
Fatih mengajak Retno untuk masuk ke ruangan, yang biasa ditempati oleh mamanya
Fatih duduk dikursi kerja, yang biasa dipakai mamanya. Sedangkan Retno, duduk disofa, sambil menatap keluar, dari balik kaca
Retno mulai membuka kata, sambil berdiri "Mama sekarang jarang datang kemari, ya mas"
"Iya, jarang" Jawabnya masih sibuk dengan laptopnya
"Apa papa sakit lagi mas?"
"Nggak sih"
"Oh, aku tau" Retno mulai mendekati suaminya, lalu berdiri didepan Fatih, dengan jarak terhalang meja
Fatih mendongak "Apa??"
"Karena papa, tidak mau ditinggal sendirian dirumah"
"Mungkin. Kata siapa sayang menebak seperti itu" Tanya Fatih
"Kata hatikulah. Dilihat saja, papa selalu nempel sama mama. Duduk saja, nggak pernah berjauhan"
Fatih menggut-manggut "Iya, sayang benar. Meskipun papa sehat-sehat saja, kalau papa menolak datang keresto, ya mama nurut. Mungkin mas juga akan kayak papa, jika kelak mas sudah jadi aki-aki kayak papa"
Retno mendekati suaminya, lalu merangkul pundaknya "Kenapa mas jadi ikut-ikutan"
Fatih masih mendongak "Usia kita kan berbeda jauh sayang. Hampir mirip kayak papa"
"Memang selisih usia mama papa sejauh itu mas?"
"Iya. lebih banyak mama papa ketimbang kita"
"Oh.. Memangnya berapa mas"
"Kalau nggak salah, selisihnya 28 tahun"
"Hah?? Banyak amat mas"
Fatih meraup wajah istrinya seperti mencakar
"Ih.. " Retno menangkap tangan Fatih yang tadi menutupi wajahnya
Fatih tersenyum "Kita juga iya. Gimana sih"
"Berarti, kayak aku sama babe ya. Eh nggak nding, mirip dikit"
Fatih tertawa "Kita juga sama sayang"
"Enggak ah"
"Enggak bagaimana. 23 tahun selisih kita"
"Masa sih. Kok aku nggak nyadar"
"Terus, nyadarmu berapa"
"Nggak tau"
Gung
Fatih memukul jidat Retno menggunakan kepalan tangan
"Ih.." Retno mendorong Fatih "Mas, mas kan lagi sibuk, aku turun ya"
"Mau kemana, bosen?"
"Enggak. Aku hanya ingin jalan-jalan lihat keadaan. Boleh?"
"Boleh. Sebentar ya, sebentar. Ntar kita turun bareng"
"Kalau mas lagi sibuk, mas lanjutin aja. Aku hanya ingin kedapur"
"Baiklah, hati-hati ya"
Retno mengangguk, lalu berlalu dari hadapan Fatih
-
Retno berjalan menuju dapur
Para koki dan pekerja lainnya sedang sibuk dengan urusan rempah-rempah yang akan dijadikan bumbu masakan. Tetapi, ada satu koki yang sudah sibuk dengan kuali
Retno mendekati koki yang sedang memasak
"Eh, mbak Retno. Kok kedapur? Apa ada yang bisa saya buatkan mbak?" Ucapnya sambil sibuk dengan masakan
"Enggak. Aku belum menginginkan. Oiya, kok sudah masak? Memangnya jam segini sudah ada pengunjung?" Tanya Retno yang sudah berdiri disampingnya
"Sudah mbak"
"Eh ehm. Sayang pesen makanan?" Tiba-tiba suara Fatih terdengar diatasnya
Retno menoleh dan mendongak "Oh.. Enggak. Aku belum ingin sesuatu"
__ADS_1
"Kalau begitu, kita keliling dulu yuk" Ajak Fatih untuk jalan-jalan kedepan
"Ayuk.."
