Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Bulan Madu


__ADS_3

🌺


🌺


Mereka tiba di sebuah villa pinggir hutan pada sore hari. Setelah jadwal keberangkatan dirubah pada pagi sebelumnya, dan memilih untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang dilewati dalam perjalanan. Cuaca mendung dan udara dingin mendominasi begitu semua orang turun dari mobil. Angin berhembus pelan namun mampu menelusup ke sela-sela pakaian, dan membuat mereka sedikit menggigil.


Vania menuju kamar di ujung dan meletakan travel bag berisi pakaiannya, juga milik Arya di sofa, kemudian menjatuhkan tubuh letihnya di tempat tidur tak jauh dari sana.


"Mandi dulu Van." Arya keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Menghampiri travel bag dan menarik pakaiannya dari dalam sana.


"Sebentar lagi, aku capek. Tanganku pegel, pinggang aku sakit." keluh Vania. "Alea berat banget, dia berapa bulan sih?" dia bangkit sambil memijit lengannya yang terasa pegal setelah hampir seharian menggendong balita berusia sembilan bulan itu, yang hampir tak mau lepas darinya, begitu juga Dilan yang tak mau menjauh dari suaminya. Sementara kedua orang tuanya asyik kesana kemari seperti dua remaja yang tengah berkencan.


"Kamu gendong dengan tangan kosong, jelas sakit." Arya menggumam.


"Dia nggak mau aku tatuh di stroller."


"Kan ada gendongan?"


"Oh, iya lupa." dia terkekeh, sementara Arya memutar bola mata.


"Kan udah aku sangka bakal begini? kalau pergi sama mereka tuh pasti kita kebagian ngasuh anak-anak." dia sedikit menggerutu.


Arya tergelak hingga wajahnya terdongak, "Anggap saja latihan." katanya.


"Latihan apa?"


"Latihan kalau kita punya anak."


"Kapan?"


Pria itu terdiam sejenak, lalu melanjutkan kegiatannya mengenakan pakaian.


"Ah, ... pinggang aku sakit!" keluh Vania lagi, kemudian kembali menjatuhkan dirinya keatas tempat tidur.


"Lagian, itu anak-anak kalau ada kita kenapa nggak mau sama orang tuanya sih? maunya sama kita melulu. Nggak kebayang kalau nanti anaknya kak Alya udah gede, atau kak Anna punya anak? pasti sama nempelnya. Enak orang tuanya, kita yang repot." ucap Vania, dengan jujurnya.


"Kalau merasa repot kenapa kamu terima waktu tadi Alena menitipkan anak-anak? padahal kalau ditolak dia juga tidak akan memaksa." Arya duduk di pinggir tempat tidur sambil mengusak rambutnya yang basah.


"Nggak tega abang." dia bangkit lagi.


"Emang abang tega, nolak anak-anak yang mau bareng kita? pas lihat wajah Alea sama Dilan hati aku luluh." dia memiringkan kepala.


"Nah, itu mengerti. Abang juga nggak bisa nolak mereka kan?"


"Iya makanya."


"Mandi dulu Van, nanti keburu malam." Arya melirik keluar jendela, dan memang waktu sudah petang.


"Nanti dulu ah, ... mau istirahat dulu." dia menaikan kakinya, kemudian kembali menghempaskan kepalanya diatas bantal yang nyaman itu.


"Mau tidur sekarang?" Arya menundukan tubuhnya disamping perempuan itu, setengah mengungkungnya dengan tangan yang dia lingkarkan di sekitarnya.


"Hmm ..." gumam Vania yang segera memejamkan mata. "Kalau keluar kamar lagi nanti anak-anak mau sama kita lagi." katanya, namun kemudian dia membuka mata saat merasakan hembusan hangat yang menerpa wajahnya. Dan wajah suaminya terpampang jelas beberapa senti darinya.


"Bulan madu yang aneh ya?" Arya terkekeh.


"Hu'um, ... ini sih bukan bulan madu. Tapi ...


