
🌺
🌺
Vania tersentak ketika menyadari sosok yang berdiri di tengah ruangan, pada saat kedai miliknya sudah hampir tutup dan lampu-lampunya sudah di padamkan. Kedua pegawainya bahkan sudah berpamitan setelah mengecek keadaan sekali lagi dan memberskan segala hal.
"Bikin kaget! kirain hantu." ucapnya, setelah dia berbalik lalu tertawa.
Arya hanya tersenyum, dan dia berjalan mendekat. Tanpa menunggu lama pria itu menghambur memeluknya, dan menyurukan wajah di ceruk leher Vania.
"Abang kenapa?" gadis itu mengerutkan dahi, dan dia mendorong tubuh Arya yang merapat kepadanya.
"Hanya ..." dia menatap wajah Vania dalam keremangan. Hari ini di merasa lega, dan juga bahagia.
Bahagia karena merasa telah memiliki tempat untuk pulang ketika hatinya terasa kalut, dan bahagia karena merasa telah memiliki teman berbagi.
"Abang masih belum pulang kerumah?" ucap Vania saat lagi-lagi pria itu menemuinya dengan penampilan yang sama.
"Belum." Arya menggelengkan kepala.
"Dari rumah sakit?" dia bertanya.
"Ya."
"Gimana Om Harlan? udah baikan?"
"Sudah."
"Syukurlah."
"Abang lapar?"
"Lumayan."
"Ya udah, duduk dulu, aku bikinin makanan."
"Tapi kamu mau pulang?"
"Bisa kalau sebentar lagi."
"Baiklah." lalu dia melepaskan rangkulannya dari tubuh Vania dan melakukan apa yang gadis itu perintahkan.
***
Satu porsi nasi dengan tongseng ayam sebagai lauknya Vania letakan di meja. Tidak lupa segelas besar teh hangat menjadi teman makan untuk pria itu.
Arya menatap nasi dan wajah Vania secara bergantian.
"Kenapa? nasinya kebanyakan?"
"Itu kamu tahu?"
"Aku temenin makan deh." Vania duduk disampingnya, meraih sendok dan mereka mulai makan seperti biasa. Di selingi obrolan yang memang selalu mengalir setiap mereka bersama.
"Beneran abang nggak marah sama Om Harlan?" Vania meneguk teh dari gelas yang sama, setelah Arya selesai bercerita tentang kejadian hari itu.
"Tidak. Untuk apa?" Arya menggelengkan kepala.
"Kan udah bikin ayah abang meninggal?"
"Dia kan tidak sengaja."
"Kan Om Harlannya kabur waktu itu. Coba kalau nggak kabur, kan ayah tertolong."
"Belum tentu."
"Kok belum tentu?"
Arya menarik napas kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Kamu tahu, kematian itu adalah hal yang pasti. Kalau memang sudah waktunya, sekeras apapun kamu berusaha, tetap saja kamu akan mati. Sama seperti ibu yang harus berjuang keras bertahun-tahun melawan penyakitnya. Dan ketika tiba waktunya, kami hanya bisa menyerah." dia kembali mengingat saat-saat terakhir itu.
Ketika baru saja tiba dirumah sesaat setelah menerima surat kelulusan dari sekolahnya, dan dia mendapati sang ibu yang telah terbujur kaku di tempat tidurnya, tak lama setelah kematian sang ayah.
"Ayah meninggal beberapa bulan sebelum Alena lahir, tapi ibu masih bisa bertahan untuk kami. Berjuang penuh semangat walau abang tahu itu sangatlah berat. Tapi kami selalu ada dalam ingatannya dan itu yang membuat ibu bisa bertahan lebih lama dari diagnosa dokter."
Vania mendengarkannya dalam diam.
"Tapi ketika sudah tiba waktunya, kita tidak bisa menolak. Begitu juga kematian ayah, dan kecelakaan hanya sebaga jalan untuk kembali pulang, apalagi Pak Harlan tidak sengaja melakukannya."
"Tetep aja Om Harlannya kabur."
"Tapi dia kembali untuk menebus kesalahannya."
"Telat. Abang udah terlanjur berjuang sendirian. Dia nggak tahu apa kalau selama dia menghindar dari tanggung jawab ada empat anak yang hidup menderita karena kehilangan orang tua mereka? enak aja. Mestinya dia kasih abang kompensasi."
Arya tersenyum. "Kamu matre."
Vania menggendikan bahu. "Aku realistis."
"Apa kamu tahu, kalau selama itu pula hidup Pak Harlan tersiksa?"
"Masa?"
"Apa kamu pikir, ketika orang telah berbuat salah dan lari untuk menghindar, maka semua masalah mereka selesai begitu saja?"
Vania terdiam.
"Jawabannya adalah tidak. Jika dia orang normal, maka akan merasa dihantui rasa bersalah dan penyesalan. Meskipun menyangkal, tapi hati kecil tidak bisa dibohongi. Yang pada akhirnya mereka akan mencoba menebus kesalahan itu dengan cara apapun."
"Seperti Om Harlan?"
