
🌺
🌺
Arya menatap puas bangunan kafe milik mertuanya yang hampir rampung, sesekali dia membandingkannya dengan gambar rancangan yang dia buat lebih dari satu bulan sebelumnya. Dan hasilnya tentu saja memuaskan. Terlihat dari senyuman yang mengembang di bibirnya.
"Gimana, sesuai sama rancangan abang nggak?" Vania datang menghampiri.
"Sama, kalau tidak... habis mereka semua abang omel." jawab pria itu.
"Iyalah, ... udah buang waktu, tenaga sama uang, jelas mereka takut kena omel." Vania mengamini.
"Sepertinya kita harus mempersiapkan pembukaan sebentar lagi. Hanya tinggal hal-hal kecil saja yang perlu di selesaikan." Arya berujar.
"Cepet juga ya? uang memang berpengaruh."
"Begitulah. Tapi jangan lupa juga, kualitas dan pelayanan terbaik kepada pelanggan juga harus diutamakan."
"Kalau itu aku juga tahu."
"Iya, abang cuma mengingatkan agar kamu tidak lupa. Karena selain kedai, kamu juga akan terlibat dengan urusan kafe kan?"
"Iya, banyak hal yang harus dirubah kan?"
***
"Ibu mau pulang sekarang?" Vania menghampiri Melly yang tengah duduk diatas bangku yang biasa digunakan pekerja. Dia menatap catatannya dalam diam.
"Bu?" Vania menyentuh bahu ibunya.
"Ya?" Melly mendongak.
"Mau pulang sekarang?" ulang Vania.
"Sepertinya sebentar lagi." jawab sang ibu.
"Ada apa?" Vania meraih kertas catatan ditangan ibunya.
"Coba kamu periksa, barang apa yamg belum. masuk daftaran itu, biar sekalian dihitung juga totalnya berapa yang harus kita keluarkan lagi."
"Masih banyak bu, ini chiller sama coffee maker juga belum masuk. Padahal itu yang paling dibutuhkan di kafe ini."
"Iya, makanya ibu suruh periksa juga, kamu kan paling tahu masalah begini?"
"Iya, udah aku tambahan nih, sama barang lainnya juga."
"Jumlahnya?"
"Segini." Vania menunjukan perkiraan jumlah uang yang harus mereka keluarkan lagi untuk pembelian peralatan dapur dan hal lain yang dibutuhkan untuk kafe.
Melly tertegun.
"Banyak juga ya?"
"Iya, yang aku tahu harga barang-barang ini serba naik sekarang."
Melly mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kenapa? uangnya masih ada kan?"
Perempuan paruh baya itu kembali menatap putrinya.
"Pembangunan kafe ini sudah menghabiskan uang dalam jumlah yang besar. Jujur bagian kita hampir habis. Sisa sedikit, bahkan mungkin tidak akan cukup untuk mengadakan barang-barang ini walau hanya setengahnya."
"Tabungan ibu juga udah abis ya?"
"Perhiasan sudah ibu keluarkan lebih dulu untuk menutupi gaji karyawan. Hanya tinggal kalung pemberian ayahmu ini."
"Tabungan aku juga udah dipakai renovasi sama sewa kios yang baru. Ini juga baru berjalan normal lagi."
"Ng... tidak apa-apa. Nanti pasti ada caranya."
"Kenapa nggak pakai uang punya tante Rahma dulu? masih ada di ibu kan?"
"Tidak boleh. itu punya tantemu. Tidak boleh di ganggu."
"Cuma sebentar, nanti kalau kafe udah menghasilkan lagi kita ganti."
"Ibu tidak mau seperti itu. Pokoknya tidak boleh. Jangan memaksakan diri, ibu percaya nanti kita aka menemukan caranya."
"Hmmm... mau minta lagi sama abang aku malu, yang ini juga bujuknya setengah mati."
"Tidak usah, jangan libatkan Arya dalam hal ini, dia sudah cukup membantu dengaan membuatkan rancangan baru untuk kafe. Ibu tidak mau membuat dia repot lagi. Kasihan."
"Terus gimana?"
"Kita bereskan yang ini dulu, sambil memikirkan cara lain. Entah itu harus menjual mobil, atau yang lainnya. Yang penting kita tidak memakai uang tantemu, apalagi sampai berhutang. Ibu tidak mau."
"Baiklah kalau begitu."
"Tidak apa-apa kan kalau misalnya mobil kita jual?"
"Nggak apa-apa, tapi nanti gimana ibu kalau mau pergi-pergi?"
"Jaman sekarang sudah ada taksi online, gampang kalau masalah itu." jawab Melly.
"Ya kalau gitu terserah ibu aja gimana baiknya."
"Ya sudah, persetujuan kamu sudah cukup buat ibu."
"Baiklah, kalau gitu kita pulang? abang udah nunggu diluar."
"Baik, ayo."
🌺
__ADS_1
🌺
"Apa yang kamu pikirkan?" Arya naik ke tempat tidur setelah berganti pakaian. Mendapati istrinya yang tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Nggak apa-apa." Vania tersadar dari lamunannya.
