Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Hati Ke Hati


__ADS_3

Semalam, Husayn dan kawan-kawan bermain badminton digedung olahraga sekitaran lapangan


Sambil menunggu giliran, iapun ngetem alias nongkrong di warung tenda Warkonap "Warung Kopi Nak...Pol"


Tadinya hanya menebak-nebak kembarannya itu hanya ilusi 'Ah, nggak mungkin Fatih sampai kemari. Fatih kan pemalas' Begitulah kiranya hati Husayn


Lalu timbullah ia iseng.


Jepret, jepret, preeeetttttt


Gambar-gambar Fatih yang sedang menatap intens pada wanita yang duduk didepannya, lalu Fatih mengambil sate dan ingin menyuapinya


'Mencurigakan ini, masa kak Fatih. Bener nggak sih'


Iapun menge zoom gambar hasil bidikannya


'Busyet, ternyata benar, ini kak Fatih. Dapat cewek dari mana dia. Diam-diam menghanyutkan. Kayak masih bocah tu cewek. Dasar, pedofil'


"Oke, ku shot kamu"


Sewaktu husayn akan membuat video, ternyata fatih sudah naik kemotor. Dan yang menjadikan Husayn ingin melaporkan pada mamanya, fatih terlihat mesra sekali dan perhatian sama si cewek


"Itu simpenannya kakak bukan sih"


Fatih melintasi Husayn, namun Fatih tidak melihat siapapun karena isi otaknya, cuma Retno


"Eh, dapat baby sugar dia. Nggak kalah sama mak codet" Gerutunya sambil mengambil gambar bergerak "Oke, kukirim sama mama. Biar tau rasa haha"


Dikediaman Sifa


Sifa sudah mencak-mencak karena gambar kiriman dari Husayn "Pa, kita kecolongan"


"Apa sih ma, ngomong yang bener. Duduk"


"Aku nggak bisa duduk pa. Gedek rasanya"


"Memang mama gedeknya sama siapa?"


"Fatih pa. Dia tadi pamitnya mau main ketempat teman. Tapi apa, ini" Sifa memberikan ponselnya pada Ilham


Ilham melihat gambar dan video tersebut


"Kayak papa kenal ya ma, sama ini bocah"


"Temennya Fatihah pa, si Retno. Anaknya haji Kohar"


"Oh.. Pantesan tidak asing"


"Kalau gitu, mama ingin telepon Kohar"


"Mama mau ngapain? Ngelabrak?"


"Ngelamar dong pa. Galaknya mama, jangan sampai mama ngelabrak orang"


Ilham lega mendengar jawaban Sifa


Selagi Sifa memencet tombol untuk menelepon babe, mulut Sifa ngoceh tidak berhenti "Pokoknya, aku harus lamarkan dia"


"Memangnya jelas ma, mereka ada hubungan"


"Bodo amat. Anak kita itu masih muda, memangnya papa nggak kasihan. Lama-kelaman pria ngejomloh, bisa-bisa lapuk dimakan umur pa"


"Ahaha" Ilham tertawa


Dan disitulah, babe kohar setuju untuk lamaran besok


-


Kembali ke lamaran


Mereka berdua duduk bersisihan sambil mendengarkan sambutan dari kedua keluarga


"Retno.. " Panggilnya lembut


"Iye om"


"Kau yakin mau menjadi istriku"


"Mau gimane lagi om. Babe ngotot buat ngejodoin aye eh, aku sama om"


"Kenapa? Apa alasannya"


"Gara-gara semalam om"


"Semalam kenapa?"


"Kita kan keluar bareng om"


"Tapi kita kan nggak ngapa-ngapain. Akupun izin sama babe, dan diizinkan kan oleh babe, salahnya dimana"


"Tapi.. "


"Tapi apa"


"Babe takut terjadi apa-apa padaku"


"Takut??"


Retno mengangguk


"Takut kenapa??"


"Takut aku hamil"


"Hamil??"


Retno mengangguk lagi

__ADS_1


"Hamilnya lewat mana. Kan aku nggak ngapa-ngapain kamu Retno... Kamu masih utuh"


"Tapi om kan udah pegang-pegang aku om"


"Hah??"


'Betul sih, aku dah pegang-pegang, tapi kan dikit'


"Dan om juga membawaku"


'Iya betul sih, aku membawanya'


Fatih menghela nafas panjang "Kasusnya itu doang"


Lagi dan lagi, Retno mengangguk lagi "Iya"


Retno menatap Fatih intens


"Ada apa?" Tanya Fatih


"Om mau menghindar ya? Nggak mau bertanggung jawab"


"Bukan, bukan itu maksudnya"


"Terus, dari tadi om kok seperti tidak percaya aku ngomong" Wajah Retno sudah tak karuan bentuknya, dan susah dibedakan, antara ingin menangis, cemberut, kesal, numpuk jadi satu


"Astagfirullah Retno... Nikah sekarang saja aku mau. Ayo kita nikah. Nggak usah kita main lamar-lamaran"


"Ih, jangan om. Dikira aku hamil duluan"


"Hah??"


"Kata ibu" Ucapnya sambil menunduk "Ibu bilang, kalau kita langsung nikah. Dikira begitu. Hamil duluan. Nanti diejek lagi sama tetangga. Jadi gunjingan mereka"


"Oh.. Kirain mau sekarang"


"Ya nggak om, nungguin aku wisuda dulu"


"Kirain, nungguin tanggal 30 februari"


"Ih om. Mana ada"


Fatih menatap Retno dengan seksama "Apa, kau yang sebenarnya ingin menghindar?"


