Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Berkumpul


__ADS_3

Retno sudah berada diruang rawat inap, ditemani oleh ibu Rani, babe, ibu Erna dan juga Fatih


Papa dan mama Sifa sengaja diberi tahu setelah Retno sudah melahirkan. Jadi, hari ini belum datang kerumah sakit. Dan katanya besok sekalian menjemputnya


Sekarang, tinggal menunggu pemulihan, dan besok, sepertinya Retno sudah diperbolehkan untuk pulang


Retno sedang duduk untuk menunggu bayi-bayinya untuk disu sui satu persatu


"Sayang, latihan menyu sui dulu ya. Sini sus, Fahri yang mana" Fatih meminta salah satu bayi yang sedang digendong oleh kedua suster yang barusan masuk keruangan


"Fahri ??" Kedua suster bingung


Fatih tersenyum "Maaf. Putraku yang pertama yang mana?"


"Oh, yang ini dok" Suster yang merasa menggendong bayi yang dimaksud sang ayah, iapun maju "Ini dok, putra dokter yang pertama"


"Ah, sini sus. Fahri biar mi mi maminya dulu" Kemudian Fatih berdiri mundur agar sang suster mendekati Retno yang sedang duduk diranjang


Fahri sedang menyesap sumber kehidupannya


Fatih mendekati Retno "Ayo sayang, biar lekas besar" Ucap Fatih mengusap kepala Fahri


Retno cengar-cengir menahan geli dan sakit "Mas, kok"


"Bayi pertama menyu su, memang sakit nduk. Lidahnya masih kasar" Ucap bu Rani


"Betul" Jawab suster membenarkan


"Iya sus, bu"


Suster tersenyum


"Sayang duduknya yang lurus" Fatih menata kaki Retno yang masih membuka sedikit "Tuh, Baby Fahri mulai menggigit, mencari makan ya.. Awal menyu sui, payu daranya memang terasa sakit sayang. Bener kata ibu tadi. Tapi, biasanya akan mereda dalam 3 bulan pertama menyu sui. Bener ya sus?" Memberi wejangan pada sang istri, sekaligus meminta pendapat dari suster


"Betul dok"


Babe dan bu Rani saling senggol tangan. Lalu, bu Rani menyenggol bu Erna


Bu Erna seakan tau maksud tangan yang disenggol "Pak dokter memang penyayang. Retno beruntung bu dapat yang matang seperti pak dokter"


Bu Rani mengangguk membenarkan


Setelah keduanya sudah menyu su, kedua bayi tersebut ditaruh diranjang bayi satu satu


"Ibu dan bapak, istirahat dirumah kami saja. Biar saya yang jaga" Ucap Fatih


"Tuh, kan. Baru diomongin dah mempersilakan jeng Rani dan bang haji untuk istirahat" Bisik bu Erna yang memang sudah kenal dengan kedua orang tua Retno


"Yo wis, yuk beh istirahat" Ajak bu Rani pada suaminya


"Baiklah, saya akan mengantar ibu dan bapak dulu sayang. Sayang mas tinggal dulu ya. Berani nggak? Kalau nggak, mas panggil suster untuk jagain kamu sebentar"


"Eh dok. Saya juga mau pulang. Apa nggak sebaiknya Retno tetep dijaga. Terus, kuncinya dikasihkan sama ibu dan babe, biar bisa masuk rumah" Usul bu Erna


"Oh.. Boleh deh" Kunci rumah ia kasihkan kepada mertuanya "Ini kunci rumahnya ya bu. Maaf tidak bisa mengantarkan" Fatih menoleh pada bu Erna "Makasih ya bu. Nitip kakek dan neneknya sikembar" Bisik Fatih


"Siap"


"Nggak pa-pa. Ibu tinggal ya?" Ibu Rani mendekati Retno "Nduk, ibu pulang dulu ya. Besok pagi-pagi sekali, ibu akan datang kemari"


Retno mengangguk "Iya bu. Hati-hati ya?"