"Iya. Setelah beberapa tahun menghindar dia mencari tahu keberadaan abang. Padahal sudah sering juga bertemu waktu abang masih bekerja di bengkel si Koko."
"Terus, waktu abang pertama kali tahu kalau Om Harlan pelakunya, abang diem aja gitu nggak marah?" Vania memiringkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya marah lah, abang manusia normal."
"Terus abis itu?"
"Abang berpikir lagi, ... lama ... dan bicara lagi secara pribadi. Mendengar Pak Harlan menangis dan memohon maaf, dengan segala penyesalan yang dia rasakan, abang memutuskan untuk memaafkan."
"Semudah itu?"
"Sulit juga, tapi abang coba. Abang tidak tega melihat Pak Harlan seperti itu, hanya rasa takut yang membuat seseorang bisa berbuat begitu."
Vania menatap wajah pria itu dengan matanya yang berbinar, dan sebuah senyum tentu saja terbit di sudut bibirnya.
"Senyum kamu aneh."
Vania menggeser kursi yang dia duduki sehingga posisi mereka sangat dekat, kemudian mengulurkan tangannya untuk merangkul bahu kokoh milin Arya.
"Abang keren." katanya, yang kemudian mendekatkan wajahnya.
"Keren apanya?" pria itu menjengit.
"Memilih memaafkan kesalahan orang lain dari pada menuntut kompensasi padahal abang adalah pihak yang banyak dirugikan karena sikap pengecutnya Om Harlan."
"Bukahkah dia sudah bertanggung jawab?"
"Ya, tapi ...
"Sudah, abang tidak mau membahas soal itu. Lagi pula semuanya sudah berlalu, keadaan kami sudah lebih baik sekarang. Dan abang bersyukur."
"Adik-adik abang tahu?"
"Soal apa?"
"Soal Om Harlan yang nabrak ayah?"
"Tidak."
"Abang nggak kasih tahu?"
"Begitulah."
"Kenapa?"
"Sepertinya itu tidak perlu. Lagipula mereka tidak pernah membahas itu, dan abang memilih untuk tidak membahas itu juga sekarang."
"Untuk menghindari luka dan benci?"
"Sebut saja begitu. Biarkan mereka tetap menganggap Pak Harlan sebagai orang baik, meskipun faktanya dia memang baik tapi kalau abang memberitahu mereka soal ini abang takut anggapan mereka akan berubah, jadi ... biarka saja seperti itu."
Vania semakin mengeratkan rangkulannya di pundak Arya.
"Baiknyaaa ..." dia menyurukan kepalanya di leher pria itu.
"Memang, ..." Arya terkekeh. Hal ini menjadi terasa menggelikan. Mereka kini semakin terbiasa untuk bersentuhan dan berdekatan, padahal sebelumnya tidak pernah ada dalam bayangannya bahwa dirinya akan menjalin hubungan dengan gadis ini.
"Apanya?"
"Sikap dia sama abang setelah Om Harlan membuka rahasia ini?"
"Tidak tahu."
"Kok nggak tahu?"
"Abang tidak perhatikan. Dan abang tidak akan peduli juga soal itu. Kalau setelah ini dia masih bersikap buruk, biarkan saja dia begitu."
"Abang resign aja dari kantor."
"Kenapa abang harus resign?"
"Biar bebas aja nggak ketemu Kak Raja."
"Abang profesional, dan tidak pernah mencampurkan urusan pekerjaan dengan hal pribadi. Itu dua hal yang berbeda."
"Atau bikin usaha sendiri aja. Perusahaan design punya abang sendiri." Vania dengan ide cemerlangnya.
Arya terdiam, dia seperti sedang berpikir.
"Kalau kerja sama orang terus mau sampai kapan?"
"Abang tidak pernah memikirkan itu."
"Kayaknya mulai sekarang harus dipikirin. Nggak mungkin akan selamanya kerja sama orang kan? kadang kita harus memikirkan nantinya gimana. Kalau punya usaha sendiri kan enak, kita yang ngatur, kita yang punya."
"Begitu?"
"Iya lah, ... itu sebabnya aku nggak mau kerja sama orang lain. Aku maunya punya kerjaan sendiri, kalau bisa kita yang bikin lapangan kerja buat orang lain."
"Pemikiran kamu benar-benar beda dari orang lain."
"Harus lah, kan biar maju."
Arya tersenyum, dia semakin kagum dengan gadis ini. Pengalaman telah menempanya menjadi sosok yang benar-benar berbeda dari gadis muda kebanyakan. Pemikirannya yang luas dan jauh dari bayangan, juga semangatnya yang selalu besar dan pendiriannya yang tangguh, membuatnya yakin jika mereka memang ditakdirkan untuk bersama. Karena hal itu juga jelas ada pada dirinya.
Dan Arya tak bisa menahan diri untuk memeluknya seerat yang dia bisa, dan pria itu mendaratkan kecupan bertubi-tibi di puncak kepalanya.
"Abaaang, ... ish!" protes Vania yang merasakan tubuhnya seperti hampir remuk dalam rangkulan Arya.
