
"Bu. Ibu dapat salam dari quadruple" Ucap Naufal seusai berkunjung kerumah kekasihnya malam yang lalu
"Quadruple??"
"Iya. Ibu ingat?"
"Maksud kamu siapa? Teman ibu?" Nisya masih belum ngeh, apa yang dibicarakan oleh putranya barusan
"Mungkin"
Ibu Nisya sedikit mengenang kebelakang, pada masanya selagi remaja dulu, sewaktu dirinya duduk dibangku SMA "Kamu ketemu mereka dimana?"
"Mereka?? Hanya satu kok. Quadruple itu nama geng kan. Ibu ikut geng itu" Naufal masih belum faham
"Tunggu-tunggu. Ibu kok tambah bingung ya" Ucap sang ibu mengerutkan kening
"Lah. Ibu aja bingung. Padahal barusan ibu dapat salam dari pak quadruple"
"Oh.. Jangan-jangan, kamu bertemu dengan salah satu orang dari kembaran quadruple?"
"Kembaran?? Kembaran siapa bu?"
"Sekarang ibu mulai faham. Tadi yang nitip salam kekamu siapa? Dokter Hanan?" Ucapnya berbinar, karena tidak menyangka teman sebangkunya bertemu dengan putranya
Naufal geleng-geleng
"Dokter Husayn?"
"Bukan-bukan. Lagi-lagi"
"Fariz"
"Fariz? Tadi siapa ya? Namanya mirip, iya mirip. Tapi sedikit kurang pas"
"Apa Fatih?"
"Hah?? Itu dia. Bapak Fatih. Tadi ibu bilang seorang dokter?" Tanyanya tambah bingung
Naufal tidak pernah menyinggung soal pekerjaan orang tua kekasihnya. Kurang sopan jika soal itu dipertanyakan karena sangat prifasi
"Iya. Mereka kembar 4"
"Apa??!! Maksud ibu, pak Fatih itu kembar?"
"Iya"
"Sampai 4 ?" Naufal tambah bingung
"Iya. Dan semuanya menjadi dokter kayaknya. Eh nggak-nggak, Fariz kayaknya yang berbeda sendiri"
"Ibu faham keluarganya?"
"Ya sedikit banyak ibu faham. Karena ibu satu kelas dengan dokter Hanan"
"Oh, kok ibu kenal yang lain"
"Ya kenallah. Kan unik. Punya teman seangkatan kembar 4, dan bersekolah disatu sekolahan. Unik kan? Mereka juga akrab satu sama lain. Ibu suka dengan keluarga mereka"
Naufal manggut-manggut "Jadi, daddynya Fatihah, kembar?" Gumamnya masih terdengar oleh ibunya
"Apa, apa tadi. Ibu sedikit denger. Daddynya Fatih, kembar?"
"Bukan bu. Maksudnya, daddynya Fatihah berarti kembar?"
"Fatihah, Fatih. Itu nama anak sama bapak? Mirip gitu?" Tanyanya agar jelas
"Iya"
__ADS_1
"Oh, ibu mulai faham. Dia nitip salam ke ibu?"
"Iya"
"Jangan-jangan, kamu naksir sama anaknya ya?"
Naufal terdiam sekejap, lalu mengangguk "Iya bu. Aku ingin ibu melamarkannya untukku"
"Serius??"
"Ibu ragu dengan tampangku?"
"Tidak-tidak. Ibu nggak percaya"
"Nggak percaya sama aku bu? Terus, percayanya sama siapa?"
Ibunya tidak menjawab pertanyaannya, melainkan mempertanyakan hal yang lain "Kamu kok bisa kenal dengan putrinya dokter Fatih. Dia dokter juga?"
Naufal menggeleng "Dia mahasiswaku bu"
"Oh iya ya. Pantesan selisihnya banyak ya"
"Aku nggak faham ibu ngomong apa?"
"Dulu, ibu menikah setelah lulus SMA. Ibu itu siswi pertama yang nikah setelah kelulusan. Ijazah saja belum ditangan"
"Kok bisa"
"Ya bisa. Karena ayahmu memaksa menikahi ibu dengan cepat, agar ibu tidak disamber orang"
"Segitunya orang dulu" Ucapnya terheran-heran
"Orang sekarang aja buru-buru kayak kamu"
"Tapi kan nggak lulus SMA juga kali bu. Bentar lagi Fatihah bakal wisuda" Naufal menatap ibunya serius
"Kenapa menatap ibu begitu"
"Astagfirullah. Ya enggaklah. Ibu menikah itu, biar resmi, dan halal untuk pacaran. Habis itu, ibu kuliah sampai melahirkanmu, dan menjadi guru sampai sekarang. Oiya, terakhir ketemu dokter Fatih, waktu ayah masuk kerumah sakit. Dan dia salah satu dokternya yang merawat ayahmu"
"Oh, aku lupa wajahnya bu. Karena jarang bertemu. Oh, jadi daddynya Fatihah dokter jantung?"
"Iya"
"Oh, berarti tugasnya dirumah sakit Semoga cepat sembuh" Naufal masih belum percaya
"Iya. Kamu tidak tanya?"
"Mana berani bu. Baru datang saja beliau yang membukakan pintu"
Ibunya tertawa "Kamu grogi ya"
"Lebih bu"
Mendengar putra sulungnya sempat menyinggung ingin menikahi kekasihnya, Nisya akhirnya setuju ingin bertemu dengan kedua orangtua kekasih putranya.
