Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Soto Untuk Papa Mertua


__ADS_3

Bibi penjaga bayipun kedepan "Maaf tuan. Bayi ini milik nyonya Vivi"


Semuanya langsung senyap


"Ceritakan bi" Mama Sifa mempersilakan si bibi untuk bercerita pada Fatih


"Begini tuan. Saya sudah bingung. Nyonya Vivi menghilang beberapa hari ini. Bayi Elsa menangis terus. Makanan, susu, semuanya habis. Uangku juga ikut habis karena nyonya sudah tidak bekerja. Kemarin-kemarin sebelum menghilang, nyonya Vivi bilang, mau nyari pekerjaan. Tapi saya tunggu sampai semingguan, tidak ada kabar. Bahkan kami sendiri sudah diusir dari apartemen, yang ibu beli lewat cicilan. Maafkan saya tuan, saya benar-benar bingung"


"Terus, kenapa bibi mencari keluarga kami. Memang, suaminya kemana" Saut Fatih sedikit kesal


Retno langsung memegang tangan Fatih, agar jangan emosi


Dengan bergetar, bibipun menceritakan bahwa rumah tangga mereka hancur, saat baby Elsa masih berada dikandungan


"Setiap hari mereka berantem karena duit. Setiap malam suaminya pergi, lalu pulang pagi dan mabuk-mabukan. Dan, setiap hari yang mereka ributkan hanya uang, dan uang. Sampai rumah tuan" Bibi menunduk. Ada jedah. Maksud bibi rumah tuan Fatih yang pernah direbut "dijual, lalu mereka pindah kekontrakan. Tapi suaminya tidak terima. Ia ingin mendapatkan uang dari penjualan rumah tersebut. Sampai pada suatu hari, mereka berantem hebat, nyonya Vivi sudah tidak mau memberikan uang lagi kepada suaminya. Dan kami kabur, lalu dari sisa uang yang ada, nyonya Vivi membeli apartemen kecil, dengan cara mencicil. Dari situlah nyonya terpukul. Dalam keadaan hamil besar, ia sudah ditinggalkan segalanya. Suami, harta, semuanya lenyap"


"Terus, kalau bayinya sudah dibawa kemari, bibi mau kemana ?" Saut mama Sifa


"Pulang kampung aja nyonya"


Fatih sudah pusing. Jam istirahatnya juga hampir habis "Pa, ma, Retno kemari membawa makanan kesukaan papa. Kami ingin makan bersama mama dan papa"


"Oh benarkah, apa itu" Ilham segera memburu mengikuti Retno dan Fatih


Fatih mengambilkan tungku kecil, yang ditaruh diatas meja, untuk memanaskan soto "Taruh diatasnya sayang"


Retnopun menurut. Menaruh panci yang berisi soto, untuk dipanaskan diatas tungku


Komporpun dinyalakan


Fatih dengan cekatan mengambilkan piring, sendok, mangkok, gelas, dibantu oleh Art sini


Papa Ilham segera duduk dikursi ujung seperti biasanya. Sambil tersenyum lebar "Waw.. Enak banget kayanya. baunya harum, menggoda perut"


Mama Sifa datang "Bayinya taruh dibox bi. Terus kamu makan"


"Nggak nyonya, nyonya makan dulu. Saya akan menidurkan genduk dulu" Ucap bibi sungkan


Retno berdiri dan sudah memegang mangkok "Papa, papa ingin dikasih mie soun nggak?" Tawarnya pada papa Ilham


"Iya dikasih. Papa kangen sama soto Pekalongan. Tauconya yang bikin kangen"


"Iya pa. Tapi tauconya sudah saya aduk didalam kuah. Mau dikasih sambal?" Tanyanya lagi


"Jangan-jangan" Diucap serempak oleh mama Sifa dan papa Ilham. Membuat Fatih dan Retno tersenyum.


Semalam Fatih sudah bercerita, kalau papa Ilham tidak suka pedas.


"Hehe.. Ini pa, semoga rasanya pas dilidah ya pa"


"Terimakasih"


Selagi Retno mengambilkan mienya


"Sudah, sudah jangan banyak-banyak. Punya mama separuhnya papa aja" Mama Sifa sudah ramai tidak mau makan banyak


Retno tersenyum sambil melirik suaminya. Ternyata yang suaminya ucapkan semalam, benar semua


"Mas kayak papa kan, nggak kayak mama?" Candanya


"Iya, iya. Ambilnya sama kayak papa" Jawab Fatih

__ADS_1


"Kasih sambal?"


"Dikit"


Sewaktu melihat Retno meladeni putranya. Mama Sifa dan papa Ilham merasa gembira tiada tara.


