Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Memetik Anggur


__ADS_3

Hari ini, Fatih mengajak Retno dan Fatihah, untuk mengunjungi kawannya yang ada didaerah Bogor


Fatihah naik kemobil "Daddy, bener nih, kita mau kerumahnya koh Tirta" Ucapnya sambil duduk dijok belakang, lalu menutup pintunya


"Ya bener. Mamimu penasaran katanya"


Fatihah duduk agak kedepan "Mud, eh mi" Panggil Fatihah, yang langsung dipelototi oleh papanya "Hehe kalem dad"


"Iya ah, sekali-kali akur mas"


Fatih yang ditegur istrinya, hanya diam dan fokus pada mobil yang akan keluar dari halaman rumah papa Ilham


"Kok, sepi Fat. Papa mama, istirahat?" Tanya Retno


"Gema dan gepa barusan masuk kekamar. Kayaknya sih, iya tidur siang" Fatihah menatap perut ibu sambungnya "Mamud, perutnya kok nonjol sini nonjol sono. Nggak sakit mud"


Tangan kiri Fatih merabah kebelakang


Plok


Fatihah menabok lengan papanya "Daddy ngapain, tangannya ngerabah-rabah kesini. Konsentrasi tau dad.. Kalau nggak, biar aku yang nyetir"


"Eh nggak ya. Daddy nggak mau diputer-puterin dijalanan kayak dulu"


"Maksudnya mas" Saut Retno


"Gadis belakang kan nggak ingat jalan. Bisa-bisa kita itu nggak sampai disana, dan juga, nggak bisa pulang kerumah"


"Daddy ngejek. Mentang-mentang sekarang nggak serumah sama aku, aku dijelek-jelekin mulu. Jelek-jelekin aja terus, biar daddy puas"


"Lah emang benar kok. Kalau kamu yang nyetir, ntar nggak nyampai. Kamu ingat waktu kita ke rumah kawanmu"


"Yang mana?"


"Yang lewat HR Rasuna. Kamu muter-muter disitu melulu. Entah muterin berapa puluh kali"


"Ish, daddy lebai. Nggak ada sepuluh ah. Paling lima"


"Ahaha" Retno tertawa


"Kenapa mami tertawa. Belain daddy?"


"Nggak. Ngapain belain daddy. Kita sama-sama perempuan"


"Yup. Emansipasi wanita. Biarpun salah, Wanita semakin didepaaaan ahahaha" Tangan Fatihah mengepal semangat


Fatih dan Tetap saling tatap. Lalu, "Ahaha" Mereka berdua tertawa


Fatihah tambah bingung. Tetapi, walaupun Fatihah bingung, ia tetap "Ahaha"


"Dah. Mingkem" Teriak Fatih "Sudah tau salah, main tertawa aja"


Fatihah terdiam "Aku dah diem dad"


"Pinter"


Fatihah manggut-manggut


"Besok lagi. Kalau dibilangin daddy, sayang harus manut"


"Aaaaa... "Fatihah memeluk papanya "I love you daddy" Fatihah mengeratkan pelukannya


"Daddy belum selesai ngomong"


"Apa tuh"


"Perhatikan jalan ini. Kita harus ambil mana?" Tanya Fatih pada putrinya


"Eng.. Belok"


"Daddy nggak tanya. Daddy ngetes kamu. Seberapa ingatanmu pada jalan"


"Aku bingung dad. Belok aja dad, belok"


"Belok aja kamu bilang. Ini jalan satu arah. Kamu ingin ditilang ama polisi?"

__ADS_1


"Nggak pa-pa kalau polisinya ganteng"


"Fatihaaaa!!!!" Teriak Fatih


Fatihah dan Retno menutup telinganya


"Daddy nggak mau ya, bocah ingusan macam kamu main lirik-lirikan sama polisi"


"Memangnya kenapa dad. Aku kan sering dijalan. Kalau kenal tu polisi, kan enak apa-apa diurusin"


"Stooooopppp" Teriak Fatih "Jangan banyak berkhayal"


"Is daddy. Sejak tadi marah-marah melulu. Aku jadi lupa jalan"


"Kalau kekampus, kamu nggak keder kan?" Selah Retno


"Ya nggak mi, itu udah hafal. Kan makanan sehari-hari"


"Kenapa kerumahnya koh Tirta bisa lupa"


"Ya bisalah. Kesana jarang, ditambah nggak ingat jalan. Serah daddy deh. Mau diputerin di bundaran HI juga terserah daddy" Rajuknya


"Ahaha" Fatih tertawa "Makanya, jadi orang jangan pelupa"


"Itu dulu daddy.."


"Kalau sekarang?"


