
🌺
🌺
Arya masuk kedalam kamarnya setelah beberapa saat, dan mendapati perempuan itu yang tengah terisak di tepi ranjang. Pria itu mendekatinya kemudian berjongk di depannya, dan sebelah tangannya bertumpu pada tempat tidur.
"Kamu ini kenapa? abang bingung dengan sikapmu yang seperti ini?"
Vania semakin terisak.
"Abang salah apa?" dia meraih tangan perempuan itu.
"Abang nggak peka! Huhu.... " isakannya berubah menjadi tangis.
"Nggak peka soal apa? abang ini bukan dukun yang bisa tahu satu masalah tanpa kamu mengatakannya."
Namun tangis Vania semakin keras.
"Vania, ...kesalahan Abang apa? kamu membuat abang bingung."
"Aku kesel lihat abang ngobrol sama kak Hanna!" akhirnya kalimat itu meluncur juga dari mulutnya, membuat Arya tertegun dengan kening berkerut.
"Aku kesel lihat abang ketawa-ketawa sama kak Hanna, aku bete, rasanya aku mau marah-marah!" racaunya, seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada ayahnya.
"Kamu, bersikap seperti ini karena Hanna?"
Vania menganggukan kepala, seraya mengusap wajah dengan punggung tangannya untuk mengeringkan air mata yang entah mengapa terus mengalir deras.
"Kenapa?" lanjut pria itu tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Kenapa abang bilang?" Vania meninggikan suaranya.
"Kak Hanna Kan mantan pacar abang?" suaranya melengking.
"Ya, lalu?" Arya semakin mengerutkan dahi.
"Aku nggak suka kalau abang ngobrol sama kak Hanna."
"Astaga, Vania!" pria itu mengusap wajahnya kasar.
"Aku nggak suka abang ketemu dia, aku nggak suka abang ngobrol sama dia, apalagi sampai ketawa-ketawa kayak tadi, aku nggak suka!" dia berteriak.
Arya terdiam sebentar menatap wajah istrinya yang sudah berantakan. Make up luntur, mascara meleleh dan bulu mata palsu yang sudah terlepas dari tempatnya.
"Kamu cemburu?" ucapnya kemudian.
Vania tak menjawab, namun dia kembali terisak.
"Kamu cemburu kepada Hanna?" ulang pria itu.
"Dasar abang nggak peka!" Vania bergumam.
"Kamu, cemburu kepada orang yang salah." ucap Arya, yang kemudian bangkit dan berdiri.
"Sikap kamu kekanak-kanakan." pria itu bersedekap.
"Kok kekanakan?"
"Ya iya, ... kamu bersikap seperti anak kecil. Salah sangka dan cemburu buta."
"Abang kok ngomongnya gitu?"
"Terus abang harus bagaimana? itu kenyataannya."
"Ya apa kek, minta maaf gitu?"
"Kenapa abang harus meminta maaf?"
"Kok kenapa?"
"Abang tidak melakukan kesalahan, kenapa abang harus meminta maaf?"
Kini Vania yang mengerutkan dahi, dan dia menghentikan isakannya.
"Abang nggak mau jelasin apa gitu sama aku?"
__ADS_1
"Apa yang harus abang jelaskan? tidak ada yang harus dijelaskan. Kami disana hanya mengobrol, tidak ada hal lain. Hanna bahkan datang bersama suaminya, dan kami tidak hanya mengobrol berdua, kami bertiga membicarakan banyak hal. Jadi, bagian mananya yang harus abang jelaskan?"
Vania terdiam.
"Abang tidak mau berdebat tentang masalah ini, karena tidak seharusnya juga kita berdebat soal hal tidak penting. Hanna memang mantan pacar abang, dan itu terjadi jauh sebelum kita bertemu. Kenapa itu harus menjadi masalah bagimu? Hubungan kami berakhir baik makanya bisa bersikap baik juga, apa masalahnya? dia bersama suaminya, bahkan ada dua anaknya juga."
Perempuan itu bungkam.
"Ada masalah yang harus di bahas dan dijelaskan, tapi ada juga hal yang tidak penting untuk dibicarakan. Dan abang tidak mau membahas masalah ini."
