
🌺
🌺
Perjalanan pulang sore itu terasa hening, tidak ada yang berniat memulai percakapan seperti biasa. Mereka asyik dengan pikirannya sendiri-sendiri.
Cuaca agak cerah, dan matahari masih terlihat bersinar keemasan di langit sore kota Bandung, dengan lalu lintas padat seperti hari-hari biasanya.
Mereka melewati area dimana kafe milik Melly yang terbakar lebih dari satu bulan yang lalu itu berada.
Vania menegakkan posisi duduknya, dan pandangannya dia tujukan ke tempat itu.
"Aku mau mampir dulu bang." katanya saat mobil mereka lewat tepat di depan area kafe.
Tanpa banyak bertanya Arya membelokan mobil yang dikendarainya ke tempat parkir di depan kafe.
Vania tertegun menatap puing-puing tempat itu yang terakhir dia datangi pada malam kebakaran itu terjadi, garis polisi masih melingkari sebagian bangunan, beberapa papan terlihat dipakai sebagai penutup area-area penting demi keamanan. Dan lagi-lagi hal itu mengingatkannya pada rasa kehilangan mendalam.
"Kamu mau turun?" Arya mematikan mesin mobilnya beberapa meter dari depan kafe.
Vania menghela napas dalam dan berat, hatinya tentu saja terasa sesak dan perih. Melihat satu-satunya harta berharga peninggalan kakek dan ayahnya yang mereka rintis dari nol hancur di depan matanya. Niat baik Melly mempertahankannya sebagai sandaran agar mereka tetap memiliki penghidupan dinilai lain oleh Rahma yang dikuasai keserakahan. Belum lagi karena pengaruh Rian yang mungkin terus tertanam di pikiran sang tante untuk merebut haknya walau dengan cara yang tidak baik.
"Karena hal itu bukan milik kita, makanya hilang, walaupun sudah ada dalam genggaman." Arya merangkul pundaknya.
Lagi-lagi, Vania menghela dan menghembuskan napasnya dengan pelan, seolah sedang berusaha menetralisir perasaan pilu yang menguasai hati.
"Kita pulang?" ajak Arya kepadanya.
"Mau jalan dulu sebentar boleh?" Vania mendongak.
"Jalan kemana?"
"Ngga tahu, sekitar sini. Mungkin nanti akan jarang datang kesini. Aku takut kangen tempat ini, yang sejak kecil aku lewati selama bertahun-tahun."
"Baiklah, tapi harus janji setelah ini tidak boleh sedih lagi."
"Iya."
"Oke." kemudian mereka berjalan menyusuri trotoar di sepanjang jalan itu. Melewati gedung-gedung tinggi dan bangunan hotel. Kafe lain juga restoran yang memang berada di area itu.
***
"Aku baru tahu kalau disekitar sini ada taman kotanya juga?" keduanya duduk di kursi taman pertama yang mereka temukan. Vania menyandarkan punggungnya pada lengan Arya yang terulur di belakang tubuhnya.
"Sudah lumayan lama. Mungkin karena kamu terlalu sibuk dan sudah jarang lewat jalan ini jadi tidak tahu." Arya meraih tangannya sehingga jari mereka bertautan.
"Oh ya?"
"Ya. Dan akhir-akhir ini memang banyak dibuat taman kota baru."
"Itu bagus. Jangan cuma bikin gedung aja kan? biar Bandung nggak makin panas."
"Begitulah."
"Eh, ... kalau nggak ada yang bikin gedung terus abang kerja apa dong ya?"
Arya hanya tersenyum.
"Nggak akan ada yang pesan desain bangunan lagi dong?" perempuan itu menegakan tubuhnya kemudian menoleh.
"Yang pesan desain pasti akan selalu ada, bukan cuma untuk gedung, Tapi juga untuk rumah, restoran, atau yang lainnya."
"Masa?"
"Iya." Arya mengangguk sekilas. "Akan selalu ada orang yang membangun sesuatu, atau membuka usaha baru yang membutuhkan ide-ide dan desain baru. Bukan hanya disini, pesanan desain dari kota laon juga selalu ada."
