Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Jatuh


__ADS_3

๐ŸŒบ


๐ŸŒบ


Arya terhenyak ketika berbalik dan Faisal tertinggal di belakang. Pria itu tidak dapat mencapai permukaan karena tanah tebing yang di pijaknya meluruh kebawah saat mengejar dua rekanya yang sudah terlebih dulu naik.


"Faisal?" Arya kembali ke sisi tebing, kemudian mengulurkan tangannya, dibantu Dani yang menahan Arya di belakang.


"Cari bantuan Pak!" teriak arya kepada penduduk setempat yang menemani mereka hari itu.


Faisal mencoba bertahan sebisa mungkin, agar dia dapat menggapai tangan Arya yang diulurkan kepadanya.


"Faisal! bertahan!" teriak Arya lagi dan dia berusaha mencapai rekannya itu. Dan dengan susah payah akhirnya Faisal mampu menggapainya. Dia menggenggam tangan pria itu dengan erat saat Arya menariknya perlahan.


Faisal selamat, dan mereka bernapas lega.


Namun yang tak disangka-sangka adalah ketika jembatan di sisi lainnya benar-benar runtuh dan ujung tebing yang Arya pijak tiba-tiba saja terbelah. Sehingga membuat tanah berbatu yang landai itu kembali meluruh kebawah lalu menarik pria itu dalam keadaan tak siap, sehingga tak seorangpun yang bisa menariknya untuk kembali.


Arya terjerembab diantara tanah dan batu yang berguguran kebawah sana. Kemudian tubuh tingginya berguling dan terjatuh tepat di pinggir sungai.


Pria itu masih mengumpulkan kesadarannya ketika tiba-tiba sebuah tihang baja penyangga jembatan terpental ke arahnya dan terjatuh pula tepat beberapa senti di atas wajahnya.


Napas Arya seakan terhenti, dan dua rekannya diatas berteriak kencang, saat di detik berikutnya satu persatu bagian-bagian jembatan menimpa tempat dimana Arya terlentang. Menghantam batu-batu disebelahnya dengan keras hingga hampir terbelah menjadi beberapa bagian.


๐ŸŒบ


๐ŸŒบ


Berita lagsung tersiar di kalangan karyawan dan staf yang bekerja, setelah sebuah panggilan telfon melaporkan kejadia tersebut. Hingga sampai ke telinga Raja dan Cindy yang tengah menyelesaikan pekerjaan mereka seperti biasa. Yang segera memanggil semua orang yang dirasa mampu membantu penanganan bencana tersebut.


Vania membeku di tempatnya, dan dia tak mengucapkan sepatah kata pun, saat Raja dan Cindy tiba-tiba saja datang pada lewat tengah hari dan membawa berita buruk itu.


Gadis itu bahkan hampir jatuh tak sadarkan diri setelah dia mampu mencerna kata demi kata yang diucapkan Raja. Bersama Cindy yang mencoba menenangkannya.


"Aku ... harus kesana." Vania bangkit, dan dia berjalam tersaruk-saruk ke arah mobilnya.


"Nggak usah Van. Banyak yang udah aku suruh kesana. Hardi bahkan udah pergi begitu aku kasih tahu mereka." Raja menghalangi.


"Tapi aku harus kesana Kak!" ulang Vania, dan dia berusaha mencari kunci mobilnya.


"Mimi! kunci mobil aku Mi!" gadis itu berteriak.


Namun Raja tetap menghalanginya.


"Mimi! kunci mobil aku!" Vania mengulangi teriakannya, dan kali ini lebih kencang.


"Van! jangan. Disana bahaya. Biar para pekerja aja yang pergi!" Raja menahannya.


"Mimi, cepetan!" teriak Vania lagi.


Dan sang pegawai hampir berlari untuk menyerahkan kunci mobilnya, namun segera direbut oleh Raja.


"Bahaya Van, kamu nyetir dalam keadaan kayak gini."


"Tapi aku harus kesana kak!" gadis itu mencoba merebut kembali kunci di tangan Raja.


"Nggak."

__ADS_1


"Sini kak! aku harus kesana! aku mau lihat Bang Arya!" Vania histeris.


"Tapi, ...


"Aku mau lihat dia, aku mau nungguin dia! gimana kalau ada apa-apa? gimana kalau dia nggak selamat? gimana kalau aku nggak ketemu dia lagi? Gimana kak!!" Vania meraung-raung, dan dia menarik jas Raja dengan kencang.


"Aku mau kesana!!" dan tangisnya membahana di seluruh area.


"Oke, oke. Kita akan kesana, tapi kamu tenang dulu!" akhirnya pria itu menyerah.