Tanpa peringatan Arya telah meraih bibirnya, kemudian memagutnya dengan perlahan, namun segera membuat debaran di dadanya menggila.


Tubuh pria itu bahkan bergerak, dan kini dia sudah diatasnya. Mencumbumya semakin dalam, dan mulai menyentuh tubuhnya seperti biasa.


Napas mereka mulai menderu-deru, dengan dada yang naik turun. Dan Vania membiarkan saja Arya menyentuhnya seperti itu. Dia menikmatinya, dan memutuskan untuk tidak mengingat apapun.


"Abang?" terdengar gedoran di pintu yang seketika membuyarkan kegiatan yang mulai memanas tersebut.


"Hhah, ... bulan madu yang indah?" Vania segera melepaskan pertautan bibir mereka.


Arya hanya terkekeh.


"Abang?" pintu kembali di gedor dari luar.


"Ya?" pria itu bangkit dan membenahi pakaiannya, menarik selimut untuk menutupi tubuh setengah telanjang Vania, kemudian berjalan ke arah pintu.


"Ya Al?"


"Mau makan bareng? Vania mana?" dia mengintip dari celah antara daun pintu dan tubuh tinggi kakak laki-lakinya.


"Tidur." jawab Arya.


"Tidur?" Alena mengulangi kata-kata sang kakak.


Pria itu menganggukan kepala.


"Pasti kecapean seharian pegang anak-anak?"


"Begitulah." Arya menoleh ke belakang dimana sang istri yang diam tak bergerak dibawah selimut.


"Bangunin dulu gih, suruh makan. Nanti lanjutin lagi tidurnya." pinta Alena.


"Iya nanti. Memangnya kamu memasak?"


"Nggak. Order online." Alena tertawa.


"Hmm ...


"Ya udah sih, cepetan bangunin lagi. Aku tunggu di depan." perempuan itu memutar tubuh.


Arya menutup pintu, kemudian kembali ke tempat tidur dimana Vania berbaring.


"Van, bangun dulu. Makan." katanya, namum perempuan itu tak merespon.


"Van? ayo bangun. Kita makan, setelah itu baru tidur lagi." " ucap Arya lagi seraya menarik selimut yang menutupi tubuh Vania hingga ke kepala.


Dan ternyata istrinya itu telah terlelap begitu dalam, dengan dengkuran halus keluar dari mulutnya.


🌺

__ADS_1


🌺


Perempuan itu terbangun saat suasana sudah temaram di dalam kamarnya. Dan dia tak menemukam suaminya di sampingnya.


Vania bangkit dan menyugar rambut panjangnya, kemudian turun dari tempat tidur. Namun dia tertegun saat menyadari keadaannya yang setengah telanjang.


Haih, ... bulan madu katanya? mau mesra-mesraan aja banyak bener gangguannya? gumamnya dalam hati, lalu dia tertawa dan segera mengenakan pakaiannya.


Kemudian dia berjalan ke arah pintu, namun perhatiannya teralihkan ketika melihat keluar jendela yang tirainya tak tertutup rapat.


Sebuah kolam air panas di sisi bangunan yang mengepulkan asap tipis di udara.


"Hebat bener." gumamnya lagi.


***


Vania mendapati ruang depan sepi pada hampir larut itu, hanya Arya yang dia temukan duduk santai di sofa depan televisi yang menyala.


"Tumben sepi? orang-orang udah pada tidur ya?" dia berhenti di belakang sofa.


Arya memutar kepalanya, dan dia menemukam sang istri dalam keadaan berantakan.


"Mereka pergi." jawab pria itu yang kembali menatap layar televisi yang menampilkan acara komedi malam minggu.


"Pergi kemana?" Vania datang menghampirinya, kemudian duduk disampingnya.


"Ciater." Arya melipat kedua tangan di dada.


"Ciater?" Vania membeo.


"Kok nggak ngajak?"


