
🌺
🌺
Arya menyeka sudut matanya yang basah. Walau bagaimanapun dirinya harus tetap kuat, dan harus tetap tegar. Karena tidak mungkin ikut terbawa suasana ketika dia tahu istrinya di dalam sana pun akan merasakan hal yang sama. Dan ini kedua kalinya mereka harus kehilangan anak.
Namun kali ini rasanya lebih menyakitkan, Karena bayi itu hampir saja ada dalam dekapan. Takdir Tuhan itu kadang terasa kejam. Dia membuat kita percaya bahwa sesuatu akan menjadi milik kita, namun dengan mudah Dia mengambilnya kembali tanpa peringatan. Dan kita tidak bisa melakukan perlawanan, karena hanya akan menimbulkan kesia-siaan.
Arya menarik napasnya dalam-dalam, dan dia bersiap untuk masuk ketika beberapa orang berusaha untuk menguatkannya sejak setengah jam yang lalu. Pria itu bahkan menolak ketika Alena menawarkan diri untuk menggantikannya menyampaikan berita duka ini kepada Vania.
Dia memilih untuk menghadapinya langsung apapun yang akan terjadi nanti.
Arya masuk dengan langkah pelan dan pandangannya tetap tertuju pada perempuan yang sedang menunggunya. Sementara Melly berdiri di samping putrinya, menjaga dia dari reaksi yang mungkin akan terjadi setelah menantunya itu berbicara.
"Abang dari mana aja? perginya lama amat?" Vania menoleh.
"Dari ..." Arya melirik sekilas ke arah mertuanya yang mengangguk samar.
"Ribut-ributnya tadi ada apa? ada yang meninggal ya? di ruanga mana? meninggalnya karena apa?" perempuan itu bertanya.
Arya merasa tak tahan dengan apa yang dikatakannya. Dan dia segera saja meraup tubuh Vania dengan erat.
"Kita harus lebih sabar lagi ya? Mungkin bukan milik kita." katanya, dan dia mulai terisak.
"Apanya?" Vania sedikit menjauh untuk menatap wajah suaminya.
"Abang kenapa?" namun pikirannya tertuju pada satu hal.
"Abang? apa terjadi sesuatu?" dia mencoba meyakinkan.
Napas Arya tampak tersengal-sengal, dan air mata terus mengalir dari netranya.
"Maafkan abang, tidak bisa mengusahakan yang terbaik untuk anak kita. Maafkan, dia harus kita relakan."
Bagai ribuan kilogram beton yang ditimpakan kepadanya, dan Vania seketika membeku. Dirinya baru saja memikirkan hal buruk namun hal itu tampaknya benar-benar terjadi.
"A-anak kita?"
Arya menganggukan kepala.
"Maaf, dia harus kita relakan... lagi." katanya, dan seketika raungan Vania menggema memenuhi ruangan.
Arya segera memeluknya untuk menghindari dia memberontak.
"Bersabarlah lagi sayang... " Melly mendekat kemudian mengusap-usap punggung putrinya.
"Kalian harus kembali bersabar."
"Abaaaanggg!!! kenapa gini lagi?" dia berteriak dalam tangisnya.
"Aku kehilangan dia lagi....
"Kenapa abang??" Vania terus meraung.
__ADS_1
Arya terus memeluknya semakin erat, tanpa sepatah katapun dia ucapkan. Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana cara untuk menenangkannya. Karena ini tidaklah mudah.
Dan keadaannya semakin mengkhawatirkan karena kondisi perempuan itu yang belum stabil. Selain bekas operasi caesar yang masih basah, juga karena cedera di tubuhnya akibat terjatuh dari tangga sesaat sebelum melahirkan.
"Kuat Van, kamu kuat." Alena mencoba membesarkan hatinya, namun tampaknya Vania tak menghiraukan. Raungan terus saja menggema hingga terdengar keluar ruangan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara perempuan itu melemah, setelah hampir satu jam menangis dan meraung meratapi kematian bayinya untuk yang kedua kalinya. Dan ya, yang ini rasanya memang lebih menyakitkan.
Raganya terasa tak berdya dan nyawanya seperti menghilang, terlebih ... rasa bersalah kini menguasai.
Dia mengingat hari-hari yang di lewatinya dengan gembira. Kebahagiaannya terasa begitu sempurna, dan dia tak menyangka hal buruk akan terjadi lagi kepada mereka.
Namun segalanya memang ada yang lebih berkuasa. Dia yang tak mampu dijangkau dengan logika manusia menunjukan kekuasaannya.
Tangisan kembali pecah namun tak sekeras tadi. Tapi terdengar menyayat hati dan teras begitu pilu.
Arya kembali memeluknya dengan erat, dan dia berusaha untuk kuat. Walau nyatanya dia juga tak dapat menahan tangisnya.
"Maaf abang, ... ini salah aku." Vania kembali berbicara.
"Salahku nggak bisa menjaga diri, dan aku sudah membunuh anakku." katanya.
Arya menggelengkan kepala.
"Maaf, ..." ucap Vania lagi dengan isakan yang semakin lirih.
