
Retno sudah bergurau dengan mak Jun, bu Erna, dan Sri.
Setelah mereka sarapan, mak Jun sibuk dengan cucian lagi. Karena tadi pagi, Sri keliling rumah sakit, mendapat orderan laundry yang menggunung
Sri sibuk dengan gosokan. Bu Erna sibuk membungkus baju yang sudah wangi dan bersih
Retno sibuk menimbang dan membuat nota per plastiknya
Retno sesekali bergurau dengan bayi tanpa dosa itu
"Mak Jun, kalau suaminya mbak Vivi mencari ini bayi, gimana mak" Tanya Retno mulai memangku baby Elsa
"Halla, wong bu Vivi hamil saja disuruh nggugurin. Laki-laki pe ak dia, tidak punya otak. Bikin anak, sergepnyaaaaa minta ampun. Giliran hamil, disuruh nggugurin. Kalau ingin istrinya nggak hamil. Ya sana sama pohon pisang"
Ahahaha
"Yaiyalah.. Biar berbuah banyak, bisa dijual. Untung banyak dia" Kesal mak Jun
"Wah.. Jangan-jangan pohon pisang milik pak RT pada bolong, kelakuan bos kamu Jun" Canda bu Erna
Ahaha
Setelah urusan baju-baju pasien rumah sakit kelar, tiba-tiba berduyun-duyun orang penghuni apartemen datang untuk melaundry
Pelanggan pertama : Nona, bisa Expres ?
Retno : Bisa tuan
Pelanggan kedua : Aku juga nona
Pelanggan ketiga : Aku sama nona
Retno sedikit bingung 'Katanya mau laundry, mana baju kotornya?'
Tiba-tiba dengan tidak tau malunya, ketiga laki-laki bule itu melepaskan seluruh baju dan celananya, dan menyisakan boxer gambar doraemon, winny the pooh, Popeye, dan jaket kulit. Kulitnya sendiri maksudnya
'Heh?? Ada ya begini. Untung tidak Masha and the bear' Retno segera menerima baju yang masih hangat tersebut, lalu mendekati mak Jun
"Untung aku dah terbiasa lihat dadanya mas fatih. Kalau nggak, berabe ni mata Gerutunya
"Ada apa mbak" Tanya mak Jun
Retno membawa tiga kranjang laundry "Expres mak"
"Expres ?? Expres itu kilat ya mbak"
"Iya. kilat khusus mak. Dicepet mak, orangnya keburu gemuk"
"Gemuk?"
"Iya, masuk angin" Jawaban Retno membuat kepala mak Jun sedikit muter-muter seperti obat nyamuk
Retno kedepan lagi, untuk menerima baju kotor dari pelanggan lain
Tapi, kali ini tidak parah. Mereka memberikan kresek-kresek itu, lalu meninggalkan nomor HP. Biar nanti sesudah selesai, pihak laundry mudah menghubunginya
Setelah sekitar satu jam menunggu. Pelanggan yang telan jang dada dan bercelana film-film kartun itu, akhirnya selesai, dan memakai baju yang barusan dilaundry
Setelah beres urusan diruko, Sri akan membawa baju-baju bersih itu kerumah sakit
"Sri, ini baju yang menggunung itu milik rumah sakit semua?"
"Iya Ret"
"Ini harus pakai karung Sri. Sri, kita harus beli ranjang dorong yuk, biar nggak capek dan muat banyak"
"Terserah sih ret, kalau uangnya cukup"
"Ya ntar kan bayaran dari pelanggan"
"Iya juga sih"
Setelah membeli ranjang dorong, Retno dan Sri mendorong baju-baju bersih itu kerumah sakit, dimana suami Retno bekerja disana
Retno tidak tau ruangan suaminya dimana. Yang jelas, dia enjoy saja jalan, lalu menunggu, dari ruangan satu keruangan lain
Tiba-tiba
"Retno.. " Panggil seseorang
Retno menoleh
Pyar
Hatinya mendadak bergetar, takut dimarahi oleh pria didepannya
Retno menunduk, dikira, yang memanggilnya adalah suaminya
Husayn mengabsen ranjang dorong yang dipegang Retno "Oh, jadi mama bilang, kamu bisnis laundry dengan pelanggan orang rumah sakit ?? Pinter juga kamu"
'Hah, aneh. Dia nggak marah. Dia malah memuji'
Retno mulai berani mengangkat wajahnya, lalu menatap Husayn
__ADS_1
"Mas Fatih nggak marah, aku ikut-ikut nganter baju kerumah sakit?"
