
Fatih ikut berdiri didepan istrinya yang masih mematung
Kemudian Fatih mengambil kedua tangan Retno, dan menariknya kehidung, lalu Fatih menciumnya
"Maafkan mas ya?" Ucapnya terus diulang-ulang
Perlahan, Retno menarik tangannya dan berjalan mundur menuju sofa
Retno duduk disana
"Kau masih marah padaku?" Tanya Fatih berbalik dan berdiri didepan Retno
Retno terdiam tidak ingin menjawabnya
Fatih berjalan maju mendekati, lalu duduk disampingnya "Maafkan mas, ya?"
Retno menghela nafas "Besok aku ingin pulang kerumah ibu"
Bibir Fatih melengkung, lalu mengusap punggung Retno perlahan "Iya. Ntar mas antar"
Retno menoleh sambil melebarkan matanya tidak percaya. Bagaimana bisa. Kemarin saja dilarang
'Kemarin nggak boleh. Sekarang boleh. Mau diantar pula. Apa maksudnya?? Aku nggak dibalikin kerumah orang tuaku kan mas?'
Fatih mempererat pelukannnya sambil tersenyum "Mau menginap berapa malam?"
'Gimana sih. Beneran, aku mau dibalikin?'
"Baju gantinya sudah dipersiapkan?" Tanya Fatih seakan merayu untuk mengambil hati istrinya kembali
Retno berdiri "Belum" Jawab Retno ketus. Lalu menuju lemari untuk mengambil tas minggat. Setelah ketemu, dengan ekspresi wajah yang susah ditebak, Retno memasukkan begitu banyak baju-baju anaknya
Fatih mendekat, lalu mengunci tubuh Retno dari belakang "Kenapa bajunya dimasukkan ke tas semua"
Retno menghela nafas kembali "Suka-suka aku" Ucapnya ia naikkan satu oktaf biar lebih tinggi dari yang tadi
Fatih sangat faham, jika istrinya kali ini sedang marah besar
Kemarahan, dapat menimpa siapapun, bahkan pada pasangan yang paling bahagia sekali pun tak luput dari kondisi kemarahan salah satu pihak.
Fatih harus bisa menghadapi pasangannya yang sedang marah
Memang membingungkan
Terkadang, tak peduli seberapa sering dirinya meminta maaf, rasanya tetap mengganjal karena Retno nampak benar-benar marah karena kesalahannya membentak, pada waktu itu
"Ya sudah. Sudah malam. Kita tidur yuk. Pekerjaan itu, kita teruskan nanti lagi. Sayang pasti capek kan?" Rayu Fatih terus-terusan
Tidak peduli seberapa marah istri, Fatih jangan sampai kehilangan kesabaran.
'Ingat, dalam pertengkaran, setidaknya harus ada satu orang yang tetap waras dan berpikiran jernih. Jika sama-sama kehilangan kesabaran, pertengkaran mungkin tidak akan pernah terselesaikan' Batin Fatih memberi semangat sendiri karena masih waras
'Jadi, tetaplah bersabar'
Retno berjalan menjauhi Fatih, lalu mengambil Fahmi dari box, untuk dipindahkan ketempat tidur
__ADS_1
"Kok, dipindahin sayang. Kan masih tidur"
"Suka-suka aku"
Jawaban istrinya membuat Fatih masih berusaha bertahan untuk bersabar
Kemudian, Retno kembali mengambil Fahri untuk dipindahkan ketempat tidur yang sama
"Loh, loh sayang. Kenapa dipindahin semua. Mereka tertidur pulas loh. Kenapa sayang pindahkan ketempat tidur. Ntar terganggu mereka"
Retno tidak ingin menjawab ocehan suaminya. Ia justru naik ketempat tidur dan merebahkan badannya ditengah-tengah kedua putra kembarnya
Fatih ikut naik dan duduk didepan Retno. Seandainya Retno tidak ingat kalau didepan kakinya adalah suaminya. Retno sudah menyepak Fatih agar terjengkang daripada mengganggu tanpa henti
"Kakiku capek. Minggir" Retno meluruskan kakinya, tetapi Fatih segera membantu meluruskannya
Fatih terus pahami istri yaitu memijat pelan kakinya
"Kaki sayang keras. Pasti karena kegiatan sehari-hari tidak dibantu mas ya" Rayunya kembali
Retno kembali menekuk kakinya biar tidak dipegang oleh suaminya "Aku mau tidur. Sana jangan disitu" Usir Retno
Fatih tersenyum "Sayang tidak kangen dengan mas"
Retno memutar bola matanya jengah "Sudah dibilang, aku capek dan ingin tidur"
Fatih memperhatikan Retno lebih suka mengomel, dan terlihat ingin mengusir dirinya
"Maafkan mas. Yang kurang memahami kesibukan sayang mengurus rumah dan mas tidak membantu beberapa hari ini"
"Jika iya, sekali lagi mas minta maaf ya?"
