
Bus yang mereka tumpangi sudah sampai ditujuan
Satu persatu para penumpang turun menuju puncak yang sudah mereka rencanakan sebelumnya
Para asisten rumah tangga juga mulai turun sambil membawa makanan yang akan mereka suguhkan untuk para majikannya disini
"Mak Jum, bahan baku yang aku suruh bawa. Semuanya dibawa kan? Nggak ada yang ketinggalan" Tanya mama
"Dibawa semua Nya"
Sebelum mama Sifa turun, Arin turun terlebih dahulu dengan lusuh, dan terlihat capek sendiri
Fariz menyenggol bahu Hanan dengan bahunya "Putrimu tu kak, Ka Si Han" Ejeknya
Hanan tersenyum kemudian mendekati Arin, dan merangkul "Putri daddy, capek ya?"
Arin mendongak, lalu mengangguk
"Ya sudah, ayo daddy gendong" Hanan sudah jongkok didepan Arin
Arin langsung menutupi bagian kema luannya "Ih jangan. Ntar nembus bagaimana. Arin nggak nyaman dad"
Hanan baru teringat "Oh, ya sudah. Ayo cepat masuk, Daddy carikan kamar mandi untukmu"
"Ih, anterin" Manjanya
"Ya iya, ini mau dianter. Bawa ganti nggak?"
"Bawa. Didalam tas"
Dari kejauhan, Fariz melihat Hanan dan Arin berbelok kesamping villa, untuk mencari toilet yang berada diluar villa
"Woi.. Kak !!" Teriak Fariz "Mau kemana dia"
"Ada apa bang" Tanya Hawa pada suaminya
"Itu si Arin mau kemana. Kok malah lewat samping"
"Menemui satpam kali"
"Nggak ngerti deh"
-
Setelah beres semua, mereka sudah disambut oleh para asisten yang berada disini
Mereka berkumpul kembali untuk makan siang bersama disini
Villa ini adalah hunian untuk berlibur kepunyaan Fariz
Sikembar Fahri dan Fahmi masih celingak celinguk mencari seseorang
"Fahmi, Fahri. Sini duduk" Ujar Fatih sambil melambaikan tangan
Fahri bergelayut pada papanya "Daddy, kak Alin kok nggak ada. Kemana?"
Tiba-tiba Hanan dan Arin masuk dan bergabung dengan semuanya
"Itu kak Alin" Tunjuk Fahri pada Arin yang baru masuk
Fahri berlari mendekati Arin, ternyata Fahmi sudah ada disana
Arin mendelik didatangi para tuyul kembar "Ngapain kalian kesini"
"Hus, sama anak kecil kok marah-marah begitu" Tegur Hanan
__ADS_1
"Mereka itu biang rusuh dad, mereka bikin badan Arin pegel-pegel"
Hanan melirik putrinya yang kelihatan kesal dan terus mengadu pada dirinya
"Memangnya mana yang pegal" Tanya Hanan
"Semuanya. Paha dua-duanya kebas semua. Memangnya paha Arin bantal apa" Kesalnya
Hanan tersenyum lebar melihat anaknya uring-uringan. Kemudian Hanan mengambil kedua pundak anaknya tersebut "Sini daddy pijat"
Arin menoleh kebelakang, kemudian mundur dan merebahkan tubuhnya dipaha papanya "Daddy, pinjam ponselnya" Ucapnya sambil meraba ponsel milik papanya disaku bajunya
Ternyata semua orang memperhatikan Arin yang sedang bermanja, dan dikelilingi oleh dua tuyul perusuh
Fatih berbisik pada kedua putranya "Fahmi, Fahri, sini"
Fahmi berbelok, sambil berbisik pula "Endak mahu"
"Ealah, dikacangin aja masih lengket kaya prangko"
Hanan yang tidak tau putrinya diperhatikan, ia tetap enjoy mengobrol dengan Fariz yang duduk disampingnya
Arin sudah bermain HP hasil pinjam dari papanya, kemudian menatap dua bocah yang berdiri di sampingnya "Ngapain liat-liat"
"Itu kakak nonton apa"
"Eih, suka-suka dong. Minggir sana" Usirnya pada sikembar
"Arin" Tegur Hanan sambil menghentakkan satu kakinya agar Arin terganggu
Arin tidak menghiraukan teguran papanya. Ia justru berbalik menghadap kepapanya, kemudian sibuk kembali menonton film kesukaannya
"Kakak, Fami ingin nonton. Kakak duduknya yang benel"
"Benel-benel" Ucap Arin dan langsung mendapat teguran lagi dari papanya
