Jodoh Sang Dokter Duda 2

Jodoh Sang Dokter Duda 2
Berkunjung Kerumah Besan


__ADS_3

Siang harinya


Keluarga babe berkunjung kerumah besannya, yaitu papa Ilham


Sekarang babe sudah memiliki mobil bagus. Yaitu pajero. Bukan pajero 'Panas jobo jero' Panas luar dalam. Melainkan mobil yang adem, yang bukan mobil pick up lagi yang panas, yang sudah babe miliki sebelumnya


Keuangan keluarga babe makin meningkat, karena tidak ada pengeluaran lagi untuk menguliahkan siapapun setelah Retno.


Setiap bulannya, justru Retno yang mentransfer atau memberi uang tunai, hasil dari laundry nya. Tentunya, dorongan dari suaminya, agar semua pendapatan dari laundry, untuk dikirimkan kepada kedua orang tua Retno


Sedangkan untuk Retno sendiri, mendapatkan separuh gaji suaminya dari rumah sakit. Itupun Retno sudah jingkrak-jingkrak, katanya banyak sekali. Sedang untuk anaknya, yaitu Fatihah, gaji Fatih dari Restoran


Untungnya, kedua orangtua Fatih tidak pernah meminta, apalagi mengeluh. Jika dikasih, selalu bilang simpan saja untuk anak-anakmu. Dan lebih beruntungnya lagi, istri Fatih yang sekarang, selalu mengirimkan masakan, yang papa Ilham sukai.


Papa Ilham lebih suka dikasih sesuatu yang murah, tapi dengan hati "Papa juga banyak uang. Papa makannya nasi, bukan duit" Jawaban papa Ilham selalu menohok, membuat putra-putranya tambah ingin membiayai seluruh kehidupan kedua orangtuanya


Nah, bukan tanpa sebab.


Dulu, Fatih menikahi Retno, saat Retno habis wisuda. Pengorbanan orang tua Retno belum terbayarkan. Jangankan membayar jasa kedua orangtua, materi saja belum sepeserpun. Tetapi, sudah diambil Fatih untuk dinikahi


Semalam sebelum tidur, Keluarga ini berkumpul.


Sebenarnya keluarga babe melarangnya. Tetapi Fatih bersih keras, agar tetap memberikannya uang tersebut pada mertuanya "Pak, harapan bapak dan ibu waktu menguliahkan Retno, pasti menginginkan sehabis lulus kuliah, putrinya untuk membantu perekonomian kelak. Seharusnya, Retno kan bekerja membantu keluarga ini, jangan menikah dulu" Ucapnya tersenyum sambil menoleh pada Retno


"Ih, yang main nikahin siapa? Aku nggak minta untuk cepat-cepat nikah" Protesnya


"Ahaha" Fatih tertawa sambil mengusap kepala Retno "Iya, keluarga mas yang ingin cepet-cepet ngangkat sayang jadi mantu. Katanya takut kalau sayang disrobot sama orang lain"


Bu Rani dan Babe saling tendang


"Bu, mantu sama anak elu bu, pacaran didepan kite" Bisik babe


"Iya.. Babe mah kalah. Babe nggak bisa romantis"


"Babe kan orang kampung bu, malu pegang-pegangan gitu. Cukup dikamar kite ye"


Setelah beradu drama dengan istrinya, babe menatap mantu dan anaknya. Ternyata mereka sama-sama menatapnya


"Eh, ade ape. Ade yang aneh" Ucap babe kebingungan


"Enggak. Cuma, babe berbisik apa sama ibu. Babe ngomongin kita?" Tanya Retno


"Kagak. Kite kagek ngomong ape-ape, ya bu"


"Iya"


"Oh, ya udah deh be. Karena kami datang kemari, jadi uang ini ai eh, aku. Serahin tunai pada ibu dan babe" Retno memberikan amplop berwarna coklat untuk kedua orang tuanya, yang diangguki oleh Fatih


Bu Rani mendorong amplop tersebut "Wallah nduk... Duitnya itu mbok kumpulin aja, buat persiapan lahiran"


"Itu masih lama bu" Ucapan Bu Rani dijawab oleh Fatih "Lagian, rumah sakit ditempat saya bekerja, itu memberikan kebijakan kepada seluruh pekerja dirumah sakit. Kami berdua mendapatkan tunjangan kesehatan, serta nanti anak kami lahirpun, juga mendapatkan tunjangan kesehatan serta banyak lagi yang lainnya. Jadi ibu jangan khawatir"


"Iya sih, tapi kan.. "


"Nggak bu, tolong ini diterima dulu" Fatih kembali mendorong amplop yang sudah didorong ibu Rani


Ibu Rani belum mengambilnya "Maksud ibu, apa nggak sebaiknya kalau genduk lahiran nanti, dibawa kerumah sakit khusus melahirkan saja. Katanya kan kembar"


Fatih tersenyum "Iya saya mengerti kekhawatiran ibu. Rumah sakit ini besar, dan bonafit. Kami dan saudara kembar kami juga lahir dirumah sakit ini. Buktinya masih ada dokumen kami. Tapi ya, nggak pa-pa. Kalau nanti ibu masih khawatir masalah kurang sreg lahiran dirumah sakit umum tempat saya bekerja, Retno akan saya larikan kerumah sakit khusus bersalin, milik keluarga kami di Semarang. Biar ditangani langsung oleh saudara saya disana"


"Ih, malu mas. Masa dokternya kak Hanan"

__ADS_1


"Malu gimana, memangnya dokter kandungan disana cuma Hanan?"


