Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Melahirkan


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


Perut Retno terdiam, tetapi beberapa menit kemudian, perut itu terasa diobok-obok karena gerakan bayi yang berada dikandungan mulai menyerangnya hingga melilit


Keringat jagung Retno mulai bermunculan dipermukaan wajahnya


Hari ini, Fatih baru saja bertugas memeriksa pasiennya, yaitu visit dari ruang satu keruang lain


Tiba-tiba gawai yang ia simpan disaku, bergetar terus-terusan


Fatih segera menariknya dari dalam saku "Sayang???" Fatih segera menghubunginya karena panggilan tersebut telah terputus beberapa detik lalu


"Sayang..." Panggil Fatih lembut


"Mas... Sejak tadi aku kok...." Suara itu terasa menyayat ditelinga Fatih


Belum selesai bicara sudah dipotong oleh suaminya "Sayang, perutmu sakit?"


"Ya tapi sed..."


"Ya sudah, mas pulang" Fatih segera berlari keluar dari ruangan


Fatih berjalan lebar menuju apartemennya


Diperjalanan, banyak pasang mata yang tertuju padanya


Seragam jas putih yang melekat ditubuhnya, membuat orang lain bertanya-tanya "Siapa yang sakit ???"


Fatih lupa melepasnya karena panik


-


Retno sudah cungar cengir sambil pegangan pinggang "Mas" Ucapnya setelah pintu rumah terbuka dari luar


Fatih berlari menuju Retno "Sayang..." Fatih merabah-rabah apa yang dipegang oleh istrinya "Ini sakit, pegal?"


Retno mengangguk


"Masih pakai celana?"


Retno mengangguk lagi


"Duduk dulu sayang" Retno digiring suaminya untuk berbaring disofa


Biasanya, tetangga ataupun orang yang berada diarea apartemen, tidak tau pekerjaan Fatih sesungguhnya. Yang mereka tau hanya bekerja dikantoran. Karena Fatih selalu mengenakan kemeja berdasi, dan sesekali memakai kemeja tersebut yang ditumpuki dengan jas


Retno sudah dibaringkan, lalu Fatih segera melepaskan CD yang istrinya pakai "Flek. Ayo sayang. Kita harus kerumah sakit sekarang"


Fatih berjalan kekamar, untuk menarik koper yang berisi baju milik sang istri dan popok milik kedua putra kembarnya


Melahirkan anak kembar mungkin membuat suami menjadi lebih gugup. Apalagi bila ini pengalaman kelahiran pertama bagi sang istri dan dirinya sebagai pendamping hidup Retno, yang usianya jauh seperti anaknya.


Rasa takut, dan cemas, melebihi waktu dirinya mendampingi istri pertamanya dulu, ketika melahirkan anak tunggal


Hal ini wajar karena calon orangtua akan menyambut kehadiran dua bayi sekaligus.


"Sayang, telpon kawanmu suruh keatas"


"Sri Wedari, maksud mas?"


"Iya. Untuk bantu membawa koper ini"


Retno segera menelponnya, dan beberapa menit, Sri dan ibunya sudah hadir didepan mereka


"Nduk, mau lahiran apa gimana?" Tanya ibu Erna dengan wajah cemas


"Nggak tau bu, tapi perutku sakit banget" Jawabnya


"Sepertinya iya bu" Jawab Fatih "Sri, tolong bawain koper ya?"


