Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang
Gara-gara Vania


__ADS_3

🌺


🌺


Vania melahap makanannya dengan riang, diselingi canda tawa yang mengalir begitu saja diantara mereka. Seolah keduanya memang telah terbiasa antara satu sama lainnya. Food court sebuah mall yang ramaipun tak membuat mereka terganggu sama sekali.


"Jadinya ngantar aku belanja kan? abang capek nggak?" Vania berbicara.


Arya menggelengkan kepala, "Seru juga ikut belanja." katanya.


"Jadi setiap ada acara kamu melakukannya sendiri?" dia bertanya.


"Iya."


"Semuanya?"


"Semuanya." Vania membeo.


"Apalagi kalau motornya lagi bagus, kemana-mana tinggal pergi aja.Wus wus ... gesit." dia memperagakan dengan tangannya.


"Sekarang motornya sudah jelek?" Arya terkekeh.


"Hu'um, ..." Vania menganggukan kepala. "Udah butut. Maklum itu motor dari aku kelas dua SMA. Diapakai kemana-mana. Belanja, nganter cateringan ibu, ngatar orderan pelanggan kafe, macem-macem deh." gadis itu menyesap smoothies stroberry miliknya.


"Tapi lumayan lah, masih bisa dipake." kini dia yang terkekeh.


Arya menatapnya dalam diam. Hatinya terenyuh dengan segala hal yang dilakukan gadis di depannya untuk mengisi hari-harinya sejak dia masih sangat muda. Tak banyak gadis remaja seusia Vania yang melakukan apa yang dia laukan sekarang ini. Bekerja dengan keras mengikuti hati dan mimpinya untuk mendapakan apapun yang dia inginkan. Padahal hidupnya terbilang masih berkecukupan. Tapi dia memilih untuk mengisi masa mudanya dengan bekerja dibandingkan bergaul dan bersenang-senang seperti remaja seusianya.


"Padahal kamu kalau misal ikut tes CPNS sepertinya akan lolos?" Arya kembali bersuara.


"Nggak mau ah ..."


"Kenapa?"


"Pusing." jawabnya sambil tergelak.


"Tapi kalau lolos hidup kamu akan terjamin, tidak perlu bekerja keras seperti ini."


"Membosankan." gumam Vania.


"Apa?"


"Kerjaannya monoton."


"Dari mana kamu tahu?"


"Kelihatannya." dia tergelak.


"Dan apakah pekerjaan kamu yang sekarang ini tidak monoton?" Arya memiringkan kepalanya.


"Ngga lah. Seru malah."


"Hum??"


"Ketemu banyak orang, melakukan banyak hal, bikin makanan, desert, bereksperimen untuk menciptakan makanan baru ...


"Dan kamu sangat sibuk."


"Tapi seru tahu bang, apalagi sekarang tambah serunya." Vania kemudian tersenyum.


"Kenapa?" Arya meraih minumannya.


Vania mengatupkan mulutnya rapat-rapat.


"Apa?" ucap Arya lagi.


"Bisa ketemu abang tiap hari karena aku ngantar makanan ke tempat kerja abang." lalu dia tersenyum lagi dengan pipi yang merona.


Ah, ... aku pasti sudah gila! ada di dekat dia membuatku mengucapkan banyak hal konyol. batin Vania.


Dan Arya pun sama, sebuah senyuman terbit di sudut bibirnya.


"Apa kamu aslinya seperti ini?" dia berujar.


"Hmm ... apa?"


"Genit seperti ini?"


"Nggak."


"Masa?"


"Cuma sama abang doang, sama yang lainnya mah nggak." Vania tergelak.


"Ayaaahhh!!!" suara khas anak kecil terdengar memanggil, membuat kedua orang yang tengah asyik bercengkerama ini berpaling.


Dan Vania hampir saja tersedak ketika menyadari siapa yang tengah berjalan menghampiri mereka.


"Yayang?" Arya berucap saat balita berusia tiga tahun tesebut berlari ke arahnya, kemudian melompat ke pangkuan.


"Kalian lagi apa disini?" Alena yang muncul kemudian, bersama Hardi yang menggendong anak kedua mereka yang masih berumur enam bulan.


"Eee ...


"Makan." jawab Arya.


"Makan?" Alena menelisik, dia menatap kedua orang itu secara bergantian.


"Aku habis dari pasar baru ambil cenderamata buat nikahannya kak Anna, eh ... ketemu abang disini." Vania segera melontarkan pernyataan, bermaksud untuk meredam kecurigaan Alena yang mungkin akan segera muncul.


"Pasar baru?" Alena mengerutkan dahi.


"Jauh amat dari Pasar Baru kesini?" sahut Hardi.


"Itu ...


"Sekalian sambil lewat." Arya menyela, dia menangkap raut panik di wajah kekasihnya yang tak ingin hubungan mereka berdua diketahui oleh orang lain untuk sementara waktu.


"Kamu nggak bawa motor emang?" Alena kemudian bertanya.


"Motor aku mogok lagi." bohong Vania.