"Kenapa kamu selalu bersemangat seperti ini? tidak peduli seberapa lelah dan seberapa sibuk, tapi kamu seperti tidak pernah kehabisan ide?"
"Kebiasaan bang."
Dan Arya kembali mengeratkan rangkulannya, namun kali ini dia menundukan wajahnya untuk meraih bibir gadis itu yang mulai membuatnya selalu merasa gemas. Kemudian memagutnya dengan penuh perasaan.
"Abaang, ... ish ... kebiasaan deh!!" protesnya lagi, sambil mendorong dada Arya agar mereka menjauh.
"Memang sepertinya abang mulai terbiasa dengan kamu." pria itu tergelak, kemudian melanjutkan cumbuannya. Yang meski mendapat protesan keras, namun tak urung juga lama-kelamaan gadis itu menyerah juga.
__ADS_1
🌺
🌺
Hari-hari berlalu dan segalanya bergulir dengan normal. Walau banyak hal yang terjadi, namun segalanya tak ada yang terhenti. Kegiatan tetap berjalan seperti biasa, da semua orang menjalaninya seperti biasa juga.
Seperti Arya, yang baru saja menaiki tangga untuk masuk kedalam gedung tempat dia bekerja setiap hari, bersamaan dengan Raja yang juga baru tiba setelah dua minggu absen karena harus mengurus sang ayah dan segala pekerjaannya di Jakarata.
Mereka berdua berheti bersamaan, kemudia saling memandang dalam diam.
"Kamu baru datang?" Arya lebih dulu menyapa.
"Iya, ..." Raja menjawab pelan.
"Bagaimana Pak Harlan?"
"Sudah lebih baik."
"Syukurlah." Arya tampak lega.
"Iya."
"Kalau begitu saya duluan, ada yang harus di selesaikan siang ini sebelum peninjauan lokasi minggu depan."
"Baik." Raja mengangguk pelan.
Arya melanjutkan langkahnya, namun dia berhenti ketika anak dari atasannya itu kembali memanggil.
"Bang?"
Pria itu tertegun, kemudian memutar tubuh.
"Ya?"
Raja menghirup udara sebanya mungkin. Dia sedang mempersiapkan diri mengucapkan banyak hal. Bibirnya terlihat berkedut dan kedua matanya menatap Arya, namun kini dengan pandangan lain.
"Maaf." kata itu meluncur dari mulutnya.
Arya kembali tertegun, dan dia menghela napas pelan.
"Maaf untuk ... semuanya." ucap Raja lagi.
Pria itu masih terdiam.
"Semua yang aku bilang, semua yang aku lakukan, terlebih ... sikap aku selama ini. Aku hanya ...
"Kamu hanya tidak tahu." Arya memotong ucapan Raja.
"Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, makanya sikap kamu seperti itu. Dan sekarang, setelah kamu tahu kenyataannya tidak seperti yang kamu pikirkan, saya harap kamu juga akan merubah cara pandang kamu terhadap dunia. Bahwa tidak semua hal selalu seperti yang kita pikirkan. Kadang ada beberapa hal diluar itu yang jauh dari bayangan kita, dan jelas kita harus berlapang dada untuk menerima semuanya."
"Bukan untuk mendikte, karena semua orang jelas punya caranya sendiri untuk menghadapi dunia. Tapi setidaknya kita tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri."
"Mm ...
"Semangatlah, banyak hal yang menunggu untuk kamu kerjakan, dibanding memikirkan hal tidak penting." Arya berujar dengan wajah sumringah.
"Buat Papamu bangga dan bersyukur memiliki anak seperti kamu. Dia akan senang tahu anaknya berbuat hal baik dan bermanfaat untuknya dan orang lain."
"Iya bang." ucap Raja.
Arya tersenyum, kemudian kembali memutar tubuhnya dn berjalan kedalam gedung.
"Abang nggak marah?" Raja mengerjar untuk mensejajari langkahnya.
"Marah kepada siapa?"
"Sama Papa?"
"Tidak, untuk apa?" mereka berjalan beriringan.
"Padahal Papa sudah menyebabkan abang kehilaangaan orang tua."
"Sudah seharusnya seperti itu."
"Abang nggak dendam?" Raja meyakinkan.
"Tidak. Kenapa saya harus dendam? tidak ada gunanya."
"Serius?"
"Banyak hal yang bisa dikerjakan dari pada mengurusi rasa marah dan dendam. Hal yang lebih bermanfaat untuk kita, dan kalau bisa juga untuk orang lain."
"Kok bisa?"
"Harus bisa. Agar kita bisa menjalani hidup dengan baik."
"Dan memilih melupakan semuanya?"
"Begitulah."
"Bekerjalah dengan baik. Papamu mengandalkanmu." Arya menepuk pundak Raja sebagai penyemangat, membuat pemuda itu terdiam dari pada meneruskan kata-katanya.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
jadi udah damai nih? asli?
sok atuh ... like komen sama hadiahnya kirim lagi. Biar aku makin semangat nulisnya. 🤣🤣
lope lope segudang 😘😘😘
__ADS_1