Husayn bingung beberapa detik. Tetapi begitu ingat
"Ahahaha"
Retno terdiam bingung
Bersamaan itu, Sri muncul dari ruangan
Sri mengendikkan kepalanya pada Husayn "Maaf pak dokter, Retno hanya menemani saya"
Husayn tertawa kembali. Membuat Retno dan Sri tambah bingung
"Retno, ayo ikut aku"
"Mau, kemana"
"Ikutin aja aku" Husayn menoleh pada Sri "Aku pinjam temanmu. Kau boleh melanjutkan tugasmu"
"Iya pak dokter"
Retno berlari kecil untuk mengimbangi kaki lebar Husayn
"Mas, aku mau diajak kemana"
"Pokoknya ikutin"
Retno berhenti karena capek. Husayn yang merasa tidak ada yang mengikuti, ia pun menoleh kebelakang
"Hey... Kenapa berhenti"
Dengan muka ditekuk, Retno protes "Nggak mesra banget sama istri"
"Hah?? Ahahaha"
"Kalau bertemu dengan istri, inginnya ngetawain mulu, mending aku pulang" Retno berbelok
Husayn segera menangkap tangan Retno "Tunggu dulu. Bentar lagi sampai" Husayn melepaskan tangannya, yang tadi sempat memegang tangan Retno
Retno kembali terseok-seok karena Husayn jalannya lebar-lebar
Tok tok tok
Husayn mengetuk pintu ruangan Fatih. Sebelum masuk, Husayn menunjuk papan nama, yang menempel dipintu atas nama Dr. Alfatih Putra Zayn Sp. Jp
Retno mengangguk, karena ia mengira, suaminya menunjukkan ruang kerjanya
"Eh, Sayn. Nganggur ??" Tanya Fatih
"Sebenarnya sibuk, tapi ada seseorang yang nyasar disini. Makanya aku mengembalikannya pada yang punya" Ucapnya, sambil menarik lengan Retno yang berada diambang pintu
Fatih melihat sosok yang sangat ia kenal, hatinya riang diatas awan. Rasa tidak percaya akan kedatangannya, membuat Fatih senangnya minta ampun. Fatih tersenyum
Berbeda dengan Retno. Dia mengangah kebingungan
Retno langsung teringat andeng-andeng.
Retno segera mengabsen wajah kembar seiras mereka berdua
Retno melirik Husayn, malunya tidak ketulungan 'Jadi dia, bukan suamiku'
Retno menunduk malu
Husayn mengendikkan pundaknya, seakan bilang 'aku tidak ngapa-ngapain'
Fatih mendekati Retno "Sudah malunya. Orangnya sudah keluar" Fatih melepas hijab yang masih dikenakan oleh Retno
Retno meluruskan pandangannya, lalu merebut kerudungnya, dan menyamplok-nyamplokkan kerudung itu pada Fatih "Aku malu tau, aku malu...."
Fatih terus berlari memutari meja periksa, dan Retno terus membabi buta memukul-mukul Fatih
"Iya, iya malunya dimana"
Retno berdiri sambil menangis "Hwaaaa"
"Loh kok malah nangis. Memangnya, tadi sayang itu berbuat apa"
"Aku panggil dia mas" Masih mewek
Fatih tersenyum "Hanya itu"
"Bukan. Aku memarahi dia"
"Memarahi?"
"Iyaaa !!! Hwaaa" Retno menatap Fatih sambil mengelap air matanya "Sama istri nggak mesra banget hahhhhh"
"Ya Allah, tadi sayang bilang gitu sama Husayn?"
"Iyaaaaa.. Udah dibilang iya ya iyaaaaa, haaaahh"
"Ya sudah, sayang jangan menjerit-jerit. Ntar pasien yang akan sembuh, mendadak kumat karena jeritan sayang"
__ADS_1
"Biarin..!! Salah sendiri kalian kembar, hahhhh"
Fatih merengkuhnya "Sudah jangan malu. Tidak hanya sayang saja yang keder. Hawa dulu lebih parah"
Retno mengurai peluk "Mbak Hawa?"
"Iya. Dan orang yang dia gebukin..." Fatih sengaja menggantung ucapannya
"Siapa??"
"Sayang ingin tau siapa??" Ucapnya sambil menggiring Retno, untuk duduk diatas mejanya
"Siapa?"
Fatih duduk dikursinya "Husayn"
"Hah?? Kasihan banget"
"Nah, Hawa parahkan"
"Terus, setelah tau"
"Hawa menangis, sama kayak sayang"
"Hah, aku malu" Retno menutup wajahnya dengan telapaknya
Fatih segera mendekatkan kursinya, agar mendekat dengan meja, yang ada Retno diatasnya
Fatih sudah menarik telapak tangan Retno "Coba lihat wajah mas dengan seksama"
Retno menatapnya
Tangan Retno menjulur ke dahi Fatih, yang ada andeng-andeng disana
Retno mengusapnya "Iya, akan aku ingat. Tapi aku tadi.." Ada jedah "Tidak ingat" Ucapnya sedikit takut
Fatih tersenyum, lalu menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah istrinya
Retno menatap Fatih lagi "Mas tidak marah?"
Fatih menggeleng "Tidak. Kan sayang tidak tau"
"Emm" Retno menghambur memeluk Fatih "Makasih"
Fatih berdiri, lalu memeluknya mesra
Retno mengurai peluk "Mas sudah tidak marah?"
"Marah untuk apa?" Jawabnya mulai bingung
"Soal tadi malam, terus diterusin tadi pagi, sudah nggak marah?"
Kembali senyum Fatih meredup
Fatih berbelok untuk menjauhi Retno
Dengan cepat, Retno menarik tubuh Fatih, agar berjalan mundur
Fatih berhenti. Dia tidak ingin mundur, ataupun maju
"Mundur!!"
Fatih terdiam
"Aku bilang mas mundur !!" Dengan paksa Retno menarik baju Fatih, otomatis, Fatih mundur alon-alon
Retno mengalung dileher Fatih "Gendong"
"Mau kemana minta gendong"
"Keliling rumah sakit" Candanya
Fatih segera berbelok, hingga mereka saling tatap
"Gendong" Ucap Retno manja
"Nggak bisa"
"Ih gendong, masa dari awal nikah nggak ingin gendong. Nggak penasaran"
"Bukannya nggak penasaran. Tapi bukan tempatnya"
"Ahh" Retno mendorong Fatih, lalu turun, dan berlari kepintu
"Mau kemana"
"Mau pulang. Mau minta digendong sama satpam"
Fatih sekarang
BERSAMBUNG.....
__ADS_1