
🌺
🌺
Vania berjalan mengendap di belakang Arya yang tengah mengenakan kemeja kerjanya, kemudian kedua tangannya menyelinap untuk memeluk tubuh pria itu dari belakang.
"Van?" dia menghentikan kegiatannya sebentar saat kedua tangan perempuan itu menyelusup kedalam kemejanya.
"Hum?" Vania menempelkan wajah di bahunya, lalu tersenyum.
"Kamu akan membuat abang terlambat datang ke kantor lagi."
"Cuma semenit." Vania hampir berbisik, lalu dia merapatkan tubuh di punggung kokohnya. Perasaannya semakin hari terasa semakin meluap-luap, dan dia sulit untuk menahan diri.
"Semenitnya akan jadi lebih lama kalau kamu begini terus..." dia merasakan perut Vania menempel pada bagian belakang tubuhnya.
Arya lalu melepaskan rangkulan tangannya kemudian berbalik. Menatap wajah Vania lalu menundukan pandangan ke arah perutnya yang mulai berbentuk. Kemudian menyentuhnya dengan hati-hati.
"Sebentar lagi ya?" katanya dan dia mengusap-ngusapnya dengan penuh perasaan.
"Apanya?"
"Lahirannya."
"Kirain."
"Apa?"
"Nggak." Vania terkekeh.
"Otak kamu itu." Arya mengusak puncak kepalanya.
"Bukan aku, tapi bayinya Yah."
"Iya, bayinya semakin besar semakin banyak maunya."
"Hu'um, ..."
"Hari Ini juga mau ikut ayah."
"Kerja?"
Vania menganggukan kepala. "Tapi abis itu ke kedai. Udah lama nggak datang kesana."
"Baiklah, tapi kamu harus membiarkan abang pakai baju dulu, baru bisa pergi."
"Oke." Vania segera menghambur keluar dari kamarnya, untuk membiarka pria itu berpakaian.
🌺
🌺
"Dih, ... ngintilin mulu kayak pengantin baru aja?" Raja bergumam saat melihat pasangan suami istri yang baru saja tiba di gedung tempat mereka bekerja.
"Takut suaminya lirik cewek lain ya?" godanya saat mereka lewat di depannya.
"Sirik aja jadi orang? mentang-mentang istrinya nggak ngikutin sampai sini." jawab Vania seraya mendelik.
"Dih, ... apa hubungannya?"
Vania Kemudian sedikit menjulurkan lidahnya untuk mengejek pria yang kini telah menjadi kakak sambungnya itu.
"Enaknya, ... yang kerjanya diikutin istri?" cibirnya, yang lebih ditujukan kepada Arya, Namun rekan kerjanya itu tidak menanggapi. Dan mereka meneruskan langkah hingga masuk kedalam ruangan tempat Arya memeras otak dan menuangkan ide.
"Kalian itu kalau ketemu kenapa suka ribut?" protes Arya ketika sudah berada diruang kerjanya.
"Ngga tahu, suka kesel aja kalau ketemu kak Raja, mukanya ngeselin."
"Bukannya kalian berteman baik dulu? hampir di jodohkan juga kan?"
__ADS_1
"Hmm...
"Terus kenapa sekarang seperti anjing dan kucing?"
"Nggak tahu. Bawaan bayi kali."
Arya mengulum senyum, dan otaknya lagsung teruju pada hal lain setiap kali perempuan itu melontarkan kata tersebut.
"Abang kalau di kantor gini, seharian kerjanya di dalam ruangan gitu?" Vania menghempaskan bokongnya di atas sofa tak jauh dari alas gambar suaminya.
"Begitulah, seperti yang selalu kamu lihat dirumah."
"Nggak bosen?"
"Sudah pekerjaan abang kan?" pria itu membuka gulungan kertas dari tempat penyimpanannya, lalu meletakkannya diatas meja gambarnya untuk kemudian dia periksa kembali sebelum meneruskan pekerjaannya.
"Seperti halnya kamu kalau di kedai kan lebih banyak menghabiskan waktu di dapur?"
"Iya, tapi kan sesekali aku keluar. Kadang belanja, kadang juga nyari referensi gitu."
"Ya abang juga sama, kadang cek lokasi, kadang juga cari bahan untuk ide baru."
"Iya juga ya? jadi sebenarnya sama aja ya kan? cuma jalur sama jenisnya aja yang beda."
