Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Malam Pengantin


__ADS_3

🌺


🌺


Vania duduk di pinggir tempat tidur saat Arya telah menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Dia kembali pada kursi rodanya dan keluar dari ruangan tersebut, dengan sehelai handuk yang melilit pinggangnya.


"Abang udah selesai?" gadis itu menoleh saat ekor matanya menangkap pergerakan di sisi lain kamar.


"Sudah." jawab Arya setelah jarak mereka dekat.


"Terus aku harus ngapain?" Vania bertanya lagi.


"Maksud kamu?" Arya mengerutkan dahi.


"Untuk bantuin abang, aku harus ngapain?" dia menatap tubuh setengah telanjang suaminya yang masih tampak basah. Terlihat bulir-bulir air turun dari rambut hitamnya, melewati leher dan pundak kokohnya, mengalir di dada, kemudian turun ke perut.


Vania menelan ludahnya dengan cepat, pemandangan ini ... membuatnya merasa malu. Ada dalam satu ruangan dengan pria itu, walaupun mereka sering berduaan, namun kali ini situasinya berbeda. Dan statusnya pun sudah bukan pasangan kekassih lagi, melainkan sebagai suami istri.


Kedua pipi Vania tampak merona.


"Vania?" panggil Arya berkali-kali.


"Mm ... iya abang?" perempuan itu tergagap.


"Kamu bisa ambilkan abang pakaian di lemari itu." Arya menunjuk sebuah lemaru besar di dekat jendela.


"Oh, ... iya." dia menurut.


"Abang mau pakai baju kayak gimana?" dia membuka lemari, tampak tumpukan pakaian yang begitu rapi dan teratur seperti tak pernah tersentuh.


"Baju biasa saja, buat tidur. Kaus dan celana pendek kalau ada." Arya menjawab, dan dia telah berpindah ke tempat tidur.


Vania memutar tubuh setelah mendapatkan apa yang di sebutkan suaminya.


"Ini bisa?" dia menyerahkan satu lembar kaus oblong dengan celana pendeknya, tidak lupa juga cel*na dal*amnya.


"Bisa." Arya meraihnya, kemudian bermaksud mengenakannya. Dia hampir melepaskan handuk dari pinggangnya ketika menyadari sesuatu.


.


"Apa kamu akan terus berdiri disitu dan melihat abang memakai baju?" pria itu menoleh.


"Eee ... " Vania kembali tergagap. "Aku mau beresin baju aku dulu." dia mengalihkan perhatian.


"Dimana aku harus simpan ini?" Vania meraih travel bagnya, dan memperlihatkannya kepada Arya.


"Disitu masih ada yang kosong." pria itu kembali menunjuk lemari tempat Vania mengambil pakaiannya. Benda berukuran 2x2 meter itu memang masih tersisa ruang yang cukup untuk beberapa helai pakaian milik Vania.


"Oh, oke." perempuan itu mengangguk lalu kembali berbalik dan berjalan ke arah lemari dengan cermin setinggi tubuh orang dewasa itu. Dia meletakan pakaiannya di sisi kosong disamping pakaian Arya.


Vania menahan napas ketika hendak menutup pintu lemari. Saat indera penglihatannya menangkap pemandangan dibalik punggungnya yang memantul di cermin.


Dimana pria itu yang duduk di tepi ranjang mereka tengah mengenakan pakaiannya satu-persatu.


Arya yang menarik cel*na dal*mnya, kemudian berbaring untuk menariknya lebih keatas, membungkus area pribadinya dengan erat. Yang malah membuatnya tampak lebih ... menggoda?


Vania mengerutkan dahi, tak percaya dengan pikirannya sendiri.


Kemudian hal yang sama juga Arya lakukan pada celana pendeknya. Dan terakhir dia mengenakan kaus oblong berwarna putih itu dengan hati-hati. Memasukan tangan kirinya yang cedera terlebih dahulu, kemudian tangan yang satunya lagi. Dan pria itu tampak tidak kesulitan sama sekali.


Vania menelan ludahnya dengan susah payah ketika dia merasa tenggorokannya seperti mengering.


Pria itu, ... kenapa tampak menggoda seperti ini? batinnya, dan wajanya seketika memerah.


Menatap pemandangan yang terpantul di cermin membuat dia merasa seperti seorang pengintip. Pundak yang tampak kokoh, dadanya yang bidang, dengan perut yang tidak terlalu berotot namun dia tampak mempesona.


Aku sedang mengintip suamiku sendiri. batinnya lagi, dan dia menggit bibir bawahnya dengan keras.


"Hey?" Arya terdengar manggil.


"Eeee ... i-iya bang?" Vania berbalik.


