Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Viviana Berkunjung Ke Rumah Mantan Mertua


__ADS_3

Seminggu setelah Fatihah dilamar


Sore ini, Viviana datang berkunjung kerumah papa Ilham, bersama calon suaminya, yaitu Hermawan


"Pa" Panggil Viviana setelah dipersilakan masuk oleh mama Sifa


Papa Ilham melepas kacamata bacanya, lalu menurunkan kaki dan bukunya


"Pa" Panggilnya lagi, kemudian Viviana bersimpuh dihadapan papa Ilham


Viviana menangis "Maafkan Vivi Pa. Vivi telah menyakiti hati papa dan juga keluarga ini" Masih dengan menangis dan penuh penyesalan


Papa Ilham mengangkat bahu Viviana "Sudah, sudah, sudah, jangan diteruskan. Bangun, duduklah diatas"


Viviana mundur dan duduk disofa, didepan papa Ilham


Kemudian, papa Ilham menatap pria yang terlihat lebih tua beberapa tahun dari putranya


Pria tersebut tersenyum, papapun mengangguk


Setelah Vivi sudah tenang, Vivi segera membuka kata untuk mengawali percakapan "Pa, perkenalkan. Ini calon suaminya Vivi" Ucapnya, lalu menunduk


Kemudian pria itu berdiri, lalu mengulurkan tangan pada papa Ilham "Hermawan"


Papa Ilham tersenyum "Eng iya. Silahkan duduk kembali"


Papa Ilham sedikit bingung 'Katanya sudah punya suami yang lebih muda dari Fatih, kok ini calon. Dan lebih tua dari Fatih lagi. Siapa lagi ini'


Mama Sifa datang dari belakang, dan dibuntuti oleh Art yang membawa suguhan untuk tamunya yang datang


Setelah Art tersebut meninggalkan tempat ini, mama segera mempersilakan kepada tamunya


Vivi sekarang datang bukan lagi bagian dari keluarga ini. Melainkan sebagai tamu


Ada sedikit rasa bagaimana, ketika melihatnya kemari


Rasa tergores, pastilah ada dihati papa Ilham dan mama Sifa


Namun, sebagai orang tua, hanyalah membatin dan tidak ingin mengungkitnya lagi


"Pa" Panggil mama, lalu duduk disampingnya "Kenapa diam-diaman"


Papa tersenyum "Tidak. Sayang sudah berkenalan belum?" Ucap papa sambil menunjuk pelan pada Hermawan


"Oh, sudah sewaktu tadi didepan. Kalau papa, sudah belum?" Mama balik tanya


"Tadi sudah"


"Terus, faham nggak mereka itu siapa?" Tanya mama lagi


"Maminya Fatihah" Jawab papa padat


Semuanya tersenyum, termasuk Hermawan juga


"Edjian.. Papa masih cerdas" Mama memeluk papa dari samping, setelah memujinya "Lalu, sampingnya siapa?"


"Tadi siapa ya" Papa sedikit mengingat-ingat "Calon suaminya, siapa tadi namanya"


"Ayo siapa?? Sudah mama puji cerdas kok masa jadi nggak cerdas" Ucap mama menggoda


Papa tersenyum lebar sambil menabok paha mama Sifa "Kan orang baru"


"Tapi kan sudah berkenalan"


"Sama, belum terbiasa. Jadi agak lupa"

__ADS_1


"Oke. Mama tes nih" Lagi-lagi ucapan mama menggoda


"Ah kamu"


"IQ pa. Papa selalu mengetes mama. Sekarang gantian. Ayo, dokter siapa tadi. Dokter Her..." Mama sengaja menggantung ucapannya


"Hewan" Jawab papa karena memang lupa


Plok


Mama menabok lengan papa "Dia bukan dokter hewan. Dokter umum, Her-ma-wan" Jelasnya agar papa ingat dan tidak bermaksud menyinggung si tamu


Papa tersenyum "Oh.. Dokter juga" Ucapnya menatap Hermawan ramah


"Iya pak" Jawab Hermawan


"Masih aktif tugas?"


"Tidak pak. Sekarang sudah tugas diklinik pribadi saja"


"Oh.. Vivi juga bekerja disana? Dia kan pintar" Ucap papa membuat Hermawan menatap Viviana


"Maksud bapak, dia juga seorang dokter?"


"Bukan. Tetapi dia juga pernah menjabat orang penting dirumah sakit"


"Benarkah??" Kemudian Hermawan menatap Viviana kembali "Jadi sayang sebenarnya orang berpendidikan tinggi"


"Sudah jangan diteruskan" Ucapnya malu takut dikira cari muka


"Ah iya maafkan papa. Papa tidak bermaksud membuat kalian salah faham" Papa bermaksud menengahi


"Tidak pak, tidak. Justru hari ini saya tambah tau, jika calon istriku adalah wanita yang cerdas. Saya menyukainya" Ucap Hermawan tambah salut


"Oh"


"Maaf, tapi saya bukan papanya. Saya kakek dari putrinya, yaitu Fatihah"


"Iya pak, saya faham. Tapi bapak pernah menjadi papa mertuanya yang baik bagi Vivi. Jadi, kedatangan kami kemari, untuk meminta restu dan doa terbaik untuk kami"


Papa Ilham terdiam


"Dan, maaf satu lagi" Ucapnya sedikit sungkan "Kedatangan kami kemari juga ingin meminta maaf kepada Fatihah, cucu bapak sekaligus putri dari Vivi"


Papa menatapnya, lalu menoleh pada mama Sifa "Fatihah belum pulang, ma?"


