
Seluruh putra dan menantunya sudah berkumpul. Termasuk seluruh cucu-cucunya
Malam ini, jazad papa Ilham belum dikebumikan. Karena masih menunggu Hanan yang belum datang-datang karena pesawat yang akan mereka tumpangi mengalami gangguan
Entah kenapa disaat-saat seperti ini, disaat semuanya harus berkumpul untuk pengurusan jenazah, satu putranya sulit untuk datang cepat. Padahal biasanya, Hanan dan Alana tidak sesulit ini
"Ya sudah. Biarkan papa disemayamkan dulu dirumah. Kita menunggu Hanan, sekalian menunggu Imran, Altaaf, Fawas dan Ghoziyah" Ujar Fatih dengan muka sembab
Beberapa jam kemudian
Hanan, Alana, dan kedua bocah kembarnya yaitu Arin dan Zira segera menghambur memeluk jazad papa, papa mertua, serta grandpa mereka yang sudah terbujur kaku dipembaringan
Hanan membuka kain penutup wajah sang papa "Papa, Hanan belum percaya. Pesta kemarin, bahkan papa terlihat lebih gagah dibanding bulan-bulan sebelumnya yang mengeluh sakit punggung, kaki. Kini papa sudah tidak sakit kan, pa" Ucapnya sambil mendongak agar airmata nya tidak menetes
Husayn meremas kedua bahu Hanan
Hanan menoleh kearah bahunya, kemudian bergerak keatas agar tau siapa yang memegangnya "Kak, papa harus disucikan sekarang"
Hanan menelan ludahnya yang terlalu sulit. Kemudian berdiri menghadap Husayn
Husayn memeluknya, dan mereka saling terguguh
Fariz dan Fatih mendekat, dan saling berpegangan pundak yang bertautan satu sama lain
"Kita sudah tidak memiliki papa" Ucap Fariz diakhiri memeluk Hanan dan dipeluk oleh Husayn dan Fatih
Mereka saling mengurai dan mengusap airmata nya masing-masing
Hanan mengusap airmata yang sudah berderai, kemudian mengingat mamanya "Mama mana??" Tanyanya pada semuanya
"Mama ada disana" Tunjuk Fatih pada mama yang sedang terduduk disofa, yang berada diruang tengah, yang sudah dikelilingi seluruh menantu dan cucu-cucunya
Hanan mengurai tangan-tangan ketiga saudara kembarnya, dan berjalan cepat menghambur sang mama "Mama"
Hanan jongkok dan bersimpuh dipangkuan sang mama
Tangan mama mulai terangkat, dan mengusap rambut sang putra "Mama ikhlas melepaskan papamu, nak"
Hanan mendongak dan mengangguk "Iya ma. Kita harus ikhlas menerima semua ini"
"Iya. Sekarang, sucikan papa kalian untuk yang terakhir kali. Sebagai mana, kalian pernah dimandikan papamu, selagi kalian masih bayi-bayi puluhan tahun lalu"
"Iya ma"
Mama Sifa berdiri "Jangan menangis kalian. Jika kalian menangis, biar mama yang akan memandikan papamu sendiri"
Semuanya mengangah tak percaya
Fariz memeluk pundak kanan sang mama "Mama, Fariz kuat"
"Saya juga kuat ma" Husayn memeluk mamanya dipundak kirinya
Perlahan, Hanan berdiri dan memeluk mamanya dari depan "Hanan juga kuat, ma. Kita akan memandikannya sama-sama"
Mama Sifa terdiam. Sengaja ia tidak berucap kembali, karena menunggu satu putranya yang belum memeluknya
__ADS_1
Tiba-tiba pemandu yang biasa memandikan jenazah kedepan "Maaf, acara pemandian jenazah sudah akan dimulai. Siapa yang akan ikut memandikan jenazah tuan Ilham ?"
Fatih segera memeluk mamanya dari belakang "Saya juga kuat, ma"
"Baiklah, kita yang akan memandikan papa bersama-sama" Ucap mama Sifa, yang memegang tangan Hanan untuk melangkah kebelakang rumah
-
Pagi harinya
Suasana duka dan haru menyelimuti pemakaman mantan dokter kandungan Ilham Zayn bin Nadem Han, putra kedua rektor universitas ungu yang berada dikota Jakarta
Foto papa selagi muda. Halunya author
Baik keluarga maupun para tamu undangan tak kuasa membendung tangis ketika jenazah dokter ini diturunkan ke liang lahat
Sebelum diturunkan ke liang lahat, adzan dilantunkan oleh sang putra yaitu Hanan. Karena Fatih memang tergolong putra yang paling cengeng diantara ketiga saudaranya
Dulu Fariz yang paling cengeng. Ternyata setelah besar, Fatih yang paling melow diantara semua putra-putra dokter tampan ini
Sambil menyaksikan proses pemakaman papa, mereka terlihat meneteskan air mata. Proses pemakaman turut diiringi sholawat yang dilantunkan oleh pemuka agama, dan diiringi oleh semuanya
Mama Sifa serta seluruh anggota keluarga lain tampak berpakaian serba putih duduk di sebelah kubur sang suami
mama sempat terlihat mengelap sudut matanya dengan tisu.