-


Pagi harinya, Retno merasakan sakit yang teramat sangat pada te teknya


"Mas, payu daraku kok bengkak. Sakit sekali"


"Oh. Itu pembengkakan payu dara sayang. Kemarin sayang kan sudah menyu sui"


"Aduh, masa bentuknya aneh banget. Gedenya nggak kira-kira. Sakit banget. Bahaya nggak mas?" Retno sambil mengabsen kedua buah dadanya setelah mandi


"Nggak sayang. Hal ini memang umum, ini biasa terjadi di awal masa menyu sui. Di masa ini, Payu daranya akan terasa lebih kencang, berat, dan tegang. Kondisi ini merupakan cara kerja tubuh agar bayi mendapat cukup ASI. Nanti jika bayi sering menyu su, itu akan mengecil dengan sendirinya. Tapi tetap subur seperti itu loh ya" Tunjuk Fatih pada dada istrinya

__ADS_1


"Oh"


"Kembali kebentuk semula, jika bayi sudah disapih, dua tahun mendatang"


Rasa sakit saat menyusui, membuat Retno ingin menyerah. Ini sebenarnya adalah hal yang wajar dan mungkin dirasakan oleh hampir semua ibu. Namun, perlu tahu bahwa saat menyu sui, tubuh Retno juga akan mengeluarkan hormon oksitosin.


Hormon ini dapat menimbulkan rasa bahagia yang membuat pikiran seorang Retno teralih dari rasa sakit, menjadi rasa bangga dan dihargai atas perjuangannya untuk tetap menyu sui.


-


Pagi-pagi sekali, Papa Ilham, mama Sifa, babe, ibu Rani, serta Fatihah, sudah berada diruangan Retno


Semuanya gembira menyambut bayi kembar.


Papa Ilham gembiranya tiada tara "Cucu kita ternyata banyak yang kembar ya ma"


"Iya San alhamdulillah. Cucu aye langsung due" Saut babe pada besannya "Rumeh kite kagak sepi kalau mereka dateng ya, bu"


"Iya beh"


"Beh, ntar kalau Fatihah ajak mereka, dikira orang, Fatihah emaknya beh" Protes Fatihah membayangkan


Ahaha


Semua orang tertawa


"Belon, belon pantas. Wajah nak Fatihah itu tidak boros alias imut kata babe mah. Jadi masih kayak bocah" Ucap babe diakhiri dengan senyuman


"Ah, babe bohong. dosa loh. Pokoknya nasib beh"


"Nasib kenape?"


"Yah, nasib aja beh. Lagi iklan-iklannya agar dapat cowok, eh dah punya buntut"


Fatih berdiri mendekati Fatihah, lalu memegang telinga putrinya "Tadi bilang apa? Cowok??"


Fatihah mendongak "Daddy..." Fatihah menarik tangan papanya "Ish, jangan main tarik tau dad. Malu"


Mama Sifa geleng-geleng "Selalu berantem"


-


Sehari setelah melahirkan, Retno pulang kerumah babe


Keluarga ini bahagianya luar biasa.


Pulang kemari sekaligus mengadakan syukuran aqiqah


Dan hari ini juga, seluruh saudara Fatih datang berkunjung kemari


Hanan memeluk Fatih memberi selamat "Hallo kak, apa kabar ? Selamat ya.. Ayah rasa kakek" Hanan tertawa disusul tawa oleh semuanya


Fatih mendengus kesal, malas menjawab pertanyaannya, lalu mengurai pelukan dari sang adik


Mereka masih berpegangan pundak "Kau masih tetap kalah dariku kak. Aku unggul disini"


Sikembar semuanya tertawa


"Kau jangan ngejek Han. Setidaknya, aku masih sama dengan Fariz. Dan mengalahkan Husayn" Jawab Fatih


"Hei, aku datang kesini hanya sebagai saudara, sahabat dan juga teman. Jadi jangan bawa-bawa masalah balapan. Biarpun satu, kami bahagia. Lihat orang tua kita. Keempat anak mama bubar. Yang tetap menemani papa siapa?" Saut Husayn panjang lebar


