Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Ups!!


__ADS_3

🌺-


🌺


Vania terbangun karena merasakan udara yang begitu dingin menerpa wajahnya. Dia mengerjap-ngerjapkan mata untuk mengumpulkan kesadarannya.


Gadis itu terhenyak ketika melihat keadaan didalam tenda yang hening dan sepi. Tak ada orang lain selain dirinya yang tertidur disana.


"Astaga! kemana semua orang?" gumamnya, yang kemudian menyingkirkan selimut tebalnya. Kemudian tangannya merayap untuk mencari ponsel miliknya.


"Ketemu!" katanya, kemudian menyalakan benda tersebut. Dia melihat jam yang sudah menunjukan pukul dua dini hari.


"Ish, ... pasti pada ninggalin deh. Katanya mau tidur di tenda?" gerutunya, sambil menggosokan kedua tangannya untuk menghalau rasa dingin yang membekukan.


Dia menarik selimut dan kembali menggulungnya ke tubuhnya sendiri, udara dini hari itu memang benar-benar membekukan. Dan Vania mencoba untuk keluar dari dalam tenda yang tertutup ketika tanpa sengaja dirinya tersandung sesuatu.


UGH!!


Vania terjerembab menindih benda yang melintang di depan tenda. Sedetik kemudian gadis itu menyadari hal lain ketika wajah dibawahnya tiba-tiba mengerjap.


Arya merasakan sesak ketika sesuatu menimpa tubuhnya. Dia baru saja bisa memejamkan mata setelah lebih dari dua jam berdiam diri di depan tenda. Menghalau dingin yang menusuk hingga ke tulang, untuk menunggui gadis itu yang terlelap di dalam sana.


"Eee ..."


Arya terdiam menatap wajah diatasnya, yang juga tengah menatap terkejut ke arahnya.


"Abang?" panggil Vania dengan suara pelan.


"Kamu bangun?" Arya mencoba bangkit, tanpa membuat gadis itu turun dari tubuhnya.


"Ke-kemana semua orang?" Vania menatap sekeliling halamam belakang villa yang lengang, dengan pencahayaan temaram karena cuma satu lampu taman yang menyala. Dan bara dari api unggun yang hampir padam.


"Mereka masuk kedalam." jawab Arya, dan dia mencoba untuk tetap tenang. Karena posisi ini sungguh membuat canggung.


"Dan ninggalin aku?" dia menatap bangunan besar di belakang tenda.


"Sepertinya kami tidak menyadari kalau kamu ada di dalam tenda. Jadi waktu semuanya pergi, hanya kamu saja yang tertinggal." Arya terkekeh.


"Mereka tega! cuma ngajak aku buat di jadiin ban serep!" Vania merengek.


Arya tertawa lagi.


"Terus abang ngapain disini? mana dingin lagi?" dia mengeratkan selimut di tubuhnya.


"Nungguin kamu." jawab pria itu. "Mau dibangunin tapi abang nggak tega, kamu kelihatan nyenyak. Jadinya ya ..." Arya menatap wajah itu dengan perasaan berdebar.


Bagaimana tidak, hal ini benar-benar diluar kebiasaan. Mereka berdua begitu dekat, dengan gadis itu yang berada diatas pangkuannya. Dan keadaan begitu hening, seperti dunia ini tak berpenghuni. Hanya suara binatang malam yang terdengar di kejauhan.


"Kamu ... mau masuk ... kedalam?" Arya bertanya.


"Hmm ..." Vania menjawab dengan gumaman. Diapun merasakan debaran yang sama. Canggung, namun menyenangkan.


"Abang sendiri?"


"Sepertinya abang tetap disini." jawab Arya.


"Disini ... dingin bang." ucap Vania sambil merapatkan selimutnya.

__ADS_1


"Memang, ... tapi ...


Gadis itu tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya, dan menghapus jarak diantara mereka berdua.


"Van, ... kamu ...


Cup.


Dia mengecup bibirnya, menghentikan apa yang akan pria itu ucapkan. Napas hangat saling menerpa, dan menjalar ke segala arah. Yang kemudian membuat sentuhan di bibir itu berlanjut.


Vania kembali mengecup untuk beberapa kali, dan berikutnya Arya menyambutnya dengan lum*tan lembut, kemudian memagut dan menyesapnya dengan penuh perasaan.


Vania mengejang, dia merasakan sesuatu menyengat tubuhnya dengan hebat. Dan seketika membuatnya membalas lum*tan Arya. Memagut dan menyesapnya pula seperti yang pria itu lakukan kepadanya.


Vania melepaskan selimutnya sejenak, untuk kemudian menarik Arya, dan mengurungnya di dalam bersamanya. Lalu dia memeluknya dengan erat. Saling berbagi kehangatan di dalam sana, dan mereka mulai menikmatinya.


Kedua tangan Arya mulai tak terkendali, dia meremat bagian belakang gadis itu, kemudian merayap menyusuri punggungnya, merasakan setiap lekuk tubuhnya yang masih berbalut pakaian lengkap.


Vania merasakan hal lain pada dirinya, dia merasa berdebar, malu, dan canggung. Namun juga menyukainya, dan malah menginginkan hal lain saat Arya menyentuhnya seperti itu. Napasnya mulai menderu-deru, tubuhnya bergerak tak karuan diatas pangkuan Arya, dan dia terus memeluknya semakin erat. Membuat dada mereka menempel dengan sempurna.


