Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Berkumpul


__ADS_3

Hanan sudah menyuruh Arin untuk mandi


Selang beberapa menit, Alana sudah masuk kekamar kembali "Kemana si Arin mas? Mandi?"


"Iya. Mas suruh mandi dulu dia" Jawabnya


"Oiya, mas tadi nyari aku ada apa?" Ucapnya masih berdiri dihadapan Hanan yang duduk diranjang


"Itu, oleh-oleh dari Semarang. Belum dikasih kan?"


"Belum. Tapi sudah aku bongkar sih, cuma belum aku bagi" Ucap Alana sambil melihat pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat


"Oh"


"Mas, Arin kok lama banget, ya?" Alana berjalan menuju pintu kamar mandi


"Belum, masih bingung kali"


Kemudian, Alana mengetok pintunya dari luar


Tok tok tok


"Arin" Panggil Alana


"Bentar bund!!" Teriak Arin dari balik pintu


"Kok lama banget. Mana celana kamu. Ditaruh dimana" Tanya Alana sedikit berteriak


"Dilaci bawah tempat tidur bund" Teriak Arin


"Oh" Alana segera mengambil salah satu CD, kemudian memasangkan pembalut disana


Hanan berdiri mendekati istrinya "Awas, jangan sampai kebalik. Ntar kayak bundanya waktu remaja dulu" Ejek Hanan mengingat cerita Alana dulu


Alana menyikut perut suaminya "Jangan mengingat yang itu. untung belum tumbuh bulu waktu itu, hihihi" Alana terkekeh geli


"Iya. Pak bewoknya masih tandus. Kayak sekarang, nggak ada pegangan"


Tiba-tiba pintu itu terbuka


"Ih mas, anaknya datang. Jangan diledek. Ntar malu"


"Ya sudah, mas tinggal ya. Ini urusan kalian berdua"


Alana mengangguk, kemudian mengajari putrinya itu, untuk memakai pembalutnya dengan benar "Sudah bisa?"


Arin mengangguk "Iya bund"


"Jangan sampai perekatnya kebalik"


Arin mengangguk lagi "Iya bund"


"Baiklah, bunda keluar ya, nanti kamu ikut keluar. Bantuin Zira"


"Iya bund"


"Oiya, bunda juga sudah membelikan kamu CD baru, dan miniset baru. Semuanya ada dikamar bunda"


"Iya bund" Lagi dan lagi, jawaban itu yang bisa Arin ucap


Senengnya jadi Arin. Kedua orangtuanya memperhatikan apa yang menjadi kebutuhannya


-


Semua orang tua sudah berkumpul diruang tamu


Mama Sifa sudah dikelilingi oleh para menantunya

__ADS_1


Dan para papa, bergabung dengan papah papah lainnya


Arin keluar mengabsen semuanya, ternyata Zira masih mengobrol dengan Faruq. Sedangkan sikembar Fahri dan Fahmi, mereka sibuk dengan mainan yang diberikan oleh semua anggota para mamah


Arin duduk disamping Zira. Tiba-tiba sikembar Fah, menyamperi dirinya


"Kak, Fali dapat kucing-kucingan. Liat deh kak. dia bisa jalan dan bunyi" Fahri memamerkan mainan baru, dan menyetelnya dilantai


Ngeong ngeong


"Ih, cakep banget. Yang ngasih siapa? Kak Arin dikasih nggak?" Kata Arin


"Enggak. Ini untuk kami ya Fami" Ucapnya minta dukungan pada Fahmi


"Yang ngasih, yang ngasih siapa aku bilang" Tanya Arin sambil mendongak karena Sikembar Fah sudah berdiri


"Aku kenapa?" Saut Hawa tiba-tiba "Kamu ingin mainan seperti itu, Arin?"


Arin berdiri "Eng enggak mah" Bohongnya, padahal ngiler


Hawa tau Arin menginginkan


"Karena Arin sudah besar, dan selalu bisa jagain gemma dan juga baik pada sikembar Fahmi dan Fahri, mama kasih kado. Apa ya kira-kira" Hawa berdiri


Arin terlihat sumringah "Apa mah"


"Apa ya, sebutin nggak" Ledek Hawa


"Kucing hidup ya mah?" Celetuk Zira


"Oh, bukan. Gemma alergi dengan bulu kucing" Hawa


"Kok alergi. Kalau alergi, kenapa sikembar dibeliin kucing, mah" Protes Arin


"Kamu juga kembar, Arin" Saut Husayn


"Maksud Arin situyul, papah" Tunjuknya pada kembar Fah yang sedang sibuk bermain mainan baru


Semua orang tertawa mendengar Husayn dikeok oleh Arin


"Sayn, percuma kamu berdebat sama cewek petakilan. Dijamin Kalah" Ucap Fatih dengan senyum yang melebar


Hanan dan Alana hanya tersenyum. Mereka tidak menanggapi apapun


Hawa menarik sesuatu dibelakang sofa yang ia duduki "Coba tebak, apa yang mamah bawa untuk kamu Arin"


