
🌺
🌺
Arya menyugar rambut dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan, lalu dia menutup pintu ruangan itu rapat-rapat.
"Vania mana?" Alena muncul secara tiba-tiba, membuat pria itu sedikit terkejut.
"Ada Wartawan di depan, lagi liputan. Vania malah ngilang?"
"Dia... mau istirahat sebentar, dia agak kelelahan."
"Kelelahan? abis ngapain?" Alena menelisik.
"Tadi.. dia merasa pusing dan mual, ... jadi sepertinya dia harus istirahat sebentar." jawab Arya.
"Oh ya? terus gimana sekarang?" perempuan itu hampir saja menerobos pintu dan masuk kedalam sana.
"Eee... dia sedang tidur sekarang." Arya menghentikan langkahnya.
"Oh, ....
"Sebaiknya kita biarkan saja dia istirahat."
"Tapi wartawannya?"
"Kamu tangani saja lah, ...
"Masa Tante Melly di wawancara sendiri?"
"Ya kamu yang temani."
"Masa gitu?"
"Tidak apa-apa. Masa harus ganggu Vania, abang tidak tega kalau harus membangunkan dia." sergah Arya.
"Iya juga ya."
"Hmm...
"Ya udah kalau gitu." lalu Alena memutuskan untuk pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semakin sore pengunjung tampak semakin ramai, dan semua orang bahkan hampir tak berhenti bekerja. Menerima pesanan, membuat makanan lalu mengantarkannya ke meja si pemesan. Kemudian mengulanginya untuk pengunjung berikutnya, hingga petang tiba dan langit mulai menggelap tempat itu tak menunjukan tanda-tanda akan akan sepi.
"Kalian sudah lama?" Arya menyapa Raja yang datang bersama Cindy dan juga Harlan, yang tengah menikmati makanan mereka di meja paling ujung.
"Lumayan, ..." Raja menjawab.
"Sibuk? kamu baru kelihatan?" Harlan menyela.
"Begitulah, ... di belakang juga lumayan banyak pekerjaan." jawab Arya.
"Vania juga ya?" tanya pria itu yang menatap sekeliling ruangan yang ramai.
"Ya, ... begitulah." ucap Arya.
"Kafenya buka sampai jam berapa?" Harlan bertanya lagi.
"Kalau itu kurang tahu, mungkin sampai pengunjung sepi."
"Tapi sudah malam begini kafenya masih sangat ramai ya?" pria itu melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ya, biasa pak. Hari pertama buka." Arya mengamini.
"Iya, awal yang bagus bukan? walau tidak heran juga karena kafe ini sudah punya nama sebelumnya, jadi tidak terlalu sulit untuk memulai lagi." Harlan berujar.
"Memang pak, dan itu keuntungan juga buat kafe ini."
"Benar sekali."
"Katanya Vania hamil ya?" Raja menyela percakapan.
"Oh, ... iya. Sudah dua bulan." Arya menoleh kepadanya.
"Cepet juga, akhirnya bisa nyusul. Nanti kita barengan punya anak dong ya?" ucap Raja lagi.
"Oh ya? kamu... sekarang berapa bulan?" tanya Arya kepada Cindy yang tak melepaskan kotak jus kemasannya.
"Mau lima bulan pak." jawab perempuan yang tengah mengandung itu.
"Wow, tidak terasa ya?"
"Memang, apalagi kalau ngidamnya normal, tapi kalau nggak normalmah berasa lama." Raja menimpali.
"Oh ya?"
Raja menganggukan kepala.
"Vania tidak mengalaminya untuk sekarang ini. Emesisnya juga masih normal."
"Belum, nanti lama-lama bakalan juga."
"Masa?"
"Tunggu aja."
"Nggak semua gitu kali?" Cindy menyela percakapan.
"Tapi bakalan. Minimal ngidamnya yang ngeselin." Raja melipat kedua tangannya di dada.
"Sepertinya kamu pengalaman soal ngidam yang seperti itu?"
"Uh, ... bukan lagi, sering malah." ucap Raja seraya melirik ke arah istrinya.
"Benarkah?"
"Bagaimana sekarang?"
"Masih. Dan makin kesini makin ngeselin."
"Oh ya?" Arya terkekeh. Dia membayangkan bagaimana pria yang selalu berbuat sesuka hati itu harus menuruti semua kemauan istrinya yang tengah mengandung, dan dia tidak bisa menolak sama-sekali.