"Jadi kerjaan abang itu nggak akan mungkin sepi dong ya?"
"Setiap pekerjaan pasti akan ada masa naik turunnya. Tergantung tren dan minat masyarakat."
"Oh, ... tetep aja ya kan?"
"Iya, pekerjaan apapun sama. Tidak akan selalu berada di bawah dan tidak juga selalu diatas. Sama seperti usaha kamu yang kadang ramai dan kadang juga bisa sepi."
"Hmm... abang tahu, kafe itu dulunya cuma rumah makan kecil, nggak jauh sama kedai aku sekarang. Tapi kakek menjual beberapa petak tanah untuk membuat tempat itu jadi lebih besar. Dengan usaha ayah sama ibu, dan kadang-kadang aku juga, jadilah kafe sebesar itu. Apalagi di tangan ibu yang bikin banyak menu baru, dan nerima banyak acara yang bikin kafe bisa seperti sekarang. Yang sayangnya malah bikin tante Rahma salah faham. Dia mengira ibu mau menguasai kafe sendirian, padahal ibu gitu karena biar kita tetep punya penghasilan tanpa harus susah-susah kerja ditempat orang." Vania kembali menyandarkan kepalanya pada lengan pria itu.
"Tapi setiap hal akan menemukan ujiannya sendiri bukan? kita hanya tidak tahu waktunya kapan dan seperti apa. Kita mengira kafe sudah kuat dan stabil karena sudah sebesar ini, terkenal juga di kalangan pengunjung. Banyak yang berminat mengadakan acara disana tapi kita tidak tahu, orang dalam sendiri menyimpan dendam dan melakukan sesuatu diluar perkiraan kita." jawab Arya.
"Terus, apa akan ada ujian lain lagi setelah ini?" Vania sedikit mendongak untuk melihat wajah suaminya.
"Tidak tahu, tapi abang rasa itu wajar-sajar saja kan. Seperti yang pernah kamu bilang, namanya juga hidup pasti banyak ujian, kalau banyak wijennya namanya onde-onde." pria itu terkekeh.
"Ish, ...kapan aku bilang gitu?" Vania mengerutkan dahi.
"Waktu itu."
__ADS_1
"Kapan? Aku nggak ingat."
"Tidak usah diingat kalau begitu, nanti kamu pusing." Arya terkekeh lagi.
"Tapi... apa kita akan baik-baik aja setelah ini?" Vania menoleh lagi.
"Tentu saja. Apa yang kamu khawatirkan?"
"Nggak tahu, cuma sedikit takut aja."
"Takut apa?"
"Nggak tahu, ..." Vania menggendikkan bahu.
"Kita akan baik-baik saja, asalkan terus bersama."
"Hmm...
"Jangan khawatirkan apapun. Kita akan baik-baik saja."
🌺
🌺
"Obatnya sudah?" mereka sudah ada di tempat tidur, dan Vania merebahkan dirinya disisi Arya, yang kemudian menariknya hingga tubuh mereka merapat.
"Udah." perempuan itu menjawab.
"Sekarang tidurlah."
"Abang belum ngantuk?" dia menatap Arya yang pandangannya fokus pada televisi di depan sana.
"Belum, mungkin sebentar lagi." jawab pria itu.
"Aku jadi kepikiran kafe, terus kepikiran ibu juga."
"Sebenarnya tadi abang mau melarang kamu mampir kesana, takut kalau kamu akan kepikiran dengan kafe, tapi abang tidak tega. Tahunya benar kan seperti ini?"
"Hu'um, ... tapi nanti ibu gimana ya, kan kafe sekarang nggak bisa beroperasi?"
"Besok kita tengok ibu."
"Ng ... oke."
"Sekarang tidurlah." ucap pria itu lagi yang mengeratkan rangkulannya pada pundak Vania.
"Apa lagi?"
"Kalau kita bangun lagi kafenya gimana?" perempuan itu mengangkat kepalanya.
"Hah?"