Cumbuan mereka semakin dalam, dan kesadaran mulai mengabur dari keduanya. Ketika sentuhan pun semakin memanas, dan tak ada yang menolak akan itu. Segalanya terasa begitu menghanyutkan.


Vania bahkan membiarkannya saat Arya mendorongnya kembali kedalam tenda. Dan pria itu membalikan keadaan dalam sekejap, sehingga gadis itu berada dibawahnya. Tanpa melepaskan cumbuan, dan malah membuatnya semakin dalam saja.


"Abang?" Vania berbisik pelan dengan napas menderu saat Arya mengecupi telinganya, kemudian menuruni leher jenjangnya yang beraroma manis. Sebelah tangannya bahkan telah menyelinap dibalik kaus gadis itu dan menyentuh kulit mulus di dalamnya.


"Ng ...


Pandangan mereka kembali bertemu, namun kini dengan perasaan berbeda. Ada rasa bersemangat yang meletup-letup, dan getaran hebat di dada keduanya. Darah mereka berdesir keras, dan degup jantung berpacu semakin cepat.


Gadis itu mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah tegas diatasnya, mengusap pipi Arya dengan lembut kemudian menyurukan jari-jarinya diantara helaian rambut hitam milik pria itu. Kemudian menariknya dan melanjutkan cumbuan yang sempat terjeda.


Arya mengurungnya dengan begitu erat seakan takut mereka terlepas, lalu dia menghisap bibir lembut Vania dengan keras sehingga gadis itu melenguh.


Namun tiba-tiba Arya berhenti. Dia kembali menatapnya dengan napas yang masih menderu-deru, kemudian melepaskan diri. Dan Arya bangkit sambil menyugar rambutnya yang berantakan.


"Lama-lama abang bisa gila." dia terkekeh, kemudian meremat kepalanya sendiri untuk mengembalikan kesadaran yang sempat terburai.


Dia menoleh ke belakang ketika Vania bangkit seraya membenahi pakaiannya yang berantakan.


"Maaf, abang keterlaluan." katanya lagi, terdengar menyesal namun bibirnya membentuk sebuah lengkungan senyum.


Vania menggelengkan kepala, kemudian mendekat. Dia melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu dan menyandarkan kepala pada pundak kokohnya yang masih terasa bergerak dengan cepat. Akibat menahan perasaan yang begitu besar.


"Ini sebabnya abang mau serius, abang takut kita kebablasan." katanya. "Kamu tahu, nahan diri itu berat."


Vania tertawa.


"Malah tertawa?"


"Aku pikir nahan rindu yang berat? tahunya nahan diri juga berat ya?"


"Hmm ..." Arya mengangguk. "Kasihan juga author, harus sering nahan jempolnya buat ngetik. Padahal reader suka nagih kekhilafan."


Vania tertawa lagi.


"Ayolah, jangan sembunyi-sembunyi lagi. Abang nggak tahan. ... eh, nggak kuat kalau lama-lama begini."

__ADS_1


Gadis itu terdiam mengulum senyum.


"Apalagi kalau situasinya seperti ini, kita sama-sama tapi tidak bisa benar-benar bersama."


"Uuhh ... sayang." Vania mengeratkan lilitan tangannya di tubuh Arya.


"Abang serius."


Vania malah kembali mendekatkan wajahnya, lalu cumbuan itu kembali terjadi.


"Van ..." Arya menarik diri.


Dan gadis itu tertawa lagi.


Namun suara dering ponsel menjeda percakapan mereka, dan keduanya saling pandang.


"Bukan hape aku." ucap Vania.


"Bukan punya abang juga."


"Terus?"


Dan merekapun terdiam saat mendengar suara bisikan dibelakang tenda. Dan Arya segera bangkit untuk memeriksa.


"Kalian?" pria itu setengah berteriak saat mendapati ketiga adik perempuannya yang tengah berdebat namun dengan suara yang berbisik dibelakang tenda.


Alena bahkan sambil menjawab telfon dari suaminya yang mencari keberadaannya.


"Eh, ... abang?" Anna dengan raut canggung.


"Kalian sedang apa?" pria itu bereaksi.


"Lagi ... itu, .. ng ..." Alya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Situasi ini sungguh memalukan dan membuat canggung.


"Abang jangan marah, kita cuma ... itu ..."


"Apa? mengintip?" Arya melipat kedua tangannya di dada.


"Ampun bang! bukan aku, tapi Alena. Aku nggak ikut-ikutan sumpah!" Anna memegang kepalanya seolah tengah melindunginya dari bahaya yang mungkin sebentar lagi akan dia dapatkan karena melakukan hal konyol.


"Dih, apaan?"


"Sumpah! Alena yang ngajakin, bukan aku!" rengek Anna lagi.


Membuat Arya menggelengkan kepala, sementara Vania berlindung dibalik punggung lebar pria itu untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah menahan malu.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


nah lu, pada ketahuan kan?


🤣🤣🤣

__ADS_1


**like komen hadiah sama votenya dulu dong ...


makasih 😘😘**


__ADS_2