
Sore harinya diwaktu hujan turun
Mama Sifa duduk terpisah dari anak, menantu, dan ketiga cucu-cucunya
Mama duduk dikursi elektrik untuk berpijat sambil tiduran
Sementara si Arin, sedang belajar ditemani kedua putra kembar, Fahmi dan Fahri
Arin sengaja dibelikan meja belajar yang ditaruh didekat tembok diruangan tengah, sedangkan untuk kedua putra kembar Fatih, merekapun sama, memiliki meja belajar mirip dengan kepunyaan Arin
Fatih menoleh kesamping, kearah mama Sifa yang sedang tertidur sambil duduk
Kemudian menoleh kebelakang. Dilihatnya ketiga bocah itu sedang sibuk dimeja belajar masing-masing dan tidak membuat kekacauan
"Aman" Kata Fatih. Kemudian, Fatih dan Retno menonton televisi kembali
"Mas, perasaan dulu sebelum kita menikah, mas sering banget kasih aku hadiah, kok sekarang udah gak pernah lagi sih?" Ucap Retno mengingat gara-gara menonton istri yang diberi kejutan oleh sang suami difilm yang mereka tonton sekarang
Fatih merangkul Retno "Gini mih. apa mamih pernah lihat nelayan kasih umpan lagi sama ikan yang udah ketangkep? enggak pernah kan?"
"Hem" Retno tersenyum kecut "Terus. Kenapa sih setelah menikah, aku nggak pernah diajak jalan-jalan lagi, kayak dulu waktu kita masih pacaran"
"Coba diingat-ingat sayang, kenapa dulu kita menikah, karena apa?"
"Karena apa ya.. " Retno mengingat-ingat "Karena apa ya mas. Yaaa, karena kita jodoh kali mas, makanya kita menikah"
"Nah itu tau, pepatah bilang, kalau dah jodoh, tidak akan ke mana-mana, gitu kan"
"Alesan"
Fatih tersenyum lebar sambil mengedipkan matanya genit
"Pah" Panggil Arin yang tiba-tiba dibelakang mereka, yang sudah dibuntuti sikembar
Fatih menoleh "Iya"
"Pah, keluar yuk. Aku ingin jajan" Arin menendang sikembar "Mbar, kamu ingin es krim nggak?"
Sikembar Fahri dan Fahmi njrot-njrotan karena mau diajak keluar "Asyik... Kita mau es klim. Yang buanyak ya kak"
"Iya boleh-boleh. Uangmu mana. punya nggak" Tanya Arin pada keduanya
Keduanya mulai lemah dan menggeleng bersama-sama
"Ah payah, bentar aku ambilin duit ya" Arin berjalan masuk kekamar diikuti oleh dua tuyul
Setelah keluar, Arin dan kedua bocah kembar sudah memegang uang masing-masing pemberian Arin
Bersamaan itu, Fatih dan Retno saling tatap
Retno menggerutu "Pasti akan setuju deh"
"Dia kan anak kecil mih"
__ADS_1
"Sama aja. Aku juga anak baru gede mas"
"Dad / Pah. Dah siap kami" Ucap mereka bersamaan
"Mereka bertiga mih. Sana buruan ganti baju. Katanya ingin ke mall" Ujar Fatih pada Retno
"Kalau bukan Arin yang minta, pasti mas nggak bakalan ngajak. Betul kan?"
"Sudah. Anak-anak udah nungguin"
-
Mama Sifa sudah dibangunkan, dan diajak pergi ke mall juga
Mereka berenam berjalan sesuka hati termasuk mama Sifa
Mama berjalan menyusuri tempat tidur yang berjajar untuk diperjual belikan
Tiba-tiba mama membuka selimut, kemudian naik keatas tempat tidur, dan rebahan disana
Sambil tersenyum, mama melambaikan tangannya "Sayang, mama ngantuk. Tolong, mama diselimuti" Ucapnya meminta tolong pada pengunjung yang melintasi mebel-mebel ini
Pengunjungpun mendekat sambil kebingungan, kemudian menyelimuti
"Makasih ya nak" Jawabnya sambil cekikikan dalam hati, kemudian selimutnya dibuka kembali. Mama Sifa sengaja ingin ngerjain seluruh orang yang ada disini
Semua orang yang melintas berfikiran berbeda-beda
Tetapi dilihat dari penampilan, mama Sifa terlihat orang berada. Dan tadi yang sempat menyelimuti pun, sedikit mengendus aroma mama Sifa, baunya harum parfum, dan pakaian yang dipakaipun, baju yang terlihat mahal, bukan compang-camping ataupun dekil
Kembali mama Sifa pura-pura tertidur
Sekarang, giliran pramuniaga, yang menjaga furniture atau mebel-mebel disini. Salah satu pelayan pria mendekati mama Sifa yang pura-pura tertidur disana
Pelayan itu memegang pundak mama Sifa "Oma, oma"
"Hmmm" Mama Sifa membuka mata "Ada apa?"