'Semoga kalian diberi jodoh yang panjang anakku'


-


Pengukur waktu sudah menunjukkan pukul 12:45


Fatih segera berpamitan, tapi tidak dengan Retno


Retno ingin tinggal disini, sambil menunggu Fatihah pulang kuliah


Setelah Fatih benar-benar tidak tampak, Retno pun menghampiri baby Elsa


"Hei cantik, kok belum tidur" Retno mengangkatnya "Uh... Cantiknya mama" Mata Retno berkaca-kaca


Mama Sifa dan papa Ilham saling tatap


"Ma, jika saya diizinkan oleh mas Fatih, saya ingin mengasuhnya"


"Tapi kamu kan masih muda. masih bisa memiliki anak sendiri. Kenapa kamu ingin mengasuhnya. Apalagi itu lahir dari mantan istri suamimu. Apa kamu tidak sakit hati" Papa Ilham sedikit menolak menantunya untuk mengasuhnya. Takutnya suami Viviana merebut, setelah Retno menyayangi sepenuhnya pada anak Vivi dan suaminya


"Terus, bayi ini mau diapakan Pa. Diakan tidak punya dosa"


Mereka bertiga saling tatap


"Oiya ma, Pa.. Saya kan buka laundry baru-baru ini"


"Dibawah rumah kami ma" Retno menatap bibi "Kalau bibi ingin bekerja pada kami, bibi sekalian bawa baby Elsa. Nginep disana nggak pa-pa" Sambung Retno


"Memang, karyawan kamu berapa?"


"Dua ma. Kawanku dan ibunya"


"Luas nggak tempatnya, maksudnya untuk bayi kan kasihan"


"Lumayan ma, kan satu ruko, dengan kamar tidur 1. Kalau bibi tidak keberatan, kita bisa saling bantu bi" Menjawab pertanyaan mama Sifa, sekalian memberi gambaran pada bibi


"Memangnya ramai ya?" Sekarang papa Ilham yang mulai kepo


"Lumayan Pa. Pelanggannya pasien yang ada dirumah sakit"


"Oh, kalau penghuni apartemen?"


"Ada tapi masih sedikit pa"


"Oh, sepertinya Retno bisa membantu ma" Ucap papa Ilham pada mama Sifa


"Memangnya maaf, kalau boleh tau, bayi ini mau di taruh dimana ma. Maaf sekali lagi" Tanya Retno lagi dengan sopan


"Panti asuhan kita" Jawab papa


"Oh, memang keluarga ini punya pa"


"Iya, punya. Tapi letaknya jauh dari sini. Makanya, pas kamu bilang ada yang bisa kamu bantu, ya lakukan. Papa mendukung"


"Pa, mama jadi penasaran. Ingin lihat sana"

__ADS_1


"Ya nanti kesana. Tapi yang papa pikirkan, itu Fatih. Gimana reaksinya"


"Retno.. Nanti kamu ya, yang ngerayu" Sifa berbisik pada Retno "Mama juga ya, gimana ya, jangan lihat emaknya. Lihatnya bayinya. Mama nggak tega"


Retno tersenyum


"Terus, cari dukungan" Ejek papa, pada mama Sifa


"Hehe.. "Liriknya pada suaminya, lalu menatap sang bibi "Siap-siap bik, kita cabut dari sini"


"Nggak menunggu Fatihah ma" Tanya Retno


"Nggak. Dia pulangnya sore"


Akhirnya, mereka diangkut ke kediaman rumah Fatih. Tepatnya di ruko laundry


-


Sesampainya disana, Sri dan bu Erna, ibunya Sri. Sedang sibuk membungkus baju keplastik, setelah selesai digosok


"Sri, bu" Sapa Retno sambil membawa rombongan masuk


"Eh, Retno.." Ucap mereka bersamaan


"Bu, kenalkan. Ini mama dan papa mertuaku"


Bu Erna Dan Sri pun kedepan untuk menyambut tamu agung


Mereka semua berkenalan, sekaligus memperkenalkan bibi serta baby Elsa yang akan tinggal disini


"Nggak pa-pa tinggal disini. Malah enak ramai" Ucap bu Erna


"Bi Juni, bibi tinggal disini ya.. Bersama baby Elsa, bu Erna, dan juga Sri. Kalau ada apa-apa, tinggal ngomong"


Semuanya mengangguk patuh


"Kalau begitu, kami pulang" Ucap papa Ilham, lalu memeluk Retno


"Papa terima kasih"


Papa Ilham mengangguk, lalu menepuk pundak Retno


Begitupun Sifa "Ya sudah, waktunya sudah sore banget. Kami pulang ya nak" Sifa memeluk Retno, seperti papa Ilham


"Makasih ma.."


"Sama-sama sayang"


Mereka bertiga, akhirnya keluar


Tapi tak disangka, diluar bertemu Fatih yang sudah pulang dari rumah sakit


"Mama, papa, mau nginap disini?" Ucapnya sambil memeluk mama Sifa erat


"Kau ini, sudah tua juga, peluknya kayak Imran dan Fawas. Kayak anak kecil" Ejek Mama sambil tersenyum


"Tadi siang kan nggak ma"


"Ya sudah, papa sama mama pulang ya, kalian berdua yang akur" Ucap papa, membuat Fatih langsung merangkul Retno erat


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2