"Abang juga bisa mengalah dan meminta maaf untuk banyak hal kecil yang membuatmu merasa tidak nyaman, tapi tidak untuk yang satu ini, abang tidak merasa melakukan kesalahan. Jadi... terserah kamu saja, mau marah-marah, kesal atau apapun."
"Sikapmu ini terlalu kekanak-kanakan." pria itu mundur kemudian masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
🌺
🌺
Raja melepaskan pakaiannya, sama seperti yang sudah dia lakukan terhadap Cindy yang kini berada dibawah kuasanya, menanti dirinya melakukan hal lebih.
Dada mereka berdegup kencang dengan napas menderu-deru, dan hasrat telah menguasai segalanya. Mengaburkan akal dan pikiran keduanya, membimbing mereka untuk segera mengarungi lautan asmara yang kian menggelora, berbagi napas dan rasa yang sama, yang telah dinantikan sejak lama.
"Ah, ... pak Raja?" Cindy mencengkeram pundak pria diatasnya saat dia membenamkan miliknya dengan tak sabar. Rasa sakit tentu saja menjalar seketika saat sesuatu dibawah sana menerobos bagian terdalam dirinya.
"Kenapa kamu masih memanggil Pak? aku suamimu sekarang?" Raja berbisik dengan nada gemas.
"Ngh... " Cindy mengerang saat pria itu menghentak, dan rasa sakit kembali menguasainya.
"Sakit pak, ng... mas." rintihnya dalam suara pelan. Keningnya menjengit menaha rasa sakit namun tatapan sayunya tetap tertuju pada wajah suaminya.
Raja menggigit bibirnya keras-keras, Dia tak mampu menahan perasaan yang terus menguasainya.
"Sayang, ... panggil sayang mulai sekarang." bisiknya.
Matanya semakin berkabut, menatap tubuh telanjang dibawahnya membuatnya segera kehilangan akal. Dia terus bergerak dan mulai memacu dirinya sendiri. Menulikan pendengaran dari racauan perempuan dibawahnya yang terus merintih-rintih. Yang lama kelamaan rintihan tersebut perlahan berubah menjadi des*han erotis yang semakin membakar gairah di dadanya. Raja semakin merasa tak sabar.
Hingga setelah berpacu beberapa lama akhirnya dia tiba diujung, bersamaan dengan tubuh perempuan itu yang mengejang diikuti lenguhan dan cengkeraman keras pada punggungnya. Sementara dirinya menghujamkan miliknya begitu dalam pada Cindy yang hampir meneriakan namanya.
🌺
🌺
"Kenapa jadi dia yang marah? kan yang ngobrol sama mantan dia. Harusnya aku dong?" Vania bergumam saat dia berpikir soal penyebab suaminya merajuk.
Dia kemudian menyusuri tiap ruangan di rumah yang tidak terlalu besar itu, namun tetap tak menemukan keberadaan Arya.
"Ish, ... kenapa jadi kebalik kayak gini?" gerutunya.
Namum langkahnya terhenti tepat di depan ruang kerja pria itu yang sedikit terbuka. Dan Vania memutuskan untuk masuk. Benar saja, suaminya berada disana sedang terbaring diatas sofa tak jauh dari alat gambar miliknya.
Vania tetegun, lalu dia melirik ke arah kertas bergambar sketsa rancangan sebuah bangunan. Dengan angka-angka dan tulisan yang tak dia mengerti.
Tapi satu hal yang menarik perhatiannya, sebuah tulisan 'Kedai Vania' cukup mencolok pada gambar bagian depan sebuah gedung yang belum jelas bentuknya.
Kemudian dia melirik lagi ke arah suaminya yang terlelap, kemungkinan dia sudah lama tertidur disana, terdengar dari suara dengkuran halus yang keluar dari mulutnya.
Vania mendekat, lalu duduk di sisi sofa dimana Arya berbaring. Dia menatap wajah suaminya lekat-lekat.
"Jadi, ... yang tadi itu aku kekanak-kanakan ya?" dia bergumam.
"Nggak gitu, aku cuma nggak suka abang akrab sama perempuan lain."
"Aku nggak cemburu ih, aku cuma nggak suka."
Vania bermonolog.
