Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Cinta Yang Bersemi


__ADS_3

🌺


🌺


"Jadi, bagaimana? siapa yang bersedia pergi untuk peninjauan lokasi? ini penting untuk menentukan seberapa banyak bahan yang di perlukan, dan bahan apa saja yang harus digunakan. Perbaikan jembatan ini harus benar-benar dilakukan dengan serius, jika tidak, maka akan terjadi kerusakan yang sama dalam waktu dekat." Harlan hampir mengakhiri rapat sore itu, bersama beberapa orang staf yang dia bawa dari Jakarta. Pria itu cepat pulih dan segera kembali bekerja setelah satu bulan beristirahat total.


Belum ada yang menjawab, mereka masih berpikir dengan segala kemungkinannya. Tempat yang jauh dari kota, dan akses jalan yang sulit menjadi kendala.


"Kita butuh setidaknya satu arsitek, dan dua orang lainnya sebagai pendamping yang mengerti bahan bangunan dan semacamnya."


"Berapa lama Pak?" Arya menginterupsi.


"Setidaknya satu minggu. Hanya untuk mengawasi apa para pekerja melakukannya dengan benar atau tidak. Memberi pengarahan kepada semua yang berada disana untuk bekerja sesuai SOP yang berlaku dari kita. Seperti biasa." jawab Harlan.


Arya menatap sekeliling ruangan, dimana sesama teman se profesinya tampak masih berpikir.


"Kalau begitu, saya saja pak." ucapnya kemudian, membuat semua orang menoleh hampir bersamaan.


"Yang lain kalau ada yang mau ikut, silahkan. Saya butuh pendamping." lanjutnya tanpa beban.


"Kamu serius?"


"Ya, ... sepertinya disini hanya saya yang tidak terlalu di repotkan dengan urusan selain pekerjaan." pria itu menatap rekan-rekanya satu persatu.


"Lalu bagiaman kantor cabang ini jika kamu tinggalkan?" ucap Harlan.


"Ada Raja Pak." Arya menoleh.


Atasannya itu terdiam, dan dia menghela napasnya, kemudian menoleh ke arah putranya.


"Raja, kamu bisa?"


Pemuda yang dimaksud terperangah, dia tak menyangka jika ayahnya aka bertanya seperti itu. Karena biasanya Harlan tidak akan mempercayakan apapun kepadanya. Raja pun menoleh kepada Arya, dan tanpa di duga, pria itupun tengah menatapnya, dan kemudian mengangguk.


"Raja? apa kamu bisa?" Harlan mengulang pertanyaan.


"Bi-bisa pak." pemuda itu mengangguk.


"Arya?"


"Saya bebas Pak. Tidak akan ada yang merengek karena ditingal jauh." sambungnya, yang kemudian membuat beberapa orang di ruangan itu tertawa. Mereka mengerti maksud dari ucapan pria itu.


"Yang lainnya?" Harlan menatap sekeliling.


"Saya pak." dua orang akhirnya bersedia maju.


"Baik, kalau begitu. Akhir minggu ini kalian diberangkatkan langsung dari sini. Persiapkan semua yang dibutuhkan selama berada disana." kini Harlan benar-benar mengakhiri rapatnya, dan semua orang keluar dari ruangan itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BRAAKK!!


Terdengar sesuatu seperti menggebrak meja, dan Arya mempercepat langkahnya menuju ruangan Raja.


"Ada apa ini?" dia menerobos masuk melewati pintu yamg memang tidak tertutup rapat ketika mendapati beberapa dokumen berserakan dilantai, dan Cindy dengan kedua tangannya yang bertumpu pada meja. Sementara Raja hanya duduk merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Saya, sudah melakukan apa yang seharusnya saya lakukan sebagai sekertaris. Dan tidak pernah ada yang mengecewakan selama saya bekerja dengan Pak Arya. Kalaupun ada masalah, dia akan membicarakannya dengan baik-baik." gadis itu berapi-api. Wajahnya merah dan dadanya naik turun dengan napas menderu-deru.


