
Waktunya berkumpul sudah tiba
Betul kata mama Sifa
Jum'at malam, seluruh keluarga sudah berkumpul lagi disini
Keluarga yang paling datang duluan adalah keluarga Hanan
Beruntung. Kembaran Arin yaitu Zira, sabtu dan minggu libur sekolah
Zira, Fahmi, dan Fahri, sudah masuk kekamar mama Sifa termasuk Arin
Mereka berempat sudah tumpuk-tumpukan diranjang omanya
Selama sikembar Fahri dan Fahmi hidup satu atap dengan Arin, mereka tidurnya sangat larut. Tergantung Arin
Jika Arin tidur cepat, sikembar Fahmi dan Fahri bisa tidur cepat.
Sebaliknya, jika Arin belum tidur sampai larut, mereka berduapun belum mau tidur
-
Malam ini, ponsel mereka, sudah dikembalikan sama pemiliknya masing-masing
Karena mereka besok libur, malam ini mereka diperbolehkan bermain ponsel
Kali ini Zira yang memegangnya
Mereka sedang menonton televisi berbayar, yaitu film ikan piranha
Zira dan Arin tengkurap, sedangkan bocah kembar empat tahun itu ikut tiduran diatas tubuh Zira dan Arin
Sesekali Fahmi dan Fahri aduh tonjok-tonjokan karena berantem mulut
Bukan hal aneh jika anak-anak sangat suka mengeksplor hal-hal baru. Tak jarang, di dalam prosesnya mereka sering terlibat masalah kecil dengan saudaranya
Masalah kecil tersebut pun biasanya disebabkan oleh hal-hal sepele, seperti memperebutkan mainan, atau memperebutkan karakter pahlawan terbaik.
Namun, apa jadinya jika seorang anak terlibat "adu mulut" dengan seekor ikan yang mereka tonton diponsel
Mereka berdua goyang-goyang diatas tubuh Zira dan Arin
Mereka memperebutkan toko ikan piranha yang berwarna loreng
"Olen milik Fami !!"
"Ih, milik Fali"
"Fami "
"Fali"
"Kembar !! Turun nggak dari tubuh aku !!" Bentak Arin, tetapi keduanya tidak menghiraukan "Ealah ini bocah. Kupingnya pada budek apa ya"
Arin menoleh keatas "Fahmi apa Fahri ini diatasku. Turun woi !!" Teriak Arin kembali
"Diatasku Fahri, Arin" Saut Zira
"Oh, pantesan tuyul yang males. Turun!!" Bentak Arin kembali
"Ih, nggak mau. Fami ingin ikan loleng olen" Kata Fami ngotot
"Loleng olen loleng olen. Kamu yang oleng. Turun nggak. Berat tau. Turun MBAR!!!" Teriak Arin entah sudah berapa kali
"Aku teriak ya, biar semua orang menyeretmu dari atasku. Satu!! Dua!! Ti, ti, ti... Bundaaaaa!!!!!" Teriak Arin kembali
Kedua bocah kembar itu langsung turun dan lari terbirit-birit. Kemudian keluar kamar, sampai bertabrakan dengan Alana
Alana berjalan masuk kekamar "Ada apa ini? Kenapa sejak dulu anak bunda sukanya teriak-teriaaaak, mulu. Nggak capek?" Tanya Alana dan duduk dibibir ranjang
Mereka berdua sudah duduk dengan benar "Bund, boleh nggak malam ini Arin tidur bersama bunda" Ucapnya bergelayut manja memeluk Alana sang mama
"Kenapa. Bukankah senang tidur bersama gemma"
"Iya. Kapan gedenya kamu. Kalau dikit-dikit ingin tidur sama bunda" Ejek Zira
__ADS_1
Arin menghempaskan tangan Zira "Kan kangen Zi"
"Bilang aja mau ngerayu" Ejek Zira lagi
"Ish bunda. Suruh diam dia"
"Zira, diam dulu" Tegur Alana
Arin tersenyum mendapatkan angin segar karena dibelain
'Seumur-umur, baru aku dibelain. Hihihi' Arin terkikik dalam hati
"Bu~und" Panggil Arin manja
Alana menoleh kearahnya
"Sini deh bund. Arin bisikin"
"Bisikin apa, sudah ngomong aja"
"Bund, celengan boneka babi yang Arin punya, dibawa kemari nggak bund"
"Buat apaan tanya celengan"
"Arin nggak punya duit. Arin malu bund, minta sama papah"
"Kalau sama gemma??"
"Sama lah bund. Tapi kemarin, Arin dikasih sama grandma"
"Terus"
"Arin tolak. Kasihan grandma. Grandma kan sudah tua. Kalau Arin ributin, grandma nangis bagaimana. Grandpanya kan udah nggak ada. Mau ngadu sama siapa"
"Tolak beneran?" Masih Alana
"Enggak jadi. Arin terima. Karena Arin dipaksa. Dan terpaksa" Arin segera bergelayut lagi ditubuh mamanya, biar tidak kena marah "Bund, grandma dikasih ganti ya bund. Kasihan"
Alana tersenyum "Arin boros ya?"
