
Retno sudah merinding, mendengarkan keinginan suaminya, kalau malam ini, dirinya harus mempersiapkan seluruh jiwa dan raganya
"Memangnya mau perang mas" Retno geleng-geleng kembali
"Mas Fatih nggak takut kalau aku hamil lagi apa" Gerutunya sambil mengambil matras
Daripada pusing mikirin suaminya, lebih baik Retno melakukan senam kegel, pelajaran yang dikasih oleh pemandu senam, saat para istri dokter senam di rumah sakit, waktu dirinya sedang mengandung
Setelah proses persalinan 40 hari lalu, banyak terjadi perubahan pada bentuk tubuh Retno
Seperti kenaikan berat badan, dan otot- otot lain yang terasa longgar.
Retno biasa meminum jamu racikan ibunya hingga hari ini. Tetapi, perubahan seluruh tubuhnya seakan melar kemana-mana
Dari kemarin-kemarin, Retno sudah rutin melakukan senam kegel saat suaminya bekerja, dan kedua putranya tidur semua seperti sekarang
Senam Kegel ini, dipercaya untuk mengencangkan kembali otot va gina yang longgar.
Untuk hasil maksimal, setidaknya Retno melakukan senam ini 3 kali sehari secara teratur.
Senam Kegel atau disebut juga senam pelatihan otot panggul bawah, bermanfaat untuk memperbaiki kondisi yang dapat menurunkan fungsi dan kekuatan otot panggul bawah.
Retno sudah tiduran diatas matras, yang ia gelar didalam kamarnya, didepan pintu balkon.
Ia angkat pantat dengan tubuh dan kepala yang masih menyentuh matras, dengan kaki yang ia tekuk sebagai penopang badan
Olahraga ini dapat dilakukan oleh pria maupun wanita. Karena sangat bermanfaat untuk meningkatkan performa sek sual.
Perubahan bentuk tubuh dan emosi yang tidak stabil, turut mempengaruhi gairah sek sual wanita setelah melalui masa persalinan. Hal ini bisa membuat wanita enggan dan khawatir untuk melakukan hubungan in tim, sehingga berdampak pada keharmonisan rumah tangga
Retno sudah berhenti senamnya, karena Fahmi terbangun
Retno segera mengelap badannya yang berkeringat, dan mengganti baju yang penuh keringat dengan daster rumahan, agar menyu sui kedua putranya lebih mudah
Retno sudah berbaring disisi Fahmi. Dan kedua putranya ada direngkuhan Retno semua, meskipun menyu suinya bergantian
Meski kelihatannya mudah dan naluriah, menyu sui bisa jadi tantangan tersendiri bagi seorang ibu. Banyak ibu baru yang kebingungan karena sang buah hati tak kunjung bisa menyedot ASI.
Untung Fatih selalu memberi tau dan membantu menata bayi-bayinya agar mudah disu sui, jika ia berada dirumah. Jadi, Retno tinggal meniru dan selalu mengingatnya jika suami tidak berada dirumah.
-
Kedua putranya sudah bergantian menyu su dan kembali tertidur. Dan sekarang, tinggal dirinya yang kelaparan
Retno memakan singkong rebus, yang sengaja untuk ganjal perutnya jika habis menyu sui kedua anaknya
Eergggg
"Alhamdulillah"
Meskipun capek, Retno tetap memasak lauk dan sayur untuk suami dan dirinya
Tak berselang lama, Fatih datang membawakan oleh-oleh untuk sang istri
"Assalamualaikum... Daddy pulang.." Ucapnya jika sudah masuk kedalam rumah
"Waalaikumusalam..." Retno menjawab, tetapi orang yang dijawab salamnya tidak terlihat batang hidungnya
Fatih keluar dari kamar mandi, kemudian mendekati istrinya "Sayang masak apa?" Fatih memeluk Retno dari belakang, dan menaruh wajahnya diceruk leher Retno
Retno sedikit merinding, lalu mematikan kompor, dan berbalik
"Hehe.. Hanya masak sayur dan menggoreng ikan saja mas. Aku takut sikembar bangun"
Fatih mengangguk "Baiklah sini mas bantu, mas lapar sekali"
Setelah sampai dimeja makan, Retno melihat kresek makanan "Mas yang bawa ini?"
"Ah iya mas lupa. Itu mie ayam sayang. Tadi mas lihat diujung sana ada yang jualan mie ayam keliling"
Retno menatap suaminya "Terus, mas mau makan apa?"
__ADS_1
"Makan kamu"
"Ish"
"Beneran. Daripada bingung"
Retno berdiri
"Eh mau kemana?" Cegah Fatih sambil menarik tangan Retno
"Tidur"
"Duduk. Kita makan nasi satu piring untuk berdua. Habis itu, makan mie"
Retno setuju. Berapapun makanan yang masuk, Retno rasanya mampu menghabiskan. Entah kenapa rasa lapar itu terus menggerogotinya.
-
Sebelum Fatih kembali ke rumah sakit, Fahri terbangun karena papanya menciumnya dengan gemas
"Sudah berapa jam, mereka tidur?" Tanya Fatih
"Sejam setengah kayaknya" Retno mengambil Fahri dan mulai menyu sui
Saat Retno akan menyu sui, Fatih lebih proaktif berinisiatif mengambilkan bantal, dan menaruhnya dibawah bayi, agar si kecil bisa tertopang dengan baik
"Nyaman?"
