
🌺
🌺
Alena menatap sosok kakaknya yang duduk lemas bersandar pada dinding rumah sakit, penampilannya berantakan dengan kemeja yang masih menyisakan noda darah setelah mengevakuasi Vania dari lokasi kebakaran semalam. Perempuan itu segera datang menghampirinya.
"Abang bersih-bersih dulu gih, ..." dia meletakan sebuah tas di kursi kosong disambut Arya.
Pria itu mendongak.
"Abis itu makan, terus istirahat sebentar." lanjutnya, dan dia menunjukan sebuah tote bag berisi kotak makanan.
"Bang?"
"Vania sangat sedih, ... dan tentu saja marah. Dia kecewa...
"Jangan khawatir, dia akan baik-baik aja. Dia hanya shock."
"Tapi...
"Vania akan pulih dengan cepat, aku tau dia kuat. Sedih sebentar itu wajar, kehilangan bayi yang sudah lama di tunggu pasti membuat siapapun sedih, tapi aku yakin nggak akan lama." Alena dengan penghiburannya.
"Semoga seperti itu...
"Ayo, ... abang bersih-bersih dulu, biar agak enakan."
"Hmm... baiklah." pria itu bangkit, Namun dia tertegun sesaat ketika menyadari sesuatu.
"Anak-anak dimana?" Arya bertanya.
"Aku titip dulu di rumah kak Alya sama kak Anna."
"Hardi?"
"Lagi ke kantor polisi sama Kang Rendra juga Kak Rasya."
"Kantor polisi?"
"Iya, untuk bikin laporan, sambil nunggu tante Melly pulih untuk dimintai keterangan."
Arya terdiam.
"Menurut karyawan ada indikasi sabotase, soalnya nggak ada penyebab pasti karena setelah closing area kafe sudah dipastikan aman. Semua alat listrik dicabut kecuali chiller dan kulkas, beberapa tabung gas yang meledak juga aman dan masih baru. Ya, ... semua kemungkinan ada sih, cuma menurut mereka ada kejanggalan aja."
Pria itu menatap wajah sang adik dengan raut sendu.
"Kalau ada kemungkinan itu? apa penyebabnya? kenapa ada yang dengan tega berbuat seperti itu?"
"Belum tahu, makanya bikin laporan dulu biar ada penyelidikan. Karena kan ini bukan kediaman pribadi yang bisa disebabkan kelalaian penghuninya. Ini tempat usaha dan ada di wilayah publik. Jadi, apa saja bisa jadi penyebabnya."
"Udah, jangan pikirin itu dulu, ... abang harus urus diri sendiri dulu. Yang lain biar Kak Hardi sama yang lainnya yang urus."
"Kalian jadi repot, ...
__ADS_1
"Nggak."
"Kalian jadi sibuk mengurusi abang. Kamu bahkan meninggalkan anak-anakmu bersama Alya untuk kesini. Padahal tidak usah."
"Abang jangan bilang gitu, yang namanya keluarga pasti melakukan sesuatu kalau ada yang terjadi sama anggota keluarganya. Sama kayak abang yang pasti akan bertindak kalau terjadi sesuatu sama aku atau yang lainnya."
Arya terdiam.
"Sekarang abang fokus aja sama Vania juga tante Melly, yang lainnya biar kita urus."
"Tapi Al, ...
"Udah, mereka lebih butuh abang dari pada masalah lain."
🌺
🌺
"Apa ada kemungkinan di sengaja?" Hardi berdiri di dekat tempat tidur dimana Melly duduk setengah berbaring, kala perempuan paruh baya itu sudah tenang dan bisa dimintai keterangan keesokan harinya.
"Cctv di hotel seberang masih diselidiki, karena cctv di kafe jelas nggak bisa kita dapatkan. Semuanya hancur waktu terjadi kebakaran." lanjutnya.
"Apa tidak bisa kita akses secara manual? bukankah cctvnya terhubung dengan jaringan internet?" Rasya buka suara.
"Apa polisi bisa melakukannya?" Rendra menyahut.
"Mungkin tidak bisa. Tapi... akan kita coba." jawab Rasya.
"Kakak bisa?" Alena menginterupsi.
"Apa mungkin Ini perbuatan Rahma?" Melly menyela percakapan.
"Ibu... mencurigai tante Rahma?" Arya bereaksi.
"Entahlah, setelah pertengkaran kemarin malam mungkin dia marah, apalagi Vania menyerang Rian secara langsung."
"Vania?" tubuh Arya sedikit menegang.
"Iya, mereka hampir bertengkar setelah Vania muncul waktu Rahma terus mendesak ibu untuk menjual kafe." Melly berujar.
"Menjual kafe?" beberapa orang yang berada di dalam ruangan itu bereaksi serentak.
