
🌺
🌺
"Kamu mikirin apa sih dari tadi diam terus?" Arya mendekat setelah meletakan bayinya kembali ke box khusus yamg terletak tak jauh dari tempat tidur. Setelah banyak pertimbangan dan konsultasi dengan dokter, akhirnya mereka memindahkannya untuk satu ruangan bersama Vania.
"Aku mikirin namanya, waktu USG kan jenis kelam*nnya perempuan, nah ini yang keluar malah laki-laki. Masa yang aku kasih nama itu?"
Arya duduk disampingnya.
"Dedek bayi ngepranknya nggak tanggung-tanggung ya?" lanjut Vania, membuat pria itu terkekeh. Mengingat beberapa kejadian dramatis yang mereka alami diluar dugaan.
"Abang ada ide nggak?" dia mendongak ke arah suaminya.
"Apa ya? Abang juga hanya menyiapkan nama perempuan."
Vania terdiam lagi.
"Abi... Abidzar Algantara?" perempuan itu memiringkan kepala.
"Bagus juga." Arya tersenyum.
"Abang setuju?"
"Setuju."
"Oke, panggil aja Abi ya?"
"Baik."
"Oke Abi,... abis ini baik-baik ya? yang sehat dan nggak boleh ngepranknya lagi ya? kasihan mak Otor di omelin netijen gara-gara Abi." Vania tertawa sambil menutup mulutnya.
Kemudian seseorang masuk kedalam ruang pemulihan dengan terburu-buru.
"Ya Al?"
"Kak Anna ..." perempuan itu tampak tersengal-sengal.
"Anna kenapa?"
"Kak Anna juga udah lahiran." jawab Alena setelah menarik napas sebelumnya.
"Apa? sudah juga?" Arya bangkit dari duduknya.
"Iya."
"Kalau begitu... Abang mau melihat keadaan Anna dulu oke? kamu tidak apa-apa? Biar Alena disini...
"Nggak apa-apa kalau mau lihat Anna dulu. Aku mau tidur lagi aja." dia kembali merebahkan tubuhnya pelan-pelan. Dibantu suaminya yang memegangi bagian belakangnya hingga dia berbaring.
Kemudian mereka bergegas menuju ke ruang persalinan. Dimana beberapa orang tengah menunggu. Setelah itu Rendra tampak keluar dengan bayi dalam dekapannya.
"Bayinya perempuan. " katanya, dan dia segera mendapatkan ucapan selamat sebagai ayah baru.
"Bagaimana Anna?" Arya menyela diantara kerumunan.
"Dia baik-baik saja, sekarang sedang dibersihkan dan dirawat oleh dokter."
__ADS_1
"Oh, syukurlah." Arya mendekat dan dia mengulurkan tangannya untuk memeluk bayi yang baru saja dilahirkan itu. Tepat dua hari setelah bayinya sendiri lahir.
"Sepertinya dokter tertukar waktu memeriksa jenis kelam*nya ya?" dia menatap bayi perempuan itu dengan senyuman.
"Memang, ..." kemudian mereka semua tertawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu baik-baik saja?" Arya masuk ketika adik keduanya itu sudah selesai ditangani.
"Abang??" Anna merentangkan tangannya saat kakak laki-lakinya itu sudah dekat lalu mereka berpelukan.
"Selamat, kamu sudah menjadi seorang ibu... "
Anna menganggukan kepala, dan tiba-tiba dia menangis dengan kencang.
"Hey, ... Jangan menangis. Kamu selamat, bayimu juga selamat." Arya menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.
"Aku nggak bisa bayangin kalau jadi Vania. Begini saja sudah luar biasa. Apalagi aku lebih lama dari perkiraan. Aku pikir aku nggak akan selamat." racaunya, dan dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Tapi kamu selamat kan? kamu berhasil."
"Iya, ..." Anna terus saja terisak.
"Semuanya sudah lewat, dan kalian sama-sama selamat Ann."
"Hmmm...
"Sudahlah, sudah ..." pria itu terkekeh, namun juga menyeka sudut matanya yang basah. Rasanya memang sulit digambarkan.
Antara bahagia dan sedih yang bercampur jadi satu. Dirinya bahkan tidak bisa membedakan diantara keduanya karena memang sama-sma dominan.
"Iya abang."
🌺
🌺
Satu minggu kemudian. ...
Arya menurunkan travel bag dan beberapa tas keperluan bayi dari mobilnya. Lalu membawanya masuk kedalam rumah. Yang sudah di tata sedemikian rupa oleh ketiga adiknya. Untuk menyambut kedatangan si bayi ajaib, begitu mereka menyebutnya karena telah melewati fase yang langka dalam kelahirannya. Dimana kematian telah menyongsongnya, namun nyatanya Tuhan berkehendak lain.
