
🌺
🌺
"Ni kita mau kemana sih dari tadi nggak nyampe-nyampe?" Vania menggerutu. Sudah setengah jam mobil yang mereka kendarai tak kunjung berhenti.
"Nanti juga sampai." Arya setengah menggumam.
"Dari tadi jawaban abang itu mulu? aku lapar, capek, kaki aku pegel lagi abis ngurusin ini itu." Vania merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.
Pria itu hanya tertawa.
Jalanan sudah gelap pada hampir petang itu, ditambah pepohonan di sisi kiri dan kanan jalan yang mereka lewati cukup rapat, sehingga membuat suasana semakin syahdu.
"Abang jangan aneh-aneh deh?" gumam Vania lagi, yang kini merasa sedikit panik.
"Kamu memang selalu secerewet ini ya?"
"Cuma nanya Bang, ..."
"Nanya nya terus-terusan."
"Kebiasaan."
Kemudian mobil berbelok ke sebuah tempat diatas bukit, memasuki sebuah area yang nampak seperti sebuah kafe, dengan bangunan bertingkat dua yang sebagian besar tebuat dari kayu.
Pencahayaan yang temaram cukup membuat suasana semakin syahdu, selain keadaan tempat itu yang memang sepi dan jauh dari keramaian.
"Kita mau makan?" Vania bertanya, mereka turun dari dalam mobil, dan Arya mengandeng tangannya untuk memasuki bangunan tersebut.
"Sebut saja begitu." jawab Arya, yang menariknya menaiki tangga ke lantai dua.
Sebuah meja yang berada di ujung ruangan menjadi satu-satunya tempat dengan beberapa lilin yang menyala sebagai penerangan tambahan.
"Kalau mau makan kenapa mesti jauh-jauh kesini sih?" ucap Vania, dia agak menarik lengannya dalam genggaman Arya.
"Tidak hanya makan, tapi mau bicara." akhirnya pria itu buka suara.
"Bicara?" Vania membeo.
"Hmm ..." Arya menarik sebuah kursi begitu mereka tiba di dekat meja tersebut. Kemudian mebimbing sang kekasih untuk duduk, kemudian hal yang sama pun dia lakukan, Arya duduk di kursi di samping gadis itu.
"Ngobrol?" tanya Vania lagi.
"Begitulah ...
"Ngobrol apa? dari tadi juga kita 'kan ngobrol?"
"Ngobrol serius." jawab Arya, yang kemudian menoleh kepada gadis itu untuk menatapnya.
"Serius?"
Pria itu mengangguk.
"Duh, ... aku deg-degan nih, ... takut abang bilang sesuatu." Vania terkekeh seraya menekan dadanya yang jantung di dalamnya berdegup dengan kencang.
Arya kemudian tersenyum.
"Abang jangan macem-macem ya?" dia mengarahkan ujung telunjuknya ke wajah Arya.
"Nggak, paling cuma satu macam." jawab pria itu kemudian menyeringai.
"Apaan?"
Arya tak menjawab.
"Lagian, mau ngobrol kita sampai pergi sejauh ini sih?"
"Sengaja, biar tenang." ucap Arya.
"Tenang dari apa?"
"Tenang dari yang kepo." Arya terkekeh.
Vania terdiam.
"Katanya lapar, ayo makan? abang juga lapar." Arya berujar.
__ADS_1
"Lho? abang juga belum makan?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Nggak ada yang ajak." pria itu tergelak
"Ish, ... kayak anak kecil mesti ada yang ngajak dulu?"
"Kebiasaan."
Kemudian mereka melahap makanan yang sudah terhidang di meja sejak beberapa menit yang lalu, dengan Vania yang terus berceloteh seperti biasa.
"Ni ceritanya kita lagi candlelight dinner ya?" Vania berujar.
"Begitulah, ..."
"Dih, ... dadakan gini? mana baru pulag dari resepsi, abis kerja."
"Nggak apa-apa," tukas Arya.
"Nggak lucu bang, harusnya abang bilang dulu mau ajak aku kencan gitu. Minimal jangan pulang kerja kayak gini. Penampilan aku udah kacau." dia manunjuk dirinya sendiri. Yang gaun hitam dan tatanan rambutnya sudah tak serapi tadi.
"Kamu masih cantik." Arya berucap.
"Dih, ...
"Kalau nunggu nanti takutnya kamu menghindar terus," Arya tersenyum kepadanya.
"Mulai deh?"
Pria itu tergelak.
"Nikahanya kak Anna belum bener-bener selesai lho bang." Vania mengingatkan. "Nagih janjinya jangan sekarang." dia mengerti maksud pria itu mengajaknya berbicara.
"Terus kapan?"
"Kan udah aku bilang, sabar. Nanti, kalau semuanya udah tenang, udah beres dan aku udah siap, aku bilang dulu sama ibu."
"Iya. Buru-buru amat?" Vania dengan kejujurannya.
"Abang cuma mau semuannya pasti, dan yakin kalau kita ada di jalan yang benar. Dan kamu tahu, hubungan sembunyi-sembunyi seperti ini membuat abang sedikit frustasi. Kita seperti abege yang takut dilarang pacaran oleh orang tuanya." Arya bersandar pada kepala kursi, dengan pandangannya yang menerawang jauh keluar jendela.
"Apa ibu kamu melarang ha semacam ini?" dia bertanya.