"Oh, ..." Alena mengangguk-anggukan kepala. "Cendera matanya mana?" dia menatap kursi kosong di samping sahabatnya, lalu duduk.


"Ya dimobillah, ..." Arya dan Vania secara bersamaan.

__ADS_1


"Dih?"


"Kompakan?" Hardi bergumam.


"Kalian lagi ngapain disini?" Vania mengalihkan pembicaraan.


"Ya jalan-jalan lah, mumpung weekend." jawab Hardi.


"Iya, kebetulan nggak ada jadwal lembur." Alena menimpali.


"Abang juga tumben hari Sabtu gini jalan? nggak ada lemburan?" Alena duduk di kursi disamping kakak laki-lakinya.


"E ... Anna bilang abang sekarang tidak usah ambil lemburan." Arya hampir terbata.


"Masa?"


"Iya. Anna sendiri yang bilang begitu." jawab Arya.


Alena terdiam.


"Bener juga. Ngapain sibuk-sibuk terus? nggak punya anak sekolah ini." Hardi menyahut. "Kecuali kalau punya istri." adik iparnya itu tegelak.


"Kakak ih ..." Alena menepuk paha suaminya yang duduk tak jauh darinya.


"Oh iya, kak Anna tadi bilang abang pergi ada kencan." Alena membahas hal lain.


Vania terbatuk, dia hampir menyemburkan minuman yang tengah di sesapnya.


"Kamu ih, ... biasa aja kali?" Alena meraih tisyu di tengah meja, kemudian menyodorkannya kepada sahabatnya.


"Kamu bilang apa barusan?" Vania sedikit terperangah, lalu dia melirik kepada Arya.


"Tadi kak Anna nelfon aku ngasih tahu kalau abang mau pergi kencan, tapi nggak bilang sama siapa atau kencannya dimana. Tahunya ketemu disini?" jawab Alena dengan polosnya.


"Berarti feeling kamu bener Yang ngajak kesini. Ketemu juga sama abang." Hardi tergelak lagi.


"Ng ..." Vania mendelik kepada Arya.


"Anna sok tahu." pria itu bergumam, kemudian bangkit.


"Emang nggak bener ya?"


"Ya nggak lah." jawab Arya yang menyesap minumannya sampai habis.


"Masa?"


"Kamu mau pulang sekarang?" tanya Arya kepada Vania.


Gadis itu mengangguk tanpa sadar.


"Lho?"


"Kalia masih lama kan disini? abang duluan lah." pria itu berniat bangkit.


"Ikuuutt." si kecil Dilan menginterupsi.


Arya tertegun.


"Mau ikut ayah!" ucap balita lucu itu seraya mengeratkan rangkulan tangannya.


"Bawa deh bang, kasian." Vania berujar.


"Ya sudah, ayo." pria itu berdiri sambil meraup tubuh kecil sang keponakan, kemudian mereka pergi. Sementara Alena dan Hardi terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


🌺


🌺


"Abang bilang sama kak Anna mau pergi sama aku?" Vania memulai percakapan setelah terdiam cukup lama. Mereka kini dalam perjalanan menuju kedai milik Vania.


"Nggak."


"Terus, kenapa Alena tadi bilangnya gitu?"


"Tidak tahu. Mungkin karena abang pergi?" oria itu fokus pada lalu lintas di depannya.


"Kan, aku bilang juga apa? mereka udah heboh duluan padahal belum tahu apa-apa."


"Abang juga sih, nggak pernah keluar rumah selain kerja, jadi sekalinya keluar diluar urusan kerjaan dicurigain?" gadis itu bersungut-sungut.


Arya tak menyanggah, dia hanya menikmati omelan gadis itu yang terus menerus tanpa jeda.


**


Mereka tiba di depan kedai setelah beberapa saat melewati drama macet yang memang menjadi rutinitas setiap hari di kota itu. Apalagi diakhir pekan seperti ini, keadaan akan bertambah parah karena kota Bandung dikunjungi oleh wisatawan dari luar.


"Abang ngapain disini?" Anna menghentikan langkahnya saat mereka turun dari mobil.


"Anna? kamu ... sedang apa disini?" Arya menjawab dengan pertanyaan.


"Ditanya malah balik tanya? kalian pergi bareng?" tanya nya ssat melihat Vania juga turun.


"Eee ...


"Abang tadi ...


"Ketemu dijalan, aku abis dari pasar baru ngambil cenderamata, terus motor aku mogok, kebetulan ketemu, jadi ikut deh." Vania segera menjawab dengan kalimat yang sama seperti yang dia lontarkan kepada Alena.


"Terus Dilan?" Anna melirik keponakannya yang ada dalam gendongan Vania.


"Kebetulan juga ketemu Alena sama kak Hardi tadi, ...


"Banyak amat kebetuannya?" Rendra bersuara.


"Ateu ... mau akelim." bocah dalam dekapan Vania menginterupsi.