"Nggak mau, aku mau kesana sekarang juga! nanti aku terlambat." Kemudian dia membenamkan wajahnya di dada Raja.


"Iya iya, ... tapi aku yang antar ya? jangan sendirian."


Vania mendongak.


"Kita kesana sama-sama." ucap Raja sambil memandang wajah sembab Vania.


"Tapi kak?"


"Udah, ... kalau mau pergi, harus sekarang. Biar nggak kemalaman di jalan, nanti kita yang susah." pria itu berujar.


Vania mulai tenang.


"Cepetan, katanya mau pergi? nanti aku berubah pikiran?" Raja menarik Vania ke mobilnya.


Sementara Cindy tertegun menatap interaksi tersebut, dan dia tak berani menginterupsi. Gadis itu bahkan berniat pergi, namun langkahnya terhenti ketika Raja memanggil.


"Cindy!"


"Ikut." pria itu menyentakan kepala ke arah mobil.


"Saya pak?" gadis itu menunjuk wajahnya sendiri.


"Ya iya, masa lalat?" jawab Raja yang membiarkan Vania masuk di bagian belakang mobilnya.


"Maksud bapak, saya ikut?"


"Iya."


"Tapi pak?"


"Ikut Cindy!" Raja agak menggeram, dan gadis itupun akhirnya menurut.


"Eh, ... mau kemana kamu?" pria itu bertanya saat sang sekertaris berjalan ke arah belakang.


"Mau duduk di belakang sama Vania." jawab Cindy.


"Nggak sopan, Kamu duduk di depan sama saya, biar nggak kelihatan kayak supir." ucap pria itu dengan ketus.


"Ish, pak ...


"Di depan Cindy!" Raja mengulangi perintahnya.


Dan gadis itupun menurut, walau sambil memutar bola matanya karena gusar.


๐ŸŒบ

__ADS_1


๐ŸŒบ


Mereka tiba pada sore hari setelah lebih dari tiga jam menempuh perjalanan dari kota bandung. Melewati bentangan perkebunan, melalui perbukitan teh, dan hutan pinus di akhir perjalanan. Yang kemudian membawa ketiganya ke sebuah desa di terpencil, di perbatasan yang meisahkan wilayah Bandung dengan wilayah lainnya.


Mereka tiba di depan rumah yang menjadi tempat tinggal Arya dan dua rekannya, dimana semua orang yang ditugaskan untuk melakukan pertolongan pertama pun telah berkumpul.


Vania bergegas turun dari mobil dan segera berlari menghampiri mereka. Tidak peduli hujan mulai mengguyur desa.


"Abang?" panggilnya kepada pria yng dia kira berada disana.


Namun gadis itu kembali tertegun saat hanya dua orang rekan kekasihnya yang dia temui.


"Van, ..." Hardi datang mendekati.


"Abang dimana?"


"Duduk dulu deh? kamu capek." bujuk Hardi.


"Bang Arya dimana kak? di dalam rumah?" Vania bertanya.


"Istirahat dulu Van, nanti ...


"Aku tanya Bang Arya dimana?" gadis itu meninggikan suaranya.


"Mm ...


"Van ...


"Maaf, pak. Alat berat tidak bisa mengangkat rangka baja dan betonnya sekarang. Hujan menyebabkan tanahnya licin dan itu bisa membahayakan pak Arya." seorang petugas penyelamatan datang melapor dalam keadaan basah kuyup dan terengah-engah.


"Apa?" Vania berbalik.


"Jika dipaksakan dalam keadaan begini, maka bisa dipastikan kita tidak akan bisa menyelamatkan korban." lanjut pria itu.


"Jadi harus bagaimana?" Raja maju.


"Kita tunggu keadaan stabil."


"Tapi ini sudah sore pak, dan Pak Arya tidak mungkin bisa bertahan dibawah sana." sela Hardi, dan hal tersebut membuat Vania terbelalak.


"Tapi kalau kita memaksa melakukan evakuasi sekarang juga akan lebih membahayakan. Dan saya tidak bisa mengambil resiko itu."


"Tapi pak?"


"Saya sarankan kita hentikan evakuasi saat ini juga. Kita lanjutkam besok jika cuaca lebih bersahabat."


Dan Vania benar-benar luruh terjatuh di tanah, mendengar apa yang terjadi kepada kekasihnya. Tangisnya pecah begitu saja dan dia tak bisa menahan diri.


๐ŸŒบ


๐ŸŒบ


๐ŸŒบ


Bersambung ...


like, komen dan hadiahnya gaess๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

__ADS_1


__ADS_2