Arya menepuk tempat kosong disampingnya, mengisyaratkan kepada sang istri untuk datang kepadanya.


Vania kembali menelan ludah, dan kali ini dengan hati yang berdebar. Namun tak urung juga dirinya melangkah untuk menghampiri suaminya, kemudian duduk disampingnya.


"Kita sekarang sudah menikah." pria itu memulai percakapan.


"Iya?"


"Dan kita sudah sah menjadi suami istri."


"Ya, terus?"


"Maaf belum bisa merayakannya seperti orang lain. Kamu tahu, kondisi abang yang seperti ini membuat semuanya harus dilakukan seadanya." dia sedikit menyesali peristiwa penting itu yang diadakan sederhana di kediamannya, tidak seperti pernikahan adik-adiknya.


"Nggak apa-apa, itu akan kita pikirkan nanti."


"Dan ada banyak hal yang akan berubah diantara kita berdua."


"Misalnya?" Vania memiringkan kepala.


"Hubungan kita?"


"Hubungan ... kita?" Vania mengulang kata-kata Arya.


"Iya, hubungan kita. Mungkin akan lebih dekat, lebih intens, dan lebih ... int*m?"


"Int*m?" entah mengapa kata terakhir itu menjadi hal paling jelas yang Vania dengar.


"Iya. Kita suami istri bukan?" Arya hampir tersenyum. Dia menyangka gadis ini belum mengetahui apa-apa.

__ADS_1


"Maksud abang berhubungan badan gitu?" Vania dengan polosnya.


"Ee, ... ya ... begitulah kira-kira." pria itu memijit tengkuknya sendiri yang tiba-tiba terasa pegal.


"Ya emang, kan kita udah suami istri. Itu salah satu tujuan pernikahan kan? menghalalkan apa yang haram, dan membolehkan apa yang dilarang?" Vania tersenyum lebar.


"Abang kalau ngomong nggak usah muter-muter kenapa? kan aku bingung jadinya?" lanjut Vania.


"Kamu ... mengerti." Arya bergumam.


"Ya ngertilah, aku kan udah dewasa. Masa gitu aja nggak ngerti?"


"Abang pikir, ...


"Aku nggak polos-polos amat kali bang?"


Arya terkekeh.


"Kalau ngomong sama aku tuh jangan berbelit-belit. Langsung aja."


Arya terdiam menatapnya.


"Abang mau ngomongin soal itu kan?" Vania menusuk-nusuk lengan Arya dengan ujung telunjuknya, kemudian dia tertawa. Walau hatinya jelas terasa begitu canggung dan jantungnya berdebar begitu keras.


Pria itu kemudian ikut tertawa.


"Kamu ngerti ternyata?" katanya.


"Iyalah ngerti."


"Bagus kalau begitu, abang tidak perlu menjelaskan banyak hal."


''Nggak usah, bikin canggung aja kalau ngomongin soal itu." Vania tertawa lagi, kali ini dengan keras hingga kepalanya tertarik ke belakang.


"Aduh, ... aku deg-degan ini." dia memegang dadanya sendiri. "Apa kita akan melakukannya sekarang?" tanyanya kemudian. Dengan ekspresi yang tidak pernah Arya bayangkan. Gadis disampingnya begitu polos, begitu jujur, dia selalu spontan, terbuka dan apa adanya.


"Justru itu yang mau abang katakan." Arya menjawab.


"Apa? abang mau sekarang? terus aku harus gimana? aku mesti ngapain?" Vania mulai panik.


"Tidak usah!" sergah Arya.


"Hah? nggak usah? apanya yang nggak usah?"


"Tidak usah berbuat apapun."


"Kenapa?"


"Tidak kenapa-kenapa." Arya memindai wajahnya yang polos tak bermake up, yang beberapa jam lalu sudah dia kukuhkan kepemilikannya sebagai istri.


"Ah, abang bikin aku makin deg-degan deh."


Pria itu terkekeh lagi.


"Masa?"


"Hmm .. kita sudah sering berduaan seperti ini, tapi malam ini abang rasa benar-benar paling mendebarkan."


"Ng ... iya juga sih. Apa mungkin karena kita udah jadi suami istri?"


"Mungkin."


"Apa ... semua suami istri akan melakukannya di malam pengantin? abang tahu, hubungan ... suami ... istri?"


"Tidak tahu ...


"Kok nggak tahu?"


"Ya tidak tahu, ini kan pernikahan abang yang pertama."


"Oh iya, aku lupa." Vania terus tertawa.


"Terus, apa kita akan melakukannya sekarang?" dia kembali bertanya.


"Menurut kamu?"