Raja pasti melakukannya sambil bersungut-sungut karena begitu kesalnya.
"Dih, ngetawain? aku sumpahin sebentar lagi Vania juga gitu, kesel-kesel deh?" ucap Raja lagi.
"Oh, ... jadi aku ngeselin ya? salah siapa akunya hamil? pas bikinnya nggak kesel, pas udah jadi malah kesel?" Cindy mendelik.
"Eeee ... nggak gitu, maksud aku...
"Kalau mau ngelakuinnya, harus mau juga tanggung resikonya dong? bukan cuma...
"Huss... kamu makin ngelantur." Raja menutup mulut Cindy dengan tangannya untuk membuat dia menghentikan ocehannya. Dan hal tersebut sukses membuat dua orang di depan mereka tertawa secara bersamaan.
"Mereka selalu bertengkar seperti itu, dan rasanya seperti punya dua anak remaja." Harlan dengan tawa renyah yang keluar dari mulutnya.
"Bagus juga kan? Raja punya lawan berdebat yang sepadan dan rumah Bapak jadi ramai?"
"Lumayan, ... kalau mereka sedang menginap saya tidak terlalu kesepian." jawab Harlan, dengan binar bahagia yang memancar dari sorot matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Abang aku udah capek." Vania datang menghampiri saat keadaan kafe mulai berangsur sepi.
"Mau pulang?" Arya mengalihkan perhatiannya dari percakapan.
"Hu'um, ... udah ngantuk. Alena sama kak Alya udah duluan dari tadi." Vania dengan suara serak dan mata sayunya.
"Tidak apa-apa kita tinggal pulang? ibu bagaimana?" pria itu melihat ke belakang tubuh Vania saat Melly berjalan menghampiri mereka.
"Ibu sebentar lagi. Pulanglah, sudah terlalu malam juga." perempuan itu terdengar menyahut.
"Nggak pulang aja sekalian? udah sepi ini?" ucap Vania.
"Sebentar lagi. Kalian pulanglah."
"Tapi nanti gimana pulangnya? ibu kan nggak bawa mobil?"
"Tidak apa-apa. Bisa Order taksi online."
"Yakin?"
"Yakin. Ibu sengaja tidak bawa mobil, biar tidak harus menyetir malam-malam karena capek seharian ini."
"Ya udah kalau gitu. Aku duluan ya?"
"Iya." Melly menganggukan kepala.
***
Mobil melaju dalam kecepatan sedang melewati beberapa ruas jalan yang mulai padat. Kehidupan malam mulai menggeliat di setiap sudut kota Bandung. Tempat hiburan malam mulai ramai, dan tempat nongkrong anak muda pun mulai di jejali pengunjung seperti biasanya. Taman kota pun bahkan sama ramainya.
"Berasa ada yang lupa deh?" Vania menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa?" Arya yang berkonsentrasi pada lalu lintas padat di depannya.
"Nggak tahu."
"Oh, ... belum makan kayaknya?"
"Dari tadi Kamu makan terus? tidak ingat ya?"
"Tapi kok masih laper?"
"Mana abang tahu? mungkin karena kamu sedang hamil?"
"Oh iya, ... aku lupa. Sekarang aku nggak sendirian." perempuan itu terkekeh sambil mengusap perutnya sendiri.
"Eh tapi, ... bukan itu." lanjutnya setelah dia terdiam cukup lama.
"Apa lagi?" Arya membelokan mobilnya ke arah jalan menuju rumah mereka.
"Apa ya?" Vani meraba-raba ruang kosong disampingnya, namun dia tak menemukan apapun.
"Astaga! tas aku!" pekiknya saat dia menyadarinya.
"Tas?"
"Iya, tas aku ketinggalan di ... pantry tadi."
Arya mendengus dengan keras.
"Balik lagi bang... " ucap Vania ketika mereka hampir saja tiba.
"Bercanda ya? sudah malam Van, lagi pula..."
"Balik lagi bang, semua ada di tas itu. Hape, dompet, kartu-kartu."
"Nanti kita telfon biar diamankan."
"Nggak bisa bang, ayo balik lagi?"
"Nggak mau, pokoknya baik lagi ke kafe!" Vania dengan tegas, dan di melipat kedua tangannya di dada.
"Tapi Van? ..."
"Ish, ... ya udah, hape abang mana?" dia menengadahkan tangannya.
"Untuk apa?"
"Mau Order Ojeg online, mau ngambil tas ke kafe."
