
Setelah beberapa hari Arin menjadi penumpangnya, mereka sedikit akrab dan sudah bertukar nomor HP untuk berkomunikasi
"Sekarang panggilnya jangan om dong. Aku bukan om om senang yang suka ngecengin tante-tante girang" Tolak pria imut idola Arin
"Eng om, eh kak. Iya, aku harus memanggilmu kakak?"
"Iya itu lebih baik"
Arin menoleh ke arah pria tadi dengan lemas
"Kenapa lemas"
"Aku sudah punya kakak banyak. Aku malas panggil kakak sama orang lain. Karena aku tidak mau memiliki kakak lagi"
"Terus, aku pantesnya dipanggil apa dong"
"Om"
"Ah.. Males aku dengarnya"
"Om Haidar Ali. Panteskan aku panggil dengan sebutan itu"
"Sudah ah, malas aku dengar sapaan itu. Geli"
"Cie, geli apa geli" Godanya membuat Haidar segera mematikan mesin mobilnya, lalu membukakan pintu bus dari dalam
"Silahkan nona Arin. Pintu sudah saya bukakan dengan lebar. Awas kaki, awas tangan, awas mata" Ucapnya membuat Arin sadar. Bahwa halte ini, halte yang biasa ia menunggu jemputan dipagi hari
Arin turun sambil mengabsen suasana "Kok cepet banget perasaan"
"Pakai logika non, jangan perasaan"
"Ish" Arin cemberut
"Jangan cemberut. Oke non, saya permisi" Pamitnya
Sekarang, Arin sudah terbiasa berangkat dan pulang sekolah menggunakan angkutan gratis khusus pelajar ini
Dan Arin, selalu duduk didepan. Karena sang sopir selalu menolak siswa lain untuk duduk disampingnya, dengan alasan kursinya sudah ada pemiliknya
-
Hari ini hari libur
Fatih membawa keluarganya, mama Sifa dan juga Arin, untuk berkunjung kerumah Fariz
Setelah disana, sikembar bermain-main dengan kelinci, dan melupakan Arin.
Daripada Arin melongo seorang diri, Arin masuk kekamar Faruq
"Faruq... Aku bete" Ucapnya berdiri memeluk pintu kamar milik Faruq
"Ya udah masuk sini"
"Emang boleh, cewek masuk kekamar cowok?"
"Ya bolehlah. Memangnya kenapa? Takut aku cinta sama kamu" Ucapnya sambil menurunkan kakinya, dan menyingkirkan gitar yang tadi ia mainkan
Dengan pelan, Arin duduk disofa "Aku pinjam gitarnya boleh?"
"Memangnya kamu bisa mainin?"
"Bisa. Tinggal petik-petik gitu kan"
"Tinggal petik. Ya udah ini pegang"
Faruq mengajari Arin dengan telaten "Coba, sekarang kamu petik dan nyanyi"
"Oke.. " Arin mulai berdiri dan pasang kuda-kuda seperti penyanyi rok betulan "C A minor D minor ke G ke C lagi 🎶 A minor D minor ke G ke C lagi !!!🎶"
"Ahahaha. Kupingku hampir meledak mendengar kamu menyanyi Rin, Rin"
-
Setelah bosan bermain gitar, mereka berdua turun bergabung dengan kelima orang dewasa
Arin duduk disebelah Fariz "Mah, pah. Kok sepi. Sikembar kemana?"
"Mainan sama pak Dodo" Jawab Fariz
"Berarti aku merdeka dong pa" Ucapnya menoleh pada Fatih
"Ya udah sana istirahat dikamar. Katanya ingin bebas" Fatih
"Iya. Mumpung kembar sedang main, kamu istirahat. Biar nggak emosi melulu" Ucap Fariz yang sering mendengar cerita kalau Arin suka emosi jika diganggu oleh kembar
__ADS_1
"Oh, aku tidurnya dikamar yang biasa ya pa" Tanya Arin pada Fariz
Fariz mengangguk "Iya dong" Jawabnya
-
Arin sudah masuk kedalam kamar yang biasa ia tempati, jika dirinya menginap disini
Kemudian, Arin mengeluarkan ponselnya "Ah, chat an sama si om imut ah" Ucap Arin tersenyam lebar
[ Om, si om lagi ngapain]
"Nyantai, kenapa"
[Si om sudah punya cewek belum sih]
"Keppo"
[Haisss. Intip dikit, om]
"Kalau belum kenapa, kalau sudah kenapa"
[Aku inginnya om masih jombloh]
[Tungguin aku gede ya om ] Sambungnya
"Hah" Emoji mlongoh
[Ayo om pliss, tungguin aku]
"Astagfirullah"
[Aku loh, sayang sama om sumpah serius]
"Aku umur 21. Kamu umur 14. SMA aja belum"
[Ya terus kenapa kalau beda umur]
[Aku serius. Diusia 20 tahun, om boleh dah, datang untuk melamarku ]
"Heh.. Aku keburu tua"
[Tapi om itu imut banget kayak nggak bisa tua gitu]
"Istirahat dah, besok sekolah. Ntar tak bilangin sama ayahnya loh"
Tidak ada balasan
[Aku nurut ]
Tidak ada balasan
[Semuanya aku turutin]
Tidak ada balasan
[Love you kakak]
Sama sekali tidak mendapat balasan
-
Malam harinya
Seperti biasa. Mama Sifa tidur, tidak ingin sendiri
Ia ingin sekamar dengan cucunya
Malam ini, Arin terlihat uring-uringan gara-gara chatnya tidak dibalas sampai malam
Mama Sifa menatapnya "Kamu kenapa tidak tidur-tidur?"