"Kamunya tidur tadi. Sudah menunggu dua jam nggak bangun-bangun?"


"Masa? aku tidur selama itu?"


"Hmm ..."


"Terus abang nggak bangunin aku?"


"Abang nggak tega."


"Hmm ... jadi kita jaga villa lagi nih?" Vania bersedekap. Rasa sebal tentu saja menguar di dalam hatinya.


"Mau menyusul mereka ke Ciater?" tawar Arya.


"Ogah ah, udah malam. Jam segini disana udah penuh kali?" tolak Vania.


"Ya, siapa tahu kamu mau menyusul, biar kita nggak cuma jaga villa."


"Nggak. Lagian kenapa mesti pergi ke Ciater sih, orang disini juga ada kolam air panas? mereka suka ngaco deh?"


"Hah, masa?" Arya menoleh.


"Abang nggak tahu ya, di samping villa kolam renangnya air panas?"


"Hmm ..." Vania mengangguk.


"Kak Hardi kayaknya udah kebanyakan duit nih, bukannya manfaatin fasilitas villa yang udah dia bayar, tapi malah pergi ke tempat lain dengan fasilitas sama, tapi harus bayar lagi. Bukan main!" dia menggelengkan kepala.


Arya hanya tertawa.


Vania bangkit dan segera berlari ke kamar. Beberapa menit kemudian keluar dengan hanya memakai jubah mandi, yang dia ikat secara asal membuat belahan dadanya terekspos dengan jelas.


"Kamu mau apa?" Arya mendongak.


"Berendamlah, apa lagi? mumpung gratisan, bisa sepuasnya lagi."


"Diluar dingin Van." Arya berujar.


"Kan airnya hangat?" dia melenggang ke arah pintu samping, namun sesaat kemudian langkahnya terhenti sebelum ia menginjak teras.


"Abang mau ikut?" dia menoleh.


Arya tertegun, namun di detik berikutnya dia menyeringai saat suatu ide gila melintas di otaknya.


"Ikut. Mumpung nggak ada orang." diapun bangkit dari sofa, dan mengekori istrinya.


***


Suasana malam yang begitu hening di tempat itu, selain binatang malam dan serangga hutan tak ada lagi yang terdengar. Membuat keadaannya terasa begitu syahdu.


Udara semakin malam semakin dingin, malah cenderung berkabut, namun di dalam kolam terasa semakin hangat ketika dua insan bercumbu mesra. Memanfaatkan keadaan yang kian sepi karena beberapa penghuninya belum juga kembali.


"Abang ih!!" protes Vania saat cumbuan pria itu mulai tak terkendali. Napasnya terengah-engah dan dia hampir kehilangan kesadarannya.


Namun Arya hanya tersenyum jahil.


"Nanti ada yang pulang gimana?"


"Tidak akan." bisik Arya, yang kemudian mengecupi telinga dan turun ke lehernya. Kedua tangannya mengurung tubuh Vania di pinggir kolam.


"Masa?" perempuan itu mendorong dada suaminya untuk menghentikan aksinya.


"Iya."


"Yakin bener?" Vania menahan pria itu yang akan kembali mencumbunya.


"Mereka tidak akan pulang, jalanan di Ciater macet parah, dan mereka tidak bisa keluar dari pemandian."


"Terus?"


"Mereka menginap di villa terdekat." pria itu menyeringai.


Vania terdiam.


"Jadi, ... sepertinya ... bulan madu ini tidak akan ada yang mengganggu?" Arya berbisik kemudian menggigit cuping telinga Vania hingga membuat tubuh perempuan itu mengejang.

__ADS_1


Arya terkekeh.


"Abang curang." dia bergumam.


"Curang apanya?"


"Nggak kasih tahu aku kalau mereka nggak akan pulang. Aku jadi deg-degan."


Pria itu tersenyum.


"Jadi, ... mau disini?" Arya berbisik lagi, kali ini dia mengecup lembut area telinga hingga ke tengkuk Vania.


