Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Malam Ini Menginap Dikampung Istri


__ADS_3

Setelah Fatih menyesap minuman hangat nan segar penghilang pusing, Fatih berpindah pada makanan yang berwarna hijau yaitu daun ketela


"Hmm kayaknya enak sayang. Hijau banget bikin ngiler" Fatih mulai mencocol lalapan tersebut kesambal "Emm mantab"


"Nasinya juga dimakan, jangan lalapnya doang yang dimakan. Sama lelenya juga" Ucapnya sambil mengambilkan ikan goreng, kepiring suaminya


"Jangan, jangan sayang. Ntar mas ambil sendiri. Ikannya ambil dulu" Kemudian Fatih menyuapkan lalapan dan mencocolnya berkali-kali


"Heran ya, ini ikan kan enak. Dulu waktu pertama kali mas makan disini juga lahap, dan katanya suka"


Fatih menatap Retno "Sayang, mas hanya ingin ini. Enak"


"Sudah, jangan terlalu dipaksa Fatihnya. Orang ngidam itu, semuanya diluar nalar. Jadi, kamu yang nurutin" Ucap bu Rani yang sedang nonton televisi bersama babe


Retno berdiri "Bu, lihat" Retno memperlihatkan piring lauk, halus tidak menyisakan daun secuilpun "Ini doyan apa doyan"


Fatih tidak menggubris. Ia tetap mengunyah pumpung masih punya selera makan


"Sudah jangan dipermasalahkan. Belakang masih banyak. Ntar petik lagi" Bu Rani menengahi


"Bukan gitu bu, ikannya nggak mau. Nggak dimakan" Retno menoleh kearah Fatih, yang sedang menyesap wedang markisanya tanpa ingin berkomentar.


Retno mengangkat piring yang sudah kosong milik Fatih "Busyet, nasinya sampai habis, tapi ikannya nggak dimakan?"


"Nggak mau"


"Nggak mau?? Idih, tumben-tumbenan ikan nggak doyan. Kan enak mas, bergizi. Masa mas jadi berubah kayak kambing, sukanya daun"


"Hus. Suami sendiri dibilang kayak kambing. Memangnya kamu mau ngelonin kambing" Sarkas ibunya


Fatih hanya tersenyum, melihat istrinya dimarahi mertuanya


Retno menatap Fatih "Ih, ngapain senyum senyum"


Fatih sibuk mengelap wajahnya yang bermandikan peluh keringat "Enggak.. Wedangnya mantab, lalapannya juga mantab"


-


Malam harinya


Mereka berkumpul diruang televisi semua


"Menginap disini ya.. Sekali kali, ibu dan babe biar lihat anak dan mantu tidur disini"


Bu Rani usianya diatas Fatih sekitar 5 tahun, sedangkan usia babe, 10 tahun lebih tua dari usia Fatih


Meskipun hanya selisih sedikit, Fatih terlihat jauh lebih muda dari mereka. Mungkin kehidupan dikota dan didesa sedikit berbeda. Ditambah, menikahi wanita yang jauh dibawah usianya


Orang bilang nyetrum. Retno terlihat lebih dewasa, sedangkan Fatih terlihat lebih fres. Jadi, wajah mereka menyatu serasi


"Tapi, saya nggak bawa ganti bu" Jawab Fatih jujur


"Nggak masalah. Ada gantinya"


"Maksud ibu, ibu mau pinjemin mas Fatih pakai baju babe bu?" Ucap Retno, yang tidak faham maksud perkataan ibunya


"Hus ngarang. Enggaklah" Bu Rani berjalan menuju kamarnya "Sebentar"


Semuanya terdiam semua, sambil menatap punggung bu Rani, yang menghilang dibalik pintu kamarnya


Bu Rani sudah keluar, sambil menenteng paper bag, lalu menyerahkan pada Retno "Dulu, sebelum kalian resmi menikah, ibu membelikan sesuatu untuk kalian" Ada jedah "Tapi, ibu lupa ngasih. Karena ada keributan waktu itu"


"Sudeh, jangan diungkit lagi bu. Nyang penting kalian berdue tidak masaleh kan disane" Selah babe yang tidak mau mengenang hal buruk yang pernah menimpa dikeluarga ini

__ADS_1


"Iya beh nggak ada apa apa. Kami baik baik saja disana" Jawab Retno


Fatih hanya manggut-manggut


"Ya sudah, itu dipakai. Semoga cocok ya"


-


Fatih dan Retno sudah dikamar


Ternyata, baju yang ibu berikan pada Fatih, seperangkat.


Ada kemeja, celana, CD, kaos dalam, sarung, kopiah, dan sandal


"Lah, komplit banget sayang mbeliinnya"


"Coba mas, semuanya dipakai. Cocok nggak"


Fatih mulai mencobanya, yaitu celana


Retno hanya menonton, dan menilai, alias menjadi juri saja "Celananya yang aku lihat bagus mas, cocok. Mas sendiri cocok nggak?"


