Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Lipstick Baru


__ADS_3

Retno mengambilkan gunting


Sambil cengar-cengir, ia serahkan gunting tersebut pada suaminya "Ini mas. Butuh bantuan nggak?" Ucapnya masih menyisahkan senyum


"Guntingin juga nggak pa-pa. Daripada salah gunting, bagaimana ?" Fatih masih menarik-narik CD tersebut agar bisa dimasukin alat pemotong tadi


"Bentar mas. Aku letakkan Fahmi dulu"


Fatih ikut keluar dari kamar mandi, dan mendekati Retno


Retno sudah merebahkan Fahmi, dan berbelok untuk membantu suaminya


Retno sudah jongkok dan memegang CD nya yang masih melekat menutupi area sensitif suaminya "Untung bukan yang ada rendanya ya mas. Kalau ada rendanya, Fahmi kayanya bangun dan ikut tertawa mas" Retno kembali cekikikan


"Sudah ah jangan becanda. Kamu sih, pilih CD kenapa warnanya hampir sama"


"Haha. suka aja warna gelap. Tapi swer mas. Mas terlihat sexy tau, ngepres dan rata" Retno masih sibuk menggunting dengan pelan "Sunatin sekalian ya Mas?" Godanya lagi-lagi


Dengan otomatis Fatih memegang senjatanya dibalik CD istrinya "Ish. Dulu waktu mas disunat aja sakitnya, kaya digigit harimau, masa lagi. Ntar kamu dapetnya apa?"


"Iya, iya. Jangan bernafas ya" Retno kembali fokus untuk menggunting


Fatih senyum-senyum teringat kelakuannya sendiri


"Jangan nahan ketawa mas. Perut mas kembang kempis nih. Entar kegunting beneran baru tau rasa loh"


Fatih menutup mulutnya, agar tertawanya tidak berkelanjutan


Retno dengan pelan menggunting, sambil meraba-raba


Tiba-tiba benda itu menonjol kembali


"Mas, kenapa ditonjolin. Sesak kan?? Kalau gitu, aku sunatin beneran ya"


Fatih dengan spontan menutupnya kembali dengan tangan "Ish, jangan dong. Dulu mas sudah berjuang sampai nangis-nangis"


Retno mendongak "Disunat sampai nangis?"


"Ya iyalah, kan sakit"


"Ih cengeng"


"La emang sakit kok. ya nangislah. Semuanya juga pada nangis"


"Ih, quadruple nangis?" Tanya Retno nggak percaya


"Iya. Sudah jangan dibahas. Ini semua, demi muasin istri tau. Jika mas tidak sunat, modelnya nggak se sexy ini"


"Ish" Retno menepuk senjata milik sang suami pelan "Kalau gitu, kempesin dong"


"Mana bisa. Itu kan gara-gara tanganmu meraba-raba"


"Ish mas. Malam-malam gini becanda"


"Makanya buruan gunting CDnya dong. Dalamnya jangan buat mainan aja"


"Yang mainin siapa?" Retno mulai pening


Akhirnya, daleman itu kegunting dengan sukses. Dan isinya juga selamat tanpa lecet sedikitpun "Dah selesai" Retno membuang daleman yang sudah rusak itu ke tong sampah


Tetapi, pemandangan didepan matanya membuat Retno mengangah sempurna "Mas !! Kenapa nantangin lagi" Liriknya pada benda tumpul yang bisa membuatnya melahirkan Fahri dan Fahmi itu


"Tangan kamu yang bikin begini"


"Hah??"


"Tanggung jawab" Fatih mendekati Retno minta pertanggung jawaban


"Mas"


Fatih diam. Tetapi membalikkan Retno, agar Retno menungging


"Salah pakai sendiri, kenapa aku yang disalahkan" Retno ngedumel, tetapi nurut apa yang suaminya mau


"Udah, bentar aja. Nungging"


"Astagfirullah"


"Hus. Kalau sudah telan jang nggak boleh ngucap begituan"

__ADS_1


"Aku salah lagi mas?"


"Iya kamu banyak salah malam ini. Makanya mas hukum lagi" Ucap Fatih yang sudah siap menenggelamkan lagi senjatanya


"Hadewww.. Mas" Pekik Retno


"Apa??"


"Bawah aja ya"


"Kenapa harus dibawah"


"Takut Fahmi bangun. Ntar dia nangis. Ntar mas salah pakai celana lagi, aku yang rugi"


"Sudah. Jangan banyak protes. Besok mas ganti. Satu lusin, yang bermotif doreng sekalian"


"Ish mas mah, gitu"


-


Pagi harinya


Fatih, Retno, dan kedua jagoannya masih tinggal dirumah babe. Meskipun Fatih bolak-balik pulang berangkat kerja agak jauhan. Kali ini Fatih tidak mengeluh.


