
🌺
🌺
"Wah wah, ... beneran mulai kerja lagi? aku pikir minggu kemarin nelfon tuh bercanda?" Raja muncul sesaat setelah Arya memulai pekerjaannya.
"Hmm ... terlalu lama cuti juga tidak baik untuk kesehatan." Arya menjawab.
"Masa?"
"Iya."
"Kenapa? di cuekin Vania ya?" pria itu tergelak saat dia sudah dekat dan duduk di kursi tepat di seberang Arya. Yang hanya memutar bola matanya sambil menggendikan bahu.
"Lain kali nggak usah sok sok an pergi jauh untuk meninjau lokasi, biarkan pekerja yang lebih ahli yang pergi. Dan kita, hanya perlu duduk disini mengembangkan ide." Raja merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Hmm ... " Arya hanya menggumam.
"Sekalian juga lah, ... aku mau ngasih ini." Raja menyerahkan selembar kartu undangan yang dibawanya ke hadapan pria itu.
"Apa itu?" Arya mengalihkan perhatian.
"Undangan."
"Undangan? siapa yang menikah?"
"Baca aja."
Arya menerima dan membukanya, kemudian membaca isi di dalamnya. Keningnya berkerut seketika saat dia membaca nama calon mempelai yang tertera begitu jelas.
"Kamu?" dia mengerutkan dahi.
"Kalian mau menikah?" katanya, seraya melirik ke arah Cindy yang masuk membawa beberapa berkas.
"Begitulah, ..." Raja menggendikan bahu.
"Bagaimana bisa?" Arya menegakan posisinya, dia sedikit terkejut karena memang hal tersebut tak di duga sama sekali.
"Ya bisa lah, ..." jawab Raja.
"Banyak yang terjadi selama saya cuti lima bulan ini ya?" Arya tertawa. "Kalian dulu bahkan sering bertengkar?" dia mengingat banyak hal.
"Sekarang juga masih." sahut Cindy yang meletakan berkas di meja, di depan Raja.
"Iya, masih ... tapi dalam bentuk yang lain." pria itu tersenyum sambil menggerak-gerakan kedua alisnya.
Sementara Cindy hanya mendelik.
"Apa tidak terlalu cepat?" Arya kemudian bertanya.
"Nggak lah, cukup. Kalau udah nemu, ngapain nunggu lagi? Mending buru-buru di halalin." Raja berujar.
"Benarkah?" Arya tertawa lagi.
"Ya mau apalagi? yang penting dia mau pas kita ajak nikah. Iyakan Yang?" Raja merangkul pinggang sekretarisnya tanpa canggung.
Namun perempuan itu menepuk tangannya yang sudah terlilit disana dan berusaha melepaskannya.
"Yang profesional, ini di kantor!" katanya, yang seketika membuat Raja melepaskan rangkulannya.
"Gitu aja nggak boleh?" pria itu bergumam.
__ADS_1
"Kita lagi kerja, mana boleh bersikap begitu?" jawab Cindy dengan tegas.
"Silahkan Pak, kalau ada yang kurang bisa kita perbaiki sebelum diserahkan kepada Pak Raja nanti sore." perempuan itu beralih kepada Arya yang menyimak interaksi tersebut sambil menahan senyum.
"Baik, saya lihat nanti." jawab Arya.
"Kalau begitu saya permisi Pak?" ucap Cindy yang kemudian pergi.
"Kamu serius?" Arya tertawa lagi ketika melihat anak dari atasannya tersebut hanya terdiam.
"Emang kalau soal nikahan bisa dibikin bercanda ya?"
"Ya, ... tidak juga. Tapi sepertinya Cindy terlihat jauh dari apa yang biasanya menjadi gaya kamu?"
"Ngeledekin nih? dia kalau nggak lagi kerja aslinya manis lho, cuma karena lagi di kantor aja mode galaknya on." Raja menjelaskan.
"Masa?"
"Dih, ... nggak percaya? lihat aja nanti kalau ..." Raja memotong kata-katanya, "Eh, janga deh. Nanti kalau lihat dia lagi mode manis abang malah suka lagi. Huh, ... enak aja." lanjutnya, kemudian bangkit.
"Apa?"
"Udah lah, ... aku balik ke ruangan, hari ini Cindy ngasih banyak kerjaan sebelum nikahan. Dia juga bikin aku lembur tiap hari." pria itu menggerutu dengan langkahnya yang justru terayun riang keluar dari ruangan tersebut. Sementara Arya kembali tertawa sambil menggelengkan kepala.
