
Malam ini, Retno tidak bisa tidur
Suaminya sejak tadi sibuk dengan urusan restoran
Meskipun dilakukan dirumah, sama saja Fatih tidak bisa diganggu
Kembali Retno melamun, memikirkan nasibnya
'Jika mantan istrinya mas kembali ke pelukan mas Fatih, nanti nasibku bagaimana ya. Mas Fatih orangnya kan nggak tega an. Apalagi penampilan maminya Fatihah berubah'
"Oh.. Kasihan aku" Kaki Retno sudah dihentak-hentakkan dilantai. Fikirannya sudah melayang kemana-mana
"Bagaimana ini ya. Bertahan, sakit. Menyerah, tidak mungkin" Retno kembali mengusap perut yang kian hari kian membesar
"Apakah aku jatuh cinta pada suamiku sendiri?? Kenapa aku sakit" Retno mulai menangis
Jatuh cinta memang menjadi sesuatu hal yang sulit untuk diterjemahkan. Ketika seseorang mulai jatuh cinta, banyak perasaan baru yang tiba-tiba muncul. Mulai dari bahagia, cemburu, sedih, marah dan beragam perasaan lainnya, yang semuanya mempengaruhi pikiran orang yang sedang jatuh cinta. Mungkinkah Retno benar-benar jatuh cinta pada suaminya.
"Lalu kemarin-kemarin aku kemanaaa...!!!" Retno menjerit dibalik selimut. Agar jeritannya tidak didengar oleh orang lain
Retno membuka wajahnya yang tadi tertutup kain tebal "Tadinya aku biasa saja. Tapi setelah tadi melihat maminya Fatihah, kenapa aku sakiiiit.. Ibuuu, aku ingin pulang. Mas Fatih pasti akan kembali padanya nya nya nya ehhh!!!!" Retno menangis sambil menggigit-gigit selimutnya dengan kasar
Retno melepaskan gigitannya, lalu menatap selimut tadi yang sedikit basah "Nanti selimut ini rusak ya ? Tapi... Aku sakiiiiiittttt"
Hubungan yang harmonis dan langgeng sudah pasti didambakan semua pasangan. Namun, tak ada yang mampu menebak apakah hubungan akan berjalan lancar sesuai harapan. Ada yang berakhir bahagia, ada pula yang harus berakhir kandas.
"Apakah hubunganku harus kandas. Bagaimana dengan kedua bayiku hu hu" Retno kembali menangis "Kenapa aku harus hamil, jika akhirnya begini.. Ibuuuuu huhu" Retno menangis keras, membuat Fatih yang berada diruangan lain mendengar tangisan seseorang
Fatih berjalan dan masuk kekamar sambil tergesah-gesah
"Sayang kenapa?"
Fatih segera meraih Retno, dan merengkuhnya "Ada apa sayang, apa kau bermimpi buruk?"
Retno mengurai sambil mengelap airmatanya dengan punggung tangannya
Retno menatap Fatih dengan kebencian. Sedangkan Fatih, bingungnya mulai menjadi
"Sayang kenapa? Ada apa?"
'Aku harus bisa melupakanmu mas. Bagaimanapun caranya, aku pasti bisa melupakanmu'
Retno mengurai tangan suaminya yang menempel dikedua bahunya "Aku ingin cerai"
"Apa??!! Apa maksudmu?" Fatih tambah bingung
Fatih kembali memegang kedua lengan Retno, namun Retno memberontak "Nggak usah pegang-pegang" Tolaknya sambil terus menyingkirkan tangan Fatih
"Sayang"
"Tidak sayang, sayaaaaang !! Aku ingin nangiiiiis hwaha" Kembali Retno menangis kejer
Fatih mulai berkacak pinggang dan memegang kepalanya "Ada apa ini, dipegang nggak mau, malah menangis"
Retno menatap Fatih masih dengan kemarahan "Aku benci sama mas. Aku ingin pulang kerumah ibuuuu " Jeritnya sambil menangis
"Sayang, sayang ingin kerumah ibu. Sayang kangen"
"Tuh kan bener.. Mas pasti ingin kembali padanya. Dan ingin menceraikan aku... Iya kan?? Jawahahab!! " Retno memukul Fatih dengan kekuatan super
"Sayang, sakit.."
Retno menghentikan pukulannya "Capek.." Ucapnya masih dengan menangis
"Sayang capek?"
"Diam !! Aku nggak tanya"
Fatih terdiam. Fikirannya belum bisa mencernah omongan istrinya yang tiba-tiba minta pisah
"Aku minta pisah"
"Maksudnya?"
"Kurang jelas. Aku minta pisah!!" Teriaknya, tetapi tidak menangis
"Sayang, dengarkan aku. Sampai kapanpun. Kau tetap milikku. Dan, tidak ada kata berpisah"
"Bohong !!"
"Kamu mimpi buruk atau bagaimana sih"
Retno turun dari ranjang, dan membenahi bajunya untuk dimasukkan kedalam koper
"Sayang, sebenarnya ada apa ini. Kau mau minggat ?"
Retno terus memasukkan baju-bajunya dan menutupnya dengan kasar "Iya aku mau minggat. Kenapa??!"
__ADS_1
"Tapi mas tidak akan mengizinkan sayang untuk minggat"
"Kenapa tidak bisa. Pokoknya, aku mau dibalikin kerumah babeh hwahaha" Kembali Retno menangis dengan keras
"Sayang, sayang itu maunya ingin minggat atau mau kerumahnya babe?"
"Dua-duanya"
"Baiklah, Apa salahku ? Coba katakan"
"Hati mas pasti sudah berpindah kan"
"Pindah kemana??"
