rasanya senang sekali nak, adem dan langsung sembuh kayaknya"
"AAMIIN... " Ucap semua orang
Fatih melambaikan tangannya pada istrinya "Sini sayang, maju"
Retnopun maju mendekati suaminya, yang ditangannya, membawa buah tangan untuk tuan Sohail
Fatih menerima buah tangan tersebut, lalu menaruhnya diatas meja
Fatih menepuk sekejab punggung Retno "Tuan, ini istriku" Fatih memperkenalkan Retno pada Tuan Sohail
"Oh.." Tuan Sohail tersenyum "Selamat ya nak. Waktu dipernikahan kalian, papa sedang sakit sakitan. Jadi nggak bisa hadir"
Fatih dan Retno saling tatap, lalu tersenyum "Nggak pa-pa tuan, do'anya saja, semoga rumah tangga kami langgeng"
"Aamiin... "
Kemudian, Fatih menyentuh perut rata milik istrinya "Dan bayi yang ada di dalam kandungan istri saya, semoga sehat , tidak kekurangan apapun"
"Aamiin... Sudah hamil rupanya?" Ucap tuan Sohail sumringah
"Iya alhamdulillah, langsung diberi kepercayaan, tuan" Jawab Fatih sambil merengkuh istrinya sekejab
"Ya, ya, ya.. Nggak pa-pa masih muda. Oiya, cucu kita dimana. Ini uncle dan auntynya kan datang" Jawab tuan Sohail, tetapi mencari cucunya
"Dia kalau sudah bertemu dengan seluruh saudaranya, lupa segalanya pa" Ucap Ratna
"Oh, iya ya.. Butuh teman dia, haha"
Ratna mendengus kesal "Papa selalu begitu"
"Iya, untung masih dikasih keturunan. Sudah, jangan diladenin papamu" Ucap ibu Disha menengahi
"Iya ma enggak, papa hanya becanda. Walaupun cewek, Sayra pandai mengimbangi papa kalau papa ajak ke ruang meeting"
Ratna dan Husayn saling tatap "Mas, jurusan Sayra kan kedokteran. Masa papa mengajak anak kita keruang metingnya. Gimana sih"
"Sudah. Nanti terserah putri kita. Dia mau pilih jadi dokter, apa jadi pengusaha. Kita ikutin alurnya saja" Bisik Husayn, yang tidak ingin menyakiti siapapun
Fatih tersenyum melihat sedikit drama dikeluarga ini, lalu menoleh kearah Hanan dan Fariz "Hanan, Fariz" Fatih menatap keduanya seakan bilang maju dan beri semangat
Hanan maju "Aku dulu ya Riz"
Fariz mengangguk mempersilakan
__ADS_1
Hanan memegang pergelangan tangan istrinya "Sini sayang"
Setelah Alana maju, Hanan langsung menyalami tuan Sohail. Tidak memberikan buah tangan dengannya, karena Alana dan Hawa sudah memberikan pada ibu Disha
"Hallo tuan Sohail.. Masih ingat dengan saya" Hanan menyapanya, tetapi sekaligus memberikan pertanyaan
Terlihat tuan Sohail menatap Alana, lalu menatap Hawa "Anda pasti nak Hanan kan?" Tebaknya
Hanan langsung bertepuk tangan "Wah.. Tuan sangat cerdas, hebat. Kalau saya Hanan, berarti ini siapa?" Hanan menyentuh pundak Fariz
"Ya, siapa lagi kalau bukan nak Fariz" Jawabnya sumringah
Fariz tepuk tangan "Wah hebat. Tuan masih mengenali saya. Terimakasih" Lalu, Fariz menabok lengan Husayn "Mertua kamu top kak"
Hahaha
Semuanya tertawa
Husaynpun memberikan kedua jempolnya pada mertuanya "Pap pa..." Seakan melupakan putrinya dijadikan rebutan barusan
Hawa maju setengah langkah "Bapak tau darimana kalau ini dan ini" Hawa menyentuh lengan Hanan dan Fariz "Namanya Bang Fariz dan bang Hanan" Tanya Hawa pada tuan Sohail
"Pasangannya" Jawabnya
"Oh.. Kalau begitu, aku bergeser" Hawa bergeser, dan berdiri disamping kiri Hanan, sedang Alana masih tetap disebelah kanan suaminya
"Ya, papa sudah tau. Disamping melihat pasangannya, Papa sudah mengabsen wajah kembar suami suami kalian"
"Darimana"
"Andeng-andeng"
"Andeng-andeng?? " Hawa menoleh kearah quadruple "Oh iya, aku jadi ingat mama. Iya pak betul"
Hawa menunjuk Fatih
"Nak Fatih ya sangat hafal. Tiap hari nongol, kan sudah tau gaya bicaranya, jalannya"
"Jalannya ngangkang, pak?" Ucap Hawa asal
