Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Anak-anak


__ADS_3

🌺


🌺


Mereka tiba di kantor polisi pada hampir sore, setelah lebih dari dua hari menunggu hasil penyelidikan polisi dengan bukti rekaman cctv dan hasil penyelidikan Rasya di hari sebelumnya.


Seorang pria dengan wajah lebam dan kaki di verban akibat tembakan karena melawan petugas duduk pasrah di kursi setelah menjalani interogasi. Dan seorang perempuan duduk di sebelahnya dengan keadaan berantakan, mereka sama-sama telah mengenakan pakaian tahanan kantor polisi sekitar kota. Setelah aksi kejar-kejaran di jalan yang terjadi di malam sebelumnya, mengakhiri penggrebekan di kediaman Rahma.


Arya menarik lengan Vania yang mencoba mendekat ke tempat itu, khawatir dia akan melakukan sesuatu yang tak diinginkan.


"Aku pastikan tante dan om akan mendapat hak kalian secara penuh." ucapnya dengan tenang.


Rahma mendongakkan kepala, memberanikan diri untuk menatap wajah keponakannya yang sangat dia benci karena selalu menghalanginya menjalankan rencana.


"Tapi, Karena kerugian akibat kebakaran itu lebih dari apa yang seharusnya akan menjadi milik tante, ditambah menyebabkan aku kehilangan anak yang udah lama aku tunggu, maka aku memutuskan untuk mengambil semuanya sebagai ganti rugi. Meskipun apa yang sudah hilang nggak akan bisa tergantikan oleh harta sebanyak apapun." Vania dengan nada dingin dan datar.


"Tapi tante beruntung, nggak meninggalkan seorang anak yang akan terlantar karena aku pastikan kalian akan lama mendekam di dalam penjara. Kalian beruntung nggak punya anak." sarkasnya, dan dia terkekeh getir.


Tidak ada yang menjawab ataupun menyanggah, karena bukti memang kuat menunjuk pasangan suami istri tersebut sebagai dalang dibalik peristiwa kebakaran itu. Ditambah pengakuan dari tersangka pertama sebagai pelaku pembakaran yang dibayar dengan lembaran uang beberapa juta untuk menghancurkan tempat tersebut.


"Aku... memutuskan hubungan darah diantara kita. Aku nggak sudi mengakui tante sebagai tante aku, kita nggak ada hubungan saudara lagi." ucapnya, yang hampir saja dihentikan oleh Arya.


"Aku mau keadilan buat ibu, dan aku mau semua hak-hak ibu dilindungi, meski itu harus mengorbankan milikku sekalipun." ucapnya kepada Rasya, yang sejak hari itu memutuskan bertindak sebagai pengacara bagi keluarga Vania.


Pria itu menganggukan kepala.


"Abang aku capek, mau pulang." katanya, seraya melangkah keluar dari ruang interogasi.


🌺


🌺


Arya menghentikan kegiatannya menyiapkan makanan untuk mereka ketika mendengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Suara gaduh tentu saja langsung terdengar ketika penumpangnya turun, dan suara anak kecillah yang paling mendominasi.


Pintu terbuka dari luar saat pria itu hampir menyambut kedatangan adik bungsu bersama suami dan anak-anaknya.


"Ayaaaahhh!!!" dua balita segera berlari menghambur memeluk kakinya.


"Kalian!!" Arya merangkul, kemudian menciumi puncak kepala keduanya.


"Kalian dari mana?" dia bertanya saat Alena muncul diikuti Hardi, meraup dua tubuh kecil keponakannya yang menggapai-gapai minta di gendong.


"Dari rumah." jawab sang adik yang menenteng sebuah tote bag berukuran besar. Kemudian merangsek masuk dan meletakan barang bawaannya diatas meja makan.


"Abang masak?" Alena menatap sepiring omelet dan sayuran diatas meja.


"Sedikit." Arya menjawab.


"Hmm... kebetulan aku bawa makanan." dia menepuk tote bag miliknya.


"Vania dimana?" Alena Kemudian bertanya.


"Di belakang, seperti biasa." pria itu menunjuk area belakang tempat istrinya biasa menghabiskan waktu sepulangnya dari rumah sakit.