"Kita bangun lagi kafenya. Dari nol." ulang Vania.
Arya terdiam, dan dia malah menatap wajah perempuan diatasnya yang sedikit menyunggingkan senyum, juga kedua alisnya yang sedikit dia angkat keatas.
"Mau renovasinya kedai, terus sambil membangun kafe lagi?"
"Eee... kebanyakan ya?"
"Apa tidak akan repot? dan lagi untuk membangun kafe dari nol butuh biaya yang sangat besar."
"Berapa besar?"
"Sangat-sangat besar. Kita harus menghancurkan dulu puing-puing yang tersisa, lalu membangun ulang semuanya dari awal. Abang menyebutnya rebuild system. Selain banyak hal yang harus di perhitungkan, banyak juga biaya yang harus kita keluarkan untuk itu."
Vania terdiam menatap wajah suaminya, sebuah ide bahkan sudah muncul di otaknya.
"Kalau aku ngajuin kredit lagi sama abang, bakalan dikasih nggak?"
"Apa?" pria itu bereaksi. "Baru abang acc tadi siang sekarang mau ajukan lagi?"
"Iya." Vania menganggukan kepala.
"Tidak bisa, tidak mungkin juga."
"Kenapa? harus nunggu yang ini lunas dulu?"
"Bukan."
"Terus kenapa nggak bisa?"
"Kamu pikir abang punya uang sebanyak itu untuk membangun ulang kafenya?"
"Emangnya nggak?"
__ADS_1
"Uang sebanyak itu mana ada? Memangnya abang ini pengusaha kaya?"
"Aku pikir abang punya?"
Arya tertawa dengan keras.
"Duit abang udah habis untuk renovasinya kedai aku?" tanya Vania dengan polosnya.
"Masih ada."
"Terus kenapa tadi bilangnya nggak ada?"
"Abang masih ada tabungan, tapi tidak sebanyak itu."
"Oh, ... aku pikir banyak." Vania dengan nada kecewa.
Arya berpikir sebentar.
"Kalau pengusaha sekelas Pak Harlan mungkin punya."
"Nah, ... gimana kalau kita pinjam saa Om Harlan?"
"Tidak mungkin."
"Kenapa?"
"Ya tidak mungkin, untuk apa kita pinjam kepada Pak Harlan? kamu mau menambah beban? setiap bulan kita harus bayar cicilan, padahal pendapatan kafe juga belum tentu kita dapat berapa?"
"Iya juga ya."
"Tapi ... kalau abang resign mungkin kita akan dapat uang yang lumayan, ..."
"Masa?"
"Iya, uang pesangon yang akan abang dapat lumayan besar kalau resign."
"Oh ya?"
"Apa abang resign saja biar dapat uang pesangon, biar bisa bangun kafe lagi?"
Vania terdiam, dan kembali menatap wajah suaminya.
"Berapa banyak uang yang akan abang dapat kalau resign?"
"Banyak. Hampir dua puluh tahun abang bekerja disana, dikali gaji perbulannya."
"Gaji tahun-tahun sekarang apa dulu?"
"Abang dengar tahun-tahun sekarang."
Mereka berpikir agak lama.
"Banyak bang."
"Hmm...
"Bisa mulai bangun kafe."
"Ya, tapi mungkin tidak sepenuhnya."
"Iya."
"Apa abang harus resign untuk dapat uang pesangonnya?"
Vania terdiam lagi.
"Janga deh, nanti abang nggak kerja lagi, kalau gitu malah aku yang pusing." Vania kembali menyurukan kepalanya di dada Arya.
"Serius ...
"Kita pikirin cara lainnya lagi nanti." ucap perempuan itu, lalu melingkarkan tangannya di tubuh suaminya.
"Tapi Van ...
"Tidur ah, ... aku ngantuk."
🌺
🌺
🌺
Bersambung...
apa abang harus resign biar dapat duit gede? 😁😁
__ADS_1
biasa klik like, komen sama kirim hadiah. Yang masih punya vote juga boleh kirim untuk novel ini.
lope lope segudang 😘😘😘