Arya tertegun, namun akhirnya dia memutuskan untuk menuruti kemauan istrinya. Pria itu memutarbalikkan kendaraannya keluar dari jalan tersebut dan kembali ke melaju ke arah kafe.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka tiba dalam waktu tiga puluh menit, melewati lau lintas padat dan putarbalik arah, juga berhenti beberapa kali di titik rawan kemacetan kota kembang yang keramaiannya malam itu benar-benar telah menggeliat.
"Tuh kan, aku bilang juga masih ada?" Vania menatap bangunan kafe yang masih terang benderang. Namun tempat itu sudah sepi karena memang jam operasionalnya juga telah berakhir dan tanda bertuliskan tutup sudah dipasang di pintu. Terlihat beberapa pegawai yang sedang membereskan kursi dan membersihkan setiap sudut ruangan kafe.
"Kok itu kayak mobil Om Harlan?" Vania menunjuk ke arah sebuah mobil yang terparkir di dekat pelataran bangunan.
Arya mengikuti arah telunjuk perempuan itu, dan benar saja, dia juga mengenali mobil tersebut sebagai milik Harlan.
"Mereka masih disana ya?"
"Mungkin. Tapi mobil Raja tidak ada?"
"Hmm... iya juga. Ngapain ya? masa masih makan?"
"Bisa jadi."
"Emang makan di kafe ini seenak itu ya, sampai-sampai Om Harlan betah berlama-lama disana?"
"Mungkin."
"Ish, ... nggak masuk akal?" Vania segera turun dari mobilnya, dan berjalan memasuki kafe milik ibunya tersebut.
***
"Jadi... kapan kita akan memberitahu anak-anak?" terdengar Harlan berbicara.
"Nanti... " Melly menjawab.
"Kapan?"
"Saya... belum siap menghadapi anak-anak, terutama Vania. Apa dia akan bisa menerima keadaan ini atau justru akan menolak? karena pengalaman sebelumnya dia berulah ketika mengetahui ada seseorang yang punya niat baik terhadap saya."
Harlan terdiam.
"Dia tidak bisa menerima pria lain selain ayahnya. Saya harus memikirkan cara yang benar untuk memberitahu dia tentang masalah ini."
"Tapi... siapa tahu dia sudah berubah? Vania sudah lebih dewasa sekarang, dan bukankah kamu juga mengatakan kalau setelah menikah dia sudah lebih bisa diajak kompromi? tidak terlalu keras kepala seperti sebelumnya?"
"Iya, tapi masalahnya...
"Tidak akan ada masalah. Semuanya pasti akan baik-baik saja." Harlan meraih tangan perempuan itu untuk dia genggam.
"Tapi bagaimana dengan Raja?"
"Bagaimana apanya? Raja punya pemikiran yang terbuka soal ini, dan aku yakin dia akan menerima pilihan papanya."
"Bagaimana kalau tidak?"
"Tidak mungkin."
__ADS_1
"Apa mas sudah memberitahunya?"
"Belum."
"Lantas dari mana mas tahu kalau Raja tidak akan mempermaslahkan soal kita?"
"Kita?" Vania tidak tahan untuk tak ikut bicara, setelah menyimak percakapan sepasang paruh baya itu diam-diam.
Arya mencoba menahannya saat dia berjalan mendekat.
"Apa maksudnya dengan 'kita'?" Vania bertanya.
"Vania? se-sejak kapan kamu ada disini? bukankah kamu sudah pulang?" Melly tampak terkejut, dan dia terbata-bata.
"Cukup lama untuk bisa mendengar semua yang kalian bicarakan. Kalau aja tas aku nggak ketinggalan, aku pasti nggak akan tahu soal ini." jawab perempuan itu yang melirik ke arah pantry dimana tasnya masih teronggok disana.
"Ada apa ini?" katanya, dan dia mengalihkan pandangannya kepada Harlan, lalu menatap dua tangan yang tengah saling bertautan itu, yang segera terlepas begitu mereka menyadarinya.
"Ada sesuatu yang aku nggak tahu?" Vania memutuskan untuk duduk kemudian bersedekap.
"Vania, Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, mungkin saja sekarang ini kamu sedang..
"Apa yang aku pikirkan? kenapa dengan aku? aku nggak apa-apa. Malah ibu sama Om Harlan yang kayaknya lagi ada apa-apa." dia memotong kalimat yang akan keluar dari mulut ibunya.
"Vania, ibu dan Om hanya sedang berbicara dan kami hanya...