🌺
🌺
"Hah, abang serius?" Vania merebut surat undangan dari tangan suaminya, siang itu dirinya seperti biasa mengantar maka siang untuk Arya, dan mereka makan bersama.
"Ya kamu bisa baca tulisannya kan?" pria itu mengunyah makanannya.
"Bisa saja, kalau jodoh kan kita tidak tahu." Arya berujar.
"Iya juga ya. Kayak kita." diapun tertawa lagi.
"Itu tahu?" dia meletakan sendok di kotak makan yang sudah kosong.
"Tumben?" Vania menatap Arya yang meneguk air minumnya hingga tandas.
"Apa?"
"Makan abang hari ini banyak sampai habis gitu, biasanya satu kotak buat dua kali makan. Lapar pak?" dia dengan gurauannya.
Pria itu melirik kotak makannya yang memang sudah kosong, yang pada awalnya terisi penuh.
"Ng ... abang memang sangat lapar hari ini, tidak tau kenapa?" pria itu merebahkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Oh, ... mungkin karena efek pemulihan pasca sakit ya? apa pengaruh obat yang masih abang minum?" dia memiringkan kepala.
"Tidak tahu, mungkin juga."
"Hmm ..."
"Atau mungkin efek hal lainnya." Arya tiba-tiba bangkit dan kembali menegakan posisi duduknya.
"Apaan?"
"Akhir-akhir ini abang banyak kegiatan."
"Kegiatan apa?" Vania mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Olah raga." Arya lalu tersenyum dan menundukan kepalanya.
Vania tertegun, namun kemudian dia memutar bola matanya saat menyadari maksud dari kalimat yang diucapkan suaminya. Yang membuat pria itu tertawa terbahak-bahak.
"Abang akhir-akhir ini juga jadi sering ketawa ih?" cibirnya, sambil mebereskan bekas mereka makan.
"Memangnya kenapa? tidak boleh?" dia agak menjauh.
"Nggak kenapa-kenapa, bagus juga sih. Abang jadi kelihatan gantengnya kalau sering senyum sama sering ketawa, kelihatan ramah juga kan?" Vania tergelak.
"Tapi ..." sesaat kemudian dia termenung.
"Apa lagi?"
"Nanti malah banyak yang naksir dong kalau abang gitu?" dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa?"
"Udah, ... jangan sering-sering senyum sama ketawa lagi. Nanti abang kelihatan ramah kalau gitu, terus pada di kecengin cewek lain, nggak rela lah aku." Vania menggerutu, tiba-tiba saja dia merasa kesal.
"Ish, ...
"Awas aja ya, kalau tahu ada yang naksir. Aku labrak nanti orangnya." katanya lagi.
Dan Arya masih mengerutkan dahi.
"Ish, ... mood aku turun nih, kayaknya mau datang bulan. Ah, ... bete jadinya." perempuan itu juga masih bergumam tidak jelas.
"Aku balik lagi ke kedai lah, ... nanti sore kesini lagi jemput abang." dia bagkit setelah membereskan peralatan makan mereka dan memasukannya ke dalam tote bag seperti biasa.
"Oke." Arya mengikutinya berjalan ke arah pintu.
"Nanti nggak lembur kan?" Vania berbalik sebelum mencapai pintu.
"Tidak." suaminya menggelengkan kepala.
"Oke, aku pergi ya?" Vania berpamitan.
"Ya, ..." jawab Arya, namun dia menarik lengan perempuan itu saat dia hampir membuka pintu.
"Apa lagi ...
"Bekal siang ini sampai sore." ucap Arya yang segera meraup bibir manis milik istrinya untuk dia nikmati sejenak. Dan membiarkan mereka berdua terhanyut untuk beberapa saat.
"Dikantor abaaaang ..." Vania mendorong dada pria itu hingga dia menjauh. Namun seperti biasa, suaminya hanya tertawa seakan dia merasa puas karena telah mendapatkan apa yang diinginkan.
Perempuan itu segera keluar begitu mampu melepaskan diri dan membanting pintu dengan keras, kemudian pergi.
🌺
🌺
🌺
Bersambung ...
di kantor, Bang 🙄🙄
jangan lupa jempolnya di goyang gaess, 😜😜
__ADS_1