"Ap-apanya?" ******* hampir saja lolos dari mulut perempuan itu saat dia merasakan sensasi gila dari sentuhan suaminya.


"Lanjutan malam pertamanya?" Arya semakin merapatkan tubuh mereka berdua.


Vania mengulum bibirnya saat merasakan tangan dibawah sana menyentuhnya dengan nakal. Arya baka hampir saja melepaskan pakaian renang yang menempel di tubuhnya.


"Ngh ... abang?" Vania mengnentikan gerakan tangannya.


"Ya, sayang?" pria itu melirik, dan manik kelamnya sudah begitu berkabut, pikirannya sudah melanglang buana entah kemana.


"Di ... di dalam aja." bisik Vania, yang melepaskan rangkulan Arya ditubuhnya, kemudian menggenggam tangannya, lalu menarik pria itu keluar dari dalam air.


Tubuh basah keduanya mengalirkan air hangat dari kolam, meninggakan jejak hingga ke pintu kamar. Vania menuntunnya masuk, dan pria itu mengikutinya seperti orang lingkung, tak mampu lagi membedakan debaran di dada yang kian menggila.


Menatap kulit tubuh perempuan itu dibawah lampu yang benderang di langit-langit kamar, dalam balutan pakaian renang basah yang menggoda. Arya hampir saja kehilangan akal.


Gairahnya menanjak begitu saja, dan perasaannya mulai meletup-letup dengan hebatnya.


Pria itu segera menangkapnya dari belakang untuk melanjutkan cumbuan yang sempat tejeda. Dia menyentuh segalanya dengan begitu bebas, menciumi pundak dan tengkuknya dengan begitu ganas. Lalu menarik wajah Vania agar dia mampu meraih bibir menggiurkan milik istrinya itu. Sementara tangannya berusaha melepaskan pakaian renang yang masih menempel.


Arya memutar tubuh Vania, kemudian kembali mencumbunya dengan penuh hasrat, dia jelas sangat-sangat menginginkannya. Sama seperti malam-malam yang mereka lewati berdua sejak awal pernikahan.


Dia menggiringnya hingga Vania terjatuh ke tempat tidur, dan jelaslah semua dalam pandangannya.


Tubuh muda yang indah, kulit yang mulus, dada ranum yang menggoda, dan bagian itu yang selalu mengganggu pikirannya sejak kegagalan malam pertama mereka.


Vania tak melepaskan pandangan dari pria itu. Dia yang masih berdiri menjulang di samping tempat tidur sudah dalam keadaan telanjang sama seperti dirinya. Mereka saling memindai satu sama lainnya. Dengan wajah yang merona menaha malu, namun mereka jelas sangat saling menginginkan satu sama lainnya.


Arya segera mengungkung tubuh perempuan itu dibawahnya. Dan merasakan kulit mereka yang saling menempel dengan erat. Rasa hangat tentu saja menguar begitu saja dan mereka sama-sama menunggu.


Vania menarik pundaknya, dan segera setelah itu, cumbuan kembali terjadi. Mereka saling menyentuh, dan saling membelai. Sama-sama merasakan kehangatan yang tercipta dari sentuhan itu.


Dada mereka menempel dengan erat, menghasilkan debaran yang seirama.


"Vania, ... apa kita bisa melakukannya sekarang?" Arya melepaskam bibirnya dari leher jenjang itu.


Vania mentapnya dengan mata sayu, dia juga jelas sudah sangat menginginkan suaminya untuk berbuat lebih.


Kemudian Vania mengangguk.


Arya bangkit, bersamaan denga Vania yang menyiakan diri. Dia mengusap paha perempuan itu dengan lembut, dan kemudian bersiap melakukannya.


Arya tak melepaskan pandangannya dari perempuan di bawah saat dia mulai membenamkan diri. Pria itu berusaha melakukannya dengan perlahan dan hati hati.


Vania merintih saat rasa sakit mulai hadir di bawah sana. Membuat Arya berhenti. Dadanya naik turun dengan napas yang tersengal, namun terlihat begitu menggoda dimata suaminya.