"Ada masalah apa?" Arya mendekat.


"Kamu berani membentak saya, membangkang kepada saya, dan tidak menerima koreksi dari saya." Raja mengucapkannya dengan tenang.


"Yang tidak saya terima adalah cara bapak berbicara. Lebih seperti merendahkan saya."


"Terus saya harus bersikap manis sama kamu gitu? sementara kamu sendiri selalu sinis sama saya?"


"Siapa yang sinis? bapak kegeeran!" Cindy berteriak.


"Lho, siapa yang kegeeran? jelas-jelas kamu selalu sinis sama saya? selain itu juga kamu selalu membantah, ditambah sekarang berani berteriak." pria itu mulai menegakan duduknya.


"Saya membantah apa yang tidak sesuai dengan sistem disini. Bapak ngerti nggak sih cara kerja di kantor ini? udah lebih dari dua bulan lho bapak kerja sini? masa masih belum mengerti juga?" suara Cindy makin meninggi.


"Hey, saya atasan kamu lho!"


"Nggak ada pengaruhnya buat saya pak! kalau nggak sesuai, ya nggak akan saya setujui."


"Ini kalian meributkan apa sih?" Arya mencoba menginterupsi.


Cindy mundur, kemudian memunguti dokumen dilantai yang beberapa saat yang lalu di lemparkan Raja karena tidak sesuai dengan keinginannya.


"Bapak lihat, ini pekerjaan saya yang biasanya saya serahkan kepada bapak." gadis itu memperlihatkan benda tersebut kepada Arya.


"Semua yang ada disana, tidak ada bedanya seperti yang selalu bapak terima. Dan tidak pernah ada masalah bukan? kalaupun ada, Bapak pasti membicarakannya dengan benar."


Arya menerima berkas tersebut, kemudian membacanya sebagian. Dan setelahnya dia menoleh kepada Raja dengan kening berkerut.


"Sudah tiga kali pekerjaan saya dipertanyakan dengan segala alasan konyol. Saya heran, apa yang ada di otaknya Pak Raja." gerutu Cindy dengan kesal.


"Jaga ucapan kamu ya? saya ini atasan kamu!"


"Saya bilang nggak ngaruh!" gadis itu kembali berteriak.


"Udah lah, saya angkat tangan. Kalau gini terus saya resign!" Cindy menggelengkan kepalanya.


"Lho? kok gitu?" Raja bangkit. "Ya nggak bisa gitu dong? ini tanggung jawab kamu lho, ya harus kamu perbaiki lah." pria itu tampak panik.


"Saya nggak sanggup lagi pak. Pasti nanti bapak mempermasalhkannya lagi, dan menyuruh saya memperbaikinya lagi. Nggak sanggup saya, soalnya kerjaan saya juga banyak selain cuma ngurusin laporan rekapan dari karyawan. Saya mengundurkan diri aja lah." gadis itu mundur ke arah pintu.


"Lho?"


"Cindy, jangan begitu."


"Nggak sanggup pak." dia beralih kepada Arya. "Waktu kerja dengan bapak nggak gini-gini amat. Tapi dengan dia? ampun deh."


"Ya nggak bisa gitu dong, tanggung jawab kamu dimana?"


"Bapak cari orang lain aja deh, saya beneran udah nggak sanggup!" dia menghambur keluar.


"Lho? bang? gimana itu?"


"Raja!!!" geram Arya, yang kemudian mengejar Cindy yang bergegas membereskan mejanya.


Dia berbicara banyak hal, terutama membujuknya agar tak benar-benar melakukan apa yang diucapkanya barusan.


"Jadi saya mohon, jangan lakukan itu."


"Tapi saya sudah tidak bisa lagi pak kalau kerja sama dia. Orangnya ngeselin!"


"Saya tahu, dia memang seperti itu. Kita semua tahu itu."


"Bukan sekali dua kali lho dia begitu."