Fatih tersenyum "Cocok kok" Bohongnya


Padahal sedikit kurang nyaman, karena biasanya celana yang ia punya selalu diukur setiap pembuatan. Kini, mertuanya membelikan celana jadi, dengan ukuran umum


Tapi Fatih tetap menghargai pemberian orang tua, yaitu memakainya "Iya mas suka"


"Ya udah, celananya dipakai besok aja, buat pulang"


"Terus mas pakai CD doang?"


"Kan ada sarung. Biasanya juga gitu kalau dirumah"


Tangan Retno menjulur "Sini aku lipetin"


Mata Retno kemana, tangannya juga kemana "Mas!!"


Fatih tersenyum "Begini nih, kalau dipaksa menginap. Nggak ada celana pendek buat nutupin ini" Tunjuknya pada singkong, yang barusan tersentuh oleh Retno


"Nggak terima nih maksudnya?" Retno mencelos membelakangi Fatih


Fatih segera naik keranjang, dan merengkuh istrinya "Oh"


"Ih minggir ah, orang kepaksa gitu" Bohongnya ngambek, padahal ingin tertawa


"Sayang, lihat dong" Fatih turun dan berdiri


Retno menatap suaminya yang hanya menggunakan CD dan kaos oblong, pemberian ibunya


Lalu "Wahahaha wahahaha" Retno tertawa terbahak bahak


Fatih naik ke ranjang dalam diam, lalu merebahkan tubuhnya saja, tanpa selimut tanpa sarung "Terus aja ketawa" Kesalnya


Retno langsung terdiam sambil mengelap airmatanya, Lalu memeluk tubuh suaminya yang separuh telan jang


"Maaf.. Nggak enak kalau mau nolak mas. Semalaaam aja tidur disini, ya mas"


Fatih meringkuk membelakangi Retno


"Oh" Retno terus merayu suaminya, agar moodnya berubah


Retno mulai mencium pipi Fatih dari samping "Emmuah.. Aku selimutin deh" Retno membentangkan selimut, agar menutupi mereka berdua

__ADS_1


Fatih merubah tidurnya, lalu memeluk tubuh istrinya "Emmuah, mas kangen"


"Bener?"


"He em"


"Hayuk mas.. Ngomong kek dari tadi. Gitu aja muter muter"


"Ih, istriku girang banget diajak bercinta. Kangen juga ya"


"Ah... Mas jangan gitu. Lama banget mas nggak tengokin aku"


"Iya, iya maaf"


-


Pagi harinya, mereka berpamitan dan menuju keapartemen


Fatih segera mengganti baju pemberian mertuanya, mengganti dengan seragam dinasnya


"Sayang, mas berangkat ya.. Jaga dirimu baik baik"


"Iya mas.. Oiya, mas nggak pakai dasi?"


"Nggak ah, begini aja. Hari ini ada pasien yang akan dioperasi. Jadi, mas harus ganti seragam lagi disana"


"Oh"


Fatih menciumi seluruh wajah istrinya, yang sudah beberapa minggu telah ia anggurin, gara-gara pusing kepala dadakan


"Hati hati mas"


"Iya sayang"


-


Dunianya Husayn


Sebagai salah satu garda terdepan dalam masalah kesehatan, seorang dokter diharapkan dapat menguasai penyakit yang diderita pasien, serta mengetahui bagaimana kemunculan penyakitnya.


Nah, hal ini ternyata juga dapat digeluti secara khusus oleh dokter spesialis patologi anatomi ini



Patologi merupakan salah satu cabang ilmu kedokteran, yang berfokus dalam mempelajari penyakit dan bagaimana penyakit tersebut bisa terjadi.


Melalui ilmu ini, Husayn bisa mengetahui seperti apa karakter dari suatu penyakit serta tingkat keparahannya.


Dr. Alhusayn Putra Zayn Sp PA atau dikenal dengan dokter spesialis patologi anatomi ini, bertugas dalam bertanggung jawab untuk membantu mendiagnosis yang paling akurat, agar pasien bisa mendapatkan perawatan yang tepat.


Tanggung jawab ahli patologi seperti Husayn ini, meliputi pemeriksaan jaringan tubuh, melakukan tes laboratorium, dan membantu jalannya pengobatan.


Untuk menjadi seorang ahli patologi, Husayn telah menempuh pendidikan kedokteran dan menjalani masa Co-assisten, sampai mendapatkan gelar dokter. Lalu, pendidikan dilanjutkan dengan spesialis patologi yang umumnya berlangsung selama 8 semester atau tergantung kebijakan setiap sentra pendidikan.


Dan ahli ini, berfokus pada deteksi penyakit melalui pemeriksaan penyakit, dengan prosedur biopsi atau pengambilan jaringan tubuh.


Nantinya, Husayn akan mengidentifikasi adanya kelainan pada sampel yang diambil, untuk mendiagnosis dan menganalisis tingkat keparahan suatu penyakit


Pada kesehariannya, spesialis patologi ini cukup jarang bertemu dengan pasien. Jam kerjanya pun cenderung teratur seperti jadwal kerja pada umumnya.


Meski demikian, ada kalanya spesialis dalam bidang ini juga harus melakukan kunjungan pada pasien demi memastikan bahwa mereka telah mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisinya.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2