"Beberapa kali ada pengusaha datang, yang menawar kafe dengan harga tinggi, tapi tidak ibu tanggapi. Ibu hanya merasa kalau dijual maka mata pencaharian kita akan hilang. Mungkin kalaupun kita buka ditempat lain tidak akan seperti di kafe semula. Dan yang ibu khawatirkan itu akan memutuskan penghasilan banyak orang. Meskipun nantinya bekas bangunan kafe akan dibuat hotel dan pub, tapi... ibu merasa tidak rela." Melly menjelaskan.
"Vania tidak bicara soal itu. Kapan kejadiannya?" Arya kemudian bertanya.
"Malam sebelum kafe terbakar. Vania bertengkar dengan Rian dan Rahma."
"Astaga!" Arya menyapu wajahnya, dia ingat malam itu tengah menyelesaikan perencanaan proyek perkotaan yang akan dimulai pembangunannya bulan depan. Sehingga tak bisa pulang tepat waktu dan menjemput Vania seperti biasa.
"Ibu takut, apa yang ibu pikirkan ini benar adanya."
"Tapi memang sudah terjadi kan bu?" Arya berujar.
__ADS_1
"Ya, dan jika memang benar seperti itu, maka Rahma benar-benar keterlaluan."
***
Arya bersandar dibelakang pintu, saat memasuki ruang perawatan Vania yang terasa sunyi. Perempuan itu telah sadar dari pengaruh obat yang disuntikan dokter kepadanya saat dia mengamuk kemarin pagi. Namun kesedihan masih tampak menguasainya, dia masih saja termenung menatap langit kelabu diluar jendela kamarnya.
Vania menoleh saat menyadari kehadiran seseorang di dalam sana, dan dia mendapati suaminya yang juga dengan raut sendu.
"Sudah merasa lebih baik?" Arya berjalan mendekat.
Vania menganggukan kepalanya pelan-pelan, namun mulutnya terkunci rapat tak berniat mengucapkan satu katapun.
Pria itu duduk di tepi ranjang, merasa ragu untuk lebih mendekat lagi, dia takut Vania akan menolaknya. Namun perempuan itu tak bereaksi. Dia malah kembali merebahkan kepalanya diatas bantal.
"Vania, ... abang...
"Apa dia sudah dikuburkan?" Vania buka suara.
"Ng...
"Apa anak kita sudah dikuburkan?" dia mengulangi pertanyaan.
"Sudah." Arya menjawab.
"Dimana?"
"Di belakang rumah kita. Abang sendiri yang menguburkannya, ... tadi pagi." suara Arya terdengar bergetar.
Masih segar dalam ingatannya, ketika mendekap janin kecil yang sudah tak bernyawa itu untuk dia kuburkan di halaman belakang rumahnya. Perasaan sedih tentu saja menguasai dirinya, bahkan hingga saat ini. Merasa memiliki dan merasa kehilangan disaat yang bersamaan.
Dan rasanya lebih menyakitkan ketika dia baru menyadari akan memiliki keturunan saat sudah kehilangannya saat itu juga. Dia merasa gagal sebagai seorang suami, dan ayah tentunya. Arya terus merutuki dirinya sendiri, ketidak pekaannya terhadap kondisi Vania, dan segala tingkah laku anehnya selama ini. Sikap manjanya, cengeng dan pencemburunya yang bahkan tak pernah dia sangka-sangka akan dimiliki perempuan yang selalu bersikap ceria dan positif itu, yang ternyata segalanya bermuara dari kehamilan yang tak mereka duga.
"Apa... dia akan baik-baik aja?" Vania bertanya.
"Tentu saja dia akan baik-baik saja, dia ada di tempat paling baik sekarang." Arya menoleh.
Vania terlihat meneteskan air mata, tapi bibirnya kembali terkunci rapat. Dia menangis dalam diam.
Arya merangsek ke dekatnya, dan dia kembali merangkul tubuh lemah itu, dengan rasa sedih dan pilu yang sama mendalamnya.
"Kenapa aku nggak sadar kalau sedang hamil? kenapa bisa aku sampai teledor seperti ini? padahal selama ini aku sangat menginginkan dia." Vania kembali terisak.
"Aku ibu yang buruk, ... maaf abang, aku nggak bisa menjaga anak kita." katanya, yang kemudian membenamkan wajahnya di dada Arya. Dia menangis sejadi-jadinya, melampiaskan kesedihan yang terasa tak berujung ini.
"Bukan salahmu, ... memang bukan milik kita. Tuhan lebih berhak atas dia, dan kita hanya harus merelakannya walau sulit." Arya memeluk tubuh itu dengan erat, yang terus bergetar diiringi tangisan pilu yang tak mampu dia bendung lagi.
🌺
🌺
🌺
Bersambung...
__ADS_1
like koment sama hadiah dan vote nya masih aku tunggu 😘😘