Abidzar Algantara, menjadi satu diantara sejuta bayi yang lahir dalam kondisi prematur dan hampir dinyatakan meninggal namun dia kembali hidup setelah kedua orang tua mendekapnya dalam pelukan.
Sementara Vania berjalan pelan dipapah oleh Melly sejak dia turun dari mobil. Kondisinya yang masih rentan namun sudah tak tahan berada dirumah sakit membuat mereka meminta pulang, yang diizinkan oleh dokter dengan syarat tetap menjaga kondisi dan terus mengikuti anjuran yang diberikan oleh dokter.
"Nah, ... mulai sekarang kamu harus sangat hati-hati. Jangan membantah kalau dikasih tahu." Melly mendudukannya di sofa. Disambut tiga adik iparnya yang memang sudah menunggu disana.
"Iya bu."
"Iya iya tapi diulang terus?"
"Nggak akan lagi bu. Aku kapok."
"Iya, kamu harus kena batunya dulu baru nurut." omel sang ibu kepadanya.
"Arya, kan sudah ibu bilang kalau perlu dia diikat saja kalau tidak menuruti apa yang kamu bilang. Jangan dibiarkan seperti itu."
__ADS_1
"Iya bu, saya akan ingat." menantunya itu terkekeh.
"Iya iya, tapi kamu tidak berani memarahi Vania kalau dia berbuat salah."
"Tidak tega bu."
"Mulai sekarang harus tega. Demi kalian sendiri." perempuan itu terus mengomel.
"Iya bu."
"Sudah mengomelnya?" Harlan menyela percakapan.
"Aku tidak mengomel, hanya memberi nasihat kepada anak-anak."
"Sama saja."
"Beda Mas."
"Hmm ... tapi jangan terlalu keras, kasihan Abi terganggu mendengar neneknya mengomel." pria itu yang mendekap cucunya erat-erat. Seolah bayi mungil itu akan jatuh jika dia tak melakukannya.
"Dari pada ngomel, lebih baik nenek gantian gendong Abi. Kakek mau gendong Milan, kasihan papanya sudah ngomel-ngomel juga." dia menyerahkan bayi itu kepada Melly.
"Orang-orang udah ngumpul, dan acara doanya mau dimulai." Alya menghampiri mereka, dan benar saja, ruang tamu hingga ruang tengah sudah di penuhi oleh tamu yang sebagian besarnya ingin ikut mendoakan kelahiran dua bayi pada waktu yang hampir bersamaan itu.
Abidzar Algantara, putra dari Arya dan Vania, dan Ameera Nalendra, putri dari Rendra dan Anna.
Lantunan ayat-ayat suci segera menggema memenuhi ruangan. Mendoakan kebaikan dan keselamatan bagi semua orang, terutama dua keluarga yag baru saja dikaruniai bayi.
Kebahagiaan tentu saja dirasakan semua orang, dan tentu saja dua pasangan yang baru saja menjadi orang tua. Ucapan syukur tak pernah berhenti mereka lafalkan, karena telah memiliki segala kebahagiaan yang begitu sempurna ini. Tidak peduli seberapa sulit mereka sebelumnya, dan seberapa susah masalah yang dihadapi. Selalu saja ada jalan keluar dan penyelesaian terbaik dari semuanya.
Dan yang paling utama dari semuanya adalah kebersamaan mereka sebagai keluarga, yang tak dapat dipisahkan oleh masalah, dan tak dapat dipecahkan oleh keadaan.
Karena keluarga akan menjadi tempat pulang yang paling baik, yang tidak akan kita temukan dimanapun. Sejauh apapun kita pergi, keluarga akan selalu jadi tempat kembali.
🌺
🌺
🌺
Tamat.
Hai readers tersayang, kita sudah ada di penghujung episode novel Jodoh Untuk Abang. Terimakasih kepada kalian yang sudah mendukung dari awal hingga hari ini. Sungguh semua itu sangat berarti.
Terimakasih kritik dan saran yang selalu masuk setiap kali episode ini di update. Hal itu menjadi salah satu inspirasi untuk Author dalam menambah setiap episodenya dan memunculkan ide ide segar lainnya.
Mohon maaf jika banyak kekurangan karena author jelas tidak bisa memuaskan semua orang. Tapi yang berusaha author lakukan adalah berusaha memberikan yang terbaik untuk Semuanya.
Semoga kalian semua senang dengan akhir cerita ini.
Terimakasih.
Salam sayang dari Ayah dan Bunda Mochi
Juga Baby Mochi
__ADS_1