
"Tuh kan mas" Retno menendang kaki Fatih dibawah sana
"Arin, selesaikan makannya. Ntar papa antar kamu kesekolah" Tegas Fatih
Arin manyun "Nggak disini, nggak disana. Selalu nyuruh Arin untuk cepat"
"Kamu makannya pelan banget. Dikunyah, jangan diemut begitu. Kunyah-kunyah leg, kunyah-kunyah leg. Gitu aja susah" Ejek Fatih
"Ish papa. Daddy itu sudah galak pa, kenapa papa Fatih lebih galak" Dengusnya kemudian makan kembali
"Karena papa ingin Arin disiplin" Tegas Fatih kembali
"Ah, sama. Mentang-mentang kembar aja sama-sama galak"
"Arin.." Panggil mama Sifa, Arin menatapnya "Papa Fatih benar. Kamu itu dah gede. Gigimu itu udah penuh. Bukan bayi lagi. Makan yang benar. Biar nggak telat" Tegur mama Sifa, kemudian Arin melahap lagi makanannya dengan malas
Teng tang teng tang
Suara piring diketuk sendok oleh Arin, Arin merasa kesal karena ditegur sana-sini "Ah, grandma. Sama"
"Makan" Omel Fatih
"Ish"
"As is as is. Dibilangin kok ngeyel" Fatih kembali lagi mengomel
Tiba-tiba si Fahri berjalan mendekati Arin, lalu menggigit lengan Arin
Cegut
"Wataaaaaaaaaaa.... " Jerit Arin membuat semuanya terkejut seketika
"Apa-apa, ada apa" Fatih segera berdiri dan mendekati Arin
Arin sudah berteriak teriak sambil mendorong kepala Fahmi
Fatih menjauhkan Fahmi dari dekat Arin "Fahmi, Fahmi. Apa yang kamu lakukan" Tegur Fatih sambil mengangkat putranya yang hobby sekali menggigit seseorang "Mulai dari kapan sih hobbynya suka menggigit" Fahmi sudah dipisahkan dari Arin
Setelah terlepas, Arin berdiri menjulang dihadapan Fahmi sambil berkacak pinggang "Awas kamu ya, gigimu, akan aku gergaji biar tumpul" Ancamnya
"Ya Allah... " Fatih tepuk jidat "Mih, coba ini si Fahmi mi. Kenapa main gigit. Ada apa dengan dia"
Retno mengangkat Fahmi "Fahmi, Fahmi kan udah gede, kenapa sukanya gigit"
"Kak Alin yang menyuluh" Suara Fahmi yang masih cadel
Bersamaan itu
"Arin, kau tidak apa-apa" Tanya Fatih sambil memeriksa lengan Arin yang tergigit putranya barusan
Arin tidak menjawab pertanyaan Fatih. Melainkan menatap Fahmi "Apa!! Kapan aku menyuruhmu gigit !!" Kesal Arin berapi-api, membuat Fahmi menciut
"Kan kakak yang manggilin" Jawaban Fahmi membuat semua orang tua menelan ludah kasar
"Manggilin. Memangnya aku tukang bubur?? Terus kamu ingin beli?? Aneh" Masih Arin yang marah-marah
"Sudah, sudah. Sini papa obatin" Fatih mengolesi krem pada lengan Arin, agar tidak infeksi "Arin tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa bagaimana, pa. Ini giginya si Fahmi nemplok disini, huh" Arin mendelik pada Fahmi "Dasar, mata belok" Ejeknya pada Fahmi
"Arin... Jangan suka ngejek" Tegur mama Sifa. Sedangkan Fatih hanya geleng-geleng kepala
"Habis, cucu grandma tuh" Kesal Arin
"Kamu juga cucu grandma" Saut Fatih
__ADS_1
"Aku salah terus. Dimana-mana aku salah terus" Kesal Arin lagi. Membuat semuanya geli "Berantem sama kakak, katanya aku kurang ajar. Berantem sama seumuran, yang rukun" Ucapnya sambil menirukan gaya Hanan "Giliran berantem sama situyul, papa mau bilang apa sama aku" Arin menatap Fatih "Pasti, jangan nakal, Arin..." Ucapnya mengikuti gaya Fatih
Fatih terkekeh "Eng.. Apa, Arin ingin mengaduh sama daddymu, hum?" Tanya Fatih kemudian berdiri
"Ish jangan. Ntar tambah sakit hati aku, pa" Ucapnya mengikuti Fatih yang tambah menjulang
"Hah" Fatih melongo kemudian tertawa "Kok sakit hati. Memangnya kalau Arin mengaduh, daddymu marah-marah gitu"
"Iya. Aku nggak pernah benar Pa. Selalu salah melulu"
Fatih memeluknya "Duh, kasihan"
"Banget" Sambung Arin membuat Fatih terkekeh geli
Fatih mengusap kepala Arin "Ya sudah, sini papa cium. Biar Arin betah disini" Fatih menciumnya "Gini-gini anak papa nih"
Arin tersenyum senang
-
Dihalaman rumah, Fatih dan Arin sudah berpamitan kepada mama Sifa, kemudian berpamitan pada Retno dan kedua putra kembarnya
Sambil mengusap kepala kedua putranya, Fatih berpesan pada mereka "Sayang, jangan nakal ya.. Jagain mami dan grandma, OK"
"Ok dad" Jawab mereka.