"Maaf oma, tempat tidur ini untuk pameran. Bukan untuk tidur-tiduran seperti ini" Tegurnya
"Kenapa nggak ada larangan. Mama lihat, disana ada peringatan semuanya. Hanya ini saja yang nggak ada. Ya sudah, mama tidur lagi" Mama Sifa memejamkan matanya kembali "Eh, oh iya, tolong selimutin mama. Biar mama istirahat sejenak" Ucapnya membuat pelayan itu mlongoh "Sudah, jangan bingung. Ntar tempat tidur ini pasti laku. Cepat selimutin mama, nak"
Sang pelayanpun kalah dengan titah mama Sifa
Lagi dan lagi, sang pengunjung tersenyum dengan tingkah Sifa
Tiba-tiba sang pengunjung mendekati ranjang yang ada mama Sifa disana "Empuk ya pa. Mewah lagi"
"Iya. Sangat nyaman" Saut mama Sifa sambil membuka matanya
"Lah, oma kok boleh tidur disini" Tegur sang calon pembeli
"Mama model disini. Bebas. Boleh tidur dimana-mana" Tunjuk mama Sifa pada ranjang-ranjang yang berjajar rapih disini
__ADS_1
"Oh, empuk banget ya ma"
"Iya, sangat empuk. Baru rebahan saja, mama sudah bermimpi tadi" Ujar mama beriklan
Sang calon pembeli manggut-manggut Sepertinya tertarik dengan ucapan mama Sifa
"Silahkan dipilih. Saran mama, pilih yang ini. Nyaman" Kemudian mama menjauh dari ranjang-ranjang ini
-
Semuanya sudah berkumpul dikasir, termasuk mama Sifa
"Mama kok nggak beli apa-apa?" Tanya Fatih
"Enggak. Nggak beli apa-apa juga fres. Mama hepi" Ucapnya sambil tersenyum
"Mama darimana tadi" Tanya Retno pada mama
"Tiduran lah" Jawab mama enteng
"Tidur dimana, ma" Tanya Retno belum percaya
"Mama kalau kemari, sukanya mencoba-coba mebel yang ada disini" Fatih sudah tau, mamanya suka bikin ulah seperti itu sejak dulu
Tetapi Retno baru tau karena jarang berjalan bareng seperti ini.
Semua keluarga tidak malu dengan tingkah absurd mamanya. Bahkan mendiang papa, membiarkan ulah istrinya konyol seperti itu. Ujung-ujungnya, apapun yang ditempati mama Sifa, pasti terjual hari ini juga
Rombongan keluarga ini melintas, dan pelayan tadi mengejar rombongan itu "Oma, oma"
Mama Sifa menoleh "Kamu memanggil saya nak?"
"Iya oma. Eng maaf oma, apa tadi oma tidur-tiduran diranjang, ingin membelinya?"
"Eng, tidak. Oma hanya ingin mencoba saja. Pasti laku kan?" Ucapnya tersenyum sambil menebak
Sang pelayanpun mengangguk "Betul oma. Oma nggak ingin duduk disofa??"
"Wani piro" Ucap mama membuat pelayan tadi menggaruk tengkuk yang tidak gatal
Kemudian rombongan ini berjalan keluar
-
Retno berbisik "Mas"
"Sudah biasa" Fatih
Mama Sifa berkomentar "Mama itu kasihan banget sama penjual furniture. Mama lihat, pengunjung hanya melintas. dan ngiler doang kayaknya. Ingin beli, tapi kemahalan. Ya sudah, mama komporin aja promosi tadi. Eh, katanya laku hahaha"
Fatih geleng-geleng kepala. Mamanya memang poal sejak dulu, dan selalu bikin orang kesal menjadi girang dibuatnya
__ADS_1