Arya mengambil sesuatu dari dalam laci nakas di sampingnya. Sebuah buku tabungan beserta kartu Atm atas namanya.
"Apa ini?"
"Buku tabungan." jawab Arya.
"Aku tahu ini buku tabungan. Tapi kenapa abang kasih ke aku?"
"Siapa tahu kamu butuh, untuk tambahan membeli barang-barang yang dibutuhkan ibu di kafe." jawab Arya.
Vania terdiam dengan mulut menganga.
"Itu tabungan abang yang terakhir. Jumlahnya mungkin tidak terlalu besar, tapi mudah-mudahan cukup untuk menutupi kekurangannya. Agar Kalian tidak usah berhutang apalagi kalau harus memakai uangnya tante Rahma." Arya mengingat percakapan yang tak sengaja diantara istri dan mertuanya tadi siang di dalam bangunan kafe yang sudah dalam tahap finishing.
"Nggak usah bang, ibu bilang juga jangan repotin abang lagi, udah cukup. Lagian ini tabungan abang yang terakhir, masa di keluarin semuanya?" Vania mengembalikan benda tersebut kepada suaminya.
"Tidak apa-apa, abang tidak merasa kerepotan. Kalau memang mampu membantu, kenapa tidak? ibu kamu ibu abang juga kan? apa salahnya kalau abang membantu?"
"Tapi ibu bilang nggak usah."
"Tidak apa-apa, ambillah besok semuanya, terus berikan kepada ibu." ucap Arya.
"Tapi kalau ini diambil juga, gimana dengan abang?"
"Nggak gimana-gimana. Uang masih bisa dicari, abang masih kerja, dan bulan depan abang masih akan dapat gaji kan?"
"Tapi ...
"Sudah, daripada kamu jual mobil, harganya tidak seberapa kalau dijual cepat. Sayang juga kan? kalau mau dijual, yang santai saja jualnya biar harganya tidak turun drastis."
Vania terdiam.
"Simpanlah, besok kamu bisa ambil." Arya merebahkan tubuhnya, bermaksud untuk tidur, Namun hal mengejutkan terjadi ketika perempuan itu menghambur kepelukannya.
"Makasih abang!! Sumpah aku nggak akan pernah lupa sama semua yang abang kasih, aku pasti inget." Vania memeluknya dengan erat.
"Orang baik kayak abang pasti bakal Tuhan kasih hal paling baik juga, makasih!!" dia semakin mengeratkan pelukannya.
"Bukan apa-apa, lagipula abang kan sudah tidak punya orang tua, lalu kepada siapa lagi abang akan berbuat baik? yang kepada orang tua yang masih ada kan? dan dalam ha ini adalah ibu."
"Hu'um, makasih. Abang memang yang terbaik!" Vania membingkai wajah pria itu kemudian menciumnya sehingga tak ada satu sentipun yang terlewati. Dan dia bahkan naik kepangkuannya agar bisa melakukannya dengan leluasa.
"Makasih makasih!" katanya, yang mendaratkan ciuman terakhirnya di bibir suaminya.
"Ng ...
"Aku yakin setelah ini abang akan dapat rezeki yang lebih besar lagi."
"Oh ya?"
"Masa?"
"Beneran bang."
"Kapan?"
"Apanya?"
"Dibayarnya?"
"Nggak tahu."
"Tadi kamu bilang dibayar kontan?"
"Iya tapikan nggak tahu kapan-kapannya."
"Kalau sekarang saja bagaimana?" Arya bangkit dan menengadahkan wajahnya.
"Maksudnya?"
"Kamu bayar kontannya sekarang."
"Mmm ...
"Sekalian bayar cicilan yang itu." Arya menyeringai.
"Ish abang...
Pria itu kemudian melepaskan kaus tidurnya, lalu menarik pakaian tidur yang melekat di tubuh istrinya, dan sekai lagi dimulailah pergumulan menyenangkan itu yang membuat mereka terlena dan tenggelam dalam hasrat yang menggebu-gebu.
🌺
🌺
Vania baru saja mengeluarkan isi perutnya di depan toilet saat Arya masuk setelah menjalani ritinitas paginya. Pria itu tergesa menghampirinya yang terduduk lesu dengan tangan bertumpu pada pinggiran toilet.
"Kamu kenapa?" Arya berjongkok.
Vania tak menjawab, dia lantas menutup benda tersebut kemudian menekan tombol flush untuk mengalirkan air di dalam sana. Perempuan itu bangkit perlahan lalu duduk diatas toilet yang tertutup.
Vania menyapu wajahnya yang pucat dan berkeringat, lalu menerima air minum yang di sodorkan suaminya.
"Kamu sakit?" tanya pria itu lagi yang menyingkirkan beberapa helai rambut di wajahnya.
"Apa kamu hamil?" Arya berjongkok di depannya, dia sedikit terkekeh, dan hatinya terasa bergemuruh.
Vania menatap wajahnya, dengan kening berkerut dalam.