"Saya tahu, saya minta maaf."


"Kenapa bapak yang minta maaf?"


"Tidak apa-apa. Hanya saya mohon jangan dulu resign, perusahaan masih sangat mebutuhkan kamu."


"Tapi saya jadi males pak kalau dia ada disini."


"Jangan lihat dia, tapi lihat saya." Arya menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah selama ini kita selalu bisa bekerja sama?"


"Bapak beda, nggak ngeselin seperti Pak Raja."


"Iya, hanya lihat saya saja. Tidak usah menganggap Raja. Dia memang seperti itu bukan?"


"Tapi lama-lama kesel juga pak."


"Saya tahu, saya juga kesel sama dia." Arya melirik sekilas ke arah pintu, dimana Raja berdiri.


"Hmm ..."


"Oke? jangan resign dulu. Kami masih membutuhkan kamu." bujuk Arya.


"Nggak tahu deh kalau gitu terus."


"Setidaknya sampai akhir bulan lah, dan semua pekerjaan kamu selesai."


Cindy nampak berpikir.


"Oke? sebentar lagi saya harus ke pelosok untuk peninjauan lokasi. Dan saya butuh kamu disini untuk mengatur semuanya untuk saya."


"Bapak yang pergi?"


"Iya."


"Kenapa harus bapak? kenapa tidak orang lain?"


"Tidak ada yang bisa."

__ADS_1


"Kan biasanya selain bapak?"


"Sekali-sekali lah saya pergi, buat refresh otak juga."


"Bapak pergi sendiri?"


"Tidak, ada dua orang lainnya yang ikut."


"Oh, syukurlah. Saya kira sendiri."


"Jadi bagaimana?"


"Apanya?"


"Kamu tidak jadi resign?"


Cindy terdiam untuk berpikir lagi.


"Jangan karena emosi kamu memutuskan untuk keluar. Nanti menyesal lho? tidak ada perusahaan lain yang seperti disini." Arya kembali membujuk. Pria itu memang benar, dan Cindy mengakuinya dalam hati.


Sejak lulus SMA dia bekerja di tempat itu, dan banyak kesempatan dia dapatkan, terutama setelah bekerja bersama Tim Arya. Dia bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah dari program beasiswa hingga lulus dan kini menduduki posisi yang cukup penting.


"Ayolah, ...


"Baiklah baik. Tapi bukan karena dia ya, saya bertahan untuk bapak." katanya kepada Arya. Membuat pria itu menyunggingkan senyum.


"Tapi kalau Pak Raja masih saja bersikap menyebalkan, saya nggak mau lagi kerja disini. Walau bapak membujuk saya sekalipun!"


"Saya akan kasih tahu dia, lihat saja."


"Beneran ya pak?"


"Iya."


"Ya sudah."


"Baiklah kalau begitu. Print lagi saja dokumennya, dan biar saya yang tanda tangani. Nanti kamu ambil sore."


"Beneran?"


"Iya. Saya lihat tidak ada yang salah. Kerja kamu bagus seperti biasa." pujinya kepada sang sekertaris, yang tiba-tiba membuat gadis itu sedikit mengerutkan dahi.


"Bapak lagi gombal sama saya? awas, nanti ketahuan Vania bisa kacau." ucapnya, yang membuat Arya tergelak. Hubungan mereka memang sudah diketahui banya orang termasuk sebagian besar karyawan di gedung itu.


"Hanya agar kamu tetap bekerja disini." Arya berujar.


"Jangan gitu Pak ah, merinding saya." Cindy bergidik ngeri.


"Kok merinding?"


"Mendengar bapak bicara manis seperti itu rasanya aneh."


Arya mencebik.


"Vania sudah merubah bapak jadi lebih aneh lagi ya?" gadis itu mencibir.


"Diamlah, cepat kerjakan. Saya tunggu berkas-berkasnya. Biar nanti sore bisa pulang tepat waktu."


