
🌺
🌺
Arya diam seperti biasa, memperhatikan gadis itu yang setiap hari datang tiga kali sehari untuk memeriksa keadaannya selama dia berada di rumah sakit. Seperti hari ini, Vania datang pada petang hari membawa makanan yang dibuatnya, seperti pada siang dan pagi sebelumnya.
Vania membuka kotak makanan yang dibawanya. Nasi putih, ditemani olahan ayam dan sayuran hijau.
"Abang sudah makan tadi." tolak Arya ketika gadis itu menyodorkan makanan ke depan mulutnya.
"Nggak apa-apa. Makan lagi aja, biar nanti malam nggak lapar." Vania dengan senyum cerianya seperti biasa.
"Abang jarang lapar malam-malam." ucap Arya.
"Abang makan aja kenapa sih? susah amat?" gadis itu bersungut-sungut.
"Ayo!" ucapnya lagi, dan dia menempelkan ujung sendok di mulut Arya.
Pria itu akhirnya menyerah, dia membuka mulutnya, dan Vania segera menjejalkan makanan kedalamnya.
Arya mengunyahnya dengan pelan sambil menatapnya dalam diam.
"Besok pagi kayaknya aku nggak kesini. Ada pesanan lumayan banyak." Vania berbicara.
"Tidak apa-apa. Seharusnya kamu tidak usah terlalu sering datang. Bahkan mungkin tidak usah datang kalau memang sedang ada pekerjaan." jawab Arya, yang membuat gadis itu terdiam kemudian balik menatapnya.
"Abang kenapa sih, dari kemarin ngomong gitu melulu?" Vania akhirnya bertanya, pasalnya sudah beberapa kali dalam kurun waktu satu minggu ini, sejak insiden robohnya jembatan dan dia dirawat di rumah sakit Arya mengucapkan hal yang sama.
"Tidak kenapa-kenapa, hanya tidak mau merepotkan kamu."
"Aku nggak repot, biasa aja kok." sergah Vania.
Arya terdiam lagi, dia berpikir bagaimana caranya untuk berbicara kepada gadis ini.
"Abang nggak mau aku datang ya? kenapa?" Vania kembali menyodorkan sendok berisi makanan itu kepada Arya.
"Abang cuma ...
"Terus apa bedanya aku sama adik-adik abang? mereka juga datang setiap hari, lihat keadaan abang, sama nungguin beberapa jam. Mereka bahkan lebih repot. Alena anaknya dua, dia bela-belain nitipin Dilan sama Alea lebih lama di daycare. Kak ana baru beberapa bulan nikah, kak Alya baru aja lahiran. Mereka lebih repot, tapi memilih untuk datang kesini karena apa coba?"
"Karena mereka sayang sama abangnya."
Gadis itu menghela napas dalam-dalam.
"Dan aku juga." katanya kemudian.
"Atau, karena aku orang lain ya, jadinya abang nggak mau aku datang lagi kesini?" Vania menghentikan kegiatannya.
"Salah aku dimana sampai-sampai abang nggak mau aku datang lagi?"
"Kamu tidak salah. Hanya saja abang ...
"Ya kalau nggak salah, terus ngapain abang sering bilang gitu? aku jadinya baper, takut kalau mungkin aja aku udah bikin kesalahan sampai-sampai abang terus bilang kalau aku nggak usah datang."
"Vania, ... Abang sedang sakit."
"Ya, terus apa masalahnya?" Vania meletakan kotak makanan di nakas.
"Abang berubah setelah kecelakaan itu. Abang kayak yang mau kita jauhan?"
Arya mendongak.
"Katanya mau nikah? masa mau nikah malah jauhan?" kalimat tersebut tentu saja membuat Arya membulatkan mata.
"Ups, tunangan maksudnya." gadis itu tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Kamu tahu?"
"Tahu lah, masa nggak tahu? dan tahu juga kalau tiga hari yang lalu Kang Rendra udah membatalkan pendaftarannya ke KUA." Vania merasa tenggorokannya tercekat, mengingat berita yang dia terima dari Alena.
"Nggak jadi deh kita nikahnya? eh, tunangan." dia mengulum senyum.
"Mungkin memang seharusnya tidak terjadi, makanya abang mengalami kecelakaan ini." Arya bicara setelahnya, yang kemudian membuat senyum di wajah Vania sirna seketika.
"Maksud abang?"
"Sudah mau malam Vania, kamu harus pulang." ucapa Arya begitu Hardi masuk.
Gadis itu terdiam lagi menatap Arya, namun kini wajahnya tak seceria tadi.
"Pulanglah." katanya lagi.
"Abang lagi marah sama aku? salah aku apa?" Vania kembali bersuara.
__ADS_1
"Tidak ada yang salah. Hanya abang yang menyadari sesuatu."
"Apa?"
"Pulanglah, abang tidak mau merepotkan kamu."
"Aku nggak repot!"
"Abang lelah, mau istirahat." pria itu merebahkan tubuhnya perlahan, dan dia memejamkan mata.
Vania kembali tertegun, namun kemudian dia bangkit.
"Ya udah kalau gitu, aku pulang." katanya yang meraih tas miliknya, kemudian pergi setelah tak mendapat respon dari pria itu.
🌺
🌺
"Bisakah abang pulang hari ini?" Arya bertanya kepada sang adik.
"Emang abang udah baikan?" Alena balik bertanya.
"Sudah, dan lagi abang sudah bosan. Ini terlalu lama."
"Kaki abang?" perempuan itu melirik kaki yang masih berbalut gips dam verban.
"Bisa pemulihan dirumah."
"Abang yakin?"
Arya menganggukan kepala.