"Ke mantan mas. Mas pasti nggak bisa move-on darinya kan hwaha"
Fatih terduduk, lalu menatap Retno
"Pasti mas nggak bisa jawab. Mas diam itu karena ingin balikan kan sama mantannya"
"Tidak sayang. Demi Allah"
"Nggak usah banyak bersumpah"
"Apa alasanmu menuduhku seperti itu. Pernah aku cerita padamu atau ngigau?"
"Nggak"
"Terus"
"Dari sorot mata mas. Mas pasti ingin balik, kan"
"Retno"
"Tuh kan, panggilnya saja sudah berubah. Mas pasti sudah berubah"
"Sayang. Dengarkan mas ngomong ya" Fatih menatap Retno "Aku hidup bersamamu itu bahagia. Kenapa aku harus melirik mantan"
"Bohong. Mas pasti melihat mbak Vivi kasihan kan, dan ingin balikan sama dia"
"Cukup!!"
"Hwaaaa"
"Sayang, kamu kenapa? Siapa yang menghasutmu"
Retno tidak menjawab, tapi tangisannya tidak berhenti-henti membuat Fatih ngilu mendengarnya
Retno terdiam bingung
"Jadi, mas akan meninggalkanku?"
"Kamu kan yang akan meninggalkanku?"
"Maksudnya, mas akan mengusirku?"
Fatih tambah puyeng
"Baiklah, saya akan tanya sekali lagi. Kamu maunya apa?"
"Kenapa mas berubah. Aku, aku inginnya menangis hwahaaa hwahaa"
"Cukup, cukup. Jangan menangis keras-keras seperti itu" Fatih berdiri "Sebentar"
Fatih sudah kembali dengan gelas yang berisi air "Ini. Minumlah"
Retno menerima "Aku tidak diracunkan?"
"Astagfirullah" Fatih sudah menutup wajahnya dengan jemarinya
Retno sudah meminumnya hingga tandas, lalu menyodorkan gelasnya pada Fatih "Nih"
Fatih membuka wajahnya
Fatih menerima gelas kosong dari Retno "Sudah?? Keracunan nggak"
"Belum. Nggak tau kalau nanti"
"Maksudmu apa sih"
Fatih sudah duduk disisi Retno kembali
Retno belum menjawab pertanyaan Fatih
Fatih memegang tangan Retno dari samping "Sayang kenapa?"
Retno menoleh "Mas nggak cinta ya sama aku"
__ADS_1
"Hah?? Harus dijawab sekarang?"
"He em"
Fatih ingin tertawa melihat istrinya tiba-tiba diam, dan menanyakan tentang hatinya
"Kalau mas tidak cinta, mana mau mas tidur sama kamu"
"Hanya itu"
"Banyak. Dan jelasinnya, butuh waktu yang panjaaaang sekali"
Retno melirik Fatih
"Sayang ingin bukti?"
Retno mengangguk "Iya"
Fatih ambil posisi jongkok didepan Retno, lalu mengusap perut Retno
"Ini bukti, kalau cinta mas, tidak main-main"
Retno menatap Fatih kembali "Bener?"
"Ya bener. Kalau mas tidak cinta, ngapain mas ngelonin kamu"
"Ih, gombal"
"Kok gombal. Memangnya mas pernah bohong padamu"
"Nggak tau. Hati orang siapa yang tau"
"Kok gitu. Kita kan sama-sama bareng. Masa sayang nggak tau hatiku"
Retno terdiam menatap suaminya dengan seksama
"Kenapa sih, ada apa"
"Tadi siang mas melihat mantan mas, pasti ingin kembali padanya kan?"
"Hahh??" Fatih mengerutkan dahinya "Kenapa jadi balik"
"Jangan bohong deh mas. Jujur aja. Mas menikahiku karena aku dekat dengan Fatihah kan? Dan cinta pertama mas adalah mamanya Fatihah"
"Kenapa kamu ungkit itu lagi. Dulu mas sudah pernah bilang padamu, waktu lamaran. Ingat?"
"Yang mana"
"Yang mas bilang, bener kamu mau jadi istriku. Itu kan mewakili semuanya"
"Jadi, mas masih cinta padaku?" Ucapnya menunduk
"Ya masih. Kenapa? Kamu masih ragu"
Retno tersenyum kecut
"Sayang kenapa sih"
"Mana buktinya" Tangan Retno menengadah
"Bukti?"
"Iya"
Fatih menghela nafas panjang, lalu memegang kepala Retno agar Retno menatapnya juga
"Istriku, tatap mataku"
"Sudah"
"Baiklah. Istriku, aku tidak pintar urusan merangkai kata. Suamimu sudah tua. Lupa urusan merayu. Sudah dicintai sayang saja, mas bukan main senangnya. Siapa yang mau dengan orang yang sudah tua sepertiku"
"Ih, mas nggak tua. Mas itu pria matang dan dewasa" Retno berdiri didepan Jendela "Penampilan mas itu nggak ada yang tau kalau usia mas sudah tua"
"Lalu" Fatih mendekati Retno
"Eng bener mas cinta padaku"
"Ya cinta. Kenapa sih"
"Tadi siang itu pasukan biru menatap mas tidak ada yang berkedip. Aku cemburu"
Fatih meraih Retno dengan serta merta "Oh, hanya soal itu, kau menangis"
"Ha'ah"
"Oh.. Mas sungguh sungguh cinta sama kamu"
__ADS_1
"Ooo" Retno menghambur "Aku juga"
BERSAMBUNG