"Tidak, ini sudah takdir. Kita tidak bisa menolak ataupun menghindar."
Arya kembali menggelengkan kepala.
"Bolehkah aku melihat dia?" Vania mendongak.
Arya tampak tertegun.
"Aku mau melihat dia, untuk yang terakhir kali. Ijinkan aku melihat dia." dia memohon dalam tangisnya.
Lalu Arya menoleh kepada Alena, dan perempuan itu mengerti. Dia segera keluar untuk memenuhi keinginan kakak ipar sekaligus sahabatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dokter diikuti seorang perawat masuk setelah Alena, dengan bayi yang tak bergerak itu dalam pelukan.
Suasana terasa hening di dalam sini, dan mereka semua tampak tak ingin bersuara. Hanya isakan yang mengisi ruangan itu menandakan kedukaan.
Tidak ada yang tak menangis, mereka semua sama berdukanya seperti orang tua baru yang dalam sekejap kehilangan anak mereka lagi.
Vania pun masih terisak dalam pelukan Arya, namun pandangannya beralih pada dokter dan perawat yang baru saja tiba.
"Kami turut berduka cita, percayalah ini sangat sulit." ucap dokter.
Tak ada yang menjawab karena mereka masih meratap dengan duka yang mendalam.
__ADS_1
Pandangan Vania terkunci pada dekapan perawat, pada selimut berwarna biru bergambar boneka. Yang membuat dia kembali terisak.
"Anda tahu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi ..." dokter menjeda kata-katanya, namun sesuatu mengusik nalurinya. "Tapi mukjizat mungkin saja terjadi. Karena pertolongan Tuhan sesungguhnya lebih dekat dari pada ujiannya. Dan kami percaya itu." Sang dokter melirik kepada perawatnya yang membawa bayi dalam dekapan, yang kemudian maju untuk mendekat.
"Berdoalah, usaha kita tidak akan sia-sia, dan segala yang kita minta akan menjadi milik kita. Saya harap anda juga mendoakan hal yang sama." dokter meraih bayi tersebut dari dekapan suster lalu menyodorkannya kepada Vania.
Perempuan itu menatapnya, kemudian beralih kepada suaminya.
Arya menganggukan kepala.
Vania mengulurkan kedua tangannya yang bergetar, untuk menerima bayinya dari dokter.
"Peluklah dia, dan bicaralah kepadanya. Mungkin akan mengembalikan kekuatannya untuk berjuang menggapai hidupnya kembali."
"Apa bisa?" Arya menyela.
"Kita tidak tahu, tapi segala usaha patut di coba bukan?" jawab dokter.
Kemudian Vania melakukan apa yang dokter ucapkan. Dia mendekatkan bayi mungil itu ke dadanya. Menatap wajah mungilnya yang tampak tertidur lelap.
"Anakku." dia kemudian mendekapnya dengan dua tangannya.
Dadanya berdegup kencang, dan darahnya berdesir kencang. Napasnya sedikit tersengal dan dia hampir kembali terisak. Segala rasa berkumpul dalam dada, dan penyesalanlah yang paling mendominasi.
Menyesal karena telah menjadi orang yang ceroboh. Menyesal karena tidak mendengarkan peringatan orang lain. Menyesal karena tidak terlalu memikirkan keadaannya sendiri yang tengah berbadan dua. Dan dia menyesal karena telah abai dengan apapun yang pernah terjadi kepadanya, yang kini berdampak sangat buruk. Bukan hanya kepada dirinya, tapi juga pada bayi dalam kandungannya. Dan hal itu sudah dipastikan akan berdampak juga pada kehidupannya setelah hari ini.
"Maaf, ..." Vania hampir berbisik.
"Maafin bunda sayang, ...
"Maafin bunda karena nggak bisa menjaga kamu dengan baik."
"Maaf, bunda sudah menjadi ibu yang buruk, ...
"Maaf, ...
Arya kemudian memeluk erat mereka berdua, dengan isakan yang sama seperti istrinya. Hatinya terasa remuk dan dia merasa tak berdaya.
"Maafin bunda dan ayah...
"Kalau masih bisa, ... kami mohon kembalilah... tapi kalau tidak bisa, maka kami akan merelakanmu untuk pergi."
"Kami sangat menyayangimu. Kamulah cintanya ayah sama Bunda. " katanya lagi, dan dia mengeratkan pelukannya. Merasakan kehadiran bayi itu untuk pertama dan terakhir kalinya. Kecupan bertubi-tubi pun dia daratkan pada bayi mungil yang sudah tak bergerak itu, Begitupun Arya, seolah anak mereka akan dapat merasakannya pula.
Namun sesuatu terjadi saat tangisan semua orang menjadi semakin lirih.
Si bayi kecil terbatuk dengan keras, kemudian menangis kencang. Napasnya berhembus dan kedua tangan dan kakinya bergerak-gerak. Tubuhnya yang semula terasa dingin kini berangsur menghangat.
🌺
🌺
🌺
__ADS_1
Bersambung...
jangan marah lagi!! ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