"Aku ... nggak tahu." Vania menepuk keningnya agak keras. "Aku belum siap-siap."


Arya mengulum senyum.


"Bersiap-siap untuk apa?"


"Untuk melakukan ... itu. Aku nggak siap."


Arya tergelak.


"Malah ketawa?"


"Kamu benar-benar lucu." pria itu mengacak puncak kepala Vania dengan gemas.


"Ish, abang! kenapa sih seneng banget nagacak-ngacak kepala aku?" gadis itu mulai kesal.


"Karena kamu sangat menggemaskan, tapi abang tidak bisa melakukan apapun sekarang ini. Dan abang kesal soal itu." jawab Arya, tak kalah jujurnya.


"Hum?" Vania menjengit.


Arya kembali menatap wajah Vania lekat-lekat.


"Kamu masih selamat, abang belum bisa melakukannya malam ini. Abang belum pulih benar, kalau tidak ..." dia menahan senyum.


"Kalau nggak kenapa?" Vania seperti menantang.

__ADS_1


"Tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang ini."


"Ih, pikiran abang ... jangan dulu lah, aku mau belajar dulu." gadis itu berujar.


"Belajar apa?"


"Belajar ... itu."


"Tidak usah belajar, ..." tawa Arya pecah seketika. "Nanti juga mahir sendiri."


"Masa?"


"Serius."


"Kok bisa?"


"Karena sering melakukannya."


"Gitu ya?"


"Hmm ...


"Jadi ... abang udah mahir?"


Ucapan Vania membuat Arya tercekat, lagi-lagi dirinya tak menyangka dengan ucapan istrinya itu.


"Abang udah mahir?" Vania mengulang pertanyaan.


"Eee .. soal itu ... abang ..."


"Udah ya?" dia mengarahkan telunjuknya kepada Arya.


"Apa? be-belum. Tentu saja abang belum pernah. Tidak mungkin, kamu pikir abang ini laki-laki seperti apa?" pria itu tergagap.


"Hah? Masa?" dia seakan tak percaya.


"Serius."


"Beneran?"


Arya mengangguk.


"Sama mantan abang belum pernah?"


"Mantan yang mana?"


"Eh iya, aku lupa. Abang kan jomblo ya?" Vania tertawa terbahak-bahak. "Etapi ... sama kak ...


"Apa? kamu mau bahas soal Hana? jangan coba-coba ya?" Arya mengancam, dan dia mencondongkan tubuhnya.


"Eee ... nggak-nggak. Maksud aku nggak gitu." dia mundur ke belakang.


"Terus?"


Perempuan itu tersenyum lebar, kemudian mendorong dada Arya agar kembali duduk dengan tegak.


"Jangan dibahas kalau gitu, nanti kita berantem. Kan nggak lucu kalau malam pengantinnya kita berantem."


"Habisnya kamu suka ada-ada saja?"


"Iya, maaf. Jangan dibahas lagi, oke?" Vania mendekat.


"Jadi ... ini sama-sama yang pertama untuk kita?" dia merangkul pundak suaminya.


"Begitulah, ...


"Ish, ... " dia kemudian mengusap dada Arya, membuat tubuh pria itu menegang dan seketika menghadirkan desiran-desiran aneh.


"Abang hebat!" ucapnya, lalu memeluknya dengan erat. "Suamikuuuu." dan hal tersebut membuat Arya semakin merasa tak karuan.


"Hah, ... kalau gitu aku mau tidur. Ngantuk." Vania melepaskan rangkulannya.


"Baru jam delapan?" Arya melirik jam dinding yang berdetak nyaring.


"Tapi aku capek. Dan besok banyak yang harus aku beresin. Untung abang belum bisa itu ..." dia beringsut menaiki ranjang mereka.


"Tapi ... kamu belum membuka kado." sergah Arya.


"Kado?"


"Hantaran." pria itu melirik tumpukan benda yang masih berbalut hiasan itu di sisi lain kamarnya.


"Ooh, ...


"Mau dibuka sekarang? biar sekalian besok di bereskan?"


"Mm ... okedeh." katanya, setelah dia berpikir.


Dan malam pengantin itu bergulir begitu saja, saat pasangan tersebut membuka semua bungkusan hantaran pernikahan yang memang sudah direncanakan sebelumnya. Tentunya dengan obrolan ringan dan canda tawa yang mengiringi malam pertama mereka sebagai pasangam suami istri.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Yah, ... malam pengantinnya beda ini mah? 🀣🀣🀣


penonton kecoa, ... eh kecewa 🀭🀭

__ADS_1


tapi like komen sama kirim hadiahnya juga ya? biar mereka cepet anuπŸ˜‚πŸ˜‚



__ADS_2