Kemudian Fatih berdiri mengecup pelipis sang istri
Ternyata, tetangga depan memperhatikan keluarga ini "Pah lihat deh tetangga kita yang baru pindah" Tunjuk si istri pada keluarga Fatih
Suaminya "Emang kenapa?"
Istri "Suaminya selalu mencium istrinya sebelum pergi, kenapa papah gak pernah kayak gitu?"
Istri "Papa!! Bukan itu maksudnya. Maksudnya, cium aku pah. Aku!!!!"
Suami "Ealah tobil-tobil"
-
Arin sudah diantar kesekolah terlebih dahulu
Arin sudah turun dari mobil "Makasih ya, pa"
"Iya. Arin ada uang jajan?" Tanya Fatih
"Ada pa. Ini" Arin mengeluarkan uangnya dari sakunya
"Oh, ya sudah. Kalau sudah selesai sekolah, minta jemput rumah ya? Biar pak Sopyan yang menjemput"
"Siap pa"
"Ya sudah"
Arin mencium tangan Fatih, kemudian berbelok, lalu berlari masuk kekelasnya
-
Hari berikutnya dihari libur
Arin ada praktik menggambar dengan media cobek yang dilukis dengan menggunakan cat air
Arin menggambar cobek itu dengan lukisan gunung
Tiba-tiba Fahmi menginjak cat yang berbentuk pasta kecil itu hingga catnya keluar mengenai kaki Arin
__ADS_1
Arin mengabsen kakinya yang berlumur cat
Arin menatap darimana sumber cat yang bisa mengenai kakinya
Arin menoleh kearah samping. Ternyata ada dua bocah yang sudah cengar cengir dihadapannya
"Fahri !!! Fahmi !!" Teriak Arin, membuat kedua bocah itu berlari terbirit-birit
Arin mengejar-ngejar bocah 4 tahunan itu hingga kehalaman
"Mas. Suara Arin tu" Retno terkejut mendengar teriakan Arin "Mas. Arin itu, ada apa" Retno mencolek lengan suaminya
Fatih berdiri, kemudian berjalan cepat menuju teras yang diikuti oleh Retno
Keduanya geleng-geleng melihat Arin menarik kedua lengan putra-putranya dari halaman menuju ke teras
"Ada apa Arin?" Tanya Fatih
"Ini, ni pah. Mereka menginjak cat ku" Arin menunjukkan kaki yang terkena cat pada Fatih
"Mami" Ucap Fahmi dan Fahri bersamaan
Fatih mengambil alih kedua bocah itu dari Arin "Ayo, kalian nakal ya, sama kak Arin?" Tanya Fatih pada keduanya
"Enggak!! Tuh yang nakal" Diucap bersamaan dan saling tuduh
"Hayo, gimana nih tugasku" Arin marah-marah sambil membereskan alat-alat lukis itu
"Aku kan nggak sengaja kak" Kata Fahmi
"Oh, jadi Fahmi yang menginjak catnya punya kak Arin?" Tanya Fatih pada Fahmi
Fahmi mengangguk
"Minta maaf sana" Dorongnya pada Fahmi
"Enggak mau, takut"
"Takut kok bikin ulah. Ayo, jangan jadi cowok yang pengecut. Daddy tidak suka"
Kemudian, Fahmi memberanikan diri maju untuk meminta maaf "Kak Alin, mau minta maaf"
Retno dan Fatih saling tatap
"Jagoan kita beraksi sayang" Ucap Fatih pada Retno
Arin menatap tangan Fahmi yang menjulur "Ini gara-gara kamu. Gunungnya jadi aku kasih warna orange biar gersang sekalian"
Fatih mulai jongkok "Coba, sini papa bantu"
Fatih mencolek cat warna biru itu yang berada dikaki Arin, untuk mengecat gunung itu dengan warna biru
"Pah. Ih, papa jorok" Arin menjauhkan kakinya dari jangkauan Fatih
"Nggak pa-pa. Inikan hanya cat. Bukan makanan"
"Kalau gitu, Fahmi minta ya dad" Kata Fahmi
Arin berdiri "NGGAK BOLEH !!!!!!"
__ADS_1