Mereka berdua, akhirnya berkeliling memutari restoran
"Mas, masih jam 10, sudah ada pengunjung?" Tunjuk Retno pada pengunjung yang sudah duduk digazebo, yang lumayan besar
"Iya. Sepertinya, pengunjung akan mengadakan arisan, atau kalau nggak, reuni. Biasanya seperti itu"
"Kok sedikit"
"Kan masih pagi. Jadi masih sedikit"
"Oh, janjian gitu ya mas"
"Iya. Kalau hanya berdua, ngapain pilih tempat yang besar"
"Iya. Betul juga sih" Retno manggut-manggut
"Oh iya, sayang ingin makan sesuatu?" Tanya Fatih sambil terus berjalan
"Eng.. Aku kayaknya ingin salad buah mas"
"Kok inginnya. Ingin beneran nggak?"
"Iya. Nggak bohong"
"Kalau ingin, kenapa tadi nggak pesan sewaktu didapur"
"Memangnya ada?"
"Ya ada. Itu kan menu baru disini"
"Oh, kirain nggak ada mas. Lagian, malulah kalau ujuk-ujuk ingin dibuatkan salad"
"Ya nggak pa-pa. Memangnya sayang kedapur nggak ada yang mengajak ngobrol?"
"Ada sih. Malah menawari ingin dibuatkan apa. Aku bingung kan. Ntar kalau salah diketawain"
"Ya nggaklah masa diketawain. Minta dipecat??"
Retno menatap Fatih "Memangnya disini begitu mas. Salah sedikit dipecat"
"Ya nggak. Maksud mas, kalau berani mengejek mantu majikannya, hayo. Pecatlah"
"Kirain"
"Sudah yuk, kita kedapur"
"Mas, masih bekerja sama ama babe?" Tunjuk Retno pada kolam ikan lele
"Masih. Kemarin anak buahnya babe datang nyetokin. Tuh, banyak stoknya"
"Oh, babe panen"
"Iya"
"Kok, kita nggak diundang ya mas"
"Haha. Sebelum diundang, sebagai anak itu harusnya berkunjung dulu. Jangan nunggu diundang"
"Enggak. Biasanya, babe itu selalu undang tetangga, jika habis panen"
"Untuk??"
"Untuk makan bersama"
"Kan aku anaknya mas, masa nggak diundang"
"Haha, ya sudah. Ntar sore kita kesana. Mau?"
"Mau"
-
Pukul 11:30
Restoran mulai padat dikunjungi oleh para tamu
Fatih duduk diruang CCTV
"Mas, ramai banget"
"Kan weekend sayang"
"Memangnya kalau hari biasa?"
"Ya lumayan ramai kalau jam-jam segini. Oiya, menurut sayang restoran ini gimana?"
"Bagus mas. Modal produksi ada, sistem penjualan oke, promosi bisnis hingga manajemen restoran juga good. Itu sih yang aku lihat"
"Contoh"
__ADS_1
"La itu MMT didepan. Paket hemat. Itu kan promosi juga mas. Membuat restoran yang mas kelola menjadi ramai dan dikenal oleh banyak orang"
"Ok, ternyata sayang jeli sampai disitu" Fatih berdiri, lalu mendudukkan Retno diatas meja
Fatih duduk kembali dikursi, lalu menarik badannya, hingga badan Fatih ada ditengah-tengah paha Retno "Nah, sekarang mas tanya nih. Jika nantinya restoran yang mas kelola sepi pengunjung, mas harus bagaimana. Padahal udah promosi tuh"
"Harus semangat, jangan dulu berkecil hati. Kan ada tuh Business apa.." Retno mengingat-ingat namanya tapi lupa "Kan bagi-bagi cara mengelola restoran, agar tidak hanya menjadi restoran hits semata. Namun, mempunyai potensi, agar restoran yang mas kelola selalu ramai pengunjung"
"Gitu?"
