
Setelah pemeriksaan USG usai, Retno ditinggal diruangannya
"Sayang, sayang tunggu disini sendiri, mau?"
Retno mengangguk
Fatih tersenyum, lalu mengusap kepala istrinya, kemudian menciumnya
"Nanti akan mas kirim camilan untukmu" Kembali Fatih mengusap kepalanya lagi, dan mengusap perut istrinya
Cup
Fatih mencium perut istrinya "Sayang.. Jagain mami ya.. Daddy akan cari duit dulu" Ucapnya masih membungkuk, lalu mencium bibir Retno
Emmuah
Kembali ia usap punggung Retno "Udah ya"
"Iya mas"
Beberapa menit berlalu setelah kepergian Fatih bertugas, Retno mendapatkan kiriman makanan dari seseorang, lewat kurir restoran, yang juga menyediakan aneka salad
"Kiriman dari tuan Fatih, nyonya"
Retno sedikit bingung 'Bukannya mas Fatih yang akan ngasih makanan. Kenapa orang lain' Pikirnya
"Silahkan nyonya diterima"
Retno belum mau menerima kiriman yang diduga makanan tersebut
Masih dengan wajah bingung
Selagi kurir memberikan dua box makanan, sang kurir berkata "Saya karyawan restoran Hans, nyonya"
"Oh.. Ya, aku baru ingat seragamnya. Maaf ya"
"Iya nyonya, tidak apa-apa. Silahkan nyonya, mohon diterima"
Kemudian Retno baru menerimanya "Sekali lagi, maaf ya"
"Iya nyonya, tidak apa-apa"
"Oh iya, sebentar" Retno masuk sambil menaruh kedua box tadi "Tunggu dulu"
Si kurir hanya mengangguk
Setelah kembali, Retnopun berterimakasih lagi, lalu memberikan uang tips, untuk pegawai restoran tersebut
"Makasih nyonya"
"Iya, sama-sama"
"Mari" Pamitnya
Retno mengangguk dan kembali menutup pintu, lalu masuk
Sebelum makan makanan pesanan suaminya, Retno bermaksud ingin mengirim pesan untuk suaminya.
Retno membuka laman chat "Hah, ada pesan dari mas Fatih"
Pesan pertama "Sayang, salad yang mas pesen sudah sampai belum? Kalau sudah, diterima ya"
Pesan ke 2 "Kalau suka, dimakan. Kalau nggak suka, jangan dimakan"
Kemudian, Retno segera membuka kedua boxnya "Oh iya benar"
Retno segera membalasnya "Saladnya aku suka mas. Kalau kuhabiskan, boleh nggak?"
Sambil memakan salad buah, Retno masih setia menunggu jawaban pesan dari suaminya
Sampai salat buahnya habis, ponselnya belum bergetar ataupun berdering sekalipun
"Mas Fatih sibuk kali ya. Pesanku belum dibaca"
Retno berdiri mengintip keramaian dari balik kaca "Para dokter pada sibuk. Ada apa ya"
Retno melihat beberapa brangkar yang berisi pasien, yang sedang digeledek untuk menuju keruang operasi
Ingatannya langsung tertuju pada suaminya
"Ya Tuhan, istrimu enak-enak makan ya mas. Mas sendiri capek mencari duit. Mas, mas. Semoga selalu sehat"
Retno kembali berjalan dan duduk disofa
Sambil membolak balikan HP, Retno berharap segera mendapat jawaban pesan dari suaminya
Retno kembali sibuk menonton film-film pendek. Sampai berfilm-film yang ia tonton tamat, tetapi yang ditunggu belum kunjung datang
"Nggak orangnya, nggak pesannya"
Retno mulai bosan. Dan dia keluar dari ruangan suaminya. Tiba-tiba, Sri dan karyawan laundry lainnya, berjalan keluar masuk ruangan, sambil mengantarkan baju-baju yang terbungkus plastik
__ADS_1
"Sri... " Panggil Retno
Sri Wedari celingak-celinguk
"Sri Devi !!" Teriak Retno, sengaja menyebut nama artis India
Sri tersenyum ketika tau yang memanggilnya adalah bos sekaligus kawan karibnya
Sri berjalan menghampiri "Sri Devi" Protesnya
"Haha, biar kamu denger"
Sri mendengus "Retno, kok kamu ada disini"
"Iya. Kamu habis nganterin baju?" Menjawab, sekaligus memberi pertanyaan
"Iya. Ini" Sri memperlihatkan buku oktavo, bersama duit-duitnya
"Oh, sama siapa?"
"Sumi" Sri melongok ke ruangan dokter Fatih "Kamu sendirian Ret"
"Iya"
"Kamu biasa ikut kemari ya?"