-
Sementara, Retno dan kedua putranya diboyong kerumah papa Ilham karena akan menerima tamu agung, yaitu calon besan
Retno, Fatih, papa Ilham, dan mama Sifa, duduk sebagai tuan rumah
Sedangkan keluarga Naufal yang hadir hanya ibunya, kakak dari ibunya, dan Naufal sendiri
Untuk pertama kalinya Nisya bertemu dengan Retno. Jika dengan yang lainnya, Nisya sudah bertemu meskipun sudah lama, karena dulu Nisya dan kawan-kawan pernah bermain kerumah ini, sewaktu pulang sekolah sehabis tes
"Wah, ini istrimu ya dok. Cantik sekali. Kirain putrimu dok" Ucap Nisya sambil menutup mulutnya tidak percaya
__ADS_1
Nisya juga menyapa papa Ilham yang masih terlihat sehat, meskipun rambut yang ada dikepalanya tak satupun terselip yang berwarna hitam, semuanya putih blass tidak ada saingan
Tidak lupa menyapa mama Sifa yang masih terlihat cantik dan mungil, meskipun usianya sudah hampir kepala 7
Dalam kesempatan ini, mereka membicarakan soal hubungan tentang buah hati mereka.
"Baiklah, kupanggilkan putriku dulu" Ucap Fatih ingin beranjak dari tempat duduknya
Tiba-tiba Fatihah keluar membawa air minum, dan dibuntuti oleh Art yang membantu membawakan aneka camilan untuk sang tamu
Nisya terperangah melihat gadis cantik yang keluar membawa air minum untuknya
Bahkan dalam kesempatan ini, tak henti -hentinya memuji bapak calon menantunya karena telah membesarkan putri yang cantik.
Nisya sedikit faham, jika calon besannya yaitu dokter Fatih, bercerai dengan istrinya. Dan menikah lagi dengan seorang gadis. Jadi pertanyaannya jangan sampai menyinggung sang calon besan
"Anda membesarkan anak perempuan yang luar biasa, dokter. Cantik" Ujar Nisya sambil melirik putranya "Pantesan putraku nggak sabar ingin segera meminang putramu, dok"
Mendengar hal itu, Fatih tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas pujian calon besannya yang dilontarkan pada putrinya
Fatih mengusap kepala putrinya, agar segera duduk ditengah-tengah antara Retno dan mama Sifa
Mereka sudah sepakat untuk melanjutkan acara lamaran ini kejenjang yang lebih serius
"Dari teman, sekarang dipertemukan lagi menjadi calon besan ya dok?" Ucap paman Mus kakak dari Nisya
"Iya mas. Tidak disangka. Aku ternyata sudah tua"
Mereka tertawa
"Tua juga masih terlihat fres dan muda dok. Nggak menyangka, kalau dokter Fatih memiliki anak gadis yang sangat cantik, yang sudah tumbuh dewasa" Puji paman Mus
Retno menumpuki tangan suaminya yang berada dipahanya sendiri sambil tersenyum
Lalu, tangan Fatih lainnya merangkul Retno
'Mungkin karena istriku muda, jadi nyetrum' Fatih terkekeh sendiri
"Opa omanya saja cantik dan tampan" Tunjuk Nisya pada foto keluarga dokter Ilham yang tertempel ditembok, dengan quadruple yang masih tampak belia
Paman Mus dan Naufal baru percaya kalau dokter jantung yang ada dihadapannya ternyata kembar 4
-
Setelah lamaran usai, Fatihah disuruh membuka buah tangan dari calon suaminya
Isinya banyak dan bagus-bagus sesuai usia Fatihah
"Keluarga Naufal baik. Semoga mereka menyayangimu seperti kami menyayangi kamu nak" Ucap mama Sifa
"Aamiin.."
"Sekarang, kamu harus mulai belajar memasak. Jangan gengsi. Meskipun nanti kamu menjadi wanita karir, kau tidak boleh menyalahi kodrat sebagai wanita. Kau harus bisa mengerjakan didapur, disumur, dan juga dikasur"
"Ih, gema. Yang terakhir bikin malu"
"Kok malu. Usiamu sekarang 22 tahun, dan bentar lagi, kau bakal wisuda. Dan akhir pacaran, itu menikah"
"Harus secepatnya ya ma"
"Ya harus. Mau tunggu apa lagi" Saut Fatih yang keluar dari kamarnya
"Menikah itu ibadah, bagi setiap umat muslim. Dengan menikah, seorang umat dianggap telah melengkapi separuh dari agamanya. Ada banyak hal yang dapat dihindari dengan menikah, seperti perilaku yang mengandung maksiat dan perbuatan haram yaitu, zina. Pernikahan dianggap penuh berkah jika ditujukan kepada Allah dan diniati untuk ibadah" Sekarang papa Ilham yang memberikan nasehat "Yuk ma tidur. Punggungku capek" Ajaknya pada mama Sifa
"Ayo pa"
"Ingat ya, setelah lamaranpun, kau tetap belum boleh bebas kemana-mana bersama dosenmu itu. Daddy belum mengizinkan sepenuhnya. Karena kau, masih tanggung jawab daddy"
__ADS_1
Kemudian, Fatih masuk kekamar, meninggalkan Fatihah sendirian
BERSAMBUNG.....