Selagi Hanan bicara, kedua bocah kembar itu mendongak menatap Hanan mengomel-ngomel
"Papa, jangan malah-malah" Ucapnya sambil menggoyang-goyangkan bahu Arin "Kakak, ayo tulun. Kita tidulan dikasur. Fami juga ingin bobo"
Tangan Fahmi dikibas-kibaskan "Yaudah sana bobo. Ngapain ajak-ajak aku. Aku kan lagi bobo, sana" Usirnya membuat Hanan menarik ponselnya dari tangan Arin
"Daddy... Pinjam bentaran"
"Kamu ditungguin. Kasihan. Masa sama anak kecil ketus gitu"
"Ih dad. Aku ingin begini. Aku nggak mau ngurusin dia lagi" Ucap Arin kembali merebut ponsel yang barusan papanya ambil
Arin duduk dengan rambut acak-acakan "Daddy. Aku mau pindah dari sini. Tapi pinjemin HP nya dulu"
Hanan geleng-geleng
Arin menangkup wajah papanya "Dad. Jadi orang tua jangan pelit daddy..." Ucapnya kesal
Hanan tetap mempertahankan ponsel tersebut
Karena melihat papanya kokoh seperti semen yang bercap ada rodanya, Arin timbul usilnya
Arin mancabut rambut yang ada diatas bibir Hanan
Plok
Dengan spontan Hanan menabok pantat Arin "Turun!!" Kemudian Hanan mengibaskan Arin dan mengusap bibirnya yang merasa cenat-cenut akibat kumir tipisnya dicabut paksa oleh Arin
Arin berdiri "Lagian. Salah sendiri daddy punya rambut"
__ADS_1
Hanan mendelik, kemudian menyerahkan ponselnya lagi pada Arin "Sana minggir, urus tuh adik-adiknya" Kesalnya
-
Arin dan si kembar sedang makan dilantai. Sedangkan lainnya, makan dengan rapih, dan duduk diatas kursi semua, karena lantai disini sangatlah dingin
Tetapi berbeda dengan ketiga cucu-cucu mama Sifa ini. Mereka justru sukanya yang dingin-dingin
Sesekali Arin menyuapi mereka dengan makanan yang ada dipiringnya masing-masing, kemudian muter menyuapi dirinya sendiri
"Ayo balapan makan. Siapa yang kalah, ntar akan mendapat hadiah uang dari daddy"
Yang mendengar kicauan dari Arin, semuanya melotot lebar
"Hah, lomba makan kalah?" Fariz berdiri disamping ketiga bocah-bocah itu
Hanan melongok kebawah "Tau. Arin, kenapa harus daddy yang bayar kalian. Yang lomba kan kalian" Menjawab Fariz sekaligus protes pada putrinya
"Yang punya duit kan daddy" Jawab Arin kembali sibuk menyuapi keduanya biar cepat kelar
Hanan dan Fariz saling tatap
"Ada ya, lomba model kayak gini" Hanan
"Ini kan balapan dad. Tenang, Arin yang akan menang" Ucapan polos putrinya, membuat hanan tepuk jidat
"Mana ada balapan kalah. Ini anak lama-lama perlu diasah otaknya"
Arin menoleh kepapanya sambil tersenyum lebar "Lihat dad, mereka hampir habis kan makanannya"
"Terus punyamu"
"Masih. Kan, biar menang dad"
"Hadeeewwww"
Semuanya senyam-senyum melihat Hanan kesal
Fatih dan Fariz berpindah duduk disebelah kiri dan kanan Hanan
Tiba-tiba
"Asssyiiiiiikkkkk" Ucap ketiga bocah sambil mengepalkan kedua tangannya keatas
Semua orang tua, mlongoh berjamaah
"Terus, yang menang siapa" Tanya Fatih pada ketiga bocah yang ngelemprak dilantai
"Aku / Fali/ Fami" Diucap bersamaan
"Arin ikut menang?" Tanya Fatih bingung
"Yaiyalah pa, kan lombanya siapa yang kalah makan, dialah juaranya. Aku dong yang menang" Arin berdiri meminta duit pada papanya "Daddy, minta duitnya. Aku menang bertarung"
"What ??? jadi putra-putra papa kalah maksudnya?" Ucap Fatih bingung
"Iya"
"Balapan model apaan" Fatih
"Daddy, minta duit. Fali menang" Fahri
"Fami juga menang. Holeeee" Fahmi
-
__ADS_1
Arin sudah mendapat saweran dari Hanan "Yeh, aku yang menang mbar. Bukan kamu, kamu" Tunjuk Arin pada keduanya "Nih, duit aku banyak" Arin kipas-kipas duit
Hanan dan Fatih saling tepuk jidat. Sedangkan lainnya tertawa terpingkal-pingkal