"Iya. Gimana nggak mahal. Odong-odong aja kamu naiki. Ngiri kok sama anak kecil"
"Ish, penasaran tau bund"
"Ya udah memang kamu boros"
"Nggak kuat Arin bund"
Alana berdiri "Sudah ah, bunda mau keluar. Diluar udah pada kumpul"
"Ish, bund" Manjanya
"Nanti dibicarakan sama daddy" Kemudian Alana keluar berkumpul bersama keluarga lainnya
Sementara
Terlihat kedua bocah itu sedang terlibat cekcok lagi dengan seekor ikan yang ada di dalam sebuah akuarium.
Entah memang sedang iseng atau serius, bocah itu terlihat sedang memarahi ikan di dalam akuarium menggunakan kata-kata yang tidak dimengerti.
Lucunya, ikan yang ada di dalam akuarium tersebut pun seolah menanggapi aksi Fahmi
Ikan lauhan tersebut bahkan sesekali membenturkan mulutnya pada dinding akuarium. Tindakan tersebut seolah dilakukan sebagai bentuk perlawanan atas tuturan sang bocah.
Arin keluar sambil mengabsen mereka berdua "Hei tuyul. Kok belum tidur"
"Kata Fami tidak bisa tidul kak. Ikannya ngejekin dia melulu" Ucap Fahri
Jawaban Fahri, membuat Arin terpingkal-pingkal "Hahahaha.. Dasar. Kamu diejek ikan aja sampai nggak bisa tidur??" Ucapnya diangguki oleh Fahmi "Bibir ikan ini kan memang maju sejak dulu. Kenapa baru sekarang kamu sakit hati. Baperan sih kamu. Sekali-kali bolu. Jangan wafer melulu"
Kedua bocah itu tidak faham
"Kakak, kakak punya roti bolu? Fali mau" Ucap Fahri penuh harap
Arin dan Zira tepuk jidat "Hadewww, ngomong sama anak kecil. Nggak ada nyambung-nyambungnya" Ucap Arin kesal
__ADS_1
-
Pagi harinya
Arin mandi paling terakhiran
Tiba-tiba Arin menongol dari balik pintu kamar mama Sifa
Arin melongok mencari bundanya yang belum kelihatan melintasi kamar ini
Alana dan Retno berjalan beriringan sedang membawa sesuatu diatas baki
"Bunda.." Bisiknya, tetapi tidak didengar oleh mamanya "Bunda.. pssst pssst bunda"
Alana menoleh "Eh, anak gadis pakai handuk doang kok nongol. Pakai baju sana. Sudah mandi belum?"
"Belum. Sini deh bund"
Alana yang ditarik, segeralah masuk menuju kamar mertuanya
"Ada apa?"
Arin menutup pintunya rapat-rapat
"Bunda, CD ku ada warna merah-merahnya. Arin kenapa bunda"
Tiba-tiba suara Hanan memanggil Alana "Bunda, bund. Kok pintunya dikunci. Kamu didalam ya"
"Sebentar, bunda bukain pintu dulu buat daddy"
"Ish, bund. Jangan cerita-cerita sama daddy ya bund"
"Kenapa??"
"Takut bund. Takut dimarahi"
"Kok dimarahi" Alana segera membuka pintunya, dan menarik tangan suaminya "Sini deh mas. Gadis kita sudah masuk ke fase pubertas"
"Bunda, jangan ngomong bund" Arin sudah masuk kedalam kamar mandi
"Kenapa? Sini sini, cerita dulu sama daddy" Alana segera menarik tangan Arin
"Ada apa, hem" Hanan duduk dibibir ranjang
"Arin, ngomong sama daddy. Bunda keluar sebentar" Alana keluar untuk mencari Zira
Iya. Zira sudah menstruasi seminggu yang lalu. Jadi, Alana ingin meminta pembalut padanya
Sementara dikamar
"Daddy, CD ku ada darahnya. Apa... " Arin sudah mewek
Hanan Tersenyum sambil mengusap kepala putrinya "Mana CD nya. Daddy ingin lihat"
Arin menunjukkan celana itu pada ayahnya
"Daddy jangan marah ya. Arin nggak sakit, tapi takut" Arin bercerita ke papanya
Untung sang papa orangnya suportif sekali
"Daddy antar kamu kerumah sakit ya? daddy akan antar kamu pergi ke dokter, untuk cek menstruasi dan PCOS (Polycystic Ovary Syndrome)"
"Memangnya gawat ya dad"
"Nggak juga. Kamu itu sudah menginjak remaja sayang. Kamu menstruasi pertama"
Bersyukurlah Arin yang memiliki papa seperti Hanan
Seorang papa, itu memiliki peran penting untuk men-support perempuan dalam break the stigma. Mereka juga seharusnya comfortable saat membicarakan topik menstruasi dan hormon
"Nanti biar bunda yang ngajarin Arin memakai pembalut ya"
"Ish daddy. Arin malu"
"Kenapa malu. Perempuan memang seperti itu"
__ADS_1
Akhir-akhir ini author mulai semangat lagi ya.. Jika berkenan, jangan lupa dukung author agar bersemangat lagi yaitu pencet tombol hadiah, vote, dan likenya...