Alana dan Hawa, duduk disebelah kanan dan kiri mama
Retno dan Ratna duduk dibelakang mama, beserta cucu-cucu mama lainnya
-
Siang hari setelah pemakaman
Seluruh anggota keluarga besar ini, semuanya menginap disini
Imran yang baru saja bertemu dengan Sayra, ingin mengajaknya keluar rumah
"Mau kemana?" Tanya Hanan pada Imran putranya
"Hang out dad" Jawab Imran yang sudah menggandeng tangan Sayra
"Hanya Sayra yang kamu ajak? Gozi nggak diajak?" Masih Hanan yang bertanya
"Ish daddy. Gozi sudah biasa bertemu. Lagian dia nggak ada teman dad. Fatihah kan sudah punya suami. Kasihan dia dad" Tunjuknya pada Sayra
"Oh.. Kamu kangen banget sama Sayra?"
"Ya jelas dong dad. Kan lama tidak bertemu. Yuk ah. Daddy, semuanya permisi" Pamitnya pada semuanya
Hanan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Imran memang akrab dengan Sayra. Entah ada apa dengan mereka, Hanan hanya mengkhawatirkan takut mereka ada hubungan spesial
Fatih menyenggol tangan Hanan "Sudah. Jika mereka berjodoh, jodohkan saja"
__ADS_1
"Tua an Sayra. Masa nggak ada orang lain, bener nggak" Timpal Husayn yang tau gelagat wajah saudaranya yaitu Hanan, yang tidak ingin ini terjadi
Hanan mengangguk "Iya. Lucu kali ya. Aku berbesanan sama kamu Sayn. Hahaha" Hanan tertawa kecut
Husayn manggut-manggut
Tiba-tiba Arin duduk ditengah-tengah mereka "Daddy, sepertinya mereka memang pacaran dad"
"Hus. Anak kecil. Tau apa Arin tentang pacaran" Mata Hanan sudah melebar
Husayn, Fariz dan Fatih saling cubit-cubitan dibelakang tubuh Hanan
Arin berdiri "Taulah dad. Arin kan pernah ditembak oleh cowok, yang sekelas dengan Arin"
"What !!!!" Hanan terperangah mendengar langsung pengakuan putrinya yang bar-bar seperti ini "Benar itu Zira" Hanan bertanya pada Zira, karena Zira kebetulan melintas
"Tau tu. Lebay dia dad. Yang ada, cowoknya yang ditembak oleh Arin"
"Zira....!!!!" Arin berlari mengejar Zira. Zirapun tak mau kalah urusan kejar-kejaran
"Kakak !!! Banteng betina mau menyerang!!!" Ucapnya melompat keatas kasur yang sudah ada Altaaf disana
Dengan spontan, Altaaf menyembunyikan Zira didalam selimutnya
"Mana Zira kak" Tanya Arin dengan mata lebarnya
"Di toilet kali" Bohongnya
Arin mengangkat pentungan dan berlari kearah toilet "Kakak!! Nggak ada"
"Zira, Zira. Ngumpet kamu" Altaaf menabok-nabok pantat adiknya dan beranjak dari kasur untuk membukakan pintu balkon, untuk menyembunyikan Zira dibelakang orden
Arin sudah menantang didepan Altaaf "Kakak sedang ngapain?"
Altaaf mengangkat kedua bahunya "Enggak. Enggak ngapa-ngapain"
Arin berkacak pinggang tidak percaya "Kakak minggir. Akan kuhabisi dia"
"Hus. Salah apa Zira sama kamu"
Arin belum menjawab, tetapi masih sibuk menghentak-hentakkan pentungan tadi ketangan yang lainnya "Jawab saja"
"Kamu kenapa sama saudara begitu"
"Dia menghinaku kak"
"Menghina apa"
"Dia bilang, aku yang menembak cowok"
"Padahal??"
"Iya benar. Cowok itu menyukai Zira. Tapi Arin yang justru menyukai cowok itu"
"Hadewww"
__ADS_1