"Memangnya bapak mau kemana?"


"Kepo kamu."


"Cuma mau tahu pak."


"Sama saja."


"Cepat!!"


"Eh, ... iya pak iya." dan gadis itupun kembali bekerja.


***


"Gimana bang?" Raja menunggunya di depan pintu.


"Apa sih yang sebenarnya terjadi? ini bukan sekali dua kali dia mengancam resign dengan alsan kelakuan kamu. Dan ancaman tadi lebih parah."


"Abang nggak lihat dia tadi membantah aku?"


"Bukannya memang dia begitu? dia akan membantah apapun yang tidak sesuai dengan sistem yang dia pegang. Dan, ... apa itu tadi? semakin hari kamu semakin menyebalka saja. Tapi hanya kepada Cindy, sementara kepada orang lain tidak sama sekali."


Raja mengulum bibirnya kuat-kuat. Dia memang tidak tahu mengapa selalu berbuat seperti itu. Namun akhir-akhir ini memang ada yang aneh dengan dirinya. Berdebat dengan sekertatis mereka setiap hari seperti menjadi sebuah kesenangan sendiri.


Dan raja juga menyukainya ketika dia membuat Cindy harus mejalani lembur hampir setiap malam bersamanya untuk memperbaiki laporannya yang sebenarnya tidak ada yang salah. Dia menikmati kebersamaan itu dengan gembira, walau gadis itu lebih banyak menggerutu daripada berbicara dengan benar kepadanya.


"Hey!!" Arya menjentikan jari, membuat pemuda dihadapannya tersadar dari lamunannya.


"Ini tetalhir kalinya kamu bertingkah menyebalkan. Sekali lagi kamu bersikap begitu, dia tidak akan bisa dihalangi lagi, saya bahkan tidak akan bisa merayunya lagi."


" Masa?" Raja terperangah.


"Tidak banyak sekertaris seperti Cindy, yang punya kepintaram dan kecakapan dalam bekerja. Perusahaan ini akan rugi kalau dia mengundirkan diri. Jadi saran saya, bersikap baiklah mulai sekarang. Setidaknya jangan membuat dia kesal."


Raja terdiam.


"Pikirkan itu, jangan hanya memikirkan kesenanganmu mengerjai orang." kamudian pria itu kembali ke ruangannya..


"Dih? dia lupa gimana dulu sama Vania?" gumam Raja, pelan.


🌺


🌺


Arya berjalan memasuki kedai melewati para pengunjung. Kini, setiap sore hari sepulang bekerja memang menjadi rutinitasnya untuk mampir ke tempat itu hanya sekedar untuk menemui kekasihnya, atau mengisi perutnya sebelum pulang kerumah. Atau bahkan kadang dia menungguinya bekerja hingga selesai dan mereka pulang bersama. Dengan gadis itu yang membawa motor matic, dan dirinya menggiring di belakangnya dengan kendaraan roda empatnya.


Dua pegawai Vania bahkan sudah terbiasa dengan kehadirannya, dan apapun yang dia lakukan di sana setiap hari.


"Hey? mau makan?" pertanyaan sama yang selalu Vania lontarkan setiap pria itu masuk ke pantri menghampirinya.


"Nanti." Arya membuka chiller dan mengambil minuman kaleng, kemudian membuka dan meneguknya hingga habis setengahnya.


"Baiklah, ..." gadis itu menggeser piring makanan pesanan seorang pengunjung kepda Mimi yang sudah menunggu di depan.


"Hari ini ramai?" Arya memulai percakapan, dan pertanyaan yang sama pula yang selalu dia lontarkan setiap hari.


"Bangeett." jawab Vania, kemudian memutar tubuh.


"Syukurlah. Semakin hari semakin ramai kan?" Arya kembali meneguk minumannya.


"Begitulah ...


"Oke, karena kamu lagi sibuk, sebaiknya abang ke ruangan kamu saja ya? kalau disini nanti malah mengganggu." pria itu berujar.


