
🌺
🌺
Pesta berlangsung begitu meriah, dan semua orang menikmatinya tanpa terkecuali. Terutama pasangan mempelai yang kini telah sah menjadi suami istri. Wedding singer melantunkan banyak lagu yang enak di dengar diiringi pemain instrumen yang dengan apiknya memainkan alat musik mereka.
Beberapa orang penting hadir, dan mereka tak melewatkan kesempatan itu untuk berfoto ria dipelaminan. Dengan semangat yang sama untuk menjadi bagian dari hari yang sangat istimewa dan membahagiakan itu.
Arya bahkan beberapa kali dipanggil untuk berfoto bersama pengantin dan beberapa kolega yang dia kenal sejak bekerja di perusahaan milik Harlan itu.
"Sibuk pak?" ucap Vania saat suaminya turun dari panggung pelaminan setelah beberapa kali memenuhi panggilan si pengantin pria dan ayahnya.
"Begitulah...
"Abang kayaknya terkenal deh?" perempuan itu masih memegangi balita adik iparnya yang tidak mau lepas darinya.
"Terkenal apanya?"
"Tuh, ... dari tadi banyak yang nyapa? dipanggil terus juga sama Kak Raja atau Om Harlan kalau ada tamu?"
"Koleganya Pak Harlan, yang belum Raja kenal."
"Tapi abang kenal?"
"Ya, ... sebagian."
"Udah kayak anaknya Om Harlan aja abang ini?"
"Kamu tidak tahu ya, kalau abang ini anak pertamanya Pak Harlan." Arya mencondongkan tubuhnya ke arah depan.
"Masa? beneran?"
"Hmm... " Arya menjawab dengan gumaman.
"Abang bohong!" ucap Vania setelah terdiam beberapa saat, dan dia menatap wajah suaminya yang hampir tersenyum.
Dan tawa pun pecah dari mulut pria itu.
"Kan, abang bohong!"
"Ya, ... tapi banyak Koleganya Pak Harlan yang mengira begitu."
"Iyalah, ... Om Harlan apa-apa sama abang. Kak Raja aja sampai salah sangka kan?"
"Hmm...
"Sekarang udah damai kan?"
"Sudah."
"Baguslah. Lucu aja kalau misalnya nggak damai. Papanya sendiri yang salah, kok dia yang marah-marah?"
Arya pun terkekeh.
"Alea mamamnya udah?" Vania beralih kepada balita itu yang menutup mulutnya rapat-rapat, dan menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya Alea sudah kenyang? dari tadi kamu memberi dia makan?"
"Biar nggak rewel, dan nggak ingat mamanya. "
"Lho, kenapa?"
"Ya biar dia anteng sama kita." katanya, lalu tertawa.
"Dasar, ...
"Kasihan tahu, Alena mondar-mandir ngikutin Dilan. Dia kerepotan."
"Ada Hardi."
"Kak Hardi sibuk." mereka menoleh ke arah pria yang dimaksud, yang tengah menerima tamu yang juga dikenalnya. Beberapa orang seperti teman satu kampus saat mereka kuliah dulu.
"Biarin juga lah, Alea sama kita dulu."
"Terserah kamu saja, kalau tidak capek."
"Nggak. Aku seneng kalau ada Alea, abisnya dia imut banget. Jadi pengen punya satu aja, eh... "
__ADS_1
"Hmmm...
"Mau yang kayak Alea, nanti ya?" Vania memiringkan kepalanya, dengan senyum yang dibuat seimut mungkin.
"Susah." Arya mengulum senyum. Kedua pipinya bahkan mulai merona saat melihat tingkah perempuan itu.
"Masa?"
"Ini juga belum jadi? kamu malah minta yang seperti Alea?"
"Makanya aku pegang Alea terus. Siapa tahu nanti mirip dia. Kan kata orang tua gitu."
"Jangan lah...
"Kenapa?"
"Kalau mirip Alea berarti mirip Alena sama Hardi. Nah, bagian mananya yang mirip abang?"