"Sayang, semalam Fatihah sudah pulang kerumah papa" Ucap Fatih sibuk dengan dasinya


Retno mendekat "Aku tau. Dan aku, sudah menyuruhnya untuk datang kemari. Hari ini"


Fatih mengerutkan dahinya "Oh gitu. Jadi kalian sudah sekongkol rupanya"


Retno tersenyum sambil membenahi penampilan suaminya "Dah cakep" Retno kembali mengusap dada suaminya mengikuti dasinya lalu memeluk ringan


Fatih memiringkan wajahnya


Cup


Bibir Retno sudah disambar olehnya "Terimakasih"


Fatih sekarang sudah pinter membuat istrinya tersipu


"Buat ??"


Retno memeluk, dan menyembunyikan wajahnya pada dada suaminya


Retno melonggarkan pelukannya "Yah, mas. Lipstick ku nempel" Retno mengusap-usap baju suaminya yang sedikit terkena noda merah


Fatih ikut-ikutan menghapus noda tersebut "Sudah nggak pa-pa. Sudah memudar kok. Lagian kan ditutupin jas"


Retno mendongak menatap bibir suaminya "Bibir mas juga merah" Retno sedikit tidak enak. Lalu menghapus lipstick yang baru pertama ia pakai, bukan yang seperti kepunyaannya yang biasa Retno pakai


Fatih memegang dagu istrinya "Lipstick baru?"


"He em. Dikasih ibu"


"Warnanya nempel dimana-mana. Mas nggak suka"


"Iya mas, maaf. Lipstick nya nempel dimana-mana"


"Iya. Nggak ngenakin"


Akhirnya Retnopun menghapus lipstick pada bibirnya


-


Siang harinya, Fatihah sudah datang untuk menjemput kedua adik dan ibu sambungnya


Sore ini, Fatihah membawa mereka bertiga menginap dirumah grandpa dan grandma nya


Karena besok, seperti biasa, diadakan arisan bulanan yang selalu dilakukan disini


-


Malam harinya sebelum Fatih pulang, Retno mulai sibuk didapur, menyiapkan makanan untuk besok, yang akan disuguhkan untuk para kerabatnya yang akan datang kemari


Malam ini, Retno tidak menyiapkan menu lele. Karena lele kepunyaannya sudah sold out. Jadi, Retno membawa belut, yang akan ia eksekusi untuk lauk besok


Papa Ilham datang kedapur. Papa penasaran karena didapur ramai orang yang berteriak-teriak karena hewan yang hampir milik ular dan menggelikan itu, lepas dan susah ditangkap karena licin


"Ih geli mbak Retno"

__ADS_1


Karena tidak ada yang sanggup membersihkan dan memotong-motong belut. Akhirnya Retno sendiri yang melakukannya


"Wah, apa itu nak?" Tanya Papa yang sudah masuk kearea dapur


"Belut pa. Papa suka nggak?" Menjawab dan bertanya pada papa mertuanya


"Memangnya mau dibikin apa?" Tanya papa dan tidak menjawab pertanyaan dari menantunya


"Mau Retno goreng pa. Terus dipenyet diatas sambal, dan dikasih santan. Sedap pa. Dijamin semuanya ketagihan"


Papa Ilham manggut-manggut "Sepertinya menggoda"


Papa ikut-ikutan memegang belut tersebut sambil tertawa-tawa karena terlepas terus "Dari dulu papa nggak bisa nangkep beginian"


"Kenapa? Papa geli"


"Iya. Ingat ular"


"Haha" Retno tertawa karena tak disangka, sang papa mertua ikut-ikutan membantunya memasukkan belut yang sudah menjadi potongan, dan dimasukkan kedalam baskom


"Kamu dapat dari mana? " Tanya Papa penasaran


"Dari kawan babe pa"


"Budidaya belut ?"


"Iya pa"


"Duh senengnya, inget kampung mamamu jadinya" Ucap papa sukses membuat Retno bingung


"Mama??"


"Iya. Fatih tidak pernah bercerita kalau pernah hidup dikampung?"


Retno geleng-geleng "Nggak pa. Cuma pernah bilang pernah nangkep udang, tapi udangnya loncat-loncat"


"Haha iya. Dan mama Sifalah jagoannya, jika disuruh soal tangkap menangkap"


"Iyakah"


Papa mengangguk


"Sudah selesai pa, belutnya. Dan besok, tinggal menggorengnya"


"Sudah selesai?"


"Sudah pa. Tinggal kita simpan difrezer"


-


Sementara


Fatih sudah masuk kedalam kamar. Tetapi yang dikamar, isinya ketiga anak-anaknya yaitu Fatihah dan sikembar yang sudah terlelap diatas ranjang


"Adu dududu. Aman nggak ini Fahmi sama si Fahri" Fatih menggoyang-goyangkan tubuh Fatihah "Sayang. Fatihah!! Bangun dong"


Fatihah masih terlelap dan belum bangun


"Sayang.. Bangun dong"


Fatihah bangun "Daddy ya"


Fatih nengangguk


"Daddy sudah pulang?"


"Sudah"


"Sudah lama??"


"Sudah. Buruan bangun. Oiya, mami kemana?"


"Didapur"


"Oh, ya sudah. Kamu bangun. Daddy nggak mau adik-adikmu pada tercecer gegara ulahmu"


"Ish, daddy ngeremehin aku. Gini-gini aku jago loh dad"


"Ah, daddy belum percaya"

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2