Dia menundukan wajahnya ke dekat wajah Arya, sehingga jarak mereka kini hanya beberapa senti saja.
"Abang nggak ngerti perasaan aku." dia berbisik.
"Itu namanya cemburu." pria itu bergumam, yang membuat Vania hampir melonjak karena terkejut.
"Abang?"
Arya membuka mata, dan mengunci wajah diatas dengan pandangannya.
__ADS_1
"Kamu cemburuan dan kekanakan." dia berujar.
Arya hampir saja bangkit sebelum akhirnya gerakannya terhenti saat Vania menghambur kepelukannya, hampir menindihnya dan membuat dia kembali berbaring di sofa.
"Maaf, ..." katanya kemudian.
"Kenapa minta maaf? kamu salah apa?" pria itu dengan suara datarnya.
Vania terdiam, dan dia membenamkan wajahnya di dada suaminya.
"Jangan kotori pikiranmu dengan hal-hal tidak penting. Atau itu akan membuat hidup kita bermasalah. Rumah tangga kita seharusnya baik-baik saja, karena masa lalu kita pun sama-sama baik. Jangan merusaknya dengan hal sepele." dia merangkul tubuh perempuan itu dengan erat.
Vania menganggukan kepala.
"Aku salah ya?"
"Menurut kamu?"
"Aku kan kesal lihat abang ngobrol akrab sama kak Hanna ..." perempuan itu mendongak dan menatap wajah datar suaminya.
"Eh, ... aku salah. aku minta maaf." lanjutnya kemudian dengan suara lemah.
"Terus apa abang harus menghindar kalau ketemu Hanna? dia itu kakaknya Hardi, dan kakak iparnya Alena. Akan sangat aneh rasanya kalau abang menghindari dia. Kami tidak ada masalah apapun dimana lalu."
Vania kembali terdiam.
Benar juga. Batinnya.
Arya balik menatapnya, dan sebuah senyuman terbit di sudut bibirnya.
"Jangan diulangi. Tapi mungkin abang tidak akan bisa menghindari dia atau siapapun karena kita pasti akan bertemu banyak orang. Sama seperti kamu yang bekerja dan bertemu berbagai macam pelanggan kedai. Coba posisinya dibalik, apa abang perlu juga bersikap seperti itu?"
"Eh, jangan. Kan itu kerjaan aku."
"Makanya. Sama juga seperti abang."
"Iya, maaf lagi. Aku salah." Vania mengulang kata-katanya.
"Tidak apa-apa, kamu dimaafkan. Untung abang sayang." Arya semakin mengeratkan pelukannya. Kemudian dia mengecup kening perempuan itu dengan penuh perasaan.
Pria itu kemudian menarik wajahnya, dan segera mempertemukan bibir mereka berdua, lalu memagutnya dengan debaran di dada yang mulai menggila.
"Abang, ...udah subuh... " Vania menghentikan cumbuan yang berlangsung semakin jauh.
"Lalu? Memangnya kenapa?"
"Ng... " Vania tertegun.
"Bukannya kamu mau punya bayi selucu Alea?" Arya berucap, dengan senyuman yang hampir terbit lagi di bibirnya.
"Abang ih, ..." perempuan itu menepuk dadanya agak keras.
Arya tertawa hingga wajahnya terdongak keatas.
"Belum datang bulan kan? ayo, siapa tahu kali ini jadi?" tahunya, yang membuat pipi Vania merona.
"Gimana kalau nggak? terus aku malah datang bulan lagi?"
"Tidak apa-apa. Kita berusaha lagi setelah kamu selesai."
Vania mengulum bibirnya kuat-kuat.
"Ayo, sayang?" pria itu bangkit lalu meraup tubuh semampai istrinya, untuk kemudian dia bawa kelantai atas dimana kamar mereka berada. Melakukan kegiatan yang memang seharusnya dilakukan, dengan harapan menghasilkan sesuatu yang sangat mereka berdua inginkan.
🌺
🌺
🌺
Bersambung...
ah, bagus... jan lama-lama kalau ngambek tuh Dosa Yakan 😜😜
Biasa, like komen sama hadiah juga vote nya aku tunggu banget.
__ADS_1
lope lope sepabrik 😘😘😘