"Oh iya, ... nanti nggak mirip kita ya?"
"Itu kamu mengerti?"
"Kalau gitu aku maunya mirip kita, tapi selucu Alea. Oke sayang?" perempuan itu menciumi wajah bocah perempuan yang tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan dua orang dewasa ini, tapi dia tertawa dengan suaranya yang lucu.
"Arya?" suaran yang terdengar asing menginterupsi kebersamaan pasangan ini di sela pesta. Yang segera menyita perhatian keduanya dari balita lucu yang selalu menempel itu, lalu mereka menoleh bersamaan.
Seorang perempuan sebaya Arya dengan seorang bayi mungil dalam dekapannya, bersama seorang pria yang berpenampilan rapi menggandeng anak perempuan cantik.
"Hanna? Bram?" pria itu segera menyapanya. "Kalian kesini juga?"
"Yeah, ... begitulah. Tadinya kami tidak akan datang, tapi... ini pernikahan sahabatnya Hardi, rasanya tidak enak juga kalau kami tidak datang." Hanna berujar.
"Memang, ..." jawab Arya dengan senyuman manisnya.
"Boleh kami duduk disini? semua tempat sudah penuh." Bram menyela, dan dia menunjuk tempat kosong di dekat pasangan tersebut.
"Oh, Silahkan. Kebetulan tempatnya juga kosong." ucap Arya, kemudian mereka yang baru tiba itu menduduki tempat tersebut.
"Apa kabar Vania?" Hanna menyapa perempuan di samping Arya, yang dia kenali sebagai sahabat dari adik iparnya.
"Baik kak." jawab Vania, yang mencoba bersikap ramah, walau entah kenapa perasaannya tiba-tiba terasa tak sebaik sebelum kedatangan Hanna dan suaminya.
"Ya, ... begitulah." Arya menjawab.
"Aku tahu dari Alena waktu mereka ke Jakarta. Kenapa tidak mengundang aku? padahal aku menunggu saat-saat seperti itu lho." Hanna berbicara dengan begitu cerianya, dan dia tak terlihat canggung sedikitpun.
"Nikahannya dadakan kak." Vania menjelaskan.
"Oh ya? masa?"
"Iya."
"Oh iya, aku dengar kamu juga mengalami kecelakaan di lokasi?" Bram menginterupsi.
"Ya."
"Ah, soal itu juga. Terus Sekaramg bagaimana keadaan kamu?" Hanna menimpali.
"Sudah baikan."
"Syukurlah."
"Resiko kalau turun ke lapangan ya?" Bram berucap, kemudian dia terkekeh.
"Begitulah, ... tapi itu memang pekerjaan kan?" Arya mengamini.
"Ya, ... menjalankan profesionalitas. "
"Betul." lalu mereka tertawa bersamaan.
"Mmm... aku ke Alena dulu ya? kayaknya Alea mau sama mamanya deh." Vania bangkit, dan segera pergi tanpa mendengar jawaban dari orang-orang di depannya. Menuju ke tempat sahabatnya berada seperti yang dikatakannya barusan.
"Aku nggak nyangka kamu sama Vania." Hanna berucap selepas kepergian perempuan muda itu.
"Aku juga tidak menyangka akan menikah dengan dia." jawab Arya, diikuti tawa yang begitu renyah.
"Tapi bagus juga, kalian kelihatan serasi." puji Hanna kepadanya.
__ADS_1
"Benarkah?"
"Yaa... kamu pendiam, sedangkan dia periang."
Arya terdiam.
"Dan kalian sama-sama pejuang. Dan itu yang membuat kalian menjadi sangat cocok." sambung Hanna, kemudian tersenyum. Dia ingat seperti apa kehidupan pria itu dulu.
Dan obrolan ringan pun mengalir dari ketiga orang yang baru saja bertemu tersebut. Tentang pekerjaan, tentang kehidupan masing-masing, dan tentang hal-hal remeh lainnya. Diselingi gelak tawa yang silih berganti saat mereka bertukar pengalaman.