"Ijinkan Om menikahi ibumu, Vania." Harlan tiba-tiba berucap.
Melly tersentak dan dia segera memalingkan pandangan.
"Om ingin menikahi ibumu, ijinkanlah kami menikah." ucap pria itu lagi.
"Mas!!" Melly hampir berteriak.
"Mas?" Vania mengerutkan dahi. "Hubungan kalian udah lama ya? sampai-sampai ibu panggil Om Harlan dengan sebutan itu?" Vania setengah mengejek.
Mereka tak mampu menjawab pertanyaan perempuan muda itu.
"Itu tidak penting, Om hanya menunggu jawaban darimu." Harlan kembali berbicara.
Vania menatap dua orang dihadapannya secara bergantian.
"Ini lucu. Om sama ibu hampir besanan, masa tiba-tiba mau jadi suami istri? rasanya akan sangat aneh." Vania terkekeh, namun Arya meremat pundaknya untuk menghentikannya berbicara.
"Om serius?" tanya nya kemudian.
"Serius." jawab Harlan tanpa ragu-ragu.
Vania Kemudian menatap ibunya yang diam membatu.
"Bu?" katanya, dan sang ibu kemudian menatap wajahnya.
"Kenapa ibu nggak bilang?" dia bertanya.
"Ibu ...
"Ibu mau nikah sama Om Harlan?"
"Vania, sebenarnya ibu mau bicara soal ini tapi tidak sekarang, tidak dalam keadaan seperti ini."
"Terus maunya kapan?"
"Ibu hanya...
"Aku tanya, ibu mau menikah sama Om Harlan?"
"Vania, ...
"Aku tanya, ibu mau nikah nggak sama Om Harlan?" dia sedikit menaikan nada suaranya.
Perempuan itu terdiam sebentar, lalu dia merasakan sesuatu yang hangat meremat jemari tangannya. Dan tampaklah tangan pria disampingnya yang kemudian menggenggamnya begitu erat. Kemudian dia menoleh, dan melihat Harlan mengangguk pelan.
"I-iya. Kalau kamu setuju." Melly menjawab.
Vania merapatkan punggungnya pada sandaran kursi, dan pandangan tetap dia tujukan kepada dua orang tersebut.
"Vania, Om sangat berharap kamu akan ...
"Kapan?" Vania kembali bertanya.
"Apa?"
"Kapan kalian akan menikah?"
"Kamu setuju?" Melly bereaksi.
"Aku tanya kapan Om sama ibu akan menikah?" dia mengulang pertanyaan.
Melly dan Harlan saling pandang.
"Secepatnya, kalau kamu mengijinkan." jawab Harlan dengan tegas.
"Besok aja gimana?" Vania dengan ide gilanya.
"Ap-apa?" dua orang itu terperanjat.
"Aku maunya malam ini, tapi nggak mungkin. Penghulunya nggak akan mau kan?"
"Mana mungkin secepat itu?"
"Mungkin aja. Bukankah niat baik itu harus di segerakan?" Vania berujar. "Siri dulu nggak apa-apa, yang penting sah. Dan ibu punya teman hidup lagi." katanya, kemudian tersenyum.
"Tapi...
"Itu juga kalau Om beneran serius sama ibu, kalau nggak ya ....
"Vania...
"Baik, Om setuju." Harlan berucap.
"Mas!!" Melly kembali bereaksi.
"Dih, ... manggilnya udah mesra gitu ibu? beneran ya Om cepetan dihalalin? biar makin mesra panggilannya? dan kalian sama-sama punya teman hidup." perempuan itu tertawa.
"Dah lah, aku pulang." dia bangkit kemudian meraih tasnya di meja pantry. "Om jangan lupa anterin ibu sampai rumah dengan selamat ya? aku pegang janjinya, besok aku tunggu di rumah ibu." katanya yang kemudian menarik Arya untuk keluar dari bangunan tersebut.
"Oh iya lupa." dia berhenti diambang pintu kemudian berbalik.
"Jangan macam-macam ya? tunggu sampai halal." Vania tertawa lagi.
"Vania!!!" ibunya berteriak, dan anak perempuannya itu berlari keluar dari bangunan tersebut dan segera tancap gas sebelum sang ibu mengomel padanya.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Dih, biar ada teman hidupnya lagi katanya? 😁😁😁
like komen, hadiahnya terus kirim ya? pliiisss
__ADS_1
lope lope segudang 😘😘😘