"Ya kan, Katanya saudara mas"


"Iya memang ada. Bukan saudara kandung sih, tapi lebih tepatnya anak asuh papi"


"Almarhum papi Anand?"


"Iya, siapa lagi"


"Ooooh cewek?"


"Iya cewek. Kelihatannya sayang takut banget sih. Nggak percaya"


"Ya kan aku nggak kenal dan belum pernah lihat"


"Orangnya lembut, usianya lebih tua dari mas sedikit"


"Seusia ibu"


Fatih menoleh kearah bu Rani "Iya, kayaknya"


"Oh, tua dong mas"


Gung


Jidat Retno sudah mendapat hadiah kepalan tangan dari Fatih


Tangan Retno masih melindungi kepalanya, takut dipukul lagi"Ih, kebiasaan main pukul begitu"


"Lagian kamu sembarangan. Yang penting, kinerjanya bagus"


"Hanna"


"Eh, Hanan??"


Fatih menjewer pelan telinga sang istri "Ini kuping apa cantelan"


Kedua orangtua Retno menatap menantunya tidak percaya


"Weleh-weleh, tadi jidat. Sekarang kuping" Bisik babe pada istrinya


"Ahaha.. Lepasin mas, geli"


"Beh, kita kabur aja beh. Malu" Bu Rani menarik pelan tangan suaminya


"Iye. Gua juge malu. Cengar cengir sendiri bawaannya bu"


"Ya udah nduk, ibu mau istirahat. Dah malam" Pamitnya sudah berdiri "Yuk beh"


"Ini bu uangnya, tolong diterima" Rengek Retno, yang sudah sama-sama berdiri


"Iya bu.. Kami hanya bisa memberikan sedikit rezeki untuk ibu dan bapak. Yah, anggap saja Retno bekerja dikota, dan ini pulang kampung"


Ibu Rani sudah menerima amplopnya "Makasih, sudah datang berkunjung kemari aja, ibu dan babe senang"


"Nggak pa-pa, kami yang harus berterimakasih bu. Itu hanya sedikit, dibanding ibu dan bapak, pernah menyekolahkan putri ibu hingga bangku kuliah. Biayanya kan nggak sedikit"


"Iye sih. Mantu juga sudah merasakannye mengulihken anak. Tapi itu juge kewajiben orang tue. Ape mungkin tu, ai harus nyekolahin babe ama nyak gue. Bise-bise sekoleh penuh"


"Haha" Fatih tertawa dan menutup mulutnya

__ADS_1


Plok


Ibu Rani menabok babe "Yang ada gurunya pada lari beh. Orang sudah meninggal semua pada sekolah"


Ahaha


Semua orang tertawa semua


Fatih melirik Retno, dan mengusap punggung istrinya


Lagi-lagi


'Ed dah.. Mantuku, main elus-elus bae didepan gua. Ape, jangen-jangen karene orang kote kali ya'


Babe mengabsen Retno


'Anek gua juge cengar cengir bae. Ah, kagak ape-apelah, anek gua jatuh pade orang yang pas. Daripade dapetin sih Toto, orang tuenya juge kagak suka ame anek ai. Bise-bise anek ai dijadi in perkedel ame orang tuenya sih Toto" Kepala babe digeleng-gelengkan


"Kenapa beh"


"Kagak. Babe hanya membayangkan anek nyang elu kandung, cewek ape cowok?" Slorohnya mengalihkan segalanya


"Belum tau pak, mungkin bulan depan sudah bisa dilihat saat pemeriksaan kandungan" Fatih kembali mengusap punggung istrinya


"Nggak masalah lah, mau cewek ataupun cowok, yang penting sehat"


-


Kembali dirumah besan


Ibu Rani dan Retno duduk dijok belakang, sedangkan sopirnya, tentulah babe seorang


45 menit kemudian, mereka sampai dikediaman papa Ilham


"Assalamualaikum... " Ucap mereka bertiga


"Waalaikumusalam" Jawab Art "Eh mbak Retno, pak, bu. Mari silakan masuk"


Babe dan bu Rani masuk, dan duduk dikursi ruang tamu


"Papa mama dimana mbok?" Tanya Retno sekaligus membuntuti Art yang masuk kedalam


"Masih dibelakang mbak"


"Oh, aku kesana ya. Oiya, ini mbok oleh-oleh dari ibu"


Simbokpun menerimanya "Eh, makasih ya mbak"


"Iya. Kalau begitu, aku susul mama papa"


"Iya mbak"


Retno ke halaman belakang. Ternyata, kedua mertuanya sedang melakukan senam, dengan pemandu yang ada ditelevisi, yang berada di teras belakang


"Ma, pa" Panggil Retno


"Eh, Retno. Pa udahan pa, udah sore"


Maaf baru up..... Author baru sempat... maaf jika garing


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2