"Memang ..."


Dan Arya tergelak mendengar jawaban sang kekasih. Kemudian segera masuk kedalam ruangan yang tidak terlalu besar di belakang pantry itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Haaaaaaa ... akhirnya sepi juga." Vania menerobos masuk kedalam ruangannya dimana Arya berada. Duduk di ujung sofa dengan ponsel di tangannya.


"Punten bang, aku mau rebahan dulu." kataya, seraya manjatuhkan dirinya di sofa yang sama, namun dengan posisi berseberangan.


"Capek?" pria itu meletakan ponselnya di meja.


"Lumayan." Vania menjawab dengan suara lemah. Sebelah tangannya menutupi sebagian wajahnya, dan dia memejamkan mata.


"Hari ini mau tutup jam berapa?" pria itu meraih sepasang kaki jenjang milik Vania yang berbalut skinny jeans berwarna biru muda. Kemudian dia letakan di atas pahanya.


"Nggak tahu, terserah Mimi aja."


"Kok Mimi?"


"Dia yang pegang kendali sekarang."


"Oh, ..."


"Nah, itu bang. Pegelnya minta ampun. Seharian ini berdiri terus." Vania menurunkan lengannya, kemudian menunjuk betis kecilnya.


Arya mulai memijit bagian kaki yang di tunjuk gadis itu dengan lembut.


Vania menatapnya sambil mengulum senyum, merasa lucu melihat bagaimana pria pendiam ini begitu perhatian kepadanya. Namun kemudian tawanya pecah ketika Arya meremat ujung-ujung jari kakinya, dan membuatnya megeluarkan bunyi berderap dari tulang-tulang jari yang semula merenggang.


Arya bahkan menyentuh telapak kakinya dan memijitnya pula seperti yang selalu dia lakukan. Dan itu membuatnya merasa geli.


"Nggak mau!" Vania menarik kakinya.


"Diamlah!" Arya menahannya.


"Geli bang!" gadis itu kembali tertawa hingga kepalanya mendongak.

__ADS_1


"Belum selesai." Arya tetap menahannya seperti itu.


"Nggak mau. Stop!" gadis itu setengah berteriak, seraya bangkit dan menurunkan kakinya dari pangkuan pria itu.


Kemudian mereka berdua terdiam. Dan Arya memilih untuk merebahkan tubuhnya di sofa.


***


"Minggu depan abang pergi."


"Oh ya? kemana?" Vania menoleh.


"Peninjauan lokasi ke daerah. Ada jembatan roboh dan pemerintah setempat menyerahkan perbaikannya kepada tim Abang."


"Berapa lama?"


"Paling seminggu."


"Oh, ...tapi kenapa harus abang?"


"Tidak ada yang mau pergi."


"Kenapa?"


"Mereka punya banyak kepentingan. Pribadi, keluarga, dan hal lainnya. Tidak seperti abang yag masih sendiri." Arya tertawa getir.


"Ng ...


"Tapi hati abang tidak tenang."


"Kenapa?"


"Meninggalkan kamu disini."


"Cuma seminggu kan?"


"Iya."


"Nggak usah khawatir, aku pasti baik-baik aja."


"Itu pasti. Tanpa abangpun kamu bisa melakukan banyak hal sendirian, dan abang tidak khawatir soal itu. Abang cuma ..." Arya bangkit untuk menegakan tubuhnya.


"Mau tidak kalau minggu depan abang datang melamar kepada ibu kamu?"


"Hah? apa?" Vania terperangah.


"Minggu depan sepulangnya abang dari daerah abang mau kerumah kamu ya, dengan adik-adik?"


"Ng ..."


"Abang ajak nikah pasti kamu menolak lagi. Tapi kalau tunangan masa mau menolak?" Arya berujar.


"Abang mau hubungan kita ini benar-benar jelas. Tidak seperti ini. Maunya menikah, tapi jawaban kamu pasti seperti biasa. Jadi, ... ya sudah kita tunangan dulu. Kamu masih punya banyak waktu. Yang penting kita ada ikatan dulu."