"Aku mau pulang, aku capek." Vania tiba-tiba saja muncul dengan wajah tertekuk.
"Kenapa?" Arya mendongak, padahal istrinya itu begitu bersemangat sejak pagi untuk menghadiri acar pernikahan tersebut.
"Aku capek." Vania mengulang kata-katanya.
"Alea?" Arya mengedarkan pandangannya.
"Udah sama namanya." jawab perempuan itu yang meraih tas kecil miliknya diatas meja.
"Tapi acaranya belum sele...
"Aku mau pulang sekarang, kalau abang masih mau disini nggak apa-apa. Aku Order taksi online aja." dia merogoh ponsel didalam tas kecilnya.
"Hah? baiklah, ayo kita pulang?" Arya segera bangkit. "Abang pamitan dulu kepada Raja."
"Aku tadi udah, sama Alena dan yang lainnya juga."
"Ng... baiklah, ayo pulang." Arya bersiap untuk pergi. "Kami... pulang dulu Hanna, Bram." pamitnya kepada dua orang yang menyimak percakapan tersebut.
"Ya, baik." jawab mereka bersamaan.
Kemudian Arya segera mengikuti langkah istrinya yang sudah mendahuluinya menuju ke arah pintu keluar. Dia tampak berjalan tergesa dengan wajah cemberut.
"Kamu kenapa? ada masalah?" Arya menarik lengannya, berusaha menghentikan langkah Vania yang sedikit tergesa.
"Aku mau pulang, kan udah aku bilang aku capek!" jawabnya, setengah gusar.
"Kamu aneh, tiba-tiba bersikap seperti ini."
"Abang yang aneh?" jawabnya dengan suara sedikit melengking.
"Kok abang?"
"Ya, ... abang aneh, sama mantan kok akrab bener?" akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutnya, setelah melihat interaksi dua orang tersebut di dalam sana, yang tak terlihat canggung sedikitpun ketika mereka saling menyapa dan bercakap-cakap. Keduanya bahkan mampu tertawa bersama-sama dan membicarakan banyak hal. Dan entah mengapa hal tersebut membuatnya merasa begitu kesal.
"Maksudnya?" Arya mengerutkan dahi.
Vania tak menjawab, namun malah terburu-buru masuk kedalam mobil sesaat setelah Arya membuka pintu.
***
"Van, ...
Perempuan itu setengah berlari kedalam rumah setelah mereka tiba. Menarik sebagian kain yang dikenakannya agar dia mudah menggerakan kakinya dengan cepat melewati tangga menuju kamar mereka di lantai dua.
Arya menyapu wajahnya dengan kasar, dan dia menghembuskan napasnya dengan keras.
Baru kali ini, dalam kurun waktu beberapa bulan setelah pernikahan, perempuan itu bersikap demikian. Yang tidak dia mengerti penyebabnya, dan apa maksud dari perkataannya.
"Van ..." panggil Arya setelah dia mengejarnya ke lantai atas.
"Jangan ngomong sama aku, aku nggak mau ngomong sama abang!" teriaknya, seraya menerobos pintu kamarnya.
"Abang nggak ngerti maksud kamu itu apa? kamu bersikap tidak jelas seperti ini?" Arya menatap ujung tagga dimana perempuan itu menghilang, dan segera setelah itu, terdengar pintu kamar dibanting dengan keras.
"Astaga!!! perempuan!" gumamnya, dan dia mengusap wajahnya dengan kasar.
🌺
🌺
🌺
Bersambung...
nah Lu!!! Iya ih, sikap Vania jadi nggak jelas gitu, abang kan jadi bingung. ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
Hai readers tersayang, maaf beberapa hari ini emak selalu telat up, maklum RL lagi heboh. Makasih doa dan dukungan kalian, yang memang selalu jadi penyemangat untuk tetap berkarya.
Lope lope sepabrik 😘😘