
Malam harinya, Fatih baru saja pulang dari rumah sakit
Rumah terlihat sepi, lampu terang dimana-mana. Tetapi, seperti tanpa ada kehidupan
Fatih membuka pintu dengan pelan
Krengkieeetttt
"Sayang... Mas sudah pulang..." Ucapnya pelan
Kemudian, Fatih mengunci pintu kembali, lalu mengabsen kamarnya "Kosong? Kemana"
Langkah Fatih yang tadinya pelan, karena takut mengganggu istrinya istirahat. Kini berubah panik
Fatih segera mencari dikamar mandi "Sayang... Kosong juga"
Fatih masih sibuk mencarinya dibalcon kamar "Kosong. Tak biasanya, kemana dia" Fatih berjalan cepat untuk menuju dapur "Ah iya, siapa tau ada disana"
Begitu Fatih keluar dari kamar, dan menatap ruang televisi yang berserakan tissue diantara sofa, Fatih sudah melihat wanita yang ia cari, yang sudah tertidur meringkuk, sambil memeluk box tissue
Fatih mendekati "Ada apa ini. Tissue bekas numpuk diatas meja juga"
Fatih segera duduk disamping istri yang sedang meringkuk, lalu mengusap kepalanya "Sayang, sayang.."
Retno membuka matanya sambil kesilauan
Retno langsung bangun, menarik tubuhnya, hingga duduk tegak, serta menarik lututnya "Kamu si..." Retno mengingat-ingat, begitu nyawanya terkumpul "Mas.. Ngagetin. Kirain siapa"
Fatih tidak menjawab pertanyaan Retno. Dia justru bertanya yang lain "Sayang, kamu kenapa menangis?" Ucapnya sambil menunjuk tumpukan tissue yang tercecer dilantai, dan menumpuk dimeja
Retno langsung memunguti tissue tersebut, lalu berdiri untuk membuangnya ketempat sampah
Netra Fatih mengikuti langkah Retno
Retno sudah berdiri menjulang didepan Fatih "Habis maghrib aku nonton film, tapi sedih banget. Aku tidak tahan, jadi aku nangis sampai capek"
"Berarti selama sayang nonton dari awal itu sudah nangis?"
"Iya"
"Sampai jam?"
"20:00"
"Dari maghrib hingga jam 8 ?"
"Iya"
"Dua jam nangis?"
"Iya. Kan filmnya bagus mas, sedih"
"Oh, jadi kalau tidak capek nangis, berarti nggak berenti"
Retno terdiam mencerna suaminya mengomel
"Sudah makan belum?" Tanya Fatih
"Belum"
"Belum??" Fatih mengulang jawaban Retno dengan kesal "Demi film melupakan makan juga" Fatih masuk kedalam kamar, lalu sepersekian detik, iapun keluar dan sudah membawa kaca kecil "Ngaca" Fatih duduk lagi sambil menyodorkan kaca pada Retno
Retno menerima dengan takut
"Ngaca.. Ngapain ngliatin kesini" Perut Fatih sebenarnya kaku melihat wajah istrinya yang sembab semua. Mata bengkak, bibir merah, tidak ada cantik-cantiknya
Retno mengaca, lalu melirik Fatih "Aku lapar"
"Nangis dong"
__ADS_1
"Mas kok gitu sih. Pulang malah marah-marah. Sampai aku tertidur, kan nungguin mas pulang"
Retno berjalan kesal menuju meja makan. Ia berdiri, lalu membuka tutup saji
Glomprang
Retno sengaja mengamuk biar suaminya tau derita istri yang menunggu pulang suaminya
Retno duduk dengan kasar "Memangnya rumah sakitnya sudah pindah ya. Bilangnya pulang sekitar jam 7. Nyatanya, sampai rumah jam berapa"
Lalu, Retno mengambil makanan kepiring, dan memakan makanannya dengan kasar
Fatih mulai tak enak, yang salah sebenarnya dia. Janji tidak tepat
Fatih mulai berdiri, lalu mendekat "Maaf, tadi mas sewaktu mengirim pesan, ketemu kawan. Jadi lupa ngobrol"
"Ya sudah, ngobrol lagi sana. Aku mah apa"
"Jangan begitu, maafin mas ya.. " Sambil mengusap punggung istrinya, lalu duduk disamping Retno, sambil memperhatikan Retno yang sedang makan yang sudah terlambat akibat dirinya
Uhuk-uhuk
Fatih segera menyodorkan segelas air putih "Hati-hati"
Retno cuek, ia menerima gelas tersebut, tetapi tidak menawari suaminya makan ataupun minum. Tugasnya sudah selesai. Ia sudah membuatkan makan malam, dan minum yang sudah ia siapkan sejak suaminya bilang mau pulang
Retno sudah selesai makan dengan singkat, lalu mencuci bekas makannya
Fatih mengikutinya, tapi Retno sedikit membutakan matanya. Ia segera masuk kekamar, lalu mengganti pakaiannya yang serba panjang dan bercelana
"Kok ganti, kenapa?" Tiba-tiba suara itu benar-benar menyebalkan dipendengarannya
Retno masuk ke bedcover "Tugasku selesai. Aku mau tidur" Lalu menutup seluruh tubuh dan wajahnya
Fatih menarik selimut tebal itu dan sedikit menariknya "Sayang kan habis makan, jangan buru-buru tidur"
Dari pergerakan tubuhnya, Retno menolak untuk diganggu
Retno membuka selimutnya, setelah suaminya benar-benar sudah pergi dari sisinya
Retno turun dan mengintip dari pintu kamar
Melihat suaminya makan sendiri, hati Retno sedikit tercubit
Dengan sedikit malu, Retno mendekati punggung Fatih, lalu bergelayut disana
"Kok nggak jadi tidur ?" Tanya Fatih
"Suara sendok mas brisik" Bohongnya
"Oh" Fatih segera menyelesaikan makan malamnya, ditemani istrinya yang nempel dipunggung
-
Tak terasa, usia pernikahan mereka sudah memasuki bulan ke 2
Retno juga sudah ada tanda-tanda akan kehamilannya
Bagi kebanyakan wanita hamil, ngidam makanan hanya dalam beberapa kategori, seperti makanan manis, pedas, asin, atau terkadang asam. Begitu juga halnya dengan suami yang bisa mengidam makanan tertentu selama kehamilan istrinya.
Ngidam yang dialami suami dikenal dengan sindrom Couvade, ikatan batin atau kehamilan simpatik, yang memiliki berbagai macam gejala.
Tanda dan gejala yang mungkin dirasakan setiap suami bisa sangat berbeda, sama seperti gejala kehamilan yang sebenarnya.
Setelah tau Retno sedang mengandung anaknya, kecemasan, depresi, susah tidur, gelisah, serta menurunnya keinginan untuk berhubungan in tim
Mungkin karena Fatih sering tiba-tiba merasakan mual, muntah, dan mulas, jadi libido nya naik turun
Belum lagi merasakan sakit atau kembung di perut, perubahan nafsu makan, keram di kaki, sakit punggung, iritasi genital atau urine, perut terasa penuh, dan sakit gigi
__ADS_1
"Mas, mas kok jarang tengokin aku. Mas bosen ya" Jujurnya, karena tidak biasanya
Fatih terdiam karena badannya memang tidak enak sama sekali. Dan mendadak seperti kakek-kakek yang bau minyak angin dimana-mana
Fatih kembali mengusap minyak anginnya dipipi "Seumur-umur baru ngerasain sakit gigi"
"Gigi mas bolong?"
"Sepertinya enggak. Tapi sakitnya, kepala ini hampir copot. Sakit semua"
"Sebelah mana?"
"Semua"
"Semua??? Kalau gigi mas copot semua, ompong. Mas kempot dong"
"Ya, mau gimana lagi. Nyatanya udah tua"
Retno terdiam. Mencerna kata-kata suaminya yang sedikit menyerah.
Retno tersenyum "Kata siapa tua. Boleh aku lihat mas giginya"
Fatih mengangguk
Retno sudah menyalahkan senter "Mangap"
Fatih menuruti "Aaaaa.... "
"Nggak ada yang bolong mas. Giginya sehat"
"Iya tapi rasanya sakit semua"
"Mas sudah periksa?"
"Sudah tadi pagi"
"Terus??"
"Kurang kalsium"
"Oh.. Ah, aku jadi ingat kucing mas"
"Kenapa kucing"
"Kucing kan sering makan tulang. Nggak pernah sakit gigi"
"Terus, mas disamakan sama kucing. Makan tulang begitu" Kesalnya sambil terus mengusap minyak angin dipipi, pelipis, dan tengkuk
"Bukan begitu mas" Ucapnya sambil senyam-senyum "Heran, semenjak aku hamil. Mas sakitnya rombongan. Untung aku tidak ngidam yang berat. Kalau iya, siapa yang akan nurutin kemauanku"
"Sudah, sudah diam. Jangan ngoceh mulu" Kemudian Fatih berusaha memejamkan matanya yang sedikit mengantuk
Sepertinya, Fatih mengalami gejala somatik, atau ciri fisik nyata yang terjadi karena tekanan emosional.
Kondisi ini umum bagi calon ayah untuk merasakan kecemasan atau stres tentang kelahiran anaknya
Beberapa peneliti menunjukkan, pria yang istrinya sedang hamil, mungkin mengalami perubahan hormon, seperti penurunan testosteron dan peningkatan estradiol.
Kemungkinan perubahan hormonal ini memicu banyak gejala sindrom Couvade. Ikatan batin.
Suami lebih terikat dengan kehamilan istri dan memiliki lebih banyak ikatan batin dengan janin, dan lebih mungkin mengalami gejala kehamilan, termasuk mengidam.
Penyebab psikososial. Beberapa dokter meyakini bahwa sindrom Couvade terkait dengan kesehatan mental.
Penjelasan umum untuk gejalanya, termasuk kecemburuan pada kemampuan pasangan untuk hamil dan melahirkan, bersalah karena membuat pasangannya hamil, dan rasa persaingan terhadap peran orang tua.
Meskipun mungkin mengalami gejala yang parah, tidak sedikit yang hanya mengalami beberapa gejala ringan.
Fatih harus bersabar. Kemarin, ia sempat konsultasi dengan dokter obygin, tapi jawabannya kurang sreg dihati. Iapun konsultasi dengan adik kembarnya yaitu Hanan. Ternyata, jawabannya sama
__ADS_1
Dirinya mengalami sindrom Couvade, yang cenderung berkembang pada trimester pertama.
BERSAMBUNG......