Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Retno Maluuuuu


__ADS_3

Retno sudah bergurau dengan mak Jun, bu Erna, dan Sri.


Setelah mereka sarapan, mak Jun sibuk dengan cucian lagi. Karena tadi pagi, Sri keliling rumah sakit, mendapat orderan laundry yang menggunung


Sri sibuk dengan gosokan. Bu Erna sibuk membungkus baju yang sudah wangi dan bersih


Retno sibuk menimbang dan membuat nota per plastiknya


Retno sesekali bergurau dengan bayi tanpa dosa itu


"Mak Jun, kalau suaminya mbak Vivi mencari ini bayi, gimana mak" Tanya Retno mulai memangku baby Elsa


"Halla, wong bu Vivi hamil saja disuruh nggugurin. Laki-laki pe ak dia, tidak punya otak. Bikin anak, sergepnyaaaaa minta ampun. Giliran hamil, disuruh nggugurin. Kalau ingin istrinya nggak hamil. Ya sana sama pohon pisang"


Ahahaha


"Yaiyalah.. Biar berbuah banyak, bisa dijual. Untung banyak dia" Kesal mak Jun


"Wah.. Jangan-jangan pohon pisang milik pak RT pada bolong, kelakuan bos kamu Jun" Canda bu Erna


Ahaha


Setelah urusan baju-baju pasien rumah sakit kelar, tiba-tiba berduyun-duyun orang penghuni apartemen datang untuk melaundry


Pelanggan pertama : Nona, bisa Expres ?


Retno : Bisa tuan


Pelanggan kedua : Aku juga nona


Pelanggan ketiga : Aku sama nona


Retno sedikit bingung 'Katanya mau laundry, mana baju kotornya?'


Tiba-tiba dengan tidak tau malunya, ketiga laki-laki bule itu melepaskan seluruh baju dan celananya, dan menyisakan boxer gambar doraemon, winny the pooh, Popeye, dan jaket kulit. Kulitnya sendiri maksudnya


'Heh?? Ada ya begini. Untung tidak Masha and the bear' Retno segera menerima baju yang masih hangat tersebut, lalu mendekati mak Jun


"Untung aku dah terbiasa lihat dadanya mas fatih. Kalau nggak, berabe ni mata Gerutunya


"Ada apa mbak" Tanya mak Jun


Retno membawa tiga kranjang laundry "Expres mak"


"Expres ?? Expres itu kilat ya mbak"


"Iya. kilat khusus mak. Dicepet mak, orangnya keburu gemuk"


"Gemuk?"


"Iya, masuk angin" Jawaban Retno membuat kepala mak Jun sedikit muter-muter seperti obat nyamuk


Retno kedepan lagi, untuk menerima baju kotor dari pelanggan lain


Tapi, kali ini tidak parah. Mereka memberikan kresek-kresek itu, lalu meninggalkan nomor HP. Biar nanti sesudah selesai, pihak laundry mudah menghubunginya


Setelah sekitar satu jam menunggu. Pelanggan yang telan jang dada dan bercelana film-film kartun itu, akhirnya selesai, dan memakai baju yang barusan dilaundry


Setelah beres urusan diruko, Sri akan membawa baju-baju bersih itu kerumah sakit


"Sri, ini baju yang menggunung itu milik rumah sakit semua?"


"Iya Ret"


"Ini harus pakai karung Sri. Sri, kita harus beli ranjang dorong yuk, biar nggak capek dan muat banyak"


"Terserah sih ret, kalau uangnya cukup"


"Ya ntar kan bayaran dari pelanggan"


"Iya juga sih"


Setelah membeli ranjang dorong, Retno dan Sri mendorong baju-baju bersih itu kerumah sakit, dimana suami Retno bekerja disana


Retno tidak tau ruangan suaminya dimana. Yang jelas, dia enjoy saja jalan, lalu menunggu, dari ruangan satu keruangan lain


Tiba-tiba


"Retno.. " Panggil seseorang


Retno menoleh


Pyar


Hatinya mendadak bergetar, takut dimarahi oleh pria didepannya


Retno menunduk, dikira, yang memanggilnya adalah suaminya


Husayn mengabsen ranjang dorong yang dipegang Retno "Oh, jadi mama bilang, kamu bisnis laundry dengan pelanggan orang rumah sakit ?? Pinter juga kamu"


'Hah, aneh. Dia nggak marah. Dia malah memuji'


Retno mulai berani mengangkat wajahnya, lalu menatap Husayn

__ADS_1


"Mas Fatih nggak marah, aku ikut-ikut nganter baju kerumah sakit?"


Husayn bingung beberapa detik. Tetapi begitu ingat


"Ahahaha"


Retno terdiam bingung


Bersamaan itu, Sri muncul dari ruangan


Sri mengendikkan kepalanya pada Husayn "Maaf pak dokter, Retno hanya menemani saya"


Husayn tertawa kembali. Membuat Retno dan Sri tambah bingung


"Retno, ayo ikut aku"


"Mau, kemana"


"Ikutin aja aku" Husayn menoleh pada Sri "Aku pinjam temanmu. Kau boleh melanjutkan tugasmu"


"Iya pak dokter"


Retno berlari kecil untuk mengimbangi kaki lebar Husayn


"Mas, aku mau diajak kemana"


"Pokoknya ikutin"


Retno berhenti karena capek. Husayn yang merasa tidak ada yang mengikuti, ia pun menoleh kebelakang


"Hey... Kenapa berhenti"


Dengan muka ditekuk, Retno protes "Nggak mesra banget sama istri"


"Hah?? Ahahaha"