"Mama"


"Lah itu tau. Jadi, pasangan kitalah yang akan menjadi teman kita kelak"


"Betul. Imran juga sudah hidup mandiri dinegara lain. Ntar pulang sudah dewasa dan sibuk dengan pekerjaan. Dan itu tidak hanya Imran saja. Altaaf juga sudah bermimpi kuliah diluar negeri. Sungguh, kita nantinya menjadi orang tua yang kesepian kalau tidak punya pasangan" Ucap Hanan setuju dengan Husayn


Dan semunya mengangguk, membenarkan pernyataan Hanan


Fariz menepuk pundak Hanan "Kita senasib kak. Kakak yang baru ditinggal Imran, dan masih menyisahkan 3 aja udah bilang begitu. Lah aku, langsung dua sekaligus. Sisa 1 dirumah. Itupun ngelayab tiap hari"


Ahaha

__ADS_1


Semuanya tertawa


"Persis kamu dulu. Jadi aku nggak heran" Ejek Hanan


Fariz mendengus kesal


"Kalau kamu sisa satu ngelayab. Kalau aku, satu buat rebutan" Saut Husayn


"Opa dan omanya?" Tebak Fariz


"Itu mah udah pasti. Tapi putrinya noh" Tunjuk Husayn pada Fatih"


"Kenapa aku" Ucap Fatih bingung


"Putrimu yang kuasa pada Sayra"


Ahaha


"Nasib nasib. Itu namanya satu untuk semua"


-


Fatih dan Retno sudah kembali ke apartemen kembali


Setiap pagi sebelum bekerja, Fatih selalu menjemur kedua bayinya dibalkon depan. Lalu, memandikannya, dan tinggalkan sikembar itu bersama ibunya lalu langsung berangkat bekerja


Hari ini, karena hari libur, Fatih masih sibuk mengurus salah satu bayinya untuk dimandikan


Fatih terbiasa melakukan ini, karena Retno tidak mau mempunyai babby sitter. Sedangkan pekerjaan rumah dibantu oleh mak Juni, dan setelah beres, mak Juni turun membawa seluruh baju-baju keluarga ini untuk dilaundrykan



"Ya Allah mas, disuruh potong rambut sama cambangnya nggak mau. Kelihatan menakutkan tau mas"


"Biarin. Biar kelihatan sibuk"


"Ya Allah.. Bayinya masih berumur beberapa hari. Eh, bapaknya gondrong nggak kopen (Terpelihara). Berapa hari sih mas, nggak dicukurin. Kok gondrong semua"


"Sebelum kamu lahiran kan?"


"Ya sudah, sini aku cukurin. Nggak enak tau dilihatnya"


Fatih menaruh Fahri ditempat tidur "Ya sudah. Tolong potongin"


Retno membantu memotong rambut dan mencukur brewok yang sudah seperti hutan belantara


-


Beberapa minggu kemudian


"Mas, kulit perutku kok begini ya"


Fatih mendekati dan memegang perut Retno "Nggak pa-pa, kan habis melahirkan. Kulit ini meregang itu hal biasa. Nanti juga singset lagi. Masih pakai korset kan?"


"Masih"


"Ya nggak pa-pa wajar"


"Tapi aku sering merasakan kram pada perut mas"


"Itu karena keadaan rahim mulai menyusut. Sudah jangan dipikirkan nggak pa-pa"


"Tapi gendut semua mas"


"Nggak pa-pa, itu juga gendut" Tunjuk Fatih pada payu dara Retno yang sedang dihisap oleh Baby Fahmi "Duh, jatah daddy disrobot sama kedua jagoanku. Mana belum nifas-nifas lagi"


Retno mendorong Fatih "Ih, sudah puas dari dulu. Malah buka gemboknya. Bayi-bayi ini malah bekas kamu mas"


Fatih mendengus kesal "Cobain dikit dong"


Retno menutup buah dadanya "Nggak boleh !!"


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2