Arya kembali mendorong perlahan, dan rintihan itu kembali keluar dari mulut Vania.


"Kamu mau berhenti?" pria itu bertanya.


(Jangaaaaaaan!!!!! emak-emak berteriak)


Sementara Vania terdiam.


"Kamu mau abang berhenti?" ulang Arya.


Namun diluar dugaan, perempuan itu menggelengkan kepalanya. Vania mengatur napas, kemudian kedua tangannya dia ulurkan untuk menarik pinggang Arya. Sedikit mencengkeramnya untuk menahan rasa sakit yang mulai kembali muncul.


Pria itu mendorong sekaligus saat setengah dari alat tempurnya sudah masuk, dan merasakan sesuatu yang terkoyak di dalam sana. Lalu dia kembali terdiam.


Vania merintih keras ketika benda di bawah sana menerobos inti tubuhnya, dan dia mengejang ketika bagian terdalam dirinya yang dijaga selama ini telah diambil oleh suaminya. Lalu dia juga terdiam, sama seperti Arya, yang merasakan denyutan hebat di pusat tubuh mereka. Kedua pasang mata itu saling menatap, dengan perasaan bahagia yang membuncah, mereka saling merasakan kehangatan yang segera menyebar ke segala arah.


Sesaat setelah itu, insting alami mereka mulai bekerja, menggerakan keduanya untuk saling merasakan. Arya mulai berpacu perlahan, sambil terus menyesuaikan dirinya di dalam sana.


Rintihan terus keluar dari mulut Vania hingga beberapa saat, ketika rasa sakit terus menjalar di pangkal pahanya. Namun dia tak mau berhenti, dan hal ini harus mereka tuntaskan dengan segera.


"Abang?" rintihannya mulai berubah menjadi des*han, dan tanganya menggapai-gapai tubuh diatasnya, yang tengah berpacu mengikuti insting, mengejar perasaan indah yang perlahan dia rasakan.


Dan bermenit-menit berikutnya, ruangan terang itu segera dipenuhi oleh suara percintaan, sesekali rintihan masih terdengar, namun des*hanlah yang lebih mendominasi.


Aura panas terus menguar memenuhi udara, dan hasrat mereka semakin kentara. Gairah yang semakin menggebu-gebu manguasai akal sehat dua insan yang dimabuk asmara tersebut. Membuat mereka terus berpacu mengejar rasa itu, yang semaikin lama semakin indah, semakin menyenangkan dan semakin ... nikmat?


Vania menjengit, dan pelukannya semakin dia eratkan di tubuh yang otot-ototnya semakin lama semakin mengencang itu. Sesuatu di dalam dirinya mendesak begitu hebat, dan dia baru pertama kali merasakannya.


"Abang?" dia memanggil saat rasa itu menerobos keluar.


"Ya sayang?" jawab Arya, yang mati-matian menahan diri, namun tampaknya dia gagal. Karena suara des*han Vania jelas membuatnya kehilangan akal. Hentakan tubuhnya mulai tak terkendali, dan dia mulai berpacu kencang.


Vania semakin mengeratkan rangkulan tangannya saat dia merasakan ledakan hebat di dalam dirinya, yang segera menyebar ke segala arah, seiring dengan lenguhan keras yang lolos dari mulutnya. Diikuti tubuh berkeringatnya yang bergetar hebat.


Sementara Arya mempercepat hentakannya, lagi-lagi mengikuti insting alaminya untuk mengejar pelepasan. Yang setelah beberapa saat diapun merasakan dirinya meledak. Arya menekan begitu keras saat sesuatu memancar dibawah sana, diikuti geraman rendah di ceruk leher Vania.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ....


Keterlaluan nih kalau episode ini nggak tembus tiga ribu like sama seribu komen 😜😜


jan lupa kirim hadiah yang banyak juga 🤣🤣🤣


__ADS_1


__ADS_2