"Ooooh" Fatih memukul kepala Hawa menggunakan kepalan tangan tak terima "Enak aja. Memangnya aku bisulan"
"Canda bang"
Hahaha
Semuanya tertawa
Hanan melepas tangan Husayn yang bersedekap "Sayn, tumben tanganmu bersedekap. Biasanya kamu main jambak aja, sama si Hawa"
Husayn tersenyum "Masih selamat dia"
"Oh, jadi istriku terselamatkan berkat dekat tuan Sohail ? Oh, pantesan dari tadi krudung istriku aman" Ucap Fariz membuat semuanya tertawa lagi
"Memangnya kak Husayn sering jahil ?" Sekarang ibu Disha yang bertanya
"Oh parah bu. Dikeluarga kami, dia yang paling jahil" Masih Fariz yang memojokkan Husayn
"Dan bikin menangis iparnya juga Riz" Ucap Fatih, membuat Retno memeluk lengan Fatih dan menenggelamkan wajahnya disana "Hahaha" Fatih tertawa, lalu mengusap punggung Retno "Sudah-sudah"
Retno segera mengurai "Ih, malu mas"
__ADS_1
"Hahaha jadi ingat Hawa, pas dirumah sakit dulu ya Wa. Uh, kasihan.. Untung istriku enggak ya sayang" Hanan menatap Alana
"Nggak, kan kita langsung ngungsi ke Semarang. Jadi nggak pernah ada insiden" Jawabnya langsung direngkuh oleh Hanan
"Hah, istriku aman"
"Manantu anda memang usil pak" Ucap Hawa membuat semua orang tertawa lagi dan lagi "Oiya pak. Bapak hafal nggak, dengan pria yang paling usil seperti dia" Tunjuk Hawa pada Husayn
"Hahaha" Tuan Sohail tertawa membuat seisi ruangan ini ikut tertawa lagi "Kalau menantu papa nggak usah disebutin. Sudah hafal. Tapi kalau masalah usil, papa nggak tau"
Ahahaha
Mereka kembali tertawa renyah
"Kakak, kita mau udahan kan?" Tanya Fariz pada semua saudaranya
"Iya, maju gih kamu" Ujar Hanan
Fariz maju mendekati tuan Sohail "Tuan, kami kemari bikin ruangan ini sumpek dan ramai. Semoga, dengan kedatangan kami, tuan segera disembuhkan dari segala penyakit"
"Aamiin..... Kedatangan kalian sungguh membuat kami gembira nak. Putra dokter Ilham memang tidak diragukan dengan kekompakan. Papa senang nak, bahagia dikunjungi oleh kalian semua"
"Iya, kami juga senang. Bisa berkunjung kemari. Sekali lagi, semoga lekas sembuh, tuan" Ucap Fariz lalu mundur
Setelah Fariz mundur, saatnya berpamitan
"Sebelum berpamitan, Hanan, pimpin doa dong" Fatih menunjuk Hanan untuk memimpin doa untuk kesembuhan tuan Sohail
"Lah, kak Fatih aja sih. Kan dokternya juga" Tolak Hanan
"Kalau itu nggak usah disuruh. Aku selalu berdoa untuk kesembuhan seluruh pasienku. Kamu kan paling jauh, dah pimpin, nggak usah banyak protes. Kamu yang doa, aku yang pegang dadanya tuan Sohail"
"Oh, yo wis lah" Akhirnya, Hanan mengalah, dan memimpin doa untuk kesembuhan tuan Sohail
Selagi Hanan berdoa, Fatih memegang dada tuan Sohail
Mereka berdoa dengan hikmad
AAAMIIN....
"Baiklah tuan, kami pamit. Karena papa juga berada disini" Ucap Fatih berpamitan
"Oh, dokter Ilham sakit?" Tuan Sohail sedikit terkejut "Duh, semoga papanya cepat sembuh ya nak" Ucapnya ikhlas
"Kan Ratna sudah bilang pa, kalau papa Ilham sakit. Makanya, mas Husayn lama diluar itu, diruangannya papa"-Ratna
"Oh, ya papa sedikit lupa. Kan dokter sayang, kirain ya nggak akan sakit. Lagian anaknya kan dokter semua"- Tuan Sohail
"Ya sama pa, dokter juga manusia. Ini yang bukan dokter sendiri" Husayn merangkul Fariz "Tapi lebih dari dokter. Karena anak ini, anak yang bikin kenyang seluruh umat wkwkwk" Husayn mulai bercanda
Fariz mendorong Husayn "Kamu nggak usah lebai"
"Lebai bagaimana. Pabriknya produksi roti pa, kalau bukan mengenyangkan perut. Memangnya buat apaan. Ganjal ban?"- Husayn
"Serah kamu"
Ahaha
Lagi dan lagi semuanya tertawa
"Tuan, kami permisi dulu. Saya nggak mau berantem sama menantu tuan"- Fariz
__ADS_1
"Ahaha iya nak, iya nak"
BERSAMBUNG......