"Masih aja kayak gitu?" Alena menatap kakak ipar sekaligus sahabatnya yang asyik duduk menyendiri di teras belakang rumah mereka.


"Begitulah, ... Tapi sekarang sudah lebih baik, tanpa menangis dan meratap seperti sebelumnya." Arya berujar.


"Sampai segitunya? padahal baru berapa minggu ya? coba kalau orang lain, ada yang anaknya udah gede, dan mereka juga harus rela ditinggal pergi?"


"Tingkat penerimaan orang beda-beda Al, ada yang bisa menerima keadaan dengan lapang dada, ada juga yang seperti Vania, yang terpuruk walau anak yang dia kandung masih dalam hitungan minggu. Apalagi dia tidak sadar sedang hamil? Kita tidak bisa memukul rata kadar penerimaan setiap orang. Apalagi dia yang terbiasa segala hal terkendali dibawah kuasanya." jelas Arya.


"Iya juga, ... berarti pikiran aku salah dong?"


"Tidak salah, kamu hanya tidak mengerti. Coba posisikan kamu sendiri sebagai Vania, pasti kamu akan bisa memaklumi apa yang dia rasakan."


"Iya, abang Bener."


"Oh iya, apa perlu kita bawa Vania ke psikiater?" lanjut Alena.


"Untuk apa?"


"Untuk memulihkan mentalnya. Mungkin kalau dia konsultasi sama ahlinya akan membuat dia pulih lebih cepat."


"Kamu pikir begitu?"

__ADS_1


"Kalau Vanianya mau. Tapi kalau nggak mau jangan dipaksa ya?"


"Hmm... kita tunggu saja sampai akhir minggu ini, kalau dia masih seperti itu abang bawa dia ke psikiater."


"Baiklah, begitu juga nggak apa-apa."


"Bundaaaa!!" Alea menggeliat meminta pria itu untuk menurunkan tubuhnya.


Bocah berusia satu tahun itu segera berlari menghampiri Vania di teras belakang meski langkah kakinya tersaruk-saruk. Membuat perempuan itu menoleh ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya, dan seketika wajahnya berubah semringah.


"Alea!!!" katanya, dan dia merentangkan tangannya.


"Bunda apa?" bocah itu bertanya saat dia telah tiba dipelukannya. Menatap wajah Vania dengan mata bulatnya yang bening berkilauan ditimpa cahaya lampu di langit-langit teras.


"Nggak apa-apa." jawab Vania seraya mengecupi puncak kepalanya. "Kakak mana?"


"Yayang?" Alea mengerutkan dahi.


"Hu'umm... kak Yayang."


"Itu... " dia mengarahkan telunjuknya kepada Dilan yang berjalan ke arah mereka.


Vania tersenyum, dan dia melirik tiga orang dewasa yang mengikuti bocah laki-laki tersebut.


"Kalian.... " ucapnya, lalu dia menarik Dilan dan memeluknya seperti yang dia lakukan kepada Alea.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sepertinya dia akan pulih dengan cepat kalau bertemu anak-anak?" Arya menatap interaksi Vania dengan dua keponakannya. Keceriaannya seperti kembali, dan dia terus tertawa sepanjang waktu. Mereka bertiga bahkan kembali asyik bermain di halaman belakang rumah itu sesaat setelah makan bersama.


"Kayaknya gitu." sahut Hardi.


"Mungkin kalian harus sering-sering datang kesini?"


"Lihat nanti deh, kalau aku nggak banyak kerjaan dirumah." Alena yang selesai membereskan bekas makan mereka.


"Se sempatnya saja. Tidak usah setiap hari."


"Oke, nanti aku coba."


***


"Hu'um, ... panggil anak-anak dulu."


"Abang kira kalian akan menginap malam ini?" Arya bangkit dari kursinya.


"Nggak bisa, besok Dilan mulai sekolah. Aku repot kalau nginep sisini."


"Oh ya? Dilan sekolah? memangnya sudah waktunya? Sekarang berapa tahun?" Arya bereaksi.


"Mau empat tahun kan? baru masuk PAUD sih,. biar terbiasa ketemu orang-orang." jawab Alena.