Vania terdiam.


"Van?" Arya meraih tangannya kemudian merematnya dengan lembut.


"Ng ... cuma tunangan kan?"


"Iya."


"Nggak buru-buru nikah kan?"


"Tidak."


Vania menatap tangan yang tengah menggenggam tangannya itu, kemudian menatapa wajah Arya secara bergantian.


"Tunangan juga tidak mau?"


"Mm ... ya udah." melihat kesungguhan Arya gadis itu akhirnya menyerah.


"Benarkah?" pria itu tersenyum kemudian menariknya hingga mereka berdekatan.


"Tapi abis tunangn jangan maksa-maksa nikah lagi ya?"


"Iya."


"Bener ya? abang jangan bohong." Vania mengarahkan telunjuknya pada wajah pria disampingnya.


"Iya." Arya menjawabnya dengan senyuman.


"Janji."


"Iya, abang janji."


Masa bodoh, urusan menikah bisa dipercepat nanti. Batin Arya, dan dia tertawa dalam hati.


"Oke kalau gitu, nanti malam aku bilang sama ibu kalau minggu depan kita mau tunangan." Vania berujar.


"Baiklah, terimakasih." Arya mendekatkan wajahnya kemudian meraih bibir ranum Vania yang selalu membuatnya merindu, kemudian memagutnya seperti biasa.


"Abang, ..." gadis itu mendorong dadanya untuk menghirup udara sebelum kemudian melanjutkan cumbuannya.


Arya menarik pinggangnya sehingga tubuh mereka merapat, dan dia memperdalam ciumannya.


Mereka berdua terlena, dan dengan segera saling menyentuh. Arya bahkan mendorong tubuh Vania hingga mereka saling menindih diatas sofa. Tangannya mulai menyelinap dibalik kain yang melekat di tubuh gadis itu. Sementara Vania memeluk pundak kokohnya dengan erat.


"Vaniaa?" sebuah suara terdengar mendekat diikuti ketukan di pintu.


Keduanya tersadar, dan mereka saling melepaskan. Kemudian saling menjauh sambil membenahi pakaian yang berantakan.


"Iya?" Vania menjawab dengan suata bergetar. Dia mundur ke sudut sofa jauh dari kekasihnya.


Pintu terlihat di dorong dari luar kemudian terbuka perlahan.


"Aku ganggu nggak?" Mimi yang muncul kemudian.


"Nggak kok, kita cuma lagi ngobrol." jawab Vania, mencoba untuk setenang mungkin.


"Mau clossing?" Mimi bertanya.


"Emang udah sepi?" Vania melirik jam dinding, waktu memang sudah hampir malam.


"Udah. Rafa udah mulai beres-beres."


"Ya udah. Clossing aja. Jangan lupa catatan buat belanja besok."


"Oke." gadis itupun kembali menutup pintu.


Mereka terdiam, kemudian saling melirik. Dan tawa pun segera pecah dari mulut keduanya.


"Kayaknya pintunya harus pakai kunci ya, biar nggak ada yang nyelonong masuk." Vania terbahak-bahak.


"Jangan." Arya menggelengkan kepala.


"Kenapa?"


"Nanti kita benar-benar kebablasan." jawab pria itu.


"Ng ...


"Kalau mau, lebih baik kita menikah saja minggu depan?"


"Nggak! abang udah janji!" Vania menutup telinga dengan kedua tangannya.


"Baiklah, baiklah ... hanya tunangan saja." Arya meraih tangan itu.


"Tunangan aja dulu ya?"


"Iya."


"Oke."


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


cie cieeee ... yang bersemi-semi 😂😂😂


2690 kata nih gaes, masa kalian nggak mau like komen sama kirim hadiah yag banyak? 😉😉


kuy atuh kirim.


lope lope segudang 😘😘

__ADS_1



__ADS_2