"Bukan om"


Fatih menatap Retno lagi seakan bertanya 'Terus'


"Aku ingin mengenal om lebih dalam"


"Kalau ingin mengenalku lebih dalam, ayo menikah"


'Nanti kau akan tau seluruh dalemanku'


Retno menatap Fatih dengan bingung


Fatih menoleh kearah Retno "Kau tau"


"Aku belum ngomong, sayang"


Retno tersenyum. Baru pertama kali ini dirinya dipanggil sayang


Fatih ikut tersenyum "Maaf keceplosan"


Mereka terdiam sejenak menyelami hati mereka masing-masing


"Ah" Ucapan mereka bertabrakan


"Kamu/om dulu" Ucapan mereka bertabrakan lagi


Mereka saling tatap


Sejenak pandangan mereka beradu


'Om, wajahmu.. ' Retno malu tapi ingin membingkai wajah Fatih yang diam-diam membuat Retno terkesima


'Meskipun om tidak muda lagi, wajah om yang mulus dan senyum om yang tidak murahan, membuat dadaku penuh om. Aku ingin memegang wajah mu. Wajah yang mulus, bersih seperti tidak berpori. Dagu, atas bibir yang terlihat biru. Aduh, apa itu nanti aku akan bisa memegangnya' Retno memejamkan matanya. Khayalan nya terlalu tinggi


"Retno.. "


Retno masih terdiam


"Retno"


"Hmmm"


Fatih menatapnya lagi "Kamu melamun"


"Tidak om, aku memikirkan lele" Bohongnya


"Lele??"


"Tidak, tidak om"


Tatapan mereka bersirobok


"Om mau ngomong apa" Bibir berucap, tapi matanya menatap bibir Fatih yang merah


"Kau tau, sebelum kemari aku dibuat bingung"


"Bingung, bingung kenapa"


"Aku dan keluargaku berdebat"


"Berdebat apa om"


"Berdebat masalah melamar"

__ADS_1


"Tadi??"


"Iya. Semua keluargaku menyuruhku untuk berpakaian kembar seperti ini"


Retno langsung menatap seluruh keluarga Fatih


"Eh, om. Yang kembar orangnya, apa bajunya" Ucapnya kebingungan


Fatih tersenyum "Dua duanya"


Retno menatap quadruple bergantian "Jadi om kembar??"


"Iya"


"Sama mereka"


"Iya"


"Wah, kalau nanti aku keliru bagaimana om"


"Ya jangan sampai"


"Aku membedakan nya lewat apa om. Sama semua"


"Lihat jidatku" Tunjuknya pada andeng-andeng


"Andeng-andeng??"


"Iya"


"Mereka tidak punya??" Tanya Retno


"Punya. Tetapi beda tempat"


"Jadi, aku harus hafalin wajah om saja?"


"Iya, itu dulu. Lain-lainnya nyusul" Fatih menoleh lagi kearah Retno "Kau tau reaksiku saat itu apa"


"Apa"


"Aku berdebat dengan mereka. Karena apa?"


"Apa"


"Aku mau dilamarkan dengan seseorang, kata mereka"


"Terus om"


"Aku tidak mau dijodoh-jodohkan"


"Jadi om kesini terpaksa"


"Aku belum selesai ngomong. Kalau mereka jujur mau melamarkan kamu untuk ku, nggak perlu lah aku berdebat. mungkin, seminarnya aku singkat, dan lari kemari"


Wajah Retno memerah "Memangnya om tadi habis mengikuti seminar"


"Iya. Dan satu jam kemudian aku sudah disini. Tau gitu, aku nggak usah kasih wejangan pada para audien"


"Kok"


"Terlalu lama. Ditambah aku berdebat"


"Jadi om baru tau, kalau sore ini mau melamarku?"


"Iya. Orang aku nggak tau belass wanita yang akan aku lamar. Kalau tau wanita itu kamu.." Fatih menggantung ucapan nya sambil tersenyum simpul


'Aku buru-buru aja mandi, dan nggak perlu yang namanya debat'


"Apa" Retno tersenyum samar tapi hatinya berbunga dan gembiranya tiada tara


"Langsung aja lari kemari, nggak usah mandi"


"Ih om jorok"


Tiba-tiba


"Eh ehm. Sudah, ngobrolnya" Sang perias mendekati pasangan ini "Sekarang, berdiri yuk, disana" Ucap perias, lalu menggiring mereka ke backdrop lamaran


Setelah pasangan ini berdiri didepan,


Husayn merangkul Sifa "Kayak mama dulu ya" Tanyanya


"Ah kamu, mama mana ada lamaran. Yang ada langsung nikah"


"Terus, mama ingin dilamar sekarang" Bisiknya lagi


"Hus"


"Habis mereka poto-poto, backdropnya kan nganggur ma, sayang. Tinggal diganti nama doang. Ilham dan Sifa, gimana?"


"Jangan gila kamu, orang tua kok dikerjain"


"Tidak mama, maaf ya guyon"


Plok


"Kau ini"


"Acara berikutnya yaitu, tukar cincin"


Tiba-tiba Fatihah maju "Daddy, biar aku yang makein"


"Kenapa kau ikut-ikutan"


"Daddy, kalian itu belum muhrim. Nggak boleh" Fatihah mengambil salah satu cincin yang ukurannya agak kecil


Fatihah menghadap ke Retno "Kak, kata daddy, aku disuruh nglamar kakak. Terima ya... "

__ADS_1


Hah????????? Semua umat melongo berjamaah


BERSAMBUNG....


__ADS_2