"Oh, ... baiklah kalau begitu."


"Anak-anak nggak mau pulang, Yang." Hardi muncul dari pintu belakang, tanpa membawa dua anak balitanya seperti yang diminta Alena.


"Masa?"


"Iya, ...mau nginep katanya." jawa Hardi.


"Nggak bisa, ... Dilan harus sekolah kan?"


"Tapi mereka nggak mau aku bawa." ucap Hardi lagi.


Kemudian Alena memutuskan untuk melihat anak-ananya yang memang masih saja asyik bermain-main dengan Vania di teras belakang.


"Yayang, Alea... ayo pulang?" panggilnya saat dia mendekat.


"No ....!" mereka menolak.


"Eh, ... Yayang kan besok harus sekolah?"


"Hum?" anak laki-lakinya menoleh.


"Dilan udah sekolah?" Vania menyahut.

__ADS_1


"Baru mau mulai."


"Oh, ... nggak bisa nginep dong?"


"Nggak bisa, nanti aku repot harus bangun pagi-pagi dan buru-buru pergi." tolak Alena.


"Yah, ... padahal aku masih kangen anak-anak." Vania dengan raut kecewa.


"Nanti kalau Dilan libur kita kesini lagi kok. Atau kalau nggak bisa, kamu aja yang main kerumah ya? biar refreshing gitu, nggak dirumah melulu."


Vania terdiam.


"Oke, kalau gitu, ... kita pulang..." Alena mengulurkan tangan dan menarik kedua anaknya untuk pergi dari sana.


***


"Nggak bisa gitu semalam aja nginep? aku masih kangen anak-anak." rengek Vania saat mereka hampir saja pergi.


"Maaf, ... kalau hari libur aku janji nginep disini." Alena kembali menolak. "Kalau Sekarang akunya 'kan nggak bawa persiapan."


"Hmm... Alea juga sekolah ya? atau ke daycare?" Vania dengan nada sendu.


"Nggak. Alea kan baru setahun, aku masukin daycare juga cuma sesekali kalau bener-bener repot aja."


Vania membulatkan mata, dan dia berpikir.


"Kalau Alea aja yang nginep disini gimana?" ucapnya kemudian, dan dia hampir saja meraih balita satu tahun itu dari dekapan ibunya.


"Mana bisa?"


"Please, ijinin Alea nginep sisini. Semalam aja." Vania mengiba.


"Tapi... dia masih menyusu."


"Cuma semalam, bekalin aja sekalaian."


"Nanti kalau nangis malam-malam gimana?"


"Nggak akan, dia nggak pernah rewel kan?"


"Emang sih, tapi kan...


"Please, please... semalam aja, aku mau tahu gimana rasanya punya anak. Tidur sama mereka, terus pas bangun tidur ada mereka juga. Please." Vania meminta dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


"Abang... " Vania menoleh kepada suaminya minta bantuan.


Namun tiga orang di hadapannya terdiam.


Alena bahkan melirik ke arah Hardi yang sudah siap dibalik kemudi mobilnya. Dan pria itu mengangguk perlahan, dia tak tega melihat perempuan yang masih berkabung itu memohon.


"Please, Al... " ucap Vania lagi.


"Ya udah, ..." dia menyerahkan Alea kepadanya.


"Tapi kalau nanti malam dia nangis langsung telfon aku ya? aku pasti datang." Alena dengan berat hati, namun tak tega juga menolak permohonan sahabat sekaligus kakak iparnya itu.


"Makasih... " Vania segera mendekap keponakannya dengan erat, "Ayo kita bobo." katanya, diikuti kekehan kecil, kemudian segera membawanya masuk kedalam rumah, dia takut adik iparnya berubah pikiran.


"Abang telfon aku ya kalau ada apa-apa?" Alena beralih kepada Arya.


"Iya."


"Ya udah, ... aku pulang." pamitnya.


"Iya, dan... terimakaaih Al, ..."


"Hmmm... " perempuan itu masuk kedalam mobilnya, kemudian merekapun pergi.


🌺


🌺


🌺


Bersambung...

__ADS_1


like komen sama hadiahnya lagi oke?? 😂😂😂


__ADS_2