"Bete"
"Bete apaan?" Tanya mama tidak tau
"Ihhhhh sebal, sebal, sebal, sebaaaaallllll !!!" Racaunya sambil gebukin kasur yang ia tempati
"Aneh. Kamu sebal dengan Fahri dan Fahmi?"
Arin menatap mama, kemudian menelungkup dengan bantal yang menjadi korbannya sebagai media kemarahannya
"Kalau anak itu ganggu, kamu marah-marah. Nggak ganggu, marah-marah juga. Kamu kangen sama daddymu" Tebak mama
Arin geleng-geleng
__ADS_1
Tiba-tiba sikembar datang membawa ponsel masing-masing dan menonton film kartun kesukaan mereka
Selagi Arin sedang tengkurap, mereka berdua naik keatas ranjang, yang sudah ada Arin disana
Mama Sifa meliriknya, tetapi pura-pura tertidur
Fahmi mulai memijit punggung Arin "Kakak, kakak capek ya. Yang sakit yang mana"
Arin berbalik "Kok kalian masuk kekamar kakak. Kirain mau tidur bareng kelinci"
"Kelincinya jorok, buang e eknya sembarangan" Celetuk Fahmi, membuat mama Sifa terkekeh tapi masih tetap pura-pura tidur
"Hallah. Kamu juga jorok"
"Enggak, nggak pernah" Elaknya
"Nggak pernah berenti. Hei mbar. Tidurmu itu, brisik. Kayak pabrik"
"Tapi Fahmi nggak ya kak"
"Sama. Kamu ileran. Ih jorok. Bantal yang kamu pakai, banyak pulaunya"
Fahmi melongo tidak mengerti maksud pulau
"Pulau apaan kak?"
"Hadewww.. Ah.. Maksudnya, bantalmu itu banyak awannya yang bergerombol. Iler kering tau?"
Fahmi geleng-geleng
"Hadewww... Susah ya ngomong sama anak bau kencur. Tidur deh, capek banget aku ngasih tau kekamu"
"Lagian susah"
Sementara dikamar Fatih
Mereka berdua justru sedang menikmati indahnya memadu kasih
Menginap dimanapun, jika harus berakhir diranjang, mereka lakukan karena sama-sama membutuhkan
Berhubungan in tim, merupakan kebutuhan setiap pasangan yang sudah menikah
Begitupun dengan mereka
Fatih mencumbui dengan kasih sayang. Rasanya nikmat tanpa ada yang mengganggu
Selama melakukan hubungan suami istri, mereka nyaris tak ada hambatan. Begitu hampir kli maks, gedoran pintu terdengar nyaring
Dor gedor !!! gedor !!!
"Daddy...!!! Mamiiiii !!"
"Bukain pintu!!"
Oklek oklek
Suara pintu terdengar gaduh karena kedua putranya yang melakukan
"Mami... Daddy... "
"Mas, mas udah mas"
"Nggak pa-pa nanggung sedikit lagi"
Fikiran Retno mulai berantakan
Wajar saja, karena tadi baru mengubah gaya saat bercinta
Giliran sudah merasa dipuncak, gangguan itu datang tiba-tiba yang membuat redup acara bercintanya
"Daddy... Mami.. Bukain pintunya!!!"
Dor gedor gedor
Fatih dan Retno melepaskan hasratnya dengan terpaksa
"Iya.. " Teriak Fatih sambil memakai celananya, serta membenahi sprei yang tadi berantakan akibat badai tornado yang mereka ciptakan sendiri diatas ranjang
Fatih membuka pintu "Ada Ada?"
"Hpnya sudah. Fahmi capek mau bobok"
"Fahri juga"
Kedua bocah itu menyerahkan kedua ponselnya, kemudian berlari menuju kamar yang sudah ada oma Sifa, dan juga Arin
__ADS_1
Mata Fatih melebar "Hadeeewww kirain apa"