"Apa mah" Diucap bersamaan oleh Zira dan Arin


Hawa berhasil menariknya semua "Taraaaa... Boneka jumbo dora emon... Hore..." Hawa memberikannya pada Arin


Zira tepuk tangan "Hore... "


"Ini terima. Nggak pantas dong, kamu dapat mainan seperti kepunyaan si Fahri sama si Fahmi. Apa kata dunia jika melihat Arin mainan kucing bunyi. Mending ini, buat teman tidur, dan pantes untuk remaja seumuran kamu, ya. Ini terima" Hawa memberikan hadiah tersebut


Arin menerimanya "Makasih mah"


"Sama-sama. Nah, kalau untuk Zira, mama belikan kamu boneka, Hello Kitty. Ini"


"Wah, makasih mah" Zira menerimanya sambil tersenyum, dan diangguki oleh Hawa


"Asyikkkk.. Warna kesukaanmu banget itu Zi" Kali ini yang lebih gembira adalah Arin


"Tapi lebih kecil ya, karena dipesawat, harus bayar mahal jika terlalu besar. Nggak pa-pa ya?" Ucap Hawa kembali


"Nggak pa-pa mah, makasih banget. Zira suka" Ucap Zira semringah


Setelah semuanya saling bertukar oleh-oleh, Fatihah bersama Naufal datang, dan dibelakangnya ada pasangan Aaliyah bersama Yunan

__ADS_1


"Ehhhh pengantin baru" Ucap semuanya


Mereka saling cipika cipiki


"Duduklah, duduklah" Mama Sifa menyuruh kedua pasangan muda ini untuk duduk "Diantara ini yang tidak terlihat cuma Sayra, ya" Tanya mama Sifa


Mama Sifa hanya menanyakan Sayra karena keempat cucu lainnya masih belajar diluar negara, jadi mama tidak menanyakan


"Iya mah, sekarang sibuk dia" Ucap Husayn


"Oh iya. Kemana memangnya?" Tanya mama penasaran


"Hari-hari ini, dia sudah disibukkan dengan pekerjaan. Dan jarang tidur dirumah" Jelas Husayn


"Kerja?? Sayra sudah kerja? Dimana? " Tanya mama penasaran


"Sayra tidak saja bekerja ma. Tetapi dia sekarang, sering menginap ditempat opanya. Papa Sohail sakit lagi. Jadi dia, untuk sementara waktu, menggantikan posisi papa diperusahaannya" Masih Husayn yang menjelaskannya


"Oh, papamu sakit lagi" Pelan mama


Husayn dan Ratna mengangguk


"Wah, hebat Sayra" Ucap Fariz merangkul bahu Husayn "Aku sama Sayra bersaing hahaha"


"Putri satu-satunya, nggak nurunin profesi kamu ya Sayn?" Ujar Hanan ikut menepuk tangan Husayn "Selamat. Putrimu sudah menjadi CEO. Semoga mampu mengemban perusahaan milik opanya" Hanan memberi semangat


Husayn menumpuki tangan Hanan dengan tangan lainnya "Iya kak. Tinggal jodoh yang belum ia dapat"


"Tidak masalah. Sayra masih muda. Suatu saat, Sayra mendapatkan jodoh yang terbaik, aamiin" Lagi dan lagi Hanan memberi semangat


"Aamiin. Makasih kak" Ucap Husayn, diangguki oleh Hanan


"Sama-sama"


Fatih menatap Husayn dan Hanan bergantian "Oiya Han"


Hanan menoleh


"Bagaimana kabar Imran"


"Baik kak, aku kaget dengan ulah Imran. Bisa-bisanya suka sama anakmu Sayn. Sayra kan anakku sendiri. Jika Sayra menikah, akupun berhak menjadi walinya, jika kamu berhalangan hadir menjadi wali. Bener kan?"


"Tapi bener kan, kabarnya baik-baik saja" Tanya Fatih lagi


"Mudah-mudahan baik kak. Kita doakan yang terbaik saja" Hanan


Fatih menoleh kearah Aaliyah "Oh iya Yunan, Aaliyah, gimana kabar kalian pengantin baru?"


Aaliyah malu-malu dan colak-colek pada suaminya "Jawab bang" Bisiknya


"Alhamdulillah baik kak" Jawab Yunan karena Aaliyah tidak menjawabnya


"Alhamdulillah.. Rukun ya kalian. Sering-seringlah main kemari, Aaliyah" Kini mama Sifa yang mengajukan pertanyaan


"Iya ma, kalau bang Yunan lega" Jawabnya malu-malu


"Oooo so sweat" Hawa yang menimpali "Mampir juga ketempatku. Jangan dirumah saja. Saudaramu banyak loh"


"Iya mbak"


"Kamu sekarang terlihat seneng Aaliyah? Sekarang sudah punya teman. Rukun ya?" Hanan


"Makasih kak"


Tiba-tiba


"Aku nggak ditanya. Aku kan tamu juga"

__ADS_1


"Ah, tanyanya kakak dilain waktu aja" Celetuk Arin


AHAHAHAHA


__ADS_2