"Nggak. Kan ikut daddy"


Fatih tepuk jidat


"Ya udah bagus deh, kalau putri daddy sekarang dah pinter. Pinter nyeleneh"


Fatihah mendengus kesal "Daddy... "


Fatih mengusap kepala putrinya


"Oiya Fat, keknya dikampus, kamu nggak punya musuh. Kalau aku lihat" -Retno


Retno menoleh kearah Fatihah yang ada dijok belakang "Masa. Mereka takut sama kamu?"


"Iya. Takut nggak ditraktir wkwkwk. Nggak ding. Kami tak pernah musuhan soal traktiran. Kami saling gantian masalah traktir mi"


"Berarti nggak punya musuh dong ya" Masih Retno yang bertanya


"Nggak lah. Ngapain cari musuh. Nggak cari juga kadang ada"


"Kalau aku perhatiin, kayaknya musuh kamu cuma si daddy deh Fat?"


Fatihah dan papanya saling tatap


Ahaha


Keduanya tertawa


"Mami betul. Tapi aku tetap cinta ama daddy"


Cup


Fatihah menempelkan pipinya pada pipi papanya, lalu merangkul keduanya


Fatihah mengurai peluk "Oiya dad, beneran nih disana musim anggur"


"Ya bener lah"


Setelah memakan waktu sekitar satu jam lebih, mereka sudah sampai dikediamannya koh Tirta


"Fatih..."


"Tirta.."


Mereka saling berpelukan


Fatihah yang tidak diajak mengobrol, iapun keluar menggandeng mama sambungnya "Mi, ayok kita kesana"

__ADS_1


Memang, Tak banyak ditemukan perkebunan anggur di wilayah kabupaten Bogor ini. Namun, ada satu kebun yang isinya beberapa jenis tanaman anggur. Baik dari lokal maupun import yang tumbuh subur.


Kebun milik ini milik koh Tirta , yang sedang panen


Tanah seluas 2 ribu meter ini dipenuhi berbagai varietas anggur mulai dari Ninel, Julian, Harold, Jupiter dan puluhan jenis lainnya.


Fatih sengaja membawa keluarganya pergi kekebun anggur, untuk menghilangkan penat.


"Ya Allah mas, asri banget" Retno terkagum-kagum "Mas, kalau diatas empang lele ditanamin anggur, kayaknya cantik deh mas"


"Itu ditanamin markisa juga lebih rindang. Anggur daunnya kan lebih kecil dibanding markisa. Terkadang anggur rontok juga daunnya. Kalau markisa kan tetap hijau"


"Tetapi kadang ada ular hijaunya mas, ngeri kalau masuk kerumah"


"Kalau ular ajaib yang masuk kekamar, ngeri nggak" Godanya pada Retno


"Apa tu, memangnya ada, pernah?"


"Pernah, ada. Dan juga sering"


"Oh...." Retno menatap suaminya cengar-cengir "Mas kenapa senyum-senyum gitu"


"Nggak kenapa-napa?"


"Ish, curiga aku"


"Curiga kenapa. Orang nggak kenapa-napa kok curiga"


"Ular. Ular apa? Ular piton? Nggak mungkin. Mas bohong"


"Ih mas nggak bohong. Bener, ada ular ajaib, yang bikin sayang hamil"


"Ih belut itu mah, bukan ular" Retno mendelik setelah berucap kata-kata sedikit absurd karena suaminya


"Wah hahaha, sayang loh yang mengarang"


Mereka sudah masuk dikebun anggur


"Tirta. Anggurnya banyak jenis kelihatannya"


"Iya"


"Memangnya ada berapa jenis"


“Sekitar 80 varietas"


"Wow dapat bibit darimana?"


"Diimport dari berbagai negara” ungkap Tirta "Tuh gunting. Potong pakai gunting" Tirta memberikan gunting pada Fatihah dan Retno


Selagi Retno dan Fatihah sibuk memanen anggur, Fatih sibuk mengobrol dengan Tirta


"Memangnya, bibitnya dari negara mana aja sih" Tanya Fatih pada Tirta


"Dari negara Rusia, Turki, Australia dan negara-negara di Eropa lainnya"


"Hebat" Puji Fatih pada Tirta.


Tiba-tiba "Mas lihat deh. Manis tau"


"Asalkan menguasai teknik budidayanya, meskipun iklim di Bogor didominasi oleh hujan, namun anggur dapat tumbuh subur dan berbuah dengan rasa yang manis"


Fatih manggut-manggut


"Di sana ada musim di mana anggur tidak bisa berbuah dalam tiga bulan, sedang di Indonesia bisa berbuah sepanjang tahun" Jelasnya.


"Terus, selain ini, usahamu menjual bibit juga?"


"Untuk sementara, aku hanya menjual berbagai jenis bibit anggur. Dan ketika musim berbuah, seperti sekarang, pengunjung yang datang ke kebun ini, untuk menyicip rasa berbagai jenis anggur yang dipetik secara langsung.


"Wow cerdas banget kawanku. Bisa ambil peluang yang menghasilkan"


"Harus bisa dong"


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2