"Nggak, ibu biasa aja."
"Terus?"
"Nanti akan ada masanya kita bisa menunjukkan hal ini di depan orang lain, Bang." Vania menatap wajah tegas pria itu, kemudian mengulurkn tangannya untuk menyentuh tangan Arya yang bertumpu di meja.
"Kapan?"
Gadis itu menarik dan menghembuskan napas dengan pelan.
"Nanti kalau udah waktunya." dia menautkan jari-jari mereka.
Arya terdiam.
"Sabar dulu, tenang dulu. Jalani dulu seperti ini, dan kasih aku waktu untuk melakukannya sesuai dengan rencana aku. Aku buka tipe orang yang suka buru-buru. Aku maunya tenang, santai, ..."
Arya terkekeh, "Abang lupa kalau kita ini beda umur ... " katanya dengan suara pelan. "Abang merasa kita ini seumuran, punya pemikiran yang sama, dan punya tujuan yang sama. Tapi abang lupa, kalau umur kita jauh, dan kamu berbeda. Kamu tidak mudah diarahkan sepeti perempuan lain. Kamu punya pemikiran sendiri. Dan hanya perasaan kita saja yang sama, yang lainnya jelas sangat berbeda."
"Abang, ..." Vania mengeratkan tautan jari mereka. "Maksud aku ngga jelek lho."
"Abang tahu, maafkan abang. Sepertinya abang agak memaksa ya?" dia terkekeh lagi.
"Itu ngerti?" Vania tersenyum.
"Abang terbiasa memaksakan diri. Kamu tahu, menjadi tulang punggung keluarga dengan tiga adik perempuan di usia remaja itu membuat abang harus serba memaksakan diri. Kalau tidak, mungkin abang tidak akan bisa mengurus mereka. Begini saja sudah gagal satu, kan?" ucapnya denga nada kecewa.
"Kok gitu?"
"Iya, ... abang gagal mendidik Alena, tahu sendiri kan dia ...
"Jangan mengingat yang sudah berlalu, abang nggak gagal. Usaha keras abang sudah membuahkan hasil. Mereka tumbuh dengan baik, itu aja cukup." Vania dengan penghiburannya.
__ADS_1
Arya terdiam.
"Emangnya abang nggak sayang sama Dilan?" Vania kemudian mengingatkan.
"Sayang, bahkan abang merasa kalau dia sudah seperti anak abang sendiri." jawab Arya kemudian.
"Iyalah, kan abang yang mengurus dia sejak bayi, memberikan kasih sayang dan memenuhi semua yang dia butuhkan. Jelas, abang kan ayahnya?"
"Hmm ...
"Ayah yayang?" gadis itu memiringkan kepal.
Arya melirik kepadanya, kemudian mereka tertawa.
"Kamu mengalihkan perhatian." Arya berucap.
"Nggak ih, kan kita lagi ngobrol?" sergah Vania.
"Jadi kita akan seperti ini dulu?" Arya kemudian bertanya.
Vania mengangguk.
"Sampai waktu yang tidak kita tahu?" tanya nya lagi.
"Eee ... kira-kira begitulah, ..."
Pria itu terdiam sejenak, menatap wajah gadis muda di hadapannya. Dia memang harus banyak bersabar untuk menghadapinya. Setidaknya, dirinya sudah mendapatkan hatinya. Bersabar sebentar lagi untuk mendapatkan semuanya tidak ada salahnya bukan?
Hanya sebentar, Arya! batinnya.
"Baiklah, kalau itu yang kamu mau. Abang akan bersabar sebentar lagi." ucapnya.
"Dan ingat, jangan bersikap mencolok, biasa aja." sambung Vania.
"Baiklah kalau itu mau kamu." Arya akhirnya mengalah.
"Abang baik deh? ngertiin aku banget." dia kembali meremat jari-jarinya yang masih bertautan.
"Harus kan? abang yang lebih dewasa dalam hal ini, dan harus mengerti keadaan kamu."
"Hmm ..." Vania menggumam, dia tentu saja merasa terharu dengan sikap pria ini. Wajahnya sedikit merona.
"Kalau ini bukan di tempat umum, rasanya aku mau peluk abang." katanya.
"Memangnya kenapa?" pria itu melihat sekeliling. "Disini sepi?" katanya, dan memang tempat itu sedang sepi sekarang ini, hanya ada mereka berdua di dalam ruangan besar dengan suasana temaram nan lengang itu.
"Kan malu, masa peluk-pelukan di kafe orang?" ucap Vania.
Arya tergelak. Kekeceawaannya menguap begitu saja. Celotehan gadis itu memang selalu membuatnya melupakan banyak hal.
"Abang, pulang yuk? udah malam." Vania melihat layar ponselnya.
"Baru jam sembilan?"
"Tapi aku capek, mau mandi, abis itu mau tidur. Tiga hari tiga malam aku nggak istirahat ngurusin nikahannya kak Anna."
"Oh, ... abang lupa."
"Dih, ... abang?"
"Ya sudah, ... ayo." dia bangkit, kemudian menarik Vania, dan mereka segera pergi dari sana setelah melakukan pembayaran.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
Jadi gimana? masih backstreet aja nih? hadeh ...
like komen hadiahnya seperti biasa gaess, ... biar si abang nggak terlalu kecewa lah, ateu Vania masih tarik ulur aja.
lope lope segudang 😘😘
__ADS_1