"Sudahlah. Minta maaf sampai nggak kehitung jumlahnya" Kesal Retno
"Iya nih, susah banget maafnya belum diterima-terima" Lirik Fatih sambil tersenyum tipis
Fatih terus mengambil hati Retno, agar permintaan maafnya diterima
Fatih kembali memijat kaki istrinya "Disini Capek?"
Retno tidak menjawabnya. Tetapi lebih memilih memejamkan mata karena terlalu enak jika sudah dipijat oleh sang suami
Dalam hubungan berumah tangga dengan Viviana dulu, Fatih sering mengalami masalah beraneka ragam. Salah satunya, menghadapi istri yang lagi marah. Tetapi, dulu Fatih lebih baik diam dan tidak merayu seperti sekarang
Namun entah mengapa, diposisi seperti ini, Fatih tidak marah balik. Malah ia terus merayu dan menghibur istrinya yang sedang marah
Berbeda dulu. Dia sering pasrah dan tidak berani merayu
Fatih terus memijat kaki istrinya
Beberapa menit kemudian, Retno benar-benar terlelap
Fatih segera menghentikan kegiatannya
"Minta maaf sudah, tapi belum dimaafin juga" Kemudian Fatih mendekatkan wajahnya pada istrinya "Sayang tidak kangen dengan mas, hem?" Fatih menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik sang istri
__ADS_1
Retno samar-samar mendengar suara suaminya yang sangat dekat. Tetapi Retno pura-pura tertidur pulas
Fatih kembali menciumi wajah Retno dan terus membisikkan sesuatu yang tak ada henti-hentinya "Tidur disini saja mas tidak dibolehin. Sayang masih Marah?" Fatih menggesek-gesekkan kumis tipisnya diarea wajah sang istri. Kemudian, Fatih menjauhkan wajahnya, dan perlahan menurunkan kakinya, lalu berjalan menuju sofa yang berada dikamar itu
Fatih mengambil ponselnya, dan memotret wajah dirinya yang terlihat kusut
Sementara, urusan Fatihah ia abaikan.
Fatih mengirimkan gambar tersebut kepada Retno, lalu ia bersedekap dan pura-pura tidur disana
Kali ini, perhitungannya tepat
Perlahan Retno bangun, dan mengambil ponselnya yang sejak tadi berbunyi beruntun notifikasi pesan, tetapi Retno tidak berani membukanya. Karena Retno tau. Bahwa suaminya masih terjaga disofa sana
Ponsel sudah ditangannya. Dan Retno membuka pesan tersebut, ternyata foto-foto suaminya yang sudah kusut dimana-mana
Hati Retno sedikit demi sedikit mulai luluh.
Memandangi foto suaminya, sekaligus menatap suaminya yang telah terlelap sendirian disofa
Retno kembali menatap ponselnya dan membaca satu pesan yang sengaja dikirim oleh suaminya
"Aku tidak ingin menjadi duda lagi" Ditambahi emoji mata berkaca-kaca
Lengkap sudah hati Retno teriris-iris
Lamunan Retno terhenti karena Fahri menangis, dan Fahmi ikut terbangun
"Cup cup cup" Retno mengangkat Fahri dalam pangkuan, dan memberikan asinya pada Fahri
Fahri tertidur, dan Retno menidurkan Fahri diboxnya, bukan dikasur
Retno berbalik untuk gantian menyu sui Fahmi. Tiba-tiba
Buk
Retno menabrak Fatih yang sedang menggendong Fahmi "Aduh, gimana sih. Sengaja nabrak ya, biar Fahmi bangun, terus nangis" Kemudian Retno merebut paksa Fahmi dari tangan papanya "Sini in" Ucapnya masih nada tinggi
Fatih memberikannya "Iya ini"
Retno kembali memberi asi pada putra lainnya yaitu Fahmi
Sedangkan Fatih, ia terus fokus pada istrinya yang jauh dari jangkauannya
Retno meletakkan Fahmi dibox. Tiba-tiba tangan besar melingkar diperutnya.
Retno menatap kebawah. Salah satu kakinya sudah diapit oleh kedua kaki kekar suaminya
Fatih mendekat dan sangat dekat "Jangan marah lagi ya. Mas tidak bisa tidur"
"Siapa yang marah. Sudah sana tidur" Tunjuknya pada sofa
Fatih mencium pipi istrinya "Kalau mas disuruh tidur disana, berarti sayang masih marah"
Retno mendorong Fatih "Minggir"
__ADS_1
BERSAMBUNG.....