"Belum pa, biasanya sebentar lagi"


"Begini, ini hanya wejangan buat kalian, dari orang tua yang masih dianggap sebagai orang tua" Papa mengabsen kedua tamu dihadapannya "Papa mungkin sudah bukan lagi bagian dari keluarga kamu, Vivi"


"Tidak pa. Papa tetap saya anggap papa bagi saya" Saut Vivi jujur


"Baiklah. Saya akan memberikan sedikit nasehat buat kalian. Karena sekali lagi, kalian masih menganggap papa sebagai orang tua"


Mereka mengangguk


"Di beberapa kasus, menikah dengan janda atau duda masih dianggap sebagai hal yang tidak sepantasnya dilakukan. Alih-alih berbahagia dengan hubungan, lingkungan sosial justru seringkali mengucilkan seseorang yang menjalin hubungan dengan janda atau duda. Seolah-seolah menikahi janda atau duda berarti tidak respek dan tidak menghargai hubungan sebelumnya"


Semuanya menyimak wejangan dari papa dengan serius


"Banyak anggapan, bahwa wanita yang menikahi duda mendapat berbagai cibiran dan stigma buruk dari masyarakat sosial, begitu pula dengan pria yang menikahi janda. Banyak yang percaya bahwa menikahi janda atau duda adalah hal yang terlalu rumit dan akan berujung pada ketidakharmonisan rumah tangga. Bahkan ada yang sudah mengecap jelek duda atau janda yang sudah memiliki anak dan menganggap bahwa mereka tidak kompatibel untuk hubungan yang stabil dalam jangka panjang. Apa kalian sudah siap? Mendapat cibiran tersebut" Papa mengabsen keduanya


"Siap pak" Jawab Hermawan, dan anggukan dari Viviana


"Baik, papa lanjut. Suka atau tidak, ingin atau tidak, mantan istri atau suami akan memiliki tempat sendiri di hati pasangan. Terlebih jika di hubungan sebelumnya sudah memiliki buah hati, maka rasanya tak mungkin jika hubungan dengan mantan, diputus begitu saja. Mau tak mau, kita harus menerima risiko bahwa pasangan akan secara rutin berkomunikasi dengan mantan kalian, untuk menjaga hubungan baik. Apa kalian sudah siap?"

__ADS_1


"Siap pak"


"Siap, pa"


"Vivi, jangan ragu. Kelapangan hati sangat diperlukan. Jangan sekali-kali membandingkan hubungan kalian dengan hubungan dimasa lalu. Memang normal, namun jika kita terlalu masuk ke dalam perbandingan itu sendiri, maka akan membuat rasa insecure atau tidak percaya diri muncul. Terimalah, bahwa kalian adalah pasangan, bukanlah orang yang sama"


"Iya pa maafkan Vivi"


"Tidak perlu berkompetisi, karena memang tak ada yang perlu dibandingkan satu sama lain. Jika sebelum menikah sudah menunjukkan ketidakcocokan, jangan ragu untuk mundur, sebelum terlanjur" Papa Ilham berdiri "Bukan berarti papa tidak setuju dengan niat baik kalian. Tetapi papa menghormati pernikahan. Jangan sampai dipermainkan" Sambungnya


Tiba-tiba


"Assalamualaikum" Ucap seseorang yang ada diambang pintu masuk


"Satu lagi, papa sudah merestui hubungan kalian. Sekarang, Fatihah sudah pulang, papa tinggal masuk. Lanjutkan saja obrolannya"


Vivi dan Hermawan ikut berdiri dan mengangguk bersamaan, kemudian berjalan maju mendekati Fatihah


"Sayang" Panggil Vivi berkaca-kaca


Untuk sesaat, Fatihah terbengong tidak percaya


"Sayang" Panggil Vivi lagi sekaligus mengusap lengan putrinya "Apa kabar nak"


Fatihah masih mematung belum percaya


Vivi sudah berderai, lalu berdiri dengan lututnya "Maafkan mami nak. Mami sudah jahat terhadapmu. Mami sudah meninggalkanmu. Mami bersalah, mami berdosa"


"Mami" Fatihah mengangkat lengan ibunya agar berdiri. Fatihah sudah berderai ingat dengan tamparannya


Fatih masih diam, dengan mata yang sudah berderai


Viviana memegang kedua pipi anaknya yang pernah ia tampar


Fatihah menjauhkan pipinya takut ditampar kembali


Viviana tambah berderai "Maafkan mami nak. Mami telah menyakiti hati dan juga fisikmu. Dosa mami sangat banyak. Mami telah membuang kalian"


"Cukup mi. Itu sudah berlalu"


"Sayang, kau masih marah sama mami? Maafkan mami nak, maafkan" Vivi menghambur peluk lalu menatap putrinya "Kau sudah dewasa nak. Kau tambah cantik" Kemudian memeluknya erat


'Jujur Fatihah bingung mi'


Vivi mengurai sambil tersenyum dan menangis bercampur menjadi satu "Sayang, kedatangan mami kemari, mami ingin minta izin sama kamu"


Fatihah menatapnya, tetapi masih terdiam


"Mama ingin menikah dengan om Hermawan"


Hermawan maju dan berdiri sejajar dengan Viviana


"Mami ingin menikah" Fatihah terbengong "Lagi?"


Vivi dan Hermawan mengangguk dan tersenyum tipis


Sedetik


5 detik


10 detik


Fatihah mengangguk "Baiklah mi. Jika itu yang terbaik untuk mami, Fatihah hanya bisa pasrah. Doa terbaik buat mami. Semoga dipernikahan ini, mami bahagia dan hati mami berlabuh untuk yang terakhir"


"Ooo" Viviana menangis kembali dan memeluk Fatihah erat "Terima kasih nak, selain kamu menjadi gadis yang cantik, kau juga sudah dewasa dan bijaksana"

__ADS_1


BERSAMBUNG.......


__ADS_2