"Enggak. Baru ini"
"Eh ehm. Kok diluar" Ucap Fatih yang sudah berdiri didepan mereka
"Eh mas / dok" Ucap Sri dan Retno bersamaan
Fatih tersenyum
"Eh anu dok, saya permisi dulu" Pamit Sri sungkan
Fatih mengangkat kedua alisnya "Em"
"Iya. Soalnya masih banyak yang belum selesai. Tuh" Tunjuk Sri pada kranjang yang masih penuh dengan baju "Jadi, saya permisi ya.. Mari dok, Ret" Kemudian, Sri berlari menuju kranjangnya
"Iya, ati-ati Sri !!" Teriak Retno
"Iya" Jawabnya
"Sudah??" Tanya Fatih pada istrinya
"Sudah"
Mereka berdua akhirnya masuk kedalam ruangan
Fatih menatap ponsel Retno yang tergeletak disofa "Oh, pantesan. Ditelepon nggak diangkat"
"Oh, maaf" Retno duduk disamping Fatih "Tadi aku bosan, jadi aku keluar"
Fatih menatap box yang belum dibuka "Kok masih utuh"
"Aku bingung"
"Ya udah, ayo kita makan"
-
Jam istirahat
Retno diajak Fatih untuk makan diluar, yang dekat dengan apartemen mereka
Mereka sudah mulai makan nasi, dengan lauk ndeso
Fatih dan Retno memesan nasi dengan lauk ikan asap, yang dipecak dengan sambal dan aneka lalapan, serta sayur asam
"Baru tau disini ada penjual nasi yang lauknya ndeso mas"
"Kayaknya baru. Biasanya kan nggak ada"
"Iya, ya mas" Jawabnya sambil mengabsen sekitar
Retno melihat pasukan biru yang biasa membersihkan sampah dijalanan, yang sedang duduk beristirahat
"Mas, mas. Lihat" Tunjuk Retno pada pasukan tadi "Kasihan mas, kelihatannya capek dan lapar"
Fatih mengangguk, lalu memanggil pelayan warung ini
"Mbak, mbak"
"Iya pak"
"Tolong bungkuskan nasi untuk mereka" Tunjuk Fatih pada pasukan seragam biru
"Lauknya pak"
"Samain aja apa yang kami makan"
__ADS_1
"Wah, maaf pak sudah habis"
"Adanya? Ayam, ayam"
"Habis juga, adanya telor"
"Ya udah, telur deh. Buruan ya mbak. Sekalian ditotal berapa"
"Iya pak"
Sambil menghabiskan makan siangnya, pelayan tadi sudah selesai membungkuskan beberapa bungkus makanan
"Ini pak nasinya, dan ini totalnya" Pelayan tadi menyodorkan keresek besar, sekaligus jumlah tagihan yang harus dibayar oleh Fatih
"Oh iya" Fatih mengeluarkan uang "Ini"
Setelah beres, Fatih dan Retno berjalan menuju ke pasukan bersih-bersih tadi
"Permisi, bu" Sapa Fatih sambil menyodorkan makanan yang berada didalam kresek
Perempuan itu mendongak "Mas Fatih"
Fatih mengerutkan dahi. Lalu bertatapan dengan Retno
"Mbak / Vivi" Diucap bersamaan
Viviana menunduk "Maafkan aku pak. Aku tak pantas menerima makanan darimu" Viviana mendorong makanan yang barusan dikasih oleh Fatih
Fatih terdiam. Dia tidak berani berucap sepatah katapun
"Tidak apa-apa mbak. Kami ikhlas kok. Sini mas" Retno merebut kresek dari tangan suaminya, dan menyisakan dua bungkus nasi untuk Viviana "Ini mas"
Fatih menerima nasi tersebut, tetapi hanya diam
Retno berjalan menjauhi mantan pasangan ini
Meskipun sedikit terkejut, Retno berusaha membentengi hatinya, agar tidak sakit
Retno membagikan makanan tadi dengan semua orang yang berseragam biru
Kemudian, Retno kembali mendekati mereka berdua, tetapi tidak satupun yang ingin bicara
"Eh hem. Mbak, ini makanan untuk mbak. Maaf ya mbak. Kami hanya bisa memberikan nasi bungkus. Mohon diterima" Ucapnya sambil sedikit memaksa, agar Viviana mau menerima
Viviana menatap Retno, lalu menunduk lagi
"Ya sudah, ayo sayang. Kita pulang" Fatih segera menggandeng Retno, dan meninggalkan tempat ini
Viviana mendengar mantan suaminya mengucapkan kata sayang pada wanita lain, rasanya ingin menangis saat itu juga
Viviana sudah bercucuran airmata. Meskipun sanggup matanya menatap pasangan tadi bergandengan, tapi hatinya belum menerima "Mas..." Viviana menangis
"Vi, kamu kenapa Vi" Pasukan biru sudah mengerubungi Viviana
Viviana geleng-geleng, lalu luruh diatas rerumputan yang barusan mereka bersihkan
"Aku tadi tidak mendengar kamu bertengkar. Kenapa kamu menangis. Siapa Dia" Tunjuk kawan Vivi pada pasangan tadi, yang memberikan nasi pada mereka
Sambil terus menangis "Dia mantan suamiku"
"Oh, dia si borokokok yang meninggalkan kamu, iya"
Viviana geleng-geleng "Bukan. Dia suami pertamaku. Suami yang pernah aku tinggalkan dulu hwahaha"
"Oh"
"Sabar ya Vi"
Sementara pasangan berbeda generasi ini
Retno sudah diantarkan pulang "Sayang, sayang istirahat ya. Sayang sudah nggak boleh capek lagi, ya. Jika ingin sesuatu, telpon mas, atau pesan delivery, oke"
"Iya mas"
"Baiklah. Mas akan kerumah sakit lagi. Kamu tunggu dirumah. Ingat, kalau ada apa-apa, hubungi mas"
Retno mengangguk
Fatih berjalan menuju pintu utama
"Mas" Panggil Retno
Fatih menoleh "Iya"
"Aku melihat mbak Vivi kok kasihan ya mas"
"Sudah. Jangan bahas soal itu. Sudah ya, mas berangkat"
"Iya. Maaf mas"
BERSAMBUNG.....
__ADS_1