"Ya udah, nanti kita konsultasikan ke dokter."
Dan setelah beberapa pemeriksaan juga observasi untuk meyakinkan kondisinya, akhirnya dokter memperbolehkan Arya pulang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Oh iya, abang nggak kasih tahu Vania kalau hari ini pulang?" tanya Alena saat mereka tiba di depan rumah. Setelah Hardi membantu sang kakak turun dari mobil dan mendudukannya di kursi roda.
"Nanti abang kasih tahu."
"Takutnya dia kerumah sakit." ucap Alena.
"Hari ini dia banyak pekerjaan, jadi tidak mungkin datang."
Ketiganya menoleh, dan Vania lah yang ternyata datang. Dia menghentkan motor maticnya tepat di dekat mobil milik Hardi.
"Kalian nggak bilang kalau hari ini pulang?" gadis itu melepaskan helm.
"Baru di omongin?"
"Aku tadi kerumah sakit. Susternya bilang udah pulang."
"Iya,"
"Kenapa nggak bilang?"
"Dadakan. Abang minta pulangnya tadi pagi." Alena menjawab ketika melihat raut wajah sang kakak tidak seperti biasanya.
"Ya udah, ..." Vania mendekati Arya, kemudian dia mendorong kursi roda yang diduduki pria itu untuk kemudian membawanya masuk kedalam rumah.
Mereka tertegun ketika memasuki ruang keluarga, dimana banyak barang tertata rapi di ujung ruangan. Beberapa terlihat sudah dibungkus dan dihias dengan cantik, seolah itu adalah hadiah yang siap dikirimkan.
"Ah, lupa pindahin barang-barangnya ke kamar." gumam Alena. "Nanti aku pindahin lagi deh." perempuan itu meletakan tas berisi pakaian milik Arya.
"Abang mau pindah ke sofa?" kemudian dia bertanya.
Arya mengangguk, dan dia mencoba untuk bangkit. Vania sudah bersiap membantunya dan memapahnya perlahan ke sofa.
"Kamu ... hari ini bukannya ada pesanan?" Arya memulai percakapan.
"Iya." mereka duduk bersisian.
"Terus kenapa malah kesini?"
"Tadinya cuma mau antar makanan kerumah sakit. Tapi abangnya udah pulang, ya jadinya kesini." jawab Vania, dia menebak apakah kali ini sikap pria itu akan berbeda?
"Sekarang abang sudah dirumah. Kamu bisa kembali ke kedai."
"Iya nanti."
"Kamu banyak pekerjaan."
__ADS_1
"Bisa rehat dulu kalau sebentar."
"Tapi kan ...
"Udah deh, jangan mulai."
"Waktu kamu akan terbuang percuma kalau terus mengurusi abang. Sedangkan pekerjaanmu juga penting."
"Kayaknya ada sesuatu deh." gadis itu memiringkan posisinya.
"Jujur aja, abang kenapa? tiba-tiba kita brasa jaga jarak gini?"
Arya tertegun.
"Kita biasanya sama-sama, dan membicarakan banyak hal. Tapi kenapa akhir-akhir ini cuma soal itu aja yang abang omongin?"
"Abang bilang setelah pulang dari daerah kita mau tunangan? aku udah bilang sama ibu, dan ibu juga udah setuju. Tapi sekarang kenapa malah jadi gini?"
"Keadaannya tidak sama."
"Nggak sama apanya? karena abang masih sakit?"
Arya tak menjawab.
"Kan bisa diundur, nunggu sampai abang sembuh. Tapi sikapnya jangan berubah gitu. Kan aku jadi salah sangka, pikiran aku jelek jadinya." Vania meracau tanpa jeda.
"Ayo kita putus?" Arya dengan tiba-tiba. Membuat gadis yang berada disampingnya membeku.
"Pu-putus?"
Arya mengangguk.
"Ke-kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Abang bercanda nih?"
Pria itu menatapnya dengan wajah datar.
"Nggak mungkin serius kan?"
Arya masih tak menjawab.
"Nggak ada angin, nggak ada hujan, tapi abang tiba-tiba ngajak putus. Kita bahkan baru ketemu lagi setelah abang beresin kerjaan dan kena kecelakaan. Aku nggak ngerti."
"Abang hanya tidak ingin membuat kamu merasa terhambat."
"Apaan?"
"Kalau kita terus sama-sama, dan keadaan abang masih seperti ini kamu akan kehilangan banyak kesempatan."
"Jadi ini karena keadaan abang?" gadis itu mencondongkan tubuhnya ke arah Arya.
"Abang hanya merasa akan menghambat kamu."
"Menghambat apanya? cuma luka dikit doang? bukan tangan sama kaki yang lumpuh apalagi putus?"
"Tapi abang akan menyusahkan kamu."
"Nggak akan. Eh, ... nggak tahu juga sih. Kalaupun iya aku yakin nggak akan lama." sergah Vania.
"Van, ...
"Aku akan balik lagi ke kedai ya, kalau abang nggak mau aku disini dulu." gadis itu bangkit dari sofa.
"Aku nggak akan kesini dulu kalau abang belum mau ketemu." Vania bersia untuk pergi.
"Tapi nanti, kalau abang udah merasa baikan, dan kita bisa ngobrol bener-bener, tanpa emosi, tanpa perasaan yang nggak jelas, abang bisa panggil aku."
"Aku pasti datang."
"Ya bang?" dia sedikit menunduk.
"Aku pamit." katanya, dan dia segera pergi tanpa menunggu jawaban.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
__ADS_1
omegat?? masa putus? abang ngadi-ngadi nih?
waktunya vote gaess, tapi jan lupa like komem sama hadiahnya ya.