
🌺
🌺
Mereka memasuki rumah yang tampak sunyi, yang kini terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Cuaca dingin dan langit mendung menambah suasana semakin kelabu, menambah sendu dua hati yang masih diliputi kesedihan karena kehilangan, setelah satu minggu peristiwa kebakaran dan keguguran terjadi.
Vania berhenti saat melewati jendela, lalu menoleh ke arah halaman belakang. Sebuah area yang tidak terlalu luas di belakang rumah mereka yang hanya di pisahkan oleh sekat di dekat tangga menuju kamar mereka.
Beberapa pot bunga dan pohon mangga kecil tumbuh subur disana, di dekat dinding yang ditata hingga menyerupai tebing di alam terbuka, dengan tanaman merambat yang menghiasinya.
Dia menatap gundukan tanah yang seperti baru saja ditumpuk, dengan setangkai mawar putih ditanam diatasnya.
Vania membuka pintu, kemudian berjalan ke area itu, dan berhenti tepat di dekat gundukan tanah tersebut, kemudian berjongkok. Berdiam diri selama beberapa saat hingga kedatangan Arya membuyarkan lamunannya.
"Sudah sore, sebentar lagi hujan. Ayo masuk?" dia ikut berjongkok, lalu menyentuh pundak perempuan itu.
"Dia... laki-laki atau perempuan ya?" Vania bergumam.
"Tidak tahu, kan belum berbentuk?"
"Abang lihat?"
"Lihat."
"Seperti apa bentuknya?" Vania mendongak.
"Masih berupa gumpalan."
"Jadi, ... kita kasih nama apa?"
"Apa ya? abang nggak kepikiran soal itu."
"Sayang, ... belum apa-apa malah keguguran?" Vania menatap lagi gundukan tanah tersebut.
"Bukan milik kita, ..." Arya merangkul tubuh Vania, kemudian menariknya untuk bangkit.
***
"Polisi udah dapat info soal penyebab kebakaran?" Vania kembali memulai percakapan saat mereka berada di ruang tengah, setelah menyelesaikan makan malam yang terasa hambar dan tak berselera.
"Abang belum tahu."
"Mungkin nggak kalau kafe itu sengaja dibakar?" Vania dengan asumsinya.
"Belum ada bukti."
"Kalau memang sengaja dibakar gimana? kan ada yang mau beli kafe itu, tapi ibu nggak kasih. Mungkin sengaja biar ibu lepas dengan harga murah."
"Belum ada bukti yang mengarah kesana Van. Mereka sedang berusaha mengungkapnya sekarang."
"Kalau benar gitu, ... tega ya mereka? berani berbuat jahat demi mendapatkan apa yang mereka mau?"
"Kadang harta bisa membuat siapapun buta. Keinginan yang besar untuk memiliki sesuatu bisa membuat siapapun lupa. Menghilangkan rasa kemanusiaan, bahkan mampu mengaburkan hubungan darah sekalipun."
"Apa mungkin tante Rahma sama Om Rian pelakunya? semalam sebelumnya aku berantem sama mereka karena memaksa ibu untuk menjual kafe."
"Belum ada bukti juga, dan kita tidak boleh menuduh sembarangan, atau akan jadi fitnah."
"Hmm... "
"Jangan dulu memikirkan hal itu, lebih baik kita fokus dengan kesehatanmu." Arya menariknya kedalam pelukan, lalu mendekapnya begitu erat.
"Obatnya sudah kamu makan?"
__ADS_1
"Udah." Vania menganggukan kepala.
"Vitamin?"
"Udah juga." kepalanya bergerak-gerak dalam pelukan.
"Ya sudah, ayo tidur?" ajaknya kemudian.
"Masih jam sembilan." perempuan itu melirik jam dinding tak jauh dari mereka.
"Harus banyak iatirahat, agar kamu cepat pulih." Arya bangkit dan menarik perempuan itu kelantai atas dimana kamar mereka berada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suara petir yang menggelegar menyambar di kejauhan, namun terasa begitu dekat memecah kesunyian pada lewat tengah malam itu, disela derai hujan yang begitu lebat, yang menurunkan suhu udara hingga terasa hampir membekukan.
Vania terjaga dari tidurnya, dan dia merasakan panik yang tak terkira.
Arya pun ikut terbangun ketika merasakan pergerakan disampingnya, dan selimut yag disingkap oleh perempuan itu sebelum dia turun dari tempat tidur mereka.
"Vania, ..." panggilnya saat perempuan itu berjalan keluar.
Arya mengikutinya, dan pada saat mereka tiba dilantai bawah perempuan itu segera membuka lemari penyimpanan dibawah tangga.
"Payung.... " dia bergumam.
"Abang simpan payungnya dimana?" dia bertanya, tanpa menghentikan kegiatan tangannya. Membuka beberapa pintu lemari, dan laci yang dapat dia jangkau dengan tangannya.