"Es krim? oke kita ambil." gadis itu segera menghambur kedalam kedai, sekalian menghindari berondongan pertanyaan yang mungkin akan dlontarkan dua orang yang baru saja mereka temui.


Haahh ... kota ini terlalu sempit. gumamnya dalam hati.


"Kalian sendiri dari mana?" kini Arya yang bertanya.


"Jalan-jalan lah, terus lewat sini, sekalian mampir makan dulu." jawab Anna.


"Oh, .. terus, sekarang mau kemana lagi?"

__ADS_1


"Pulang."


"Hmm ...


"Abang jadi ketemuannya tadi?" Anna teringat percakapan mereka tadi pagi.


"Ng ... itu ...


"Gimana orangnya? cantik?"


Arya mengangguk.


"cocok nggak?"


Arya tiba-tiba tersenyum. "Lumayan, ..." katanya.


"Wah, ... jadi bener?"


Pria itu mengangguk.


"Terus hasilnya?" Anna terus menyelidik.


"Kamu kepo!" jawab Arya, seraya melangkahkan kaki panjangnya, mengikuti Vania kedalam kedai.


"Dih?"


***


Pria itu duduk di kursi dan menatap keponakannya yang asyik melahap es krim kesukaannya, kemudian beralih kepada Vania yang dengan telaten menyuapinya, sesekali mengelap mulut mungil bocah itu dengan tisyu.


"Abang heran, kenapa kita harus rahasia-rahasiaan seperti ini?" Arya membuka percakapan.


"Apa?" Vania mendongak.


"Kenapa tidak jujur kepada adik-adik abang, kalau kita sudah berhubungan?" dia menempelkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Kan udah aku bilang nanti? abang nggak lihat barusan kak Anna keponya kayak apa? terus ingat nggak tadi Alena juga kayak apa?"


"Ya terus apa masalahnya? kamu sudah kenal mereka lama, apalagi dengan Alena, sepertinya sedikit heboh tidak masalah?"


Vania meletakan sendok kecil di mangkuk eskrim, lalu menatap pria yang kini telah menjadi kekasihnya itu lekat-lekat.


"Mereka nanti nodong kita buat buru-buru nikah." ucapnya.


"Memangnya kenapa?" Arya bertanya, dan sebuah senyuman terbit di sudut bibirnya.


"Udah aku bilang aku belum siap." jawab Vania.


"Kenapa kamu belum siap?"


Gadis itu tertegun, otaknya berputar memikirkan banyak hal.


Masa aku harus bilang soal janji sama ayah? batinnya.


"Kalau masalahnya karena pekerjaan, abang pikir itu bisa tetap berjalan walaupun kita sudah menikah. Kamu masih bisa melakukan banyak hal, dan abang tidak akan membatasi kegiatan diluar rumah kalau itu yang kamu takutkan." Arya berujar.


"Ya kali pacaran baru berapa hari udah ngajak nikah aja?" Vania tergelak.


"Memangnya kenapa? kita sudah kenal lama bukan? kamu tahu abang seperti apa, dan abang juga kenal kamu seperti apa."


"Sebatas kenal bang."


Kini Arya yang tertegun.


"Kenalan lebihnya setelah menikah." Arya setengah berbisik, dan entah mengapa hal tersebut membuat Vania agak merinding, seolah dia baru saja menemukan hal menakutkan.


"Ucapan abang nyeremin?"


Arya tergelak.


"Seram sebelah mananya?"


"Itu, soal kenalan lebihnya setelah menikah?"


"Ya kan bagus? semuanya halal?" pria itu menyeringai.


"Apalagi itu, ... tambah serem." Vania bergidik.


"Abang ini bukan remaja kemarin sore yang masih bisa bersantai soal urusan seperti ini."


"Masa? kemarin-kemarin santai-santai aja tuh? di todong suruh nyari jodoh sama adiknya juga cuek-cuek aja? kok sekarang malah berubah?" sergah Vania.


"Kemarin-kemarin nggak ada yang cocok." jawab Arya.


"Sekarang?


"Sekarang sudah." Arya kembali tersenyum.


"Masa?" Vania dengan rona merah yang mulai menyemburat di pipinya.


Arya mengangguk.


"Baru jadian udah bilang cocok aja?"


"Tidak tahu, perasaannya begitu?" Arya menggendikan bahu.


"Katanya aku bukan tipe abang? masih kecil, seumuran Alena pula?" Vania mengingatkan ucapan pria itu beberapa minggu sebelumnya, dan beberapa kali saat mereka terlibat percakapan tentang jodoh bersama kedua adiknya.


Arya tertawa agak keras hingga wajahnya terdongak keatas.


"Ayooo ... omongan abang nggak singkron sama hati!" gadis itu mengarahkan telunjuknya.


"Memang, ... " Arya kembali menatapnya. "Ini semua gara-gara kamu." katanya kemudian.


🌺


🌺


🌺


Bersambung ...


Hati adek cenat-cenut bang 🤭🤭


ayo ayooo ... like sama komentnya mana? jangan lupa hadiahnya juga ya 😂😂

__ADS_1



__ADS_2