"Hmm... "
"Ya udah kalau gitu, aku ke kedai dulu lah." perempuan itu bangkit dan meraih tasnya.
"Ke kedai?"
"Iya, paling nanti Mimi yang nganterin makan siang kesini. kalau aku nunggu abang pulang di kedai aja ya?"
"Abang pikir kamu akan seharian disini menemani abang bekerja?"
"Ye, kalau aku disini seharian kapan abang kerjanya? yang ada nanti malah ngerjain aku?" jawab Vania lalu tertawa.
"Hum?" Arya sedikit menjengit. .
"Ba-ha-ya, Bang... " dia tertawa lagi.
"Hmmm... fitnah? mana ada bayinya begitu?"
"Beneran ih abang."
"Itu paling akal-akalan kamu saja yang mau terus diperhatikan."
"Nah, itu tau... eh... " Vania menutup mulut dengan tangannya untuk menahan tawa yang hampir saja menyembur.
"Kan, itu akal-akalan kamu? dasar modus!" katanya, kemudian mendekat. "Jangan-jangan mual dan muntahnya juga cuma akal-akalan kamu biar abang tidak tega pergi kerja atau menyuruh kamu melakukan pekerjaan rumah?"
"Eh, nggak abang, morning sicknessnya beneran. Asli itu mualnya kebangetan. Sembuhnya kalau deketan sama abang doang."
"Kalau modusnya?" Arya menyentuh perut buncit Vania lalu mengusapnya dengan lembut.
"Nggak ada modus." perempuan itu menggelengkan kepala.
"Hmmm... " Arya mencebik.
"Dikit." Vania terkekeh.
"Dasar."
"Biarin ih, kan sama ayah, daripada modusnya sama ayah orang lain?"
"Mana ada?"
"Bisa, kalau mau."
"Kamu ada rencana untuk modus kepada orang lain?"
__ADS_1
"Mungkin. Sama Kak Raja misalnya, atau om Harlan. Kan asik bisa minta macam-macam. Tapi aku lagi mikir mau minta apa. Mereka pasti nggak akan nolak kalau aku bilang bayinya yang minta. hahaha... " dia berkelakar.
"Tidak boleh. nanti abang yang malu kalau kamu begitu, kamu kan suka bikin malu?"
"Yah, kalau nggak abang kasih ya aku minta sama orang lain aja. Mumpung udah punya papa sama kakak baru."
"Ish? ... Memangnya mau minta apa?"
"Apa aja yang penting berguna."
"Misalnya?"
"Kan udah aku bilang lagi mikir mau minta apa. Nanti kalau udah kepikiran aku bilang. Tapi kalau sama Abangmah nggak usah mikir juga pasti bakalan dapet."
"Apa?"
"Ada deh...
"Dih?"
"Udah ah, ... kalau aku nggak pergi nanti abang nggak mulai-mulai kerjanya."
"Baiklah, kenapa tidak bilang dari tadi? kan abang langsung antar ke kedai, tidak kesini dulu?"
"Nggak apa-apa, anggap aja olah raga."
"Mau abang antar dulu? sepertinya masih bisa kalau cuma beberapa menit?"
"Nggak usah, aku jalan aja lewat taman kota, kan deket. Sambil olahraga juga kan? kata dokter bagus juga kalau banyak jalan."
"Baiklah kalau begitu."
"Oke, pergi dulu." Vania merangkul tubuh tinggi suaminya, dan membenamkan wajahnya di dada pria itu kemudian mendongak setelahnya.
"Sun?" Vania mengerucutkan mulutnya.
"Di kantor tahu? nanti ada yang masuk." Arya melirik pintu yang tertutup rapat.
"Nggak akan. Cuma sebentar." Vania setengah memaksa.
"Ng ...
"Bayinya, mau sun... " dia kembali mengerucutkan mulutnya, namun Arya malah terkekeh sambil mengeratkan pelukannya.
"Modus lagi...
"Biarin, kan sama suami sendiri. Masa aku minta sun sama Kak Raja?" ujar perempuan itu.
"Ah, ... iya. akan aneh jadinya kalau kamu begitu."
"Memang."
Dan akhirnya pria itu menyerah juga, dia mendaratkan kecupan lembut di bibir merah muda milik Vania sebelum dia pergi.
"Dah Ayah, ....
"Dah Bunda...
Kemudian mereka berdua tertawa hingga akhirnya Vania keluar dari gedung itu.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
hilih... kayak main rumah-rumahan? ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1
like komen vote nya jangan lupa