"Payung untuk apa?" Arya mendekat.
"Dimana bang?"
Arya meraih benda di sisi lemari, sebuah payung berukuran kecil yang biasa dia simpan disana.
"Untuk apa?" dia mengulurkan payung dalam genggamannya, yang segera diterima oleh Vania.
Perempuan itu tak menjawab, dia lantas membuka pintu belakang dan berjalan ke area belakang rumah.
Vania berhenti tepat di dekat gundukan tanah, yang dia ketahui adalah tempat janin yang baru berusia lima minggu itu dikuburkan.
"Kasian abang, dia kehujanan, dan kedinginan." Vania bergumam. Dengan payung yang dibawanya, dia berjongkok menghalangi gundukan tanah tersebut dari derai air hujan.
"Dia sendirian." ucapnya lagi, seraya mengeruk pinggiran tumpukan tanah yang mulai terendam air hujan itu dengan tangannya. Membuat air yang mulai tergenang itu mengalir ke sisi lain.
"Hujan Vania, ..."
"Aku tahu, dan dia juga kehujanan."
"Ini sudah malam, dan kita harus masuk." Arya berucap.
"Kasihan dia bang." Vania dengan raut sendu.
"Tapi ini tengah malam. Seharusnya kamu di dalam rumah, belum lagi hujan sederas ini, kamu akan sakit kalau terus berdiam disini." pria itu mendekat kemudian berjongkok.
"Bisa nggak kita bikin sesuatu biar tempat ini teduh untuk dia? se nggaknya jangan kehujanan kayak gini? kan kasihan." ucap Vania lagi.
Arya terdiam dengan perasaan pilu. Perempuan ini tak sadar dengan ucapannya, dia masih dikuasai rasa sedih dan duka mendalam, sehingga membuatnya meracau tak karuan.
"Kita buatkan besok. Sekarang kita harus kembali kedalam rumah ya?" bujuknya.
"Sekarang abang, hujannya kan sekarang, ... kalau besok hujannya udah reda."
"Tapi Van...
__ADS_1
"Dia kedinginan bang, ... kasihan... " rengeknya, dan hal tersebut membuat Arya benar-benar terenyuh.
"Kita payungi dulu malam ini, ... " Arya meletakan payung yang dibawanya diatas gundukan tanah itu.
"Besok abang buatkan sesuatu, oke?"
"Hum?" Vania mendongak.
"Sekarang kita masuk lagi ya? nanti kamu bisa sakit kalau terus diam disini."
"Dia sendiri."
"Dia tidak sendiri, kan ada kita di dalam rumah."
"Tapi...
"Kita tetap sama-sama, walau memang beda alam. Tapi abang yakin dia baik-baik saja. Tuhan akan menjaganya dengan baik, dan dia bersama mereka yang sudah lebih dulu ada disana."
Vania menatapnya dengan mata bekaca-kaca.
"Kamu tahu, dia akan sedih kalau tahu bundanya seperti ini."
"Masa?"
"Kalau kita menyayangi dia, lebih baik kita doakan setiap hari, jangan meratapinya seperti ini."
"Aku nggak...
"Doakan dia, Vania. Kelak dia yang akan menyambut kita di pintu surga saat kita meninggal. Dia yang akan menjadi penyelamat kita nanti."
"Abang pikir gitu?"
"Bukan abang pikir, tapi memang seperti itu."
Perempuan itu terdiam.
"Jadi, ayo kita masuk? bunda harus sehat agar bisa menjaga abang dan punya anak lagi nanti." Arya mencoba untuk membujuknya.
"Apa kita bisa punya anak lagi?"
"Bisa, tentu saja bisa."
"Gimana kalau nggak?"
"Pasti bisa. Dokter bilang kita masih bisa punya anak lagi. Tapi sebelum itu, kamu harus sehat dulu, dan tidak boleh terus-terusan bersedih seperti ini." pria itu berujar.
"Abang janji?"
"Janji. Kali ini abang akan lebih menjaga kalian." ucap Arya, lebih seperti tengah membujuk seorang anak kecil untuk mengikuti perkataannya.
Vania kemudian bangkit.
"Tapi besok bikinin sesuatu biar tempat ini lebih teduh ya? biar kalau hujan lagi dia nggak kedinginan, jadinya aku nggak akan terlalu sedih." Vania membenahi payung yang menaungi pusara kecil buah hati mereka.
"Iya, besok abang buatkan." Arya pun bangkit, dan dia meraih tangannya. Perlahan dia menggerakan kakinya untuk membawanya pergi dari tempat itu.
🌺
🌺
🌺
Bersambung...
__ADS_1
Like komen hadiah dan vote nya maaih selalu aku tunggu ya gaess 😘😘😘