"Iya pak dokter"


"Kompor-kompor sudah dimatiin belum nduk" Tanya bu Erna pada Retno "Kamu biasanya kan suka memasak. Takut lupa"


"Tadi sudah saya cek bu, dan kompornya, tidak ada yang menyalah" Jawab Fatih lagi


"Oh, ya sudah"

__ADS_1


"Sayang, kamu bisa berjalan sendiri atau mau gendong?" Tanya Fatih pada istrinya


"Rasanya sudah dibawah mas, aku sudah tidak bisa jalan"


"Baiklah, mas bopong sekarang"


Mereka sudah keluar dari rumah, dan mulai memasuki lift


"Perasaan kok cepat banget mau ngelahirin ya, apa ibu yang salah ngitung usia kandunganmu nduk" Tanya bu Erna, sambil mengusap kepala Retno yang ada digendongan Fatih


"Iya bu. Ibu tidak salah menghitung. Kebanyakan kehamilan bayi kembar akan dilahirkan prematur, sedangkan kembar tiga atau lebih biasanya akan lahir lebih cepat lagi"


'Termasuk saya juga lahir prematur, bu' Batin Fatih


"Oh.. Jadi, semakin tinggi kelipatan jumlah bayi kembar dalam kandungan, semakin tinggi pula risiko ibu untuk melahirkan prematur"


"Iya bu"


Dalam beberapa kasus persalinan anak kembar, waktu melahirkan bayi sudah tidak bisa ditunda lagi karena waktunya sudah tiba.


Biasanya, kondisi ini disebabkan oleh rahim yang sudah berkontraksi, air ketuban pecah, preeklampsia, hingga leher rahim sudah mengalami pembukaan lahiran.


Hamil anak kembar memang meningkatkan risiko persalinan lebih cepat.


Dalam kasus lainnya, kemungkinan terjadi komplikasi atau ada risiko tertentu yang dihadapi sehingga mau tidak mau bayi kembar harus dilahirkan lebih cepat.


Tekanan darah tinggi saat hamil, masalah pada plasenta seperti plasenta previa kerap jadi penyebabnya. Yaitu, kondisi di mana satu atau lebih bayi tidak berkembang sebagaimana mestinya di dalam kandungan.


Untung Fatih sudah mempersiapkan perlengkapan persalinan, sejak jauh-jauh hari agar tidak terburu-buru.


Saat ini, usia kehamilan Retno tepat diminggu ke 34 bukan ke 37. Dan mengandung bayi kembar, memang sudah saatnya melahirkan


Sebenarnya, mempersiapkan sebelum hari melahirkan anak kembar tiba, sama saja seperti bersiap diri sebelum menjalani proses persalinan pada umumnya.


Itu sebabnya, membekali diri dengan beragam pengetahuan mengenai tahapan melahirkan penting sebagai bentuk persiapan diri suami untuk sang istri


Bahkan, ibu juga bisa menentukan pilihan untuk melahirkan normal dengan posisi persalinan yang paling nyaman.


Sekali pun dokter memperbolehkan untuk merencanakan proses melahirkan anak kembar secara normal, ibu tetap harus bersiap untuk kemungkinan lain.


Hamil bayi kembar tidak menutup kemungkinan untuk menjalani proses melahirkan secara normal. Asal memenuhi syarat-syarat kesehatan, pada kehamilannya. Seperti, kandungan tidak berisiko mengalami komplikasi, bayi-bayi yang akan dilahirkan tidak identik atau tidak berbagi plasenta yang sama. Bayi pertama tidak sungsang, dan plasenta tidak menghalangi jalan lahir.


Fatih segera mengambil mobil, dan membawa Retno kerumah sakit


Retno sudah dibaringkan dan diberikan bius epidural sebelum melahirkan.


Selanjutnya, dokter akan membimbing Retno untuk menerapkan cara mengejan saat melahirkan dan teknik pernapasan saat melahirkan.


Dokter sedang memasangkan alat monitor pada perut Retno, untuk memantau kondisi bayi-bayi dalam kandungan.


Setelah ketuban pecah, dokter memasangkan fetal scalp clip pada kepala bayi pertama untuk memantau aktivitas jantungnya.