Retno mengangguk dan mengeluarkan sumber makanan untuk sang putra
Fatih duduk disamping Retno "Kapan bapaknya di mi miin begitu. Boleh coba ya? Yang kiri deh" Fatih sudah hampir membuka baju Retno sebelah kiri
"Ih, buat Fahmi. Mas jatahnya kalau udah kempis"
"Heh?? Masa gitu nggak adil banget. Boleh ah"
"Nggak bisa. Mas bikin aja su su full cream sendiri didapur"
"Ih, nggak mau harus bikin. Ini kan nggak perlu memanaskan" Tunjuk Fatih pada dada Retno yang montok tiada tara
"Sedikit" Jemari Fatih sudah membuka dada Retno sebelah kiri "Ini kan, banjir" Bibir Fatih sudah menghisap pu ting yang sedikit membesar dari sebelumnya
Seluruh badan Retno seakan tersengat listrik ribuan watt
"Manis" Ucapnya sambil menatap Retno
Fatih berdiri "Bekasku dicuci sayang. Sebentar kuambilkan air dulu"
Retno mlongoh. Ada rasa nyaman saat suaminya mengisapnya. Padahal cuma sedikit dan beberapa detik saja
Fatih datang dengan baskom kecil berisi air dan waslap
Retno menidurkan Fahri, lalu meminta baskom tersebut "Sini mas. Aku nggak mau ASI ku kesedot mas semua. Mas kayak lintah bikin aku merinding"
"Sama. Aku juga. Lihat" Tunjuk Fatih pada celananya
Retno menatap celana suaminya yang sedikit ketat dibagian tertentu
Retno segera mendorong suaminya "Ih, mas bener-bener menyebalkan. Jam istirahat nya hampir habis. Sana kerja lagi" Teriaknya membuat Fatih tertawa
"Ahaha. Awas ya, jangan lupa. Jatah" Fatih keluar dengan wajah sumringah. Tapi beberapa detik, iapun masuk kembali
"Ada apa lagi" Teriaknya galak
"Lumayan. Sudah dicharge nih" Tangan Fatih mengepal keatas "Sudah dimi miin" Godanya
Retno berlari mengejar Fatih sambil membawa bantal
Fatih berlari sambil tertawa
-
__ADS_1
Sore harinya
Papa Ilham, mama Sifa dan Fatihah datang berkunjung
Kedatangannya kemari, Fatih belum pulang dari tugasnya, mungkin masih diperjalanan pulang
Dan benar
Fatih masuk setelah memberi salam "Daddy pulang" Ucapannya itu seperti password yang selalu diucapkan setelah masuk rumah
Salamnya sudah dijawab oleh semua orang
"Eh, papa mama sama kakak, datang ya" Ucapnya sambil melepas sepatu, lalu memeluk kedua orangtuanya erat
Fatihah masih tengkurap merengkuh kedua adiknya yang sedang terlelap
"Fatihah, kamu tidak memberi salam pada daddymu" Tegur mama Sifa
"Malas gema" Jawabnya tanpa beranjak sedikitpun
Fatih meradang mendengar jawaban putrinya "Kalau malas, kenapa kesini. Terus, itu ngapain deketin bayi-bayinya daddy"
"Biar awet muda dad. Kalau berteman sama daddy, yang ada, wajahku tua kesetrum daddy"
Fatih mengambil bantal dan menabok pantat putrinya
Fatihah duduk sambil manyun "Tuh kan, aku selalu disiksa"
"Heh?? Bagus ya, kalau ngomong dilebih-lebihi"
Fatihah berdiri didepan papanya "Daddy, aku kangen daddy" Fatihah merentangkan tangannya, lalu menghambur memeluk papanya
"Kau memeluk daddy pasti ada maunya ya?"
"Daddy bisa tau aja"
"Kalau duit nggak mungkin. Pasti masalah yang lain"
"Betul. Daddy memang cerdas"
"Apa??"
"Daddy, Fatihah kan sudah besar. Boleh ya.. " Ucapnya terhenti karena ragu
"Boleh apa?"
"Pacaran"
Mata Fatih langsung melotot "Belajarmu sudah pinter?? Kalau kamu pacaran, mending daddy jodohkan kamu saja sama rekan kerja daddy"
Fatihah mengurai "Ish daddy.. Nggak mau sama teman daddy. Teman daddy pasti tua"
"Kalau sama siswa daddy, bagaimana??"
"Pasti tidak cakep" Ejeknya sambil bersedekap
"Kamu ya. Pokoknya, daddy tidak mau kalau kamu pacaran terlebih dahulu. Jika ketahuan, daddy akan menghentikan uang untukmu" Ancam Fatih
"Mas" Retno mendekati Fatih
"Yah, dad. Jangan gawat begitu dong"
"Gawat bagaimana?? Kalau daddy larang. Ya sudah, harus manut kamu"
"Tuh, dengerin. Grandpa juga nggak mau ngasih jajan kekamu. Daripada Grandpa dimusuhin daddymu" Papa Ilham ikut-ikut menjadi kompor
Fatihah manyun dan mendekati papa Ilham "Masa gepa, tega"
Mama Sifa menarik Fatihah, agar menjauhi papa Ilham "Sudah, jangan ngerayu opamu. Turuti saja kemauan daddymu" Mama Sifa menengahi
"Ah payah. Nggak ada yang mendukungku"
__ADS_1
BERSAMBUNG....