"Berapa minggu sejak kita pulang dari pangandaran." tanya nya.
__ADS_1
"Entahlah, dua bulan mungkin?" jawab Arya.
"Hape abang mana?"
Kening Arya pun berkerut, namun dia merogoh ponsel miliknya dan menyerahkannya kepada perempuan itu.
Vania menyentuh layarnya dan seketika benda itu menyala, kemudian menekan aplikasi kalender dan melihat angka-angka di sana.
"Aku belum datang bulan... " Vania bergumam.
"Bulan kemarin nggak, dan bulan ini udah hampir waktunya juga belum..." dia mendongak.
"Apa mungkin kamu hamil?" ulang Arya.
"Nggak tahu, harus di cek dulu, atau ke dokter." Vania bangkit.
"Mau pakai testpack?" tawar pria itu kemudian.
"Aku belum beli."
"Abang ada." Arya bangkit lalu mundur beberapa langkah ke belakang.
"Ada?"
Pria itu berjalan ke rah lemari diluar kamar mandi, kemudian mengambil sesuatu dari dalam sana, dan kembali setelahnya.
"Abang buat apa punya ginian?" Vania menerima benda yang dimaksud dengan raut heran.
"Buat jaga-jaga."
"Jaga-jaga?" Vania membeo.
"Iya, siapa tahu kamu butuh."
"Abang sengaja beli?" tanya Vania lagi.
"Iya."
Kemudian perempuan itu tersenyum.
"Cepat di periksa, biar tahu hasilnya." Arya berujar.
Lalu Vania melakukan apa yang seharusnya dia lakukan. Menampung urine dalam sebuah wadah kecil untuk kemudian meletakan alat tes kehamilan itu di dalamnya.
"Gimana kalau masih negatif?" Vania bergumam.
"Tidak apa-apa, kita akan terus coba." Arya mendekat, kemudian merangkulnya dari belakang. Menatap pantulan mereka di cermin.
"Lagipula abang punya stok testpasck banyak."
"Masa?"
"Iya. Abang beli satu dus." pria itu tergelak.
"Ngapain beli banyak-banyak?"
"Biar kamu bisa periksa setiap minggu, agar kita tidak kecolongan lagi dan tahu keadaan kamu dari awal." jawab Arya lagi.
"Ish, .... abang...
Mereka berdua tersenyum.
Vania meraih alat testnya setelah beberapa saat, lalu dengan hati berdebar dia menatap benda tersebut. Tangannya bergetar dan tiba-tiba saja dia merasa takut sekaligus gugup. Tubuhnya bahkan gemetaran begitu dia melihat hasilnya.
"Bagaimana?" Arya menatap benda tersebut, namun Vania menjatuhkannya dan tak lama kemudian dia tiba-tiba menangis.
"Hey, ...
Perempuan itu menangis sejadi-jadinya seolah dia baru saja mendapatkan kabar buruk.
"Tidak apa-apa Van, kita bisa coba lagi. Tidak usah sedih." Arya mencoba menenangkannya.
Namun istrinya itu terus menangis, dan dia hampir histeris.
"Hey, hey... jangan begini... " Arya meraup wajahnya.
Dan dengan rasa penasaran yang besar dia akhirnya meraih benda tersebut dari wastafel setelah Vania menjatuhkannya, sambil berusaha terus menenangkannya.
Namun kedua matanya membulat seketika begitu dia melihatnya dengan jelas. Dua garis merah yang terpampang jelas pada benda kecil tersebut.
"Van, ini artinya...
Vania menganggukan kepalanya beberapa kali, masih dengan tangisan yang semakin mengeras. Dia kemudian memutar tubuh sehingga kini mereka berhadapan. Kemudian menyurukan wajahnya di dada bidang suaminya. Segala rasa bercampur aduk di dalam hatinya, dan rasa bahagia yang teramat sangatlah yang paling mendominasi. Bahkan saking bahagianya, dia seperti tak bisa merasakan hal lain lagi selain perasaan itu. Dan semakin besar rasa bahagia itu, maka semakin keras juga suara tangisnya.
Arya merangkulnya dengan begitu erat, dadanya terasa meledak dan hal sama pun dia rasakan. Tubuhnya bergetar, dan dia pun menangis sama seperti istrinya. Mendapati perempuan itu yang kembali mengandung setelah penantian yang cukup panjang, mengetahui mereka akan memiliki keturunan lagi setelah kehilangan.
Perasaan bahagia yang tak mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata, namun jelas menguasai keduanya dengan begitu kuat.
"Sayang, ... anak ayah..." pria itu berlutut kemudian mengusap perut rata istrinya, lalu menciumnya seperti kepada makhluk yang sudah jelas berwujud.
Dan tangisan Vania terus berlangsung hingga beberapa saat.
🌺
🌺
🌺
Bersambung...
wah, ... berhasil ya? yes... 😁😁😁
like komen sama hadiahnya oke? kalau vote kasih ke dedek Dim aja.
lope lope sedunia 😘😘😘
__ADS_1