Sebagai suami siaga, Fatih berusaha kuat menghadapi ini semua


Ia ikut masuk seperti tau yang harus ia lakukan


Fatih berdiri disamping dokter kandungan yang duduk memantau jalannya bayi


Seluruh tubuh Fatih mendadak lemas ketika melihat kepala bayi mulai terlihat


"Sayang, bertahan ya, bayi kita akan segera lahir" Ucapnya sambil mempererat tangan mereka ke jidat Fatih


Fatih terus memilin pu ting payudara istrinya, agar rang sangan pada bayi yang ada didalam ikut menguat


"Dok, itu kepala bayi dipasangin gituan nggak masalah" Menjaga istri bagian atas, sekaligus sibuk bertanya. Karena ini bukan keahliannya, jadi kurang faham


"Anda tidak perlu khawatir, karena alat ini aman digunakan bagi ibu dan bayi selama proses melahirkan bayi kembarmu dok" Jawabnya sambil tersenyum


Retno mulai mengejan dengan panduan sang dokter "Uha uha"


Fatih segera menyebul ubun-ubun istrinya untuk membantu menguatkan sang istri


Fatih teringat orang tua Viviana dulu, menyuruhnya untuk menyebul ubun-ubun Viviana, ketika Fatihah akan lahir kedunia


Retno menjerit "Maaaassss, sakiiiitttt"

__ADS_1


Oeekkkk


Bayi pertama lahir dengan selamat


"Selamat ya dok, bayi pertama cowok"


"Alhamdulillah Fahri Zayn Alfatih" Fatih memeluk Retno, sambil menangis dan terus mengusap kepala sang istri "Kuat sayang, kuat"


"Dokter Fatih, silakan potong tali pusarnya"


Fatih lakukan dengan tegar


Setelah bayi pertama lahir, Retno beristirahat sebentar sembari dokter memeriksa posisi bayi kedua dan melakukan pemeriksaan vag ina.


Tak lama setelah kelahiran bayi pertama, leher rahim Retno membuka lagi untuk memberi jalan bagi bayi berikutnya.


"Ayo bu, persiapan mengejan untuk bayi berikutnya"


"Bayi yang satu aman dok?" Tanya Fatih melongok kepala bayi yang sudah diambang pintu


"Aman, tidak sungsang" Jawabnya


"Syukurlah"


Cup


Fatih mencium tangan Retno yang meremas tangannya


"Ayo bu Retno, tarik nafas sebanyak mungkin. Lakukan, mengejan !!" Teriak dokter kandungan


"Ekkkkkkh"


"Stop"


"Huh huh huh"


"Ayo, sekali lagi bu, mengejan !!!"


"Ekkkkkkhhh aaaakkkkkh"


Oeeekk


Oeeekk


"Cowok lagi dok"


"Alhamdulillah Fahmi Zayn AlFatih" Fatih segera menghambur memeluk Retno. Soal anak urusan dokter anak


Fatih menangis tak kuasa membendung kebahagiaan


"Sudah dok, jangan nangis melulu. Potong dulu tali pusarnya lagi"


"Iya, iya tentu" Fatih segera memotongnya, lalu menghambur dan menangis lagi


Kemudian, dokter anak memberikan anak pertamanya yang sudah dibersihkan "Anaknya dok"


Fatih mengurai peluk "Oh, sini sini. Oh jagoanku. Ini yang siapa?"


"Ini yang pertama dok. Tapi sebelum mencium, dokter lap dulu deh airmatanya"


Fatih tersenyum kecut "Oh Fahri" Fatih menerimanya, lalu meletakkan bayi tersebut diatas dada istrinya "Ini Fahri sayang. Kau suka namanya ?"


"Suka mas. Keluarga F semua. Aku tidak ada temannya"


Fatih terdiam sejenak "Ia juga ya"


"Nggak pa-pa, ibunya masih muda. Bikin lagi, ntar nama depannya R" Hasut dokter anak


"Wohoho, aku sudah tua dok" -Fatih


"Nggak pa-pa. Yang penting masih kuat, dan istri masih muda" Saut dokter kandungan


"Iya. Lanjut dok"


"Ahahaha"


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2