"Kalau bertemu dengan istri, inginnya ngetawain mulu, mending aku pulang" Retno berbelok


Husayn segera menangkap tangan Retno "Tunggu dulu. Bentar lagi sampai" Husayn melepaskan tangannya, yang tadi sempat memegang tangan Retno


Retno kembali terseok-seok karena Husayn jalannya lebar-lebar


Tok tok tok


Husayn mengetuk pintu ruangan Fatih. Sebelum masuk, Husayn menunjuk papan nama, yang menempel dipintu atas nama Dr. Alfatih Putra Zayn Sp. Jp


Retno mengangguk, karena ia mengira, suaminya menunjukkan ruang kerjanya


"Eh, Sayn. Nganggur ??" Tanya Fatih


"Sebenarnya sibuk, tapi ada seseorang yang nyasar disini. Makanya aku mengembalikannya pada yang punya" Ucapnya, sambil menarik lengan Retno yang berada diambang pintu


Fatih melihat sosok yang sangat ia kenal, hatinya riang diatas awan. Rasa tidak percaya akan kedatangannya, membuat Fatih senangnya minta ampun. Fatih tersenyum


Berbeda dengan Retno. Dia mengangah kebingungan


Retno langsung teringat andeng-andeng.


Retno segera mengabsen wajah kembar seiras mereka berdua


Retno melirik Husayn, malunya tidak ketulungan 'Jadi dia, bukan suamiku'


Retno menunduk malu


Husayn mengendikkan pundaknya, seakan bilang 'aku tidak ngapa-ngapain'


Fatih mendekati Retno "Sudah malunya. Orangnya sudah keluar" Fatih melepas hijab yang masih dikenakan oleh Retno


Retno meluruskan pandangannya, lalu merebut kerudungnya, dan menyamplok-nyamplokkan kerudung itu pada Fatih "Aku malu tau, aku malu...."


Fatih terus berlari memutari meja periksa, dan Retno terus membabi buta memukul-mukul Fatih


"Iya, iya malunya dimana"


Retno berdiri sambil menangis "Hwaaaa"


"Loh kok malah nangis. Memangnya, tadi sayang itu berbuat apa"


"Aku panggil dia mas" Masih mewek


Fatih tersenyum "Hanya itu"


"Bukan. Aku memarahi dia"


"Memarahi?"


"Iyaaa !!! Hwaaa" Retno menatap Fatih sambil mengelap air matanya "Sama istri nggak mesra banget hahhhhh"


"Ya Allah, tadi sayang bilang gitu sama Husayn?"


"Iyaaaaa.. Udah dibilang iya ya iyaaaaa, haaaahh"


"Ya sudah, sayang jangan menjerit-jerit. Ntar pasien yang akan sembuh, mendadak kumat karena jeritan sayang"

__ADS_1


"Biarin..!! Salah sendiri kalian kembar, hahhhh"


Fatih merengkuhnya "Sudah jangan malu. Tidak hanya sayang saja yang keder. Hawa dulu lebih parah"


Retno mengurai peluk "Mbak Hawa?"


"Iya. Dan orang yang dia gebukin..." Fatih sengaja menggantung ucapannya


"Siapa??"


"Sayang ingin tau siapa??" Ucapnya sambil menggiring Retno, untuk duduk diatas mejanya


"Siapa?"


Fatih duduk dikursinya "Husayn"


"Hah?? Kasihan banget"


"Nah, Hawa parahkan"


"Terus, setelah tau"


"Hawa menangis, sama kayak sayang"


"Hah, aku malu" Retno menutup wajahnya dengan telapaknya


Fatih segera mendekatkan kursinya, agar mendekat dengan meja, yang ada Retno diatasnya


Fatih sudah menarik telapak tangan Retno "Coba lihat wajah mas dengan seksama"


Retno menatapnya


Tangan Retno menjulur ke dahi Fatih, yang ada andeng-andeng disana


Retno mengusapnya "Iya, akan aku ingat. Tapi aku tadi.." Ada jedah "Tidak ingat" Ucapnya sedikit takut


Fatih tersenyum, lalu menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah istrinya


Retno menatap Fatih lagi "Mas tidak marah?"


Fatih menggeleng "Tidak. Kan sayang tidak tau"


"Emm" Retno menghambur memeluk Fatih "Makasih"


Fatih berdiri, lalu memeluknya mesra


Retno mengurai peluk "Mas sudah tidak marah?"


"Marah untuk apa?" Jawabnya mulai bingung


"Soal tadi malam, terus diterusin tadi pagi, sudah nggak marah?"


Kembali senyum Fatih meredup


Fatih berbelok untuk menjauhi Retno


Dengan cepat, Retno menarik tubuh Fatih, agar berjalan mundur


Fatih berhenti. Dia tidak ingin mundur, ataupun maju


"Mundur!!"


Fatih terdiam


"Aku bilang mas mundur !!" Dengan paksa Retno menarik baju Fatih, otomatis, Fatih mundur alon-alon


Retno mengalung dileher Fatih "Gendong"


"Mau kemana minta gendong"


"Keliling rumah sakit" Candanya


Fatih segera berbelok, hingga mereka saling tatap


"Gendong" Ucap Retno manja


"Nggak bisa"


"Ih gendong, masa dari awal nikah nggak ingin gendong. Nggak penasaran"


"Bukannya nggak penasaran. Tapi bukan tempatnya"


"Ahh" Retno mendorong Fatih, lalu turun, dan berlari kepintu


"Mau kemana"


"Mau pulang. Mau minta digendong sama satpam"



Fatih sekarang


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2