"Iya. Seingatku, selain memilih tema yang menarik, itu sangatlah penting. Karena generasi milenial dan gen z lebih mudah terkesan dengan konsep dan suasana restoran yang unik. Adalagi"
"Apa?? "
"Kenyamanan restoran tetap harus jadi perhatian. Seperti menyediakan fasilitas internet. Disini ada nggak?"
"Ada"
"Oh, bagus itu. Biar pengunjung tambah betah dan manja"
"Oke, apalagi"
"Menu makanan"
"Apa maksudnya"
"Menu makanan itu harus terus mengalami inovasi. Karena pada dasarnya, orang berkunjung ke sebuah restoran tidak hanya untuk sekedar makan, namun juga mencoba menu baru yang mungkin belum pernah mereka coba"
Fatih manggut-manggut "Kalau tidak nemu menu baru gimana?"
"Mas harus memutar otak, dan mencoba mengembangkan kreatifitas untuk menemukan menu baru yang terus mendapatkan update secara berkala dengan menggunakan sistem e-menu indonesia. Dengan demikian, pengunjung akan selalu mengunjungi restoran ini, karena tertarik dengan menu baru yang tersaji"
"Tidak semua orang memiliki selera makanan yang sama, terlebih lagi jika ada beberapa orang yang hanya bisa menyantap jenis hidangan tertentu. Maka tidak ada salahnya jika restoran sini juga menyediakan menu khusus untuk pengunjung restoran tersebut" Sambung Retno
"Misal?"
"Menu vegetarian. Menu rendah lemak bagi yang sedang menjalani diet, atau menu makanan sehat yang khusus untuk pengunjung restoran, agar restoran tetap ramai dari waktu ke waktu"
"Sini udah. Menu itu termasuk baru, setelah mas ikut mengelola restoran ini"
"Oh, kok aku nggak ngliat bannernya mas"
"Ada kok disebelah ujung"
"Oh, aku nggak lihat"
"Iya, terus terus"
"Mempromosikan restoran itu tidak hanya berhenti di marketing konvensional saja" Tunjuk Retno pada spanduk yang terpasang didepan restoran
"Sudah makin banyak pemilik usaha restoran mengiklankan bisnisnya melalui marketing secara online melalui sosial media. Jangan sampai restoran ini ketinggalan zaman, terutama harus bekerja sama dengan layanan food delivery, agar memudahkan proses pemesanan makanan bagi konsumen"
Retno menatap Fatih, Fatihpun menatapnya
sambil manggut-manggut dan senyam-senyum
"Mas kok manggut-manggut sama senyam-senyum doang" Retno memegang kedua pipinya, siapa tau ada sesuatu yang nempel "Ada yang lucu ya?"
Fatih gelene-geleng
"Kenapa?"
"Kamu crewet"
"Ih.. Katanya disuruh ngomong" Retno mulai kesal
"Nggak, nggak. Kamu pinter" Ucapnya sambil memeluk Retno
Retno mendorong wajah suaminya yang menempel didadanya
"Biarkan seperti ini" Tolak Fatih yang ingin bermanja didada Retno
"Tapi geli. Rambut mas nusuk-nusuk wajah"
"Ahahaha" Wajah Fatih sudah tidak menempel didada Retno. Ia menatap wanita yang semalam minta pisah
Fatih mengusap bibir Retno "Bibir sayang kok pecah-pecah"
Retno memegangnya "Gara-gara mas sih, kalau nyesap kuat banget. Kalau retak bagaimana"
"Ahaha.. Ini sudah pecah, berarti lebih parah dari retak"
"Aennngg.."
Fatih berdiri "Sini mas cium. Biar rapet lagi"
Retno mendorong suaminya "Ih, yang ada bibirku tambah memble mas, nyampai ketanah"
"Ahaha mana ada.. Ngarang dipelihara